Catatan Politik Mingguan Kaum Tani 
Edisi I Minggu I/Juli 2002/PP-STN 
Oleh: Redaksi TANI BERGERAK (Dedi Rohman, Muzzamil)  


�cengkehKU, aksi APTR dan Kekeringan LAHAN KITA�

Media massa mewartakan sesuatu yang membosankan kita.
Sebuah warta yang 
identik dengan penindasan. Warta tentang permasalahan
kaum tani yang 
sedang hangat minggu ini, persoalan harga cengkeh yang
menurun akibat 
kelebihan supply di tingkatan petani cengkeh
menimbulkan gejolak di 
beberapa basis massa kaum tani di Sulawesi sebagai
produk andalan asal daerah 
ini. Harga cengkeh Rp.70.000-Rp.85.000 anjlok hingga 
Rp.20.000-Rp.25.000, membuat para petani marah,
menuntut pemerintah membenahi regulasi 
pemasaran hasil produksi cengkeh.  

Ledakan perlawanan kaum tani cengkeh ini memaksa
pemerintah melalui 
Memperindag Rini Suwadhi menutup kran impor cengkeh.
Sungguh sebuah 
langkah yang sudah sangat terlambat, semakin
meyakinkan kita betapa 
pemerintahan Megawati-Hamzah sekarang sangat miskin
komitmen, dan tidak 
sedikitpun memiliki keberpihakan terhadap kepentingan
mendasar 
(ekonomi-politik) kaum tani. 

Protes rakyat, gugatan kaum tani atas tingginya
pengabdian pemerintahan 
Megawati-Hamzah pada tatanan ekonomi globalisasi
neoliberal melalui 
kaki tangannya �the three musketeers� IMF; WTO dan
Bank Dunia, hanya 
ditanggapi senyum Ibu Presiden. 
Pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian dan
Kehutanan 
(Deptanhut), serta Departemen Perindustrian dan
Perdagangan (Depperindag), 
sungguh tidak pernah membuka ruang kepada publik bahwa
selama ini cengkeh 
juga diimpor untuk memenuhi kebutuhan industri rokok
nasional. Pemerintah 
pun tidak bertindak tegas pada industri rokok untuk
berpihak pada hasil 
produksi petani cengkeh dalam negeri. 

Kasus cengkeh tidak hanya terjadi saat ini saja tetapi
sudah terjadi 
sejak tahun 1992 saat pemerintahan Soeharto mengambil
kebijakan memangkas 
seluruh tanaman cengkeh yang ada agar digantikan
dengan jenis tanaman 
lain (kopi, coklat) dan menggantikan struktur
pemasaran cengkeh dalam 
monopoli satu lembaga: Badan Peyangga Penyaluran
Cengkeh (BPPC), diketuai 
Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, yang di
kemudian hari 
terbukti ternyata badan ini sendiri dijadikan sebagai
tempat mengkorup dana 
pembelian cengkeh yang seharusnya untuk petani
cengkeh. Namun perlawanan 
tahun 1992 tidak begitu muncul ke permukaaan karena
sistem politik 
represif ketika itu.

Situasi miris ini tidak hanya dialami petani cengkeh
tapi juga para 
petani perkebunan tebu rakyat yang tergabung dalam
organisasi APTR 
(Asosiasi Petani Tebu Rakyat) yang secara sadar
melakukan perlawanan politik 
(dengan mobilisasi massa) terhadap kebijakan
pemerintah yang memberi 
kebebasan masuknya gula impor dengan tarif rendah,
seperti terjadi di 
Jombang dan Cirebon. Dihitung-hitung, memang kebutuhan
gula dalam negeri 
sebesar 3 juta ton pertahun hanya bisa dipenuhi oleh
produksi dalam 
negeri sebesar 1,3 juta ton pertahun hingga untuk
memenuhi kebutuhan gula 
dalam negeri pemerintah melakukan kebijakan impor gula
sebesar 1,7 juta 
ton pertahun (sumber: Media Indonesia). 
Suatu kebijakan ekonomi-politik pertanian yang
pragmatis dan tidak 
strategis dalam keberpihakan pada kaum petani dalam
negeri, sekali lagi ini 
membuktikan kita: pemerintahan Megawati-Hamzah tidak
memiliki konsep 
yang jelas, tegas, dan terarah dalam memajukan sektor
pertanian Indonesia 
secara utuh, hanya mengabdi pada tatanan ekonomi
globalisasi neoliberal 
yang menguntungkan ekonomi negara-negara maju.
Bayangkan, apa yang 
dapat diperbuat hanya dengan anggaran Rp.1,4 triliun
yang dialokasikan 
untuk pembangunan sektor pertanian dalam APBN 2002.
Bandingkan dengan 
alokasi dana untuk militer atau rekapitalisasi
perbankan.  

Kebijakan tarif impor gula mulai mendapatkan perhatian
pemerintah 
ketika perlawanan kaum tani tebu rakyat mulai meninggi
eskalasinya, ketika 
hampir seluruh pabrik gula tempat harapan petani tebu
atas hasil 
panennya tutup bergiliran karena produksinya kalah
bersaing dengan serangan 
produksi gula impor dan domestik yang memilki
teknologi pertanian modern 
dengan tingkat produktifitas tinggi. 

Dari fakta ini terlihat, kekuatan dan perlawanan
rakyat yang meluas 
dengan metode perlawanan yang variatif membuat aliansi
penguasa-pengusaha, 
sang pemegang dan penentu kebijakan yaitu negara tidak
memiliki pilihan 
lain untuk merubah kebijakannya walau hanya bersifat
konsesi untuk 
meredam gerakan rakyat yang besar. Ini merupakan
pelajaran berharga bagi 
kita, gerakan rakyat yang besar dan terpimpin akan
memaksa negara untuk 
berpihak pada kaum tani, rakyat miskin dan rakyat
tertindas lainnya. 
Tetapi persoalan kebutuhan pangan dalam hal ini gula
memang merupakan 
sebuah persoalan yang penting. 

Impor gula untuk memenuhi kebutuhan gula domestik
untuk sementara bisa 
kita terima tapi pemerintah juga harus memiliki konsep
politik 
pertanian yang jelas agar kebutuhan gula dalam negeri
tidak selalu tergantung 
pada gula impor. Lantas, pertanyaan kita: bagaimana
untuk mengatasi 
persoalan ini? 

Sebelum menganalisa dua persoalan hangat selama minggu
ini kita juga 
jangan lupa bahwa ada satu persoalan yang merupakan
ancaman bagi 
ketahanan pangan kita yang berdampak pada situasi
politik dan posisi politik 
pemerintahan Mega-Hamzah. Ialah persoalan kekeringan
akibat gejala El 
Nino yang bermuara pada fenomena gagal panen di
beberapa  daerah Pulau 
Jawa. Masalah ini sudah ada di depan mata kita dan ini
akan menjadi sebuah 
kekuatan yang besar bagi kesadaran di kaum tani;
pemerintah tidaka 
pernah berpihak pada kaum tani. 

Pemerintah seharusnya sudah bisa mensosialisasikan
keadaan iklim ke 
depan pada kaum tani dan pemerintah juga bisa membuat
metode-metode 
praksis mengatasi permasalahan ini sampai pada
persoalan teknis untuk 
pengadaan cadangan sumber air agar kelangsungan
tanaman kaum tani bisa terus 
berjalan. Tetapi kita yakin pemerintahan Mega-Hamzah
tidak akan pernah 
melakukan itu semua karena bagi mereka persoalan
pertanian hanya akan 
selesai dengan kebijakan impor pangan. Lihat saja data
impor beras 
sebesar 2.1 juta ton, tahun ini akan naik karena
kondisi kekeringan. Belum 
lagi persoalan semakin kurangnya lahan pertanian
pertahun. Persoalan 
ketahanan pangan dan liberalisasi pertanian yang
terjadi sangat memberatkan 
kehidupan kaum tani. Sekali lagi, bagaimana solusi
yang tepat untuk 
persoalan ketahanan pangan dan kaum tani Indonesia
sekarang? 

Semua peristiwa minggu ini merupakan akibat kebijakan
politik pertanian 
pemerintahan Mega-Hamzah yang setali tiga uang dengan
kebijakan politik 
pertanian Orde Baru --lebih menekankan struktur
ekonomi industrialis. 
Kebijakan yang semakin membuat kaum tani terpuruk
ketika pemerintahan 
Mega-Hamzah memudahkan liberalisasi pertanian bagi
kepentingan ekonomi 
dan modal internasional melalui kaki tangannya IMF, 
WTO dan  Bank Dunia.

Kebijakan pencabutan subsidi pertanian --disamping
subsidi rakyat 
lainnya, meliberalkan fungsi Badan Urusan Logistik
(Bulog), membuat dosa 
politik dengan hanya menganggarkan belanja sektor
pertanian sebesar Rp.1,4 
triliun amat jauh dari harapan untuk memperkuat
kemajuan pertanian 
Indonesia. Ketahanan pangan amat sangat tidak akan
bisa terwujud jika 
belanja negara di sektor ini tidak ditingkatkan,
begitupun dalam hal 
mekanisasi dan modernisasi alat dan teknologi
pertanian. 

Mengapa persoalan modal dan teknologi menjadi hal
pokok untuk 
meningkatkan ketahanan dan kemandirian pangan
Indonesia? Tegas, karena ketahanan 
dan kemandirian pangan hanya akan terwujud ketika kaum
tani secara 
modal dan teknologi mampu mengakses secara luas dan
bisa dipraktekkan dalam 
berproduksi. 

Walau kondisi kaum tani yang hanya memliki tanah
seluas 0,5 hektar 
namun dengan luas lahan yang kecil tersebut akan bisa
meningkat produksinya 
jika ditunjang oleh teknologi pertanian yang modern,
murah dan massal 
serta metode pertanian dengan sistem pertanian
kolektif (collective 
farming) bukan agribisnis --kebanggaan pemerintah
sekarang, sebagai jargon 
palsu membodohi kaum tani Indonesia yang karena
kecerdasannya akibat 
sering dibodohi, tidak lagi dapat dibodohi. 

Karenanya program perjuangan kaum tani harus selalu
diarahkan pada 
tuntutan: pengembalian tanah rakyat yang dirampas
rezim Orde Baru hingga 
rezim politik penguasa sekarang --disamping tuntutan
pemanfaatan 
lahan-lahan produktif yang tidak terpakai seperti
lahan-lahan yang dikuasai 
militer, pembebasan tarif impor produk teknologi
pertanian modern yang 
ramah lingkungan dan tidak kapitalistik sebesar nol
persen, penurunan 
harga pupuk-sarana produksi pertanian, pemberian modal
kerja untuk kaum 
tani dengan skim yang jelas mekanisme distribusi dan
mekanisme 
sosialisasinya --lebih pada penggunaan metode bottom
up,  perlu dan pentingnya 
pembangunan wacana dan kongkritisasi pembentukan
KOMITE PANGAN NASIONAL 
dengan komposisi keanggotaan organisasi massa kaum
tani yang sudah 
terbukti konsisten memperjuangkan tuntutan dan program
perjuangan kaum tani 
di Indonesia, pengembalian subsidi pertanian dan
subsidi sektor rakyat 
lainnya dalam bentuk nyata berupa kenaikan alokasi
anggaran APBN sebes
ar 30 persen, dsb. 

Seluruh tuntutan ini harus selalu dikaitkan dengan
tuntutan politis, 
atas pertimbangan kebijakan ekonomi negara selalu
terkait dengan 
instrumen politik, sebagus apapun konsep dan tuntutan
ekonomi kaum tani tidak 
akan dapat pernah terwujud tanpa ada perspektif
politik dalam perjuangan 
kaum tani. Ini harus selalu kita arahkan pada pemegang
kekuasaan 
politik daerah sampai nasional (pemerintahan
Megawati-Hamzah) yang tidak akan 
pernah mampu memenuhinya. Keduanya telah ambil posisi:
menjadi boneka 
kaum pemodal asing, dengan tentara sebagai penjaganya,
dengan kekuatan 
lama (Orba) memboncengnya; karenanya kaum tani harus
memiliki alat 
politik --front perjuangan bersama-- baik
sektoral/lintas sektoral 
berdasarkan garis program perjuangan kaum tani, rakyat
miskin dan kaum tertindas 
lainnya.

sekretariat ;
jl gardu 1 no 25/3 rt/rw 009/02 srengseng sawah
jagakarsa 12640 jakarta 
telp 0817800795



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Sign up for SBC Yahoo! Dial - First Month Free
http://sbc.yahoo.com

--------------------------
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 496
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke