Robertus Budi Prastowo wrote:
> Wah ..... hati-hati lho .... nanti kalau kita menikah atau menikahkan anak > kita dan tidak memberitahukan hal itu kepada umum bisa dianggap > menyembunyikan ..... > > Salam, > Eko Raharjo: You miss the point buddy! Permasalahannya bukanlah soal menikahkan anak melainkan mengenai Nurcholish Majid sang tokoh Muslim controversial, yang terkenal terang-2an suka melemparkan pemikiran (atau aksi) sekuler yang menghebohkan kalayak Muslim. Giliran kalayak Muslim punya kesempatan untuk menilai bagaimana sikap NM terhadap perkara pernikahan campur yang kebetulan menyangkut anak perempuannya sendiri, lho kok ada kesan disembunyikan seperti Gereja Katolik menyembunyikan kasus busuk pedophilia yang menyangkut 90 pastor di Boston dan New York?! Jadi kalau anda bukan seorang tokoh (dalam hal ini Muslim) tidak perlulah kawatir, anda bisa saja menikahkan anak anda dengan siapa saja dengan agama apa saja dan upacara apa saja tanpa ada yang perduli. Memang betullah nasehat bung Kadir bahwa saya harus sabar. Realistis saja, kalau orang tidak punya kesabaran cukup berdiskusi dengan orang-orang yang sudah punya berbagai prejudice dan misconception terhadap banyak perkara, ya memang bisa-bisa menekan tombol "rudal balistik" (istilah bung Kadir). Well, jangan kawatir bung Kadir saya adalah orang yang cukup terlatih dalam hal bersabar. Kalaupun saya harus menekan tombol "rudal", saya tahu persis kemana akan saya arahkan (yang jelas bukan ke arah anda) :). Salam Eko Raharjo ia menyembunyikan tindakan menikahkan anaknya? Is there something wrong? Kalau anda bukan seorang tokoh Sejak tangapan saya yang pertama saya mengatakan bahwa pernikahan adalah hajat pribadi orang hendaknya punya kebebasan dan tanggung jawab masing-2 untuk memilih pasangan maupun tatacaranya (baca posting saya Undip Wed. April 10, 2002), > > On Thu, 18 Apr 2002, Erwin Bayu Aji wrote: > > > Nah harusnya wacana yg demikian harus diposting juga waktu awal2 pemberitaan > > mas....ehhehhee. > > toh nggak tabu kok kita membuka wacana demikian. sebutin aja uneq2-nya > > sampeyan. namanya juga forum milist... > > so bisa diskusinya lebih terfokus lagi...atau mungkin memang anda belum > > mendapatkan berita dr gatranya ? > > > > rgds, > > > > -----Original Message----- > > From: Taufan [mailto:[EMAIL PROTECTED]] > > Sent: Thursday, April 18, 2002 9:31 AM > > To: [EMAIL PROTECTED] > > Subject: [UNDIP] Nurcholish Majid & Kontroversi > > > > > > Assalamualaikum wr.wb > > > > Niatan saya pd waktu posting berita ini adalah untuk > > merenungkan kembali masih perlukah menokohkan seorang > > kontroversial semacam Cak Nur ini. Kontroversial? Ya, > > semua tahu sejak menjadi ketua HMI dia sudah menjadi > > kontroversi mengenai jargonnya Islam Yes Partai Islam > > No. Dan dia tetap konsisten dengan ide2 nya mengenai > > Teologi Inklusif, Pluralisme, Sekularisme dan isilah > > semacamnya yang kontroversial, terutama pada awal 90an > > dan berlanjut sampai sekarang, dengan generasi > > penerusnya yang berada di Komunitas Utan Kayu yg > > membentuk Jaringan Islam Liberal ( > > (http://www.islamlib.com). Makanya dengan adanya > > berita ini, Sekjen KISDI (Komite Indonesia untuk > > Solidaritas Dunia Islam) ADIAN HUSAINI, menganngap > > Konsistennya seorang Inklusif Pluralis (liat > > tulisannya di Media Dakwah bln April 2002). > > > > Selesaikah dengan tanggapan Cak Nur di Majalah Gatra? > > Justru timbul pertanyaan. Peristiwa ini terjadi bln > > September 2001, dan mencuat ke permukaan baru bln2 > > terakhir ini. Kalo seandainya terjadi dengan > > kewajaran, kenapa harus ditutup-tutupi selama > > berbulan-bulan? Kemudian coba cermati komentar Bapak > > syamsi ali (di posting seblnya) > > setelah mendengar langsung dari Bpk. Nur Adnan (yg > > menjadi saksi dari perkawinan tersebut); > > > > > Tapi saya diberitahu > > > oleh Bp. Nur Adnan, salah seorang saksi pernikahan > > > tersebut. Sebenarnya, > > > pernikahan ini begitu sangat dirahasiakan, tapi > > > akhirnya karena berita di > > > New York Times, akhirnya terbongkar juga. Saya sudah > > > berusaha > > > menyembunyikan, seraya membenci dalam hati (selemah > > > iman), tapi saya > > > didesak teman-teman dan akhrinya saya tidak bisa > > > bohong tentunya. > > > > Kenapa Bapak Syamsi ali sampai berkomentar demikian? > > Adakah kontradiksi antara keterangan Noer Adnan dengan > > Cak Nur? Pasti ada sesuatu di luar kewajaran menurut > > Bp. Symsi Ali sebagai salah seorang yang pemimpin > > komunitas muslim di sana. > > > > Kita bisa mengambil hikmah dari peristiwa tersebut di > > atas sesuai dengan sudut pandang masing-masing. Yang > > pasti akan berbeda satu sama lain. Seperti yg kita > > ikuti di milis Undip ini. > > > > Segala kejadian di muka bumi ini tidak pernah lepas > > dari Sang Sutradara Allah Swt. Inikah Sentilan dari > > Allah Swt kepada Cak Nur? > > > > Hanya Allah Swt yang mengetahui.. > > > > > > ===== > > Wassalammualaikum Wr. Wb. > > > > Taufan > > _ -------------------------- Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2 to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 339 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
