Inferioriti Kompleks Kaum Muslim ******************************** Anarkisme yang muncul dalam bentuk kerusuhan anti Cina di Jakarta dua tahun yang lalu tidak saja telah menimbulkan kerugian materiil dan moril yang besar kepada pihak korban melainkan juga suatu trauma besar bagi seluruh bangsa Indonesia. Untunglah tindakan barbarisme, yang sedikitpun tidak menaruh hormat pada aturan dan hukum, terjadi pada masa orde baru sehingga bersama dengan tenggelamnya orde sesat tsb diharapkan pula anarkisme di bumi Indonesia akan lenyap. Baru-baru ini meski dengan target dan skala yang berbeda kita semua dibikin shock oleh kerusuhan yang terjadi di Jawa Timur. Tidak lain karena anarkisme tersebut terjadi dalam masa reformasi dimana fondasi untuk masa depan Indonesia-baru sedang dibangun. Sudah barang tentu segala pengorbanan yang telah dilakukan oleh banyak pihak dalam membawa bangsa Indonesia ke masa reformasi terasa terlecehkan. Banyak orang ber-tanya-2 "dosa" apakah yang ditanggung oleh bangsa ini sehingga pada masa reformasi, pemerintah masih saja korupsi dan masyarakat bertindak anarki? Bukanlah suatu kebetulan bahwa kaum agamawan Muslim mendominasi pemerintahan reformasi sekarang. Perwakilan rakyat dijejali oleh kaum agamawan Muslim dan presiden bahkan dijabat oleh seorang Kyai. Telah lama mayoritas Muslim Indonesia mendambakan masa seperti sekarang ini dimana mereka menjadi tuan atas nasib mereka sendiri. Harapan mereka adalah segera muncul suatu pemerintahan reformasi yang memberikan keadilan dan perlindungan bagi umat Islam untuk menjalankan hidup mereka (bukan hidup penganut agama lain) sesuai dengan iman dan kepercayaan Islam yang mereka yakini. Pendambaan ini berdasar pada fakta bahwa semenjak masa kolonialisasi dari bangsa Eropa Kristen, perkembangan dunia pada dasarnya didominasi oleh satu sistem dan cara hidup yang dikembangkan di negara barat tsb. Terbukti bahwa secara umum sistem tsb tidak saja kurang menguntungkan bagi agama Islam melainkan juga bagi agama dan kepercayaan minoritas lainnya dan adat budaya berbagai suku-2 aborigin yang ada. Meskipun demikian, terjadi suatu keganjilan bahwa tidak sedikit negara dengan mayoritas Muslim justru menerapkan filosofi dan sistem pemerintahan barat secara membuta. Pemerintahan Wahid bukanlah yang pertama dan satu-satunya di dunia yang memunculkan phenomena ganjil tsb. Namun dalam diri Wahid lah orang menyaksikan suatu bentuk kegandrungan - passion yang amat luar biasa dalam memuja segala macam hal yang berasal dari barat dan non Islam. Tepatnya Wahid sesungguhnya tidak menerapkan filosofi dan sistem pemerintahan barat, sebab filosofi dan sistem pemerintahan barat amat dinamis dan kemungkinan besar Wahid justru tidak paham mengenai hal ini, melainkan sekedar usaha yang getol dari pihak Wahid pribadi untuk memperoleh pengakuan dunia sebagai seseorang yang berteman karib dengan pihak barat dan non Islam. Semakin kebarat-baratan dan semakin berseberangan pihak tsb dengan Islam, justru semakin membangkitkan nafsu Wahid untuk mengejar dan merangkulnya erat-erat. Maka tidaklah heran bahwa Wahid menggunakan segala macam dalih nonsense untuk secara khusus menjalin hubungan dengan prominents Yahudi, memberi akses dan kesempatan kepada mereka untuk semakin memantapkan dominasi bisnis mereka keseluruh penjuru dunia, hal yang bagi masyarakat barat pun bukan merupakan sesuatu yang menggembirakan. Sementara itu Wahid