NOSTALGIA
*********

Mengenang masa muda adalah nikmat. Kalau bisa, rasanya Siman
ingin freeze kehidupan semasa SMA karena begitu asyik dan jujur
(baca seri High School Drama I-VIII). But live goes on. Kyoshi
McCarthy, seorang bujin (pendekar) pendiri Koryu Uchinadi(jenis
bela diri ala Okinawan) pernah berkata: "satu hal yang konstan
dalam hidup adalah perubahan". Ya siapa yang bisa menghindarkan
perubahan?. Barangkali itulah sesungguhnya yang disebut takdir.
Dari murid SMA di kota kecil, ndeso, Siman kemudian menjadi
mahasiswa di Sekolah Kedokteran di Kampus Biru, UGM, Yogyakarta.
Saat ini ia adalah seorang suami dan ayah yang sedang berjalan-
jalan menikmati sunset di bukit Nose Hill, Calgary, bersama
Gunter, seekor Golden Retriever (jenis anjing)setianya, sambil
bernostalgia pengalaman semasa mahasiswa di tanah air. 

Seperti kebanyakan murid SMA dulu Siman tidak sepenuhnya mengerti
mengapa ia harus melanjutkan studi ke tingkat universitas?.
Bukankah sudah sedemikian banyak ilmu-ilmu yang telah dipelajari
selama 12 tahun sekolah? Aljabar analit, Goneometri, Stereo-
metri, Mekanika, Kimia, Fisika, Biologi, Geografi merupakan
beberapa contoh ilmu-ilmu sangar yang ia peroleh sebagai murid
SMA jurusan IPA. Kalau mengintip jurusan IPS bahkan lebih seram
lagi, karena mereka mempelajari ilmu-ilmu seperti Ekonomi,
Tata Buku dan Hitung Dagang. Bayangkan berkutet dengan teori-2
dari orang-orang seperti David Ricardo dan Adam Smith. Tentu
saja tidak kalah hebatnya adalah mereka yang berada di jurusan
Budaya, sayangnya Siman tidak paham betul ilmu apa persisnya
yang mereka pelajari. Barangkali mereka berkutet dengan karya-2
dari David Bowie dan Adam West, kalau sekarang ya mungkin dengan
tokoh seperti Austin Power. Bottom line!, tidakkah semua itu
sudah cukup bagi seorang lulusan SMA seperti dia untuk turun
gunung melamar pekerjaan di kantor-2, perusahaan-2 milik negeri
ataupun partikelir?!, sekaligus melamar gadis idaman hati untuk
dijadikan isteri?

Tidak puas dengan sederetan pertanyaan yang ia sudah tahu
negatif jawabnya, Siman terus mengumbar pikiran kritisnya. 
Pegawai-2 bank misalnya, yang memakai lipstik bak seekor
vampire yang baru saja mengunyah korbannya mentah-mentah,
ilmu apa yang mereka pakai? Bukankah sekedar ilmu hitung
sederhana?. Jurus "poro gapit" pun masih terlalu tinggi
untuk pekerjaan semacam itu, apa lagi telah tersedia alat
hitung elektronik dan komputer which do most the job for them.
Lulusan SMA yang telah terlatih dengan persamaan aljabar analit
yang sangat complicated jelas over qualified untuk posisi
semacam itu. Siman berkeyakinan bahwa lulusan sederajat SMA
semestinya mampu mengisi semua lowongan pekerjaan tingkat
menengah dalam bidang pemerintahan, partai politik, manajer
perusahaan, perbankan, asuransi, stock exchange, industri
perminyakan dst. Jadi mengapa harus membuang waktu dan beaya
untuk kuliah di universitas selama 4-5 tahun, kalau lowongan
yang tersedia hanya posisi yang sama atau lebih rendah?

Siman mendaftar ke universitas anyway. Ia tidak tahan untuk
menjadi sendiri, kesepian. Sehabis lulus, semua teman-teman
pada sibuk mempersiapkan tes ujian masuk perguruan tinggi,
seperti SKALU (untuk universitas papan atas), SKASU (untuk
universitas papan menengah), dst. Beberapa dari mereka not
even in the town anymore!. Mereka pada pergi ke kota-kota
besar seperti Yogyakarta, Semarang, Bandung untuk mengikuti
bimbingan tes yang diselenggarakan oleh lembaga-2 bimbingan
tes ternama. Sejujurnya bukan karena situasi teman-2 nya yang
bagai kesurupan, pontang-panting kesana-kemari agar bisa
diterima di suatu perguruan tinggi, yang mendorong dia 
mendaftar tes SKALU, melainkan karena perubahan yang terjadi
dalam hubungan antara dia dan Aisyah. Suatu perpisahan yang
kelabu melanda mereka berdua. Pada Pesta Malam Perpisahan SMA
mau tidak mau Siman harus menerima bahwa perubahan merupakan
suatu hal yang tidak dapat dihindarkan, and live goes on.
Dalam perjalanan pulang di dalam becak bersama Siti Hajar,
minus Aisyah, ia bahkan tidak saja bisa merasakan roda becak
berputar melainkan juga jagad yang berputar. Terus terang
kepalanya agak pusing setelah perpisahan tersebut. Ditengah
kekalutannya, Siti Hajar menegurnya dengan lembut: "Man, Siman,
what's your plan for the future?" Bagai kena ECT seluruh sistem
syaraf di otak Siman tergugah......

Indonesia pada akhir tahun 70, siapa orangnya yang tidak
memandang kedepan dengan optimis. Negara dengan natural
resources yang melimpah ruah disertai man power dengan jumlah
yang sangat besar dan berpotential. Puluhan ribu lulusan SMA,
laki-laki dan perempuan, siap mengisi lapangan kerja. Kualitas
sebagian besar dari mereka tidak bisa diragukan. Sebagai ukurannya
adalah Siman dan teman-temannya sendiri, yang lulus dari sebuah
SMA Negeri di kota kecil, ndeso, namun tidak kalah dalam bersaing.
Kebanyakan teman-teman SMA Siman satu angkatan adalah anak-anak
pintar yang tidak enggan untuk bekerja keras. Terlebih mereka
adalah anak-anak dengan mentalitas kuat, penuh kreativitas,
conscientious dan beridealisme tinggi. Masih segar di benaknya
ketika ia bersama-sama mereka menentang kebijaksanaan sekolah
yang unfair and foulty tanpa takut akan resiko (High School
Drama I-VIII). Heroiknya, hampir semua teman-teman SMA nya,  
bergabung dengan puluhan ribuan lulusan SMA lainnya dengan
semangat tinggi mendaftarkan diri ke universitas-2 dan perguruan
tinggi untuk mengisi kebutuhan pemerintah akan tenaga kerja skill
tinggi. Sungguh mengharukan bahwa para orang tua, yang tidak sedikit
merupakan orang-orang sederhana, seperti janda, pensiunan, petani,
buruh kecil, dengan suka rela membiayai studi anak-anaknya tanpa
menuntut bantuan dari pemerintah sedikitpun. What could go wrong?!
Dapat dipastikan dalam satu-dua atau tiga dasa warsa, negara
Indonesia akan menjadi negara besar yang kuat, maju, makmur,
adil dan sentosa........

Jagad Bethoro! tiga puluh tahun telah lewat, bukan kemajuan yang
didapat melainkan nista dan derita. Hutang negara bertumpuk tidak
terkira, jumlah pengangguran sebesar penduduk negara Argentina,
kedaulatan negara yang diperebutkan dengan darah dan airmata pun
tinggal angan-angan. Indonesia completely menjadi negara kelas
PARIAH yang tidak dipandang sebelah mata. Jangankan negara super
power seperti USA, negara Malaysia yang boleh dikata dulu merupakan
"anak didik" sekarang bisa seenaknya kicks our butt, orang Australia
meludah setiap kali mendengar nama Indonesia, bahkan mau tidak
mau kita harus bersedia untuk digurui oleh orang Timor Timur
yang dulu bagi kita tidak lebih dari anak desa yang mengidap
thalassemia.

Pemimpin-pemimpin bangsa telah menjadi kaum suckers yang berebutan
untuk menjilat telapak tangan "bapak dan ibu" presiden. Segala macam
penyalahgunaan, jabatan, posisi, wewenang, kepercayaan, dan tindak
korupsi rampant dimana-mana. Kaum pendidik di universitas-2 pun
tidak ketinggalan membuktikan keloyalannya dengan cara kissing
mbak Tutut's butt. Bahkan pemuka agama seperti Pastor-2 (Jesuit)
Katolik tidak ketinggalan ikut fuck situasi yang ada up.
Mahasiswa saling mengkanibal satu sama lain. Secara struktural
dan sistematis mahasiswa 'lawas' (lama) lewat kegiatan perploncoan
diberi kesempatan untuk mengeksploitasi mahasiswa baru. Kalau ada 
mahasiswi mati karenanya bukanlah kejutan, setiap tahun tidak
sedikit mahasiswa/ mahasiswi yang secara langsung atau tidak
diam-diam menderita cacat jiwa dan badan seperti kehilangan
keperawanan bahkan sampai menggugurkan kandungan. Sulitkah untuk
mengetahui anatomi kebusukan ini? Tidak. Hampir semua orang tahu
what went wrong. Namun masalahnya kalau masyarakat USA hanya
memerlukan dua gedung hancur untuk berubah, masyarakat Indonesia
yang dipenuhi oleh pemimpin-2 dengan muka tembok dan "rai gedeg"
mungkin memerlukan kiamat untuk mampu mengakui kesalahan-2 dan
berubah.

Siman menghentikan langkahnya, melempar frisbee keangkasa yang
dengan segera dikejar dan ditangkap oleh Gunter. Good boy, Gunter!
Dengan bersemangat Gunter lari balik kearah Siman dengan membawa
frisbee di mulutnya. Dilemparnya lagi frisbee tsb, kali ini masuk
ke suatu kolam (pond) yang tidak ditumbuhi kangkung, Gunter malah
tambah bersemangat, terjun kedalam kolam untuk mengambil frisbee
tsb.     
Demikianlah seperti biasanya Gunter selalu menikmati acara
perploncoan dari the big boss, Siman. Akhirnya dipanggilnya Gunter,
Come!, Sit!, Stay! Gunter duduk dengan manis, lidahnya dijulurkan
dan matanya dengan sorot bloon seolah-olah berkata "I can be an
Indonesian leader too!" Guuk! Guuk! Shut up! Gunter!

Nose Hill 2002
Eko W Raharjo

---------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #99
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id


Kirim email ke