Kalau boleh nimbrung: Masalah intellectual property itu apa bukan merupakan manifestasi adanya brain monopoly? Adanya unsur monopoly ini tentunya akan menghambat peningkatan kesejahteraan?
Kalau ditelisik lebih dalam mestinya, ilmuwan sekarang juga harus membayar royalti ke penemu (kembali) ilmu terdahulu seperti archimedes, pitagoras, Adam Smith, Plato, Ibnu Batuta (dan mungkin juga Ibnu Widiyanto...he..he..he..). namun nyatanya khan nggak ada sepeserpun dibayarkan ke mereka. Saya pikir konsep hak cipta bersama dengan konsep intelluctual property itulah yang kurang pas. Banyak kasus yang membuktikan bahwa konsep hak cipta itu kurang pas. Bagi saya tidak ada new invention di dunia ini. Yang ada hanya penemuan kembali sesuatu yang belum ketemu. Jadi nggak benar dong kalau suatu penemuan kemudian diklaim menjadi miliknya sendiri. Kalau pendapat saya benar, berarti masalah bajak membajak bukan masalah moral dan akademik. Anyway, terus terang apa sih definisi membajak? Ini yang perlu diluruskan dulu. Ini lebih baik dipahami dulu daripada sudah terlanjur ngecap ngalor ngidul eh konsepnya nggak sama. Secara normatif, membajak itu bisa dipecah menjadi cloning, imitation dan adaptation. Untuk pemula, justru konsep cloning itulah yang harus ditawarkan dengan segmen yang kecil, tentunya. Ketika produk cloning mulai merambah ke segmen yang lebar...lha disini lah produk itu harus dimodifikasi.....Ini disebut imitasi...kemudian dilakukan adaptasi ke pasar. Kembali ke masalah software, kesalahan khan terjadi pada cloner yang malas untuk melakukan modifikasi padahal segmen yang dituju sudah meluas. Mestinya bajakannya dimodifikasi baru disebar luas.... Kalau itu yang dilakukan brain monopoly bisa jadi tidak pernah muncul. Konsep Intellectual Property itu khan dimunculkan dengan alasan untuk memajukan teknologi...Tapi kenyataannya....khan banyak boongnya.....misalnya, mosok seorang amerika ngaku yang menemukan beras Basmati yang di India itu sudah ada puluhan tahun yang lalu. Karena saya merupakan orang yang tidak dalam mainstream intellectual property proponents, beberapa buku yang pernah saya terbitkan, saya tulis "boleh dikutip/ digandakan sebagian atau seluruhnya asal disebut sumbernya". Bagaimana ada komentar? Wassalam, IW >===== Original Message From Eko Raharjo <[EMAIL PROTECTED]> ===== >HERI HERWANGGONO wrote: >1.Sewaktu saya masih kuliah di Undip.. 3-4 tahung yang lalu saya hanya >mendapat kan materi yang berhubungan dengan bahasa pemprograman dengan >menggunakan Pascal & Assembler >2. Praktikum jaringan komputer saat itu juga amat sangat terbatas... >kalo sekarang saya kurang tau.. >3. Harga Software original mahal bisa mencapai jutaan rupiah >4. Harga Buku-buku IT yang bersifat teknis bisa mencapai puluhan hingga >ratusan dolar >5. uang saku + kerjaan sambilan rata-rata mahasiswa kayaknya kok rada >susah menembus angka 1 juta/perbulan.... walaupun mungkin ada tapi >sedikit sekali jumlahnya >6. Buku-buku diperpus yang sesuai dengan dunia kerja biasanya mahal dan >terbatas kalaupun ada untuk meminjamnya kok kayaknya aturan birokrasinya >njelimet ...( mungkin juga saya salah untuk hal ini mohon dikoreksi) >**************************************** > >Eko Raharjo: >Saya menyadari akan kompleksitas masalah yang dihadapi oleh orang-orang >muda yang berkecimpung di IT seperti bung Heri. Jelas sangat tidak fair >untuk >membebankan pemecahannya kepundak mereka. Dimata saya mereka justru >korban dari kesalahan dari policy dan strategy pembangunan teknologi >(dan >sains) dari pemerintah Indonesia. > >Kurangnya training dan sarana (seperti software dan buku-2) di >universitas >di Indonesia dalam bidang sains dan teknologi (khususnya IT) seperti >yang >ditunjuk oleh sdr Heri merupakan awal dari rantai kemerosotan kualitas >human resources di Indonesia. Pihak pemerintah dengan mudah berkilah >bahwa tidak ada dana yang mencukupi. Sesungguhnya kita dibodohi saja. > >Dari hasil sektor minyak saja semestinya sekurang-kurangnya tiap tahun >Pertamina bisa memberi revenue sebanyak 20 Billions US Dollar. Karena >sebesar itulah revenue dari sektor industri minyak di provinsi Alberta >yang >skalanya tidak lebih besar dari tambang minyak di Indonesia. Belum >revenue yang bisa didapat dari sektor lain spt gas alam, emas, hutan, >lautan, >penanaman modal asing, perpajakan dst. Kita tahu bahwa pada era Suharto >semua kekayaan negara dihambur-hamburkan begitu saja . Namun, >sekarangpun pemerintah belum menunjukkan tanda-2 yang serius untuk >membenahi Pertamina. Padahal kalau sektor penghasilan minyak bisa >dikelola dengan semestinya, pemerintah tidak perlu harus menjual >kedaulatannya habis-habisan untuk memperoleh hutang luar negeri. > >Keperihatinan yang diungkapkan oleh sdr Heri adalah keprihatinan yang >sama yang saya alami pada waktu saya masih mahasiswa di FK UGM >(angkatan 78). Dari para lulusan ujian SKALU/SKASU/SIPENMARU >saya dapat mengambil kesimpulan bahwa Indonesia mempunyai banyak >sekali human resources yang sangat berpotensial. Namun saya benar-2 >mengalami disilusi ketika saya melihat bahwa kualitas training dan >sarana >teknologi yang ada di universitas besar seperti UGM adalah amat kurang. >Salah satu sebab utamanya adalah rendahnya subsidi yang diberikan oleh >pemerintah. Sementara itu pada waktu itu pemerintah memberi subsidi >import gandum besar-2an dan dalam jangka yang amat lama kepada >konglomerat Sudono Salim (d.h. babah Liem Siu Liong)(Adam Scwharzt, >Nation in Waiting). > >Seperti tulisan saya terdahulu mengenai pembenahan sistem pendidikan >di Indonesia (1-3) di milis undip, saya mengkritik pejabat universitas >yang tinggal diam dengan situasi yang tidak benar tsb. Sebabnya adalah >dulu mereka diangkat oleh pemerintah sehingga mereka punya >vested of interest. Sekarang, dimana katanya lembaga perguruan tinggi >telah menjadi independent, apakah mereka benar-2 mau mereform >kualitas pendidikan/training di universitas?. Semestinya Rektor cs harus > >mati-matian memberikan pressure kepada pihak pemerintah untuk >mengucurkan dana yang cukup, paling tidak untuk keperluan training >mahasiswanya. Hanya dengan pressure yang sangat keras pemerintah >bisa sadar untuk dengan serius menertibkan sektor-2 seperti Pertamina. > >Adalah tidak fair dan menjengkelkan melihat ketidak adilan dari besarnya >penghasilan dan fasilitas dari staf pengajar universitas negeri dan >mereka >yang bekerja di Pertamina (di gaji oleh pertamina, termasuk mereka yang >ditempatkan di perusahaan minyak asing); atau mereka yang berkerja >disektor perpajakan, bea-cukai, perbankan. Ketika saya kebetulan >bersamaan dengan mereka dalam training english di WUSC Yogyakarta. >Menurut saya mereka kebanyakan adalah dummies yang tidak layak >memperoleh gaji pemerintah yang jauh berbeda dari yang saya terima >sebagai staf Undip. Ketika saya training di Kanada harus setengah mati >mencari tempat tinggal sewaan murah (karena stipendium per orang >cuma 1000 dollar Canada perbulan), mereka yang dikirim oleh pertamina >tinggal di apartemen mewah yang sewanya sebulan 2500 dollar canada >(bersama mertuanya lagi). Ini adalah sekedar contoh ketidak adilan dan >pemborosan, yang mencerminkan bahwa masih banyak hal yang bisa >dibenahi. > >Kembali kepermasalahan software bajakan. Jelas tidak memungkinkan >bagi saya untuk menyumbangkan pemecahan kasus per kasus. Namun >saya menunjukkan policy dan strategy apa yang perlu dijalankan untuk >memutus lingkaran kelemahan yang ada. Pertama-tama sebagai ujung >tombak adalah pihak universitas harus mampu menekan pemerintah untuk >mengucurkan uang yang cukup untuk melengkapi kegiatan pendidikan >yang memadai. Antara lain adalah menekan pihak departemen perdagangan >dan pihak pembuat aturan dan UU sedemikian rupa melakukan negosiasi >atau membuat aturan sehingga software atau buku-2 asing yang mahal yang >amat critical untuk training diperguruan tinggi bisa didapat tanpa harus > >melanggar hukum. Pihak department ketenagaan kerja membuat aturan >untuk erusahaan pemerintah, swasta maupun asing yang menggunakan >software yang sophiscated (yang tidak diajarkan di universitas) >diharuskan >untuk mentraining pegawai baru yang direkrut. Jadi mahasiswa atau >lulusan >baru tidak perlu memata-matai OS atau software baru apa yang dipakai >diperusahan-2 kemudian pergi ke Mangga Dua untuk mencari bajakannya. > >Terakhir yang tidak secara khusus saya singgung disini tapi saya >singgung >ditulisan saya yl adalah mengenai pentingnya untuk merubah kultur Maling > >menjadi suatu masyarakat terdidik yang tertib hukum. Sebab hanya >masyarakat yang tertib hukum, disiplin dan sadar akan pentingnya >membangun martabat sendiri yang akan punya masa depan di planet ini. > >Eko Raharjo >Calgary > >HERI HERWANGGONO wrote: > >> Saya setuju dengan pendapat mas Eko mengenai masalah pembajakan hak >> cipta.... >> >> Cuma untuk memangkas masalah pembajakan harus ada solusi yang tepat >> untuk teman-teman yang berkecimpung di IT... >> >> Saya ingin menunjukan beberapa kasus perusahaan di Indonesia tentang >> kebijakan mereka di bidang IT sebagai berikut : >> >> 1. Saat ini sedang terjadi penyeragaman Hardware & Software di sebuah >> perusahaan minyak asing di sumatera. Mereka berencana membeli 4000 >> unit PC baru untuk mengganti PC yang lama dan melakukan standarisasi >> OS diseluru didepartemennya kebetulan mereka memilih OS Windows2000 >> untuk seluruh pc yang beroperasi di perusahaan mereka >> >> 2. Saat ini telkom sedang mengembang Probis untuk penggunaan internet >> B2B.Kebetulan mereka memilih Visual Age, Websphere dari IBM dengan >> sebagai development Tools site mereka dan OS yang dipilih kemungkinan >> HP-UX dari HP. >> >> 3. Salah satu perusahaan konglomerat pabrik kertas di indonesia >> mengembangkan divisi untuk E-Auction dan E-Procurement. Development >> Tools yang mereka gunakan Visual Studio dengan OS windows NT/2000 >> >> 4. BCA menggunakan platform Microsoft untuk internet bankingnya >> >> 5. Sebuah bank plat merah diIndonesia saat ini sedang mengembangkan >> internet banking dengan menggunakan development Tools Visual age dan >> Websphere sebagai web servernya yang nota bene adalah produk IBM >> >> 6. Sebuah perusahaan minyak asing yang beroperasi di Kaltim >> menggunakan OS HP-UX dan Windows2000 untuk kegiatan operasional mereka >> >> 7. Sebuah bank plat merah di Indonesia dengan aset terbesar di >> Indonesia dan sponsor acara kuis spektakuler di TV swasta menggunakan >> product Microsoft untuk web servernya >> >> 8. Sebuah TV swasta baru dibawah group perusahaan Retail milik >> pengusaha pribumi sedang mempersiapkan infrastruktur IT mereka dengan >> platform dari Microsoft & Oracle. >> >> 9. Sebuah bank plat merah bergerak diretail banking yang nasabahnya >> banyak berasal dari pengusaha menengah bawah merencanakan membeli >> software Silver lake untuk banking application... katanya sih.... >> harga softwarenya mencapai 1 trilyun rupiah >> >> Sementari itu ada beberapa kasus yang dihadapi oleh teman-teman >> >> 1. Sewaktu saya masih kuliah di Undip.. 3-4 tahung yang lalu saya >> hanya mendapat kan materi yang berhubungan dengan bahasa pemprograman >> dengan menggunakan Pascal & Assembler >> >> 2. Praktikum jaringan komputer saat itu juga amat sangat terbatas... >> kalo sekarang saya kurang tau.. >> >> 3. Harga Software original mahal bisa mencapai jutaan rupiah >> >> 4. Harga Buku-buku IT yang bersifat teknis bisa mencapai puluhan >> hingga ratusan dolar >> >> 5. uang saku + kerjaan sambilan rata-rata mahasiswa kayaknya kok rada >> susah menembus angka 1 juta/perbulan.... walaupun mungkin ada tapi >> sedikit sekali jumlahnya >> >> 6. Buku-buku diperpus yang sesuai dengan dunia kerja biasanya mahal >> dan terbatas kalaupun ada untuk meminjamnya kok kayaknya aturan >> birokrasinya njelimet ...( mungkin juga saya salah untuk hal ini mohon >> dikoreksi) >> >> -Nah kalo kita memang mau menerapkan anti produk bajakan harus ada >> solusi agar bagi lulusan universitas agar bisa lulus dari universitas >> tapi juga bisa diterima didunia kerja yang requirementnya seperti itu. >> Disisi lain universitas di Indonesia budget untuk buku dan software >> original amat terbatas... jadi amat sulit untuk menyediakan buku dan >> Software original yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. >> >> -Kalo kita nekat berprinsip menggunakan produk original dan anti >> barang bajakan... salah-salah kita tidak terserap di dunia kerja dan >> bukan tidak mungkin akan banyak posisi yang kosong untuk bidang IT. >> Akhirnya untuk mengisi posisi kosong tersebut perusahaan mempekerjakan >> orang asing... itu artinya kita rugi 3 kali... >> 1. kita rugi karena harus beli software original yang keluaran luar >> >> 2. kita rugi harus bayar orang asing dengan biaya mahal >> >> 3. kita rugi tenaga kerja kita tidak terserap... >> >> so... ada jalan keluarnya gak mas Eko? >> >> Atau kita mau menyalahkan perusahaan yang menggunakan produk software >> asing...? padahal disisi lain perusahaan membutuhkan software tersebut >> untuk operasional usahanya.. Selain itu pemilihan produk disadari atau >> tidak disadari terkadang juga bisa berpengaruh dalam kita mendapatkan >> sertifikasi dari ISO ataupun mendongkrak nilai saham di pasar bursa... >> >> Lagi pula orang asing juga suka bertindak tidak adil kok... contoh >> kasus saat perusahaan-perusahaan di Indonesia berantakan akibat krisis >> dan terpaksa harus menjual assetnya untuk menutupi hutang.... >> Perusahaan kita dinilai rendah sekali... karena mereka hanya menilai >> dari tangible assetnya sementara asset seperti Intelectual Property >> perusahaan kita tidak diperhitungkan sama sekali... asset karyawan >> yang menjalin hubungan dengan konsumen yang sudah berjalan sekian lama >> juga tidak dihitung.... akibatnya perusahaan kita cuma dinilai rendah >> sekali... >> >> >> >> Gimana dong mas? >> >> >* Eko Raharjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> >> >> Kapan Bangsa Kita Punya Rasa Malu >> **************************** >> >> Sesungguhnya orang disini (Kanada) juga keberatan untuk >> untuk membeli >> software sendiri. Namun ada cara lain untuk dapat >> mempergunakan software >> yang diperlukan tanpa perlu membajak. Seperti saya sebagai >> staf di U of C >> memperoleh supply software dari pihak university. Rupanya >> pihak university >> punya purchase deal untuk bisa menyebarkan software yang >> dibelinya >> ke staf nya. Hanya perlu melakukan pelaporan sesuai dengan >> perjanjian; >> dan diperbolehkan pula untuk menginstal ke komputer dirumah. >> Tentu saja >> software-2 yang sophiscated seperti Delta Vision tidak bisa >> disediakan >> oleh university melainkan pihak (lab) yang bersangkutan >> membelinya sendiri >> dengan grant money. >> >> Untuk student pihak university menyediakan terminal komputer >> hampir >> disetiap sudut (karena saking banyaknya) dan pula sudah >> disediakan >> software basic yang diperlukan seperti microsoft office >> bundle: microsoft >> word, power point, excell; yang selalu diupgrade dengan >> edisi yang terbaru. >> Walaupun demikian saya kira ada juga kegiatan membajak >> disini namun >> jumlahnya amat sedikit karena sudah menjadi kesadaran disini >> bahwa >> membajak software merupakan kegiatan kriminal yang punya >> konsekuen >> sama seperti kalau "ngutil" di supermarket ataupun >> mengedarkan sabu-sabu. >> >> Melihat situasi di Indonesia tentunya orang bisa menduga >> bahwa kegiatan >> pembajakan software pasti amat santer. Namun orang tidak >> akan percaya >> melihat kenyataan sesungguhnya bahwa kegiatan pembajakan di >> Indonesia >> sudah sangat kelewatan. Tidak saja computer software, tetapi >> juga VCD, >> CD dll. Baru-baru ini orang dihebohkan dengan beredarnya VCD >> mesum >> bajakan. >> >> Disatu pihak saya menyadari bahwa tidaklah fair untuk >> menyamakan >> purchase power dari orang Indonsia dengan orang di negara >> barat yang >> makmur. Namun dipihak lain saya punya kekuatiran besar bahwa >> kit! a >> akan berkembang menjadi bangsa MALING, yakni addicted to >> piracy. >> Side effect ini bisa jauh lebih merugikan dari pada kalau >> bangsa Indonsia >> dikenal sebagai bangsa yang ketinggalan teknologi. Sebab >> kalau setiap >> orang Indonesia bermental maling SEANDAINYA pinter dan >> canggihpun, >> tetap saja akan mendatangkan kekacauan bahkan dalam skala >> yang parah. >> Sebaliknya kalau kita mempriotaskan TERTIB HUKUM dan cara >> hidup >> yang BERMARTABAT, walaupun mungkin orang Indonsia telihat >> lebih >> kuno, sederhana dan slow namun masyarakat Indonesia akan >> bisa lebih >> tertib, disiplin dan punya martabat. >> >> Menurut saya kebanyakan pembajakan dan kasus pelanggaran >> hukum >> perdagangan lainnya adalah tidak berlatar belakang untuk >> meminterkan >> masyarakat tetapi lebih berdasar karena KERAKUSAN (pihak >> produsen >> bajakan) dan gaya hidup KONSUMERISME (pihak pembeli >> bajakan). >> Dalam banyak hal mulai dari bidang kesehatan, energy, >> electronic, sampai >> software, Indonesia sering mengikuti suatu sistem teknologi >> yang consumptive >> dan mahal yang merugikan masyarakat konsumen namun >> menguntungkan >> pihak broker, produsen bajakan dst. Banyak yang dapat >> dijadikan contoh, >> saya pilih satu yang kebertulan bikin jengkel saya; yakni >> mengenai penggantian >> sistem VCR (Video Cassete Recorder) ke VCD (Video Compact >> Disc); >> sementara sistem lama dienyahkan dari pasaran oleh >> konspirasi para retailer >> (toko-2 elektronik). >> >> Merupakan kebodohan untuk mengenyahkan sistem yang murah dan >> >> serbaguna seperti VCR. Dengan mengganti dengan sistem VCD >> orang harus >> mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli VCD playernya. >> Dan >> tentu saja harga VCD sendiri berlipat-lipat dibanding dengan >> video cassete >> (Betamax maupun VHS). Akibatnya orang akan cari VCD dengan >> harga >> yang terjangkau. Apa artinya ini? Masyarakat digiring untuk >> menciptakan >> market bagi para produsen bajakan!. Sekali orang mengudap >> barang bajakan, >> selama hidup ia akan tergantung dengan lifestyle tsb (tanpa >> kenal malu). >> Kerugian besar lainn! ya yang orang tidak menyadari adalah >> sistem lama VCR >> sangat mudah dan murah untuk digunakan merekam segala macam >> kegiatan >> dari recreative sampai kegiatan research, baik dari TV, >> camera maupun >> intravital microscope dst. >> >> Saya tercengang bin jengkel ketika saya mau mengirim cassete >> VCR >> rekaman kegiatan kami di Kanada, ternyata tidak ada lagi >> orang yang >> punya VCR player melainkan VCD player. Padahal disini yang >> sudah >> lama dipasarkan DVD (lebih advance dari VCD) bisa dengan >> mudah >> mendapatkan VCR dimana saja. Tidak semua orang, termasuk >> kegiatan >> riset dan pengajaran di U of C, dengan begitu saja mengganti >> dengan sistem >> teknologi baru yang lebih mahal. Tidak lain adalah sistem >> VCR masih lebih >> BERGUNA dan MURAH. Sedangklan alasan orang Indonesia adalah >> alasan >> kualitas gambar VCD lebih baik dari pada VCR. OK, baiknya >> seberapa? >> Tidakkah DVD menghasilkan gambar yang lebih baik dari VCD >> dan besok >> ada sistem baru yang lebih baik lagi, begitu seterusnya. >> Tentu saja >> sah-sah saja untuk memburu kepuasan dan kenikmatan. Namun >> kalau >> memang rakyat Indonesia uangnya cekak kenapa pilih sistem >> yang >> mahal dan buntutnya kemudian menempuh cara-cara tidak halal, >> alias >> maling (membajak)???. >> >> Apakah sistem baru dengan teknologi lebih canggih bikin >> orang Indonesia >> tambah pinter? Belum tentu, contoh diatas malah bikin orang >> Indonesia >> semakin bodoh, consumptive, dan koceknya terkuras atau >> menjadi maling, >> atau kombinasi semua plus tetap jadi maling. Banyak lagi >> contoh bahwa >> encourage pembajakan akan backfire ke kita sendiri. Sudah >> lama diketahui >> bahwa kasus kaset lagu bajakan telah bertanggung jawab >> membuat banyak >> musisi/komponis Indonesia pada melarat. Sama halnya mengenai >> software >> program komputer. Dengan mudahnya mendapat program bajakan >> maka >> akan melesukan orang-2 muda yang ingin berprofesi sebagai >> pencipta >> software. Akibatnya orang Indonesia tidak akan pernah punya >> kesempatan >> berkembang sebagai pencipta. Jadi tetep saja sampai matek >> orang Indonesia >> ak! an jadi konsumen dengan cara maling lagi!. >> >> Saya yakin kalau ada WILL sesungguhnya masih banyak cara >> untuk >> menghindarkan masyarakat Indonesia terutama kaum terpelajar >> jadi >> kaum maling. Tanpa perlu membayar diluar jangkauan dompet >> kita dan >> tanpa perlu pula menempuh jalan ekstrim seperti para pelajar >> Taliban. >> Salah satunya adalah dengan negosiasi dengan produsen >> seperti yang juga >> dikerjakan di nwgara maju. Kedua pemilihan sistem teknologi >> yang >> bijaksana, murah tapi berguna (bukannya mahal tapi gombal). >> Hal lain >> lagi adalah kaum terpelajar harus kritis ikut mengkontrol >> kaum bisnismen >> Indonesia yang acapkali tanpa moral menggiring masyarakat >> kearah cara >> hidup konsumtif tanpa martabat demi kerakusan mereka semata. >> >> Renungkanlah phenomena yang tragis sekarang ini, yakni >> memakai >> teknologi yang canggih VCD (karena menghasilkan gambar yang >> lebih >> jelas) bukan untuk keperluan research (misalnya menyelidiki >> mekanisme >> neutrophil menembus endothelial cell) melainkan untuk >> rame-rame nonton >> rekaman adegan mesum dari mahasiswa; yang tentu saja >> diproduksi >> dengan cara bajakan pula. Kapan bangsa kita punya rasa >> malu?!. >> >> Eko Raharjo >> Calgary >> >> >> >> Wahju wrote: >> >> > Saya sebenarnya nggak setuju software bajakan, tapi saya >> mengkonsumsi. >> > Alasan saya, lha wong saya nggak kuat beli aslinya, >> sementara saya nggak >> > pengen ketinggalan sama orang2 yang mampu beli asli, >> apalagi menghadapi era >> > globalisasi (konsep pembenaran yang keterlaluan saya >> kira). >> > Mudah2an dengan penambahan kemampuan saya di bidang >> komputer (yang >> > menggunakan software bajakan) bisa meningkatkan >> pendapatan, trus bisa beli >> > software asli. >> > >> > Kembali ke sweeping: >> > Mustinya kalau mau sweeping yha ke Manggadua, atau nggak >> usah jauh2, di >> > INDOCOMTECH aja terang2an dijual 20ribuan-itu untuk kelas >> teri. Mau yang >> > kakap, sweeping door to door di perusahaan2. >> > Kalau sweeping Notebook, saya kira susah nemuin Windows ! >> bajakan soaln ya >> > rata2 khan pre-loaded semua? >> > >> > thq, >> > >> > ----- Original Message ----- >> > From: "Herwening Kalpiko" >> > To: >> > Sent: Monday, October 22, 2001 10:03 AM >> > Subject: Re: [UNDIP] Gerakan Menyaingi Produk Amerika >> > >> > > Omong-omong soal sweeping produk Microsoft, hmmm saya >> sempat terenyuh >> > > setelah mendengar dari kawan saya bahwa kantor HAKI di >> UNDIP menggunakan >> > > software Windows bajakan. Tapi nggak apa-apa...saya sih >> setuju-setuju aja >> > > wong saya juga pake Windows XP bajakan juga. Lebih bagus >> lagi, mungkin >> > tidak >> > > sih kalau Departemen Komunikasi dan Informasi menggelar >> tender kepada >> > > tim-tim pembuat software di Indonesia untuk membuat OS >> yang asli Indonesia >> > > dan suitable buat orang Indonesia dan bisnis Indonesia >> yang bebas dari >> > > tuntutan perusahaan software OS yang ada. >> > > >> > > Wasalam, >> > > Picko >> > > >> > > ----- Original Message ----- >> > > From: "Taufan" >> > > To: >> > > Sent: Saturday, October 20, 2001 2:07 PM >> > > Subject: RE: [UNDIP] Gerakan Menyaingi Produk Amerika >> > > >> > > >> > > > >> > > > --- Ibnu Widiyanto wrote: >> > > > > Kalau Jepang dan Taiwan serta Malaysia berani kenapa >> >> > > > > tidak... sekarang saatnya >> > > > > pembajakan dilakukan...AAyo bajak wae...... >> > > > > >> > > > > He...he...he......... >> > > > > >> > > > > >> > > > > CU >> > > > > IW >> > > > > >> > > > >> > > > Ikut-ikutan ah..biar rame sekalian.... >> > > > kalo semua pada ngomongin bajak-membajak, saya pengen >> > > > ngomong SWEEPING aja ah, tapi ada hubungannya sama >> > > > bajak-membajak. >> > &! gt; > Kalo FPI dengan bosnya Habib Rizieq mau sweeping >> (dan >> > > > sampai sekarang BELUM PERNAH DILAKSANAKAN!) ternyata >> > > > sudah ada yang melakukan sweeping duluan bahkan nggak >> > > > tanggung2 AMERIKA yg melakukan, nggak percaya? baca >> > > > majalah warta ekonomi baru, orang2 microsoft pada >> > > > sweeping di BEJ, nyari orang2 yg bawa laptop siapa tau >> >> > > > di dalamnya windows bajakan. untung yg kena sweeping >> > > > pakai yg legal.... >> > > > >> > > > wah kalo gini ceritanya, microsoft "bajak" sweepingnya >> >> > > > FPI nih........ >> > > > >> > > > ===== >> > > > Wassalammualaikum Wr. Wb. >> > > > >> > > > Taufan >> > > > >> __________________________________________________________ >> > > > Get paid to search..... >> > > > Just click and sign up >> > > http://www.epilot.com/joinnow/referral.asp?friend=taufan >> >> > > > >> > > > __________________________________________________ >> > > > Do You Yahoo!? >> > > > Make a great connection at Yahoo! Personals. >> > > > http://personals.yahoo.com >> > > > >> > > > -------------------------- >> > > > Milis Archive: http://messages.to/archives or >> > http://messages.to/archives2 >> > > > to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - >> Seq. Number: 111 >> > > > DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList >> http://www.undip.ac.id >> > > > >> > > >> > > >> > > >> > > -------------------------- >> > > Milis Archive: http://messages.to/archives or >> http://messages.to/archives2 >> > > to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - >> Seq. Number: 114 >> > > DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id >> >> > > >> > > >> > >> > -------------------------- >> > Milis Archive: http://messages.to/archives or >> http://messa! ges.to/archiv es2 >> > to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - >> Seq. Number: 116 >> > DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id >> >> >> -------------------------- >> Milis Archive: http://messages.to/archives or >> http://messages.to/archives2 >> to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. >> Number: 118 >> DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id >> >> >> ----------------------------------------------------------------------- >> Do You Yahoo!? >> Make a great connection at Yahoo! Personals. > > >-------------------------- >Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2 >to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 122 >DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id -------------------------- Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2 to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 123 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