memandang umat dan pemimpin Muslim Indonesia umumnya sebagai pihak yang tidak cukup berharga untuk berdiri sejajar dengan dia apa lagi dipertimbangkan sebagai teman karib. Oleh karena itu sekecil apapun perbedaan riil yang ada antara dia dengan pemimpin Muslim lainnya sudah cukup alasan baginya untuk mencerca dengan tuduhan keji dan menghancurkan karier mereka selama-lamanya tanpa toleransi sedikitpun. Dalam pemerintahan Wahid lah banyak politisi, cendekiawan dan bisnismen Muslim dijatuhkan kembali derajatnya dengan cercaan "Muslim galak - fundamentalis" yang menpersekusi pihak Kristen Katolik, oleh karena itu dengan bangga Wahid memproklamirkan diri sebagai Godfather dari kaum Kristen Katolik. Benarkah Wahid seorang yang cinta damai yang tidak menghendaki adanya kesewenang-wenangan dan pertumpahan darah. Tengoklah yang terjadi di Ambon dan Aceh. Kesejahteraan hidup Wahid sehari-hari tidak terganggu meskipun darah dan air mata setiap hari mengucur disana. Ia tetap tidur nyenyak, makan enak, tertawa 'ngakak' dan plesiran kemana saja ia suka. Wahid tidak sungguh-2 punya interes untuk menghentikan pertumpahan darah di Ambon. Satu yang menjadi kekuatirannya adalah kalau masyarakat barat dan non-Islam menganggap kebijaksanaannya miring ke pihak Muslim. Oleh karena itu dengan tegas ia menjalankan kebijaksanaan "asal tidak memihak Muslim". Meskipun konsekuensinya perang menjadi berlarut-larut dan seluruh Muslim dan Kristen di Ambon terancam tumpas, bagi dia bukan menjadi soal asalkan nama St. Wahid sebagai Santo pelindung pihak Kristen dan Katolik tetap harum tak ternoda. Sebagai elite pemimpin Muslim, Wahid diketahui banyak menggunakan waktu dan enerjinya untuk lebih mendengarkan dan melayani kepentingan pihak Kristen Katolik katimbang melayani dan kebutuhan umat Islam ataupun memahami pandangan pemimpin-2 Muslim lainnya. Sedikitpun Wahid tidak memberikan pembelaan ketika terjadi masaker Muslim Tanjung Priuk. Sebaliknya menurut suatu sumber, Wahid bertindak sebagai calo memperantarai pihak Benny Murdani (kelompok sayap kanan Katolik) dan pihak pemerintah Suharto untuk melakukan kampanye pembersihan diri ke pondok-2 pesantren. Sementara itu Wahid mencerca habis-habisan cendekiawan, politisi dan bisnismen Muslim yang membentuk ICMI demi mengkatrol posisi pihak Muslim yang underdog di tanah air sendiri. Sesungguhnyalah precedent kerusuhan anti Cina dan Kristen muncul di bumi Jawa Timur dimana merupakan basis dari NU yang sekarang merupakan komponen fanatik utama pembela Wahid. Dimanakah Wahid pada waktu itu? Seperti biasanya ia bersama selebriti agamawan lainnya menghadiri pesta "perdamaian" di Roma, sementara itu pendukungnya berpesta-pora membakar dan menjarah Gereja dan toko-2 Cina. Suatu bukti betapa Wahid melalaikan kewajibannya untuk membina dan menyejahterakan umatnya dengan sebaik- baiknya. Adalah pula suatu kenyataan bahwa Muslim NU/PKB meskipun mayoritas, namun secara persentasi merupakan Muslim yang terbelakang di Indonesia. Oleh karena itu kelompok tsb sedikitpun tidak punya chance untuk mampu mengantarkan Wahid menjadi presiden. Sebaliknya kelompok Muslim poros tengah yang dimotori Amin Rais, yang nota bene sering dicerca secara keji oleh Wahid, lah yang mendudukkan Wahid ke kursi presiden. Mengapa kelompok Muslim poros-tengah mengantarkan Wahid ke kursi presiden sementara itu mereka menyadari bahwa ybs punya indikasi akan melecehkan jabatan yang amat penting dan pada setting waktu yang demikian genting, dan seperti biasanya akan 'nggebuk' mereka sendiri. Jawabannnya tidak lain adalah kelompok Muslim poros-tengah menggigil ketakutan terhadap Megawati, seorang ibu rumah tangga biasa yang sukanya 'ngicipi' masakan dari ibu-ibu PKK. Saking takutnya, ibaratnya asal bukan Mega diperintah Dajal pun mau dan syukur-2 kalau bertitel Kyai. Meskipun ada bukti bahwa kelompok nasionalis ditunggangi oleh sayap kanan Kristen Katolik adalah mengherankan bahwa aliansi Muslim poros-tengah demikian jatuh kepercayaan diri dan keimanannya. Dari drama politik pada masa pembentukan pemerintahan reformasi yang lalu, kita bisa belajar bahwa sesungguhnya tidak saja Wahid seorang yang menunjukkan perilaku ganjil sebagai tanda mengidap inferioriti kompleks. Pemimpin Muslim lainnya seperti Amin Rais meskipun kadarnya jauh lebih ringan tidak terkecuali iapun mengidap kompleks rendah diri yang sama. Amin Rais malu untuk secara jujur dan blak-blakan menunjukkan identitas Islam dari partainya, maka itu didandaninya sedemikian rupa partainya dengan maksud mengelabui pihak non-Muslim. Namun ia membayar mahal untuk hal itu partainya malah bernasib seperti Lebai malang, banyak voters dari Muslim yang menjauh sementara itu anyway tidak ada pihak non-Muslim yang pernah menaruh percaya kepadanya. Sementara itu propaganda buruk mengenai dirinya beredar santer dikalangan non-Muslim. Seberapa banyakkah kaum Muslim yang menderita inferioriti kompleks? yang berkisar antara menyepelekan potensi umat sampai pada menindas umat sesama Muslim dan bahkan ajaran Islam sendiri?. Tidak terbilang banyaknya, mulai dari Muslim Indonesia sampai Muslim di negara- negara Arab seperti Saudi Arabia dan Kuwait. Bukan suatu rahasia bahwa Saudi Arabia dan Kuwait adalah negara Muslim yang kaya raya dan banyak kesempatan kerja, namun sulit menerima tenaga kerja skill tinggi dari negara-2 Muslim tetangga apakah itu dari Irak, Libanon, Syria, Jordan, Mesir dst dengan kualitas apapun, melainkan lebih memilih tenaga kerja dari Australia, USA, Canada, Perancis dst. TKW Indonesia yang bekerja sebagai PRT disana ditindas dengan semena-mena, salah satu alasannya tidak lain adalah karena TKW Indonesia adalah sesama Muslim. Sebaliknya di Indonesia banyak kaum Muslim yang mengirim anak-2nya untuk memperoleh pendidikan dasar disekolahan Kristen Katolik, katimbang sulit-sulit berusaha memperbaiki pendidikan dasar disekolah umum yang ada. Tidak mereka sadari bahwa masyarakat di negara barat yang bukan Islam bekerja keras untuk mengenyahkan campur tangan pihak Kristen Katolik dari pendidikan dasar di public school karena menyadari akan pengaruh buruk yang mereka tanamkan. Blak-blakan saja sebagian besar Muslim, baik umat maupun pemimpinnya malu terhadap hukum syariah Islam tetapi terpesona dengan hukum cinta-kasih; malu dengan kenyataan bahwa Muhammad SAW melakukan polygami tetapi terkagum-kagum dengan Paus dan semua bawahannya yang selibat. Tidak disadari oleh umat Islam betapa banyak dari mereka yang terperangkap menjalani hidup sebagai orang munafik dan LIARS. Kekejaman pihak Kristen bisa ditanyakan kepada umat Islam di Ambon ataupun di Bosnia. Kemesuman hidup dari pihak mereka yang mengaku selibat bisa ditanyakan kepada para korban mulai dari suku-suku native Indians di Amerika sampai pengungsi suku Tutsi di Afrika. Tidak sedikit rohaniwan Katolik yang dikenal diluar sebagai seorang selibat yang dianggap suci secara rahasia menjalani lifestyle yang amat mesum dan rendah tanpa harus perlu bertanggung jawab sedikitpun. Tulisan ini tidak bermaksud sedikitpun untuk melakukan kampanye membenci pihak non-Muslim, melainkan suatu opini yang ditujukan kepada pihak Muslim dengan tujuan agar mereka senantiasa mengupayakan kesehatan jasmani dan rohani sebaik-baiknya. Inferioriti kompleks seperti halnya superioriti kompleks adalah suatu penyakit mental yang kalau diidap oleh suatu kelompok masyarakat bisa berakibat amat merugikan. Seperti sejarah telah mencatat, penyakit mental dari Eropa Kristen yang disebut superioriti kompleks telah mengakibatkan kerusakan parah bahkan sampai kepunahan dari berbagai agama, budaya dan bangsa-2 di bumi ini pada era misionaris dan kolonialisasi. Demikian pula kita sudah menyaksikan betapa kacau dan rusaknya masyarakat Muslim yang menderita inferioriti kompleks. Bedanya, inferioriti kompleks terutama lebih merusak pihak diri sendiri namun pada gilirannya pihak lainpun akan terkena akibatnya. Tindakan fanatik, anarkis dan membabi-buta dari kaum Muslim dalam membela Wahid pada dasarnya adalah suatu cerminan kompleks rendah diri dari keinginan untuk mendapat pengakuan sebagai pahlawan. Tidak bedanya, tindakan Wahid yang menjunjung tinggi hak-hak minoritas dan membanting hak-hak mayoritas Muslim adalah suatu cerminan dari penyakit mental tersebut. Seorang pemimpin yang sehat akan menjunjung tinggi hak-hak minoritas sekaligus pula hak-2 mayoritas, melindungi dan memenuhi kebutuhan pihak minoritas dan secara bersamaan juga mentoleransi dan juga mengakomodasikan cita-cita dari pihak mayoritas. Wahid terbukti tidak mempunyai kemampuan leadership yang memadai, tidak becus mengurus ekonomi negara, tidak menunjukkan kepekaan terhadap pertumpahan darah di Ambon dan Aceh. Wahid terbukti pula sebagai seorang pemimpin yang cold-blooded yang tidak segan-segan melakukan korupsi dalam masa reformasi dimana tindakan ini sangat meruntuhkan moral mahasiswa dan kaum muda yang mempertaruhkan sepenuh hidupnya dalam mereformasi negara yang dicintainya. Lebih dari pada itu Wahid nampaknya sedikitpun tidak mau menyadari akan kesalahan dirinya maupun pihak yang mendukungnya. Dengan kata lain, dalam situasi yang genting ini dimana banyak orang menjadi frustasi, Wahid akan tetap mempertahankan style pemerintahannya yakni terus bermain-main dengan kebijaksanaan buruk yang kontroversial dan provokatif yang senantiasa mengoncang kestabilan ekonomi dan sosial, dan yang mengarah ke anarkisme dan perang saudara dan terpuruknya perekonomian lebih lanjut. Tidak ada pilihan yang terbaik yang dapat dilakukan oleh DPR/MPR selain secara konstitusi dan hukum melakukan tindakan impeachment terhadap presiden Wahid. Terdapat selentingan bahwa DPR yang dikuasai aliansi Muslim poros tengah tidak akan melakukan impeachment dengan alasan yang sama persis pada waktu pengangkatan Wahid sebagai president, yakni TAKUT terhadap MEGA. Selama kaum Muslim dihinggapi kompleks rendah diri, tidak berani menghadapi rasa takutnya namun lebih memilih berkubang dalam KEMUNGKARAN bersama Kyai Haji Abdurahman Wahid maka sulit mengatakan bahwa sesungguhnya Islam masih exist di bumi Indonesia. Eko Raharjo [EMAIL PROTECTED] ______________________________________________________________ >From Eko W Raharjo <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
