Rekan Ishisawa, berikut buku-buku FM yang saya ketahui telah
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia :
1. Pemberontakan Wanita: Peranan Intelektual Kaum Wanita 
    dalam Sejarah Muslim - diterbitkan oleh Mizan.
2. Teras Terlarang - diterbitkan oleh Mizan,  1999
3. Ratu-ratu Islam yang Terlupakan - diterbitkan oleh Mizan, 1994
4. Wanita di dalam Islam - diterbitkan oleh Pustaka, 1994.
Mungkin ada rekan lain yang bisa menambahi.
Pendapat Muslim Indonesia mengenai FM ? 
Berikut saya tempel tulisan Majalah "Ishlah", majalah Islam yang 
cukup terkemuka di Indonesia mengenai FM, tulisan dibawah ini 
lebih tepat disebut sebagai telaah/mengupas buku "Women And 
Islam: An Historical and Theological Enquiry" yang diterbitkan oleh 
Pustaka pada tahun 1994 dibawah "judul Wanita di dalam Islam". 

Terima kasih,


Dedy-Balikpapan


----------------------------------------------------------
MEMBONGKAR PEMALSUAN INTELEKTUAL FATIMA MERNISSI


Fatima Mernissi adalah seorang aktivis Feminisme Maroko yang di 
Indonesia terkenal dengan dua buah tulisannya "Ratu-ratu Islam 
yang Terlupakan serta Wanita di dalam Islam yang kontroversial. 
Melalui buku-buku karangannya,Mernissi menggugat penafsiran 
ayat-ayat Qur'an mengenai hijab,hak waris dan sebagainya. Mernissi 
juga menghujat Imam Bukhari, Abdullah bin Umar dan beberapa sahabat 
sebagai orang-orang yang tidak mempedulikan dan menyia-nyiakan 
perempuan. Namun, lewat kedua karya-karyanya, Mernissi dipuji 
setinggi langit dari sesama aktivis. Bahkan tidak lama setelah 
bukunya terbit, sebuah harian ibukota yang cukup terkenal, memuat 
tulisan dengan penuh nada kekaguman kepada wanita tersebut. Mernissi 
menjadi 'idola' baru kaum feminis. Bukunya jadi acuan, tidak saja di 
kalangan sendiri, tapi juga di kalangan pemerhati masalah-masalah 
sosial. ia menjadi terkenal di banyak negara. Tapi ironis, ia sama 
sekali tidak terkenal di negaranya sendiri. Hal yang patut diper-
tanyakan.
Berikut ini adalah cuplikan dari hasil wawancara Ishlah dengan Abu 
Inayah, terutama seputar pemikiran Mernissi.


MASA KECIL YANG SEKULER
"Saya cukup curiga dengan faktor sejarah hidup Mernissi. Dalam hal
ini saya menggunakan pendekatan psiko-analis yang natara lain 
berasumsi bahwa kehidupan pribadi seseorang dimasa kecil akan kuat
mempengaruhi kepribadian seseorang di masa dewasa," tutur Abu Inayah.


Dalam bukunya, Wanita di dalam Islam, pada masa kecil, Mernissi 
bersikap ambivalen terhadap Qur'an dan tidak menyukai mata 
pelajaran al-Qur'an di kelasnya. Ia lebih suka system pangajaran 
al-Qur'an versi neneknya, yaitu Lalla Yasminia; seorang buta huruf 
penderita insomnia. Namun menurut pengakuan Mernissi, neneknya itu 
tidak merasa terganggu dengan berbagai khayalan yang umumnya dialami 
setiap penderita insomnia.


Neneknya itu memanfaatkan insomnianya dengan mengerjakan shalat fajar 
(shalat subuh). Tapi Mernissi tidak pernah mengatakan bahwa ia juga 
ikut shalat Fajr. Bahkan Mernissi menceritakan,"Tak lama setelah 
shalat Fajr, nenek membangunkan kami dengan aroma mahrasy --kue 
semacam serabi terbuat dari dari gandum-- yang mengundang selera. 
Kami langsung menuju meja makan sambil mendengarkan cerita neneknya 
yang tentang perjalanan ziarahnya..." Ini penting untuk dicatat. 
Bahwa sedari kecil, Mernissi tidak terbiasa melakukan shalat.


Mernissi kecil menyukai gaya pangajaran keagamaan neneknya, yakni 
melalui puisi, musik dan semacamnya. Namun, terhadap Al-Qur'an, 
ia antipati. Bahkan terhadap guru Qur'annya, ia mengatakan,"kami 
biasanya menyuapnya dengan buah cerry, persik atau deliam, 
tergantung musimnya." Sikapnya begitu merendahkan pengajar al-Qur'an. 
Lalu ia mengatakan bahwa ia hanya mampu mengingat irama dari surat
ath-thur, bukan lafadznya. Sebab itu, ia muak dengan pengajaran 
al-Qur'an. Lalu ingatannya terpaut ke Madinah, kota cahaya tempat 
orang minum larutan yang menakjubkan. Di sini ia lebih tertarik 
pada 'larutan yang menakjubkan' ketimbang kegiatan keagamaan. Lalu 
dalam tulisan berikutnya ia berkata," Sikap ambivalen terhadap 
teks-teks suci ini tertanam kuat dalam perasaan saya selama 
bertahun-tahun (hal 81). Tergantung pada bagaimana menyikapinya, 
ayat-ayat suci dapat menjadi pintu gerbang untuk melarikan diri 
atau bila masalah tidak bisa diatas".


Jadi sikap dia adalah menunggangi nash-nash Qur'an sesuai dengan 
keinginannya. Tergantung keperluannya.


Ketika beranjak remaja, ia mengisahkan dirinya,"Setelah beranjak 
dewasa, kurasakan meredupnya musik al-Qur'an...Di sekolah menengah, 
sejarah agama ditandai dengan pengenalan terhadap as-sunnah. 
Beberapa hadist Bukhari yang dikisahkan para guru kami, membuat 
hati saya terluka. Rasulullah mengatakan bahwa anjing, keledai dan 
wanita akan membatalkan shalat seseorang bila ia menintas di depan 
mereka, menyela dirinya di antara orang yang shalat dan kiblat..."
(Lihat Fatima Mernissi dan Pedagang Sayur).


Hati Mernissi terluka oleh hadist! Ini suatu catatan tersendiri. 
Biasanya, remaja yang baru mengenal hadits lalu mendengar hal 
yang menyinggungnya, tidak sampai terluka. Mernissi mengatakan 
"Perasaan saya memang sangat terguncang mendengar hadist semacam 
itu. Saya hampir tidak eprnah mengulangnya dengan harapan kebisuan 
akan membuat hadist ini terhapus dari ingatan saya. Saya yang 
mengakui bahwa diri saya pintar, penuh gairah dan antusias, sebagai 
gadis berumur enam belas berkata kepada diri saya sendiri," 
bagaimana mungkin Rasulullah dapat mengatakan hal yang sangat 
melukai diri saya".


Ia menghujat Rasulullah SAW. Padahal, mengapa ia sendiri sampai 
berani mengatakan hal itu sehingga melukai berjuta-juta ummat 
Islam...?


MASA DEWASA
Masih dalam bukunya, wanita di dalam Islam, pada pengantar edisi 
bahasa Inggris, Mernissi mengungkapkan,"Sebagai seorang wanita 
Arab yang secara khusus terpesona oleh cara dimana orang-orang 
di dunia moderen mengelola dan mengintegrasikan masa lampau mereka, 
saya senantiasa memperoleh kejutan saat mengunjungi Amerika dan 
Eropa, yang menjual diri mereka sebagai masyarakat supra-moderen, 
karena saya menemukan betap Yahudi dan Krstennya iklim budaya 
mereka sesungguhnya."


Dia dewasa dan pergi ke barat. Sangat terpesona oleh apa yang 
dilihatnya. Hla ini bukan tidak ada pengaruhan nya terhadap cara 
kerjanya.
Inilah latar belakang Mernissi. Bisa kita runut, sejak kecil ia 
memiliki sikap ambivalen terhadap Al-Qur'an dan antipati terhadap 
system pengajaran Qur'an. Pada masa remaja, ia merasakan semakin 
meredupnya al-Qur'an dalam dirinya dan kemudian setelah dewasa 
sangat terpesona oleh Barat dan Eropa.


Bisa kita fikirkan, manusia seperti apa dia. Kita bisa memper-
tanyakan kadar objektivitas ilmiahnya.


TAK ADA APA-APANYA. Selain itu , Mernissi tidak pernah menulis 
karya-karyanya dalam bahasa Arab. Mengapa? Kedua buku itu ditulis 
dalam bahasa Perancis. Kemudian dikembangkan dalam bahasa Inggris,
lalu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Mengapa tidak ditulis
dalam bahasa Arab? Apa ia takut begitu buku itu ditulis, pada
hari itu juga semua kebohongan-kebohongannya terbongkar? Ini satu
hal yang sangat mungkin. Sau kenyataan, kebanyakan 'modernis' Arab
biasanya tidak menulis buku-bukunya dalam bahasa Arab.


Mungkin ia beranggapan, siapa yang bisa berbahasa Perancis atau
Indonesia yang bisa mengecek rujukan-rujukan kitab-kitab berbahasa
Arab yang sebegitu banyaknya. Tak banyak yang dapat melakukannya.
Mernissi cukup teliti untuk menampilkan sekian banyak rujukan-
rujukanlama yang mungkin sebagiannya berada di Mesir.


Menurut para ahli di Afrika Utara, baik yang kini hidup di Eropa
maupun di Maroko sendiri, mereka tidak pernah menganggap bahwa
buku Mernissi pernah itu pernah ada. Bahkan mereka sama sekali
tidak menganggap Mernissi. Mereka tahu sekali bahwa kesalahan 
Mernissi sangat kasar dan amat substansial. Ini semestinya sama 
sekali tidak dilakukan oleh seorang ilmuwan. Mereka tidak setuju 
bila permasalahan Mernissi dibahasa. Tidak ada apa-apanya.


Tapi kita berada di sebuah kawasan dimana orang mudah terpesona
oleh hal-hal yang baru sehingga barangkali untuk tingkat tertentu, 
hal ini perlu.


BEBERAPA PEMALSUAN INTELEKTUAL. Selanjutnya, akan kita jumpai 
informasi-informasi sederhana yang patut kita pertanyakan. Misalnya 
disebutkan bahwa khalifah Ustman menikahi satu putri Rasulullah saw 
yakni Ruqayyah. Padahal Ustman kawin dengan dua putri Rasulullah.


Kemudian disebutkan tentang 'Aisyah, yang dikatakan mengangkat
senjata melawan Ali karena menentang pengangkatan Ali sebagai
khalifah. Kalau Mernissi membaca Fathulbari secara benar, maka
akan ia dapatkan hal yang sebaliknya. Dalam Fathulbari justru 
disebutkan bahwa tidak pernah ada 'Aisyah mengangkat senjata
menentang pemilihan Ali sebagai khalifah. Keinginan beliau
tidak lebih agar pembunuh Ustman segera ditangkap dan diadili.


Kemudian, Hadist Abu Hurairah tentang anjing, keledai dan wanita
dapat membatalkan shalat, dikatakan 'Aisyah telah mengkoreksi 
hadist tersebut, namun Bukhari tidak mengindahkannya. Ini dikatakan 
Mernissi.Ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Justru koreksi 
dari 'Aisyah itulah yang terdapat dalam shahih Bukhari. 
bagaimana seorang Mernissi tidak melihat hal itu secara jernih? 
Bagaimana ia bisa berbalik dalam mengambil rujukannya?


Hadist diatas ternyata tidak hanya ditemukan pada riwayat Abu 
Hurairah saja. Hadist ini dapat ditemukan pula dalam riwayat Ibnu 
abbas, Anas bin Ibn Malik, dan yang paling mencengangkan adalah hadist 
ini juga terdapat dalam riwayat 'Aisyah ra sendiri, seorang perempuan. 
Juga dalam riwayat Imam Ahmad dan riwayat Thabrani. Nah kalau demikian, 
mengapa Mernissi begitu antipati dengan Abu Hurairah?


Ternyata tuduhan Mernissi terhadpa kaum laki-laki yang membuat hadist 
hanya untuk menyudutkan wanita, gugur. Sebab 'Aisyah sendiri juga 
termasuk dalam perawi hadits di atas.


Mernissi juga menghujat Abdullah ibn Umar yang terkenal dengan sikap 
asketiknya, yang tidak pernah melewatkan malam tanpa shalat tahajjud,
sebagai simbol perlawanan terhadap wanita. Abdullah ibn Umar dikatakan 
sebagai orang yang paling menyia-nyiakan perempuan.
Padahal, Abdullah ibn Umar mempunyai banyak anak yang dikemudian hari
menjadi ulama-ulama besar pada masanya. Bagaimana bisa seseorang yang
menyia-nyiakan wanita dan 'anti wanita' mempunyai anak yang begitu
banyak dan berhasil mendidiknya.


Satu hal lain, Mernissi ternyata tidka lepas adari pengaruh seorang
laki-laki. Dia sendiri menyebutkan oada halaman xxii, siapa yang 
mempengaruhi dirinya untuk menulis buku ini. Ditulisnya, "Prof.
Khamlichi mengajar hukum Islam di ... beliau yang memberi gagasan
pada saya untuk menulis buku ini".
Dia dipengaruhi seorang laki-laki untuk menulis buku ini. Sehingga
belum dapat dipastikan APAKAH MERNISSI MERUJUK SECARA LANGSUNG
KEPADA BUKHARI, FATHULBARI, DAN LAIN SEBAGAINYA atau kepada PROF.
KHAMLICHI.


Begitu banyak informasi mendasar yang sesungguhnya tidak perlu
terjadi pada orang sekaliber Mernissi. Tapi itulah yang terjadi.
Logikanya: kalau untuk hal-hal yang SANGAT MENDASAR SAJA IA SUDAH
SALAH DALAM PENYAMPAINYA, bagaimana pula dalam hal-hal yang 
lebih rumit seperti interpretasi atau rujukan-rujukan yang jumlahnya
banyak itu. Dari situ dapat kita bayangkan bagaimana 'penelitian'
beliau yang dikatakannya merupakan hasil reinterpretasi ayat-ayat
Qur'an dan hadist yang mengatakan pengebirian hak-hak wanita.


"Jika hak-hak wanita merupakan masalah bagi sebagian kaum laki-laki
muslim moderen, hal itu bukanlah karena al-qur'an ataupun Nabi.
Bukan pula karena baju Islam. Melainkan semata-mata karena hak-hak
tersebut bertentangan dengan kepentingan laki-laki. Kebertentangan
ini kemudian dikukuhkan oleh keinginan kaum laki-laki membuat
penafsiran-penafsiran yang menguntungkan kaum laki-laki,"katanya.


Ada beberapa pertanyaan. Mernissi di negerinya sendiri -Maroko-
tidak dikenal. Lalu, mengapa ia di Indonesia begitu sangat terkenal?
Ini memerlukan pembicaraan dan penelitian khusus. Disadari atau
tidak oleh Mernissi, pemikiran hasil karyanya sangatlah mungkin 
merupakan salah satu sarana ghazwul Fikri sepert yang tengah digelar
oleh musuh-musuh Islam. Mereka sangat berkepentingan untuk mengangkat
isu-isu 'lain' yang berasal dari ummat Islam sendiri. Banyak faktor
yang mendukung dari Mernissi untuk bisa 'dimanfaatkan' oleh mereka.
Merniissi adalah orang Arab, Doktor, maka tulisannya akan mendapat
perhatian yang cukup positif. Apalagi masalah yang ditelitinya adalah
masalahnya sendiri, masalah orang-orang Arab.(Rz)

______________________________________________________________
>From "dedy" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke