Dari Balipost, September 29, 2002

Bobrok amat ya...................

---------------------------------------------------------------

Pola dan Modus Suap di Gedung Wakil Rakyat
Terima Amplop Langsung dari Korlapnya

Aduhh... lagi-lagi amplop, lagi-lagi amplop. Inilah bangsa korup dan DPR
adalah cermin kekorupan ini. Ketuanya saja terpidana skandal korupsi.
Apalagi anggotanya? Ibarat puncak gunung es, anggota DPR Meilono Suwondo
kemarin memberi kesaksian mengenai banyaknya aliran korupsi di Senayan.
Berikut ini pola dan modus korupsi anggota Dewan itu.


''COBA teliti anggota DPR. Dulu, mereka mencuci baju sendiri. Sekarang,
mereka sudah memakai mobil Jaguar. Dulu masih ngontrak, kini rumahnya
mewah. Itulah anggota Dewan sekarang.''


Kalimat ini keluar dari Koordinator Indonesian Corruption Watch Teten
Masduki. Rupanya kalimat itu bukan hanya nasihat, tetapi bukti korupsi yang
terjadi selama ini di DPR. Maka, pantas, dulu anggota DPR itu pekerjaannya
cuma duduk, diam, dengar dan duit. Tidak perlu banyak bicara, toh uang
sudah bertaburan.


Namun, seiring era reformasi, korupsi tidak hanya diterima sambil duduk.
Uang korupsi bisa berjalan-jalan dalam bentuk traveler cheque. Duit
bersindikat korupsi juga bisa beterbangan ke toilet anggota DPR Aberson
Marley Sihaloho dalam bentuk cek yang dulu diributkan milik Anshari
Ritonga, sang Dirjen Anggaran. Rupiah pun bisa berjejalan di kantong atau
koper anggota DPR dalam bentuk amplopan. Di era digital seperti sekarang
ini, transfer rupiah lebih mudah. Tetapi, amplop tebal dalam bentuk dolar
masih juga gentayangan.


Inilah kesaksian anyar anggota DPR asal Fraksi PDI-P. Meilono Suwondo dan
Indira Damayanti Sugondo (mengundurkan diri Juli lalu). Meilono membeberkan
traveler cheque yang dia terima dari salah satu BUMN. ''Sekarang sudah saya
laminating. Biar bisa dijadikan bukti,'' katanya, dalam testimoni bersama
ICW di News Cafi, Kemang, kemarin. Yang menghebohkan adalah skandal
divestasi Bank Niaga. Setelah I Putu Gede Ary Suta dilengserkan kemudian
digantikan Syafruddin Temenggung, sebuah pertemuan digelar. Ketua BPPN
anyar bicara program kerjanya, termasuk rencana divestasi Bank Niaga, di
Hotel Park Lane Jakarta. Usai pembicaraan, BPPN bagi-bagi duit. ''Saya
menerima langsung dari korlapnya (koorinator lapangan),'' tegas Meilono.


Mendapat uang ini, Meilono tak senyum. Dia marah. ''Yang lain sudah kok,
Pak,'' kata sang korlap ramah. Meilono tak bisa berkata lain. Sebab, si
korlap ini juga orang suruhan. Lantas, uang itu disimpan, berjejer dengan
traveler cheque yang dia terima dari badan usaha lain. Amplop BPPN itu
sengaja tak dibukanya hingga kini. Itu akan dijadikan sebagai bukti bahwa
di Senayan memang banyak terjadi praktik suap. Ketika ditanya ke teman
lainnya, berapa nilai amplop itu, ternyata cuma 1.000 dolar AS atau Rp 9
juta. Ketua BPPN Syafruddin Temenggung sudah membantah soal suap ini.
Tetapi, Meilono tetap yakin dan berani menunjukkan bukti.


Rupanya, angka ini bervariasi pada pertemuan berikutnya. Per kepala, di
komisi keuangan dan perbankan, jumlah suap meningkat 5.000 dolar AS hingga
15.000 dolar AS. Banyak anggota Dewan yang semula galak dalam dengar
pendapat, tiba-tiba duduk manis. Biasanya amplop-amplop itu bertebaran
setelah pembahasan sebuah RUU hampir kelar. Besarnya warna-warni. Ada Rp 1
juta, Rp 2 juta dan ada sampai puluhan juta.


Modus suapnya sederhana, klasik, tetapi unik. Biasanya suap dalam bentuk
tunai ditutup dalam amplop. Suap ini dibagikan ke anggota DPR dalam
beberapa tahap. Biasanya setelah hearing,badan pemerintah dengan DPR. Dalam
dengar pendapat ini, banyak cara untuk mencari peluang suap. Biasanya,
anggota DPR akan mencari-cari kesalahan badan pemerintah tersebut.


Dia atur pertanyaannya, berbelit-belit dan panjang. Jika berbelit-belit dan
mengorek-ngorek masalah, biasanya si anggota Dewan ini minta disuap. Maka,
partnernya pun harus paham. Usai hearing, harus ada amplop yang berjalan
untuk menyumpal mulut si anggota Dewan tersebut. Dengan begitu, pada
hearing selanjutnya, dia tidak akan macam-macam lagi. Besarnya suap diatur
berdasarkan jumlah pertanyaan anggota Dewan. Yang vokal yang dapat besar.
Sementara yang diam saja, ya... bisa dapat paling kecil atau tidak sama
sekali.


Yang sederhana adalah uang terima kasih. ''Misalnya, usai pembahasan RUU.
Saya pernah menerima dari Departemen Pertanian, dalam bentuk amplop.
Tetapi, karena tak jelas, saya kembalikan,'' tutur Indira Damayanti
Sugondo, yang turut dalam testimoni politik uang, di Senayan ini.


Uang terima kasih ini juga kerap terjadi dalam kunjungan kerja ke daerah
atau badan usaha. Biasanya dilakukan selama masa reses DPR. Sejatinya,
Setjen DPR telah menganggarkan semua keperluan biaya kunjungan kerja ini.
Misalnya, biaya penginapan (hotel), makan, dan uang saku. Tetapi, uang ini
biasanya tak terpakai sama sekali alias bisa langsung masuk kantong. Sebab,
biaya makan dan hotel bisa ditanggung daerah atau perusahaan yang ditinjau.


''Setelah itu, biasanya pemda juga menyediakan amplop terima kasih. Saya
pernah di Surabaya mendapatkan amplop. Katanya, untuk jalan-jalan, cari
hiburan di Surabaya. Ini biasa, Pak,'' tutur Meilono menirukan sang utusan
pemda itu. Tujuan pemda, BUMN, institusi pemerintah menyuap -- memberi uang
terima kasih, traveller cheque dan sebagainya -- itu agar DPR tidak banyak
tingkah. Misalnya, menggagalkan RUU yang telah dibuat pemerintah atau
mencari-cari masalah.


Modus bisa selalu berganti, bergantung niat dan kesempatan. Lama-kelamaan,
pola suap-menyuap ini terus berkembang seiring dengan kemajuan logika.
Tetapi, pengamat ekonomi Lin Che Wei membuka pola anyar di hadapan publik.
Katanya, soal korupsi di negara berkembang itu wajar. Artinya, di semua
negara berkembang, korupsi ini memang bak jamur di musim penghujan. Cuma,
di negara lain, biasanya suap-menyuap dilakukan oleh partai berkuasa kepada
partai oposisi.


Indonesia lain. Pemerintah justru menyuap partai penguasa. ''Ini yang tak
wajar,'' katanya. Bahkan, soal investasi di Indonesia, sang calon investor
harus mempelajari peta suap di birokrat dan DPR. Untuk investasi
telekomunikasi misalnya, sang investor harus memegang anggota DPR dari
fraksi A dan B.


''Tidak harus anggota asal Fraksi PDI Perjuangan (partai pemenang). Sebab,
masing-masing bidang, ada kelompoknya sendiri-sendiri. Bidang A, mafianya
ini didukung fraksi ini dan itu, bidang B mafianya itu, dan seterusnya,''
ujar Lin, yang biasa memberi konsultasi masalah investasi di Indonesia
tersebut.

Tujuan Meilono membuka suap ini agar Indonesia perlahan-lahan bersih dari
status negara koruptor. ''Kita mulai dari diri sendiri, kita mulai dari
yang kecil, dan kita mulai sekarang. Tiga hal ini menjadi solusi bagaimana
mengatasi korupsi di negeri ini,'' ujar Meilono. Hal ini, katanya, tak ada
unsur politik. ''Apalagi dikaitkan, calon investor saya kalah dalam
divestasi Bank Niaga,'' aku Meilono. Lha, investor yang membeli Bank Niaga
kan cuma satu, yