Kehidupan universitas tidak saja merupakan tolok ukur dari kehidupan masyarakat di sekitarnya, melainkan juga menjadi basis dari trend perkembangan masyarakat di masa depan. Bila kehidupan universitas di penuhi dengan berbagai kegiatan non-sense bahkan mentolerir pembodohan dan abuse dapat dibayangkan dinamika masyarakat seperti apa yang terbentuk di masa depan. Pertanyaannya, mengapa komunitas akademis yang semestinya merupakan bagian masyarakat yang paling kritis justru tampak tidak mampu memahami posisi dan perannya dalam masyarakat. Kasus Sicilia sebaliknya membuktikan bahwa universitas bukannya memberikan solusi terhadap masalah dan kebutuhan dari masyarakat, melainkan telah memberi beban dan masalah tambahan kepada masyarakat.
Abad ke 21 ditandai oleh semakin berkembangnya kesadaran akan penghargaan terhadap hak-hak asazi manusia. Setiap manusia siapapun dia mempunyai "pusaka gawan" yakni martabat kemanusiaan yang patut dijunjung. Kemajuan teknologi terutama dalam bidang IT telah sangat membantu manusia dalam memahami realita dari dunia secara global seutuhnya. Terungkapnya kenyataan bahwa di banyak tempat martabat kemanusiaan masih belum dihargai selayaknya telah menggerakkan para aktivis, pemikir, pejuang kemanusiaan untuk mengadakan perubahan-perubahan. Mereka mengangkat issu-2 seperti eksploitasi kaum buruh di dunia ketiga oleh multinational corporations (seperti perusahaan sepatu Nike), opresi politik, kebudayaan, kepercayaan oleh penguasa-penguasa otoriter, eksploitasi sumber alam dst. Di negara maju universitas selalu menjadi pelopor dalam berpikir secara kritis dan bertindak secara inovative dalam berbagai perkara pelik yang dialami oleh masyarakat sekitar maupun masyarakat internasional. Sekali lagi pertanyaannya, mengapa universitas di Indonesia nampak tidak mengalami perkembangan kearah masyarakat ilmiah yang MATURE? Mengapa mereka masih sibuk bermain-main munyuk-munyukan (subhuman) yang hanya merugikan dan merusak kesehatan badan, jiwa, intelek, susila dst, yang faedahnya paling cuma nostalgia GOMBAL?! Saya kira saatnya kita perlu overhaul kehidupan kampus! Tidak dengan gerakan politik Normalisasi Kampus seperti yang dilakukan oleh Daud Yusuf dengan backing CSIS/Khasbul pada tahun 1978 melainkan dengan suatu inquiry yakni suatu bentuk accountability terhadap masyarakat. Kita semua perlu tahu bagaimana sesungguhnya pato-anatomy dan pato- physiology universitas di Indonesia sehingga bisa memperlakukan seorang mahasiswi baru tahun 2002 sedemikian buruknya sampai dirawat di rumah sakit dan menemui ajalnya. Eko Raharjo --------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #94 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
