---Choose in Here ---
HOME
Bahasa Indonesia
Japanese
Today's News
Archives
Special Columns
Daily Philatelic/Postal News
Link to Us
Search SuratkabarCom
--- Economic Data ---
General Information
Indonesia
Japan
Foreign Currencies
Calculate Foreign Currencies
--- Others ---
Job Finder
Shopping
Reader's Opinion
Submit your URL here
Free Advertising
Recommended Sites
Contact Us
Copyright of Suratkabar.Com

A Gift For You.....

Renungan proklamasi: Terjajah - Penjajahan - Penjajah
Storyby Nasrullah Idris
17/08/2001 (21:00)

Click Here to Send Messege
[Kirim Pesan]


 BANDUNG (SuratkabarCom) - Umumnya penjajahan terhadap suatu bangsa akibat
hati yang kotor, tamak, iri, dan jijik. Gilirannya menimbulkan kesombongan
untuk merendahkan identitas pihak yang terjajah. Bohong besar bila
penjajahan dikatakan mempunyai tujuan yang suci, sebagaimana yang sering
dijadikan dalih untuk mencari simpatik.

Adakalanya penjajah merasa gelisah melihat bangsa yang menjadi jajahannya
hidup di muka bumi ini, malah tidak segan-segan menganggapnya sebagai benalu
yang sangat merugikan.

Menurut Sigmund Freud, tokoh psikoanalisa, setiap manusia sejak lahir
mempunyai nafsu untuk memperoleh pengakuan identitas yang lebih baik.
Sedangkan untuk sebuah bangsa, ego semacam dimobilisasi oleh pemimpinnya
melalui berbagai kegiatan secara berjenjang dan bertahap.

Tetapi bangsa yang meliputi manusia itu mempunyai akal, bukan? Inilah yang
membedakan manusia dengan binatang. Dengan akalnya, sebuah bangsa bisa
mengendalikan nafsu, agar tidak selalu leluasa dalam bertindak terhadap
bangsa lain. Selain itu, bisa mencari terobosan yang merupakan modal untuk
menghindari kekejaman dan pengusiran hanya karena perbedaan bangsa.

Karenanya secara teori, manusia itu bisa menghindari sikap seperti itu,
karena memang tidak cocok dengan hakikat dan eksistensi manusia. Sebab bila
tidak sama saja dengan menurunkan martabatnya sendiri sebagai manusia. Bagi
manusia yang berperasaan halus dan berpikiran tajam, penurunan martabat
merupakan penghinaan, sekaligus proses dehumanisasi yang sulit
direhabilitasi dalam tempo yang singkat

Sebab itulah, manusia berusaha maksimal dengan meningkatkan peradaban,
pendidikan, dan pemikiran yang diharapkan menghasilkan dampak positif
terhadap usaha mengsejahterakan, mengamankan, dan menertibkan setiap bangsa
dari segala aspek kehidupan. Tentu saja termasuk terobosan yang bermuara
bagi tercipatanya suasana kebersamaan.

Dunia penjajahan terhadap bangsa Asia/Afrika oleh bangsa kulit putih
sedikit-banyak terdorong juga oleh sikap rasial. Mereka yakin benar bahwa
bangsa kulit warna memang pantas dijajah, termasuk dalam bentuk pengambilan
kekayaan alam dan pemerasan tenaga manusia.

Dalam melaksanakan penjajahan sering terjadi "diskriminasi" dalam banyak
hal, seperti makanan, perumahan, dan pakaian. Dalam hal tertentu, bangsa
kulit warna tidak boleh melangkahi bangsa kulit putih, seperti dalam
pendidikan. Bila ingkar, siap saja dihukum, sesuai aturan yang dirancangnya
sendiri.

Memang di mana saja dan kapan saja penjajahan selalu menciptakan hal
demikian, karena memang pada dasarnya sudah membawa misi keangkuhan dan
ketamakan berupa rasialisme, yakni mengukur derajat manusia berdasarkan
status sosial, termasuk warna kulit. Sekali lagi, bohong besar jika penjajah
mempunyai niat untuk membangun terjajah sampai terciptanya suasana
kebersamaan dan persamaan. Untuk menggolkan segala rencana jangka panjang
ini, mereka setiap saat mempropagandakan kalimat manis untuk menarik
simpati, sekaligus ditunggangi atau disertai penampilan yang berwibawa.

Kembali pada masalah penjajahan.

Penjajahan hanya akan menciptakan manusia menjadi kurang sempurna, karena
berbagai hak asasinya telah dihancurkan oleh oknum yang masih mengaku
sebagai manusia.

Bagi ummat manusia yang berhati manusia tentu akan tersayat, tertegun,
bahkan tersinggung mendengarkannya, mengapa sampai terjadi makhluk yang
dianggap paling mulia dari seluruh makhluk di muka bumi ini ?

Sebagaimana diketahui, menjadi manusia berarti menjalin kontak dengan
manusia berdasarkan persamaan derajat, sesuai dengan arti dan hakikat
manusia. Manusia yang waras akan mengganggap sesamanya sebagai partner dalam
menjalani kehidupan sehari-hari. Karenanya, hindarilah perbuatan yang tidak
pantas dilakukan terhadap manusia.

Namun kenyataan sulit terlaksana pada bangsa yang menjadi korban penindasan
bangsa lain melalui alam rasial, sebagaimana yang dilakukan Jahudi, Hitler,
dan Serbia. Sebab dalam alam itu, korban telah dianiaya, ditipu, dan
dimanipulasi, sehingga takut melaksanakan berbagai hak yang patut mereka
lakukan, termasuk berpikir, bertindak, berkreasi, dan bertanya, seperti
melalui pendidikan. Padahal pendidikan merupakan modal esensial bagi mereka
dalam posisi sebagai manusia untuk memperbaiki masa depan yang lebih baik
dan lebih cerah daripada masa kini. Dengan pendidikan, mereka akan mampu
mencari terobosan untuk membebaskan kesengsaraan dan menggapai kenikmatan.

Bangsa Bosnia, misalnya, merupakan contoh kongkrit yang pernah aktuan pada
awal dekade 90 an ini. Berbagai hak mereka sebagai manusia sudah hancur
luluh melalui berbagai macam senjata berat oleh bangsa Serbia. Mereka justru
ditindas dalam alam budaya yang paling moderen.

KEMERDEKAAN INDONESIA

"Kemerdekaan Indonesia" merupakan hasil manusia-manusia Indonesia yang
mempunyai kesadaran atas suatu kekurangan yang sedang dialaminya, yang
sebenarnya tidak perlu terjadi. Selain itu, hasil manusia-manusia Indonesia
yang menyadari akan hak untuk menghilangkannya.

Untuk mencapai tujuan, mereka berjuang dengan penuh semangat, antusias, dan
strategi, sesuai dengan kemampuan dan fasilitas yang ada, sehingga setelah
keinginannya tercapai dalam kurun waktu tertentu, mereka pun
memproklamirkannya kepada seluruh bangsa di mana saja tinggal bahwa mereka
sudah berhasil kekurangan yang selama ini selalu menjadi kendala
kehidupannya. Menurut mereka, tidak pernah terjadi dalam sejarah penjajahan
: penjajah menghargai terjajah. Karenanya, manusia yang berhati manusia
dengan otomatis menjauhi penjajahan.

Penjajahan merupakan proses dehumanisasi di mana kedudukan manusia mengalami
kemerosotan. Soalnya telah terjadi suatu kelompok manusia yang memperlakukan
kelompok manusia lainnya dengan beragam perlakuan yang sebenarnya hanya
pantas diterapkan terhadap binatang. Misalkan : kerja dengan paksa dan makan
dengan sampah, yang pernah dilakukan bangsa lain terhadap bangsa kita tempo
dulu. Sungguh keji bin sadis !

Bila tidak segera diberantas serta diusir, kesenjangan akan makin lebar
serta makin sulit untuk mengsejajarkannya, apalagi melangkahinya. Ini tentu
saja akan membuat penjajahan makin sadis dan makin kuat, yang berarti usaha
mencapai kemerdekaan akan makin lama.

Karena itu, dengan memandang jauh, menghayati identitas bangsa, dan melihat
korban terjajah, bangsa kita sebagai terjajah melakukan langkah yang penuh
perencanaan dan perhitungan. Apalagi bila bukan untuk berjuang mengusir
penjajahan dengan semangat bergejolak, yang dilakukan secara spontan,
meskipun mereka harus mengorbankan jiwa dan raga yang sangat besar.

Detik demi detik dipergunakan mereka untuk berjuang, agar Indonesia sebagai
bangsa yang berdaulat, beridentitas, dan bermartabat bisategar menantang
langit di persada bumi ini, sebagaimana bangsa yang sedang menjajah. "Tiada
hari tanpa komunikasi" atau "Tiada hari tanpa berjuang", itulah kebiasaan
mereka.

Untuk mencapai jalan pintas, karena persenjataan kurang layak, mereka
manjadikan pendidikan sebagai fasilitas perjuangan, karena dari sana akan
ditemukan berbagai kiat mengusir penjajahan dan menciptakan kemerdekaan.
Setiap sebentar yang diperbincangkan mereka apalagi kalau bukan perjuangan,
seperti di warung, sekolah, maupun rumah, yang umumnya dengan
sembunyi-sembunyi. Setiap ilmu perjuangan bagi mereka terkadang seperti
rezeki saja mengingat sulitnya mencari ilmu perjuangan yang berkaitan dengan
perjuangan pada masa itu mengingat buku-buku didominasi oleh penjajah.

Banyak dari mereka yang meninggal dalam perjuangan tanpa menikmati
kemerdekaan sedikit pun. tetapi itu tidak menjadi masalah, karena memang
bukan itu tujuan mereka. Perjuangan mereka lebih banyak ditekankan untuk
kepentingan kita. Bahkan seolah-olah mereka seperti mengajukan ikrar, "Biar
jiwa saya musnah, asal cucu saya merdeka".

Dengan semangat mereka, kita dapat menikmati kemerdekaan. Dengan cucuran
darah mereka, kita tidak mengalami pendarahan. Sungguh mulia, suci, dan
ikhlas perjuangan mereka.

Karena itulah, sangat ironis bila kita tidak merenungkan makna perjuangan
mereka ketika bangsa Indonesia memperingati hari "Kemerdekaan Indonesia".
Bukan saja merenungkan dengan menundukkan kepala, juga perbuatan, yakni
mentransformasikan perjuangan mereka merebut kemerdekaan ke perjuangan kita
menciptakan pembangunan, baik semangat maupun motivasinya, serta
dipersembahkan untuk anak-cucu kita.

Jadi menghayati "Kemerdekaan Indonesia" harus dalam pengertian yang
universal, tidak hanya dalam pengertian "merebut kemerdekaan". Dengan
demikian akan meningkatkan semangat dan motivasi kita dalam pembangunan yang
sesuai dengan karir dan profesi kita. Karena memang demikian maksud dan
tujuan peringatan hari "Kemerdekaan Indonesia" setiap tahun.

PENAJAHAN BENTUK LAIN

Dalam era sekarang ini untuk menjajah sebuah bangsa tidak harus menguasai
teritorialnya. Cara lain pun bisa seperti melalui pemanfaatan sains dan
teknologi.

Sementara Sains Teknologi di Eropa/Amerika terus berkembang pesat,
sebaliknya kondisi yang terjadi pada masyarakat di Asia Afrika ialah
keterbelakangan intelektual atau keminiman prestasi di bidang tersebut.

Akibatnya hampir semua negara di Asia-Afrika tidak bisa melepaskan
ketergantungan untuk mengadopsi berbagai produk Sains Teknologi "dengan
jalan mengadopsinya" atau "memproduksinya dengan lisensi", sebagaimana yang
tampak di "buku pelajaran sekolah" sampai "produk di pasaran".

Jadi memang Eropa/Amerika dewasa ini harus diakui sebagai primadona Sains
Teknologi. Ia mempeloporinya di atas landasan di mana pembangun dasarnya
justru datang dari kalangan cendekiawan Timur. Sedangkan kita selaku
penduduk Asia-Afrika akhirnya harus puas menjadi pengikut mereka.

Apakah harus demikian terus ? Tentu saja tidak !

Kita sejak dini harus segera melangkah lebih jauh dan melompat lebih
efektif. Antara lain dengan merumuskan visi sebagai prioritas unggulan serta
didukung oleh program kongkrit dan langkag strategis. Terutama dalam
menghadapui era globalisasi di mana kita akan benar-benar dihadapkan pada
faktor "Kecepatan Enginering", "Kecepatan Kalkulasi", dan "Kecepatan
Analisis".

Mengabaikan/melalaikannya sama saja dengan mengundang bangsa lain untuk
menguasai bangsa kita melalui sains teknologi di mana kalau esensinya
benar-benar dihayati akan terasalah bahwa itu pun menyerupai suasana
penjajahan.

Sudah menjadi pengetahuan kita bahwa orang bodoh hanya akan menjadi santapan
orang pintar. Nenek-moyang kita pun sering mengisyaratkan demikian. Dengan
kata lain, bila suatu pengetahuan hanya diketahui oleh suatu bangsa akan
memberi peluang baginya untuk menekan bangsa lain melalui
pemanfaatan/penerapan pengetahuan itu untuk kebutuhan sehari-hari. Tentu ini
pun berlaku untuk skop bangsa.

Tugas di atas mengisyaratkan keberanian untuk melakukan perubahan cara
pandang, khususnya pendekatan kita terhadap Sains Tekonologi. Marilah kita
hilangkan segala bentuk image (langsung atau terselubung) bahwa bangsa
Asia/Afrika akan selalu di bawah bangsa Eropa/Amerika di bidang prestasi
teknologi sampai kapan pun. Karena secara alamiah tidak ada isyarat sedikit
pun bahwa suatu bangsa akan di bawah bangsa lain di bidang Sains Teknologi
secara kontiniu.

Mahalnya obat di tanah air hendaknya bisa dijadikan cermin.

Kita sudah merasakan bagaimana pengaruh berkuasanya barat di bidang
formulasi obat terhadap semakin banyaknya orang sakit tidak mampu membeli
obat. Puncaknya terjadi pada saat krisis moneter menimpa bangsa kita.

Dalam beberapa dekade perjalanan di negeri kita ini memang industri farmasi
mampu memenuhi kebutuhan obat nasional. Namun sayang. Farmakolog kita
umumnya hanya mampu di bidang reproduktif. Artinya, menjiplak formulasi obat
buatan negara maju, bukannya berbasis riset sendiri. Singkatnya, tidak lebih
dari pola "tukang jahit".

Barulah terasa arti teknologi farmasi ketika kurs rupiah anjlok. Gilirannya
banyak rakyat kecil di samping menjerit karena sembako juga karena tidak
mampu membeli obat karena saking mahalnya. Sampai-sampai mereka bingung
ketika hendak membelanjakan uang alakadarnya : "lapar tetapi sehat" atau
"sakit tetapi kenyang".

Semoga semua ini menjadi renungan. Sekali lagi bahwa untuk menjajah suatu
bangsa pada era sekarang tidak perlu lagi dengan menguasai teritorial. Cukup
melalui sains teknologi, seperti dunia farmasi.

(Nasrullah Idris/bidang studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi)



______________________________________________________________
>From "Nasrullah Idris" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke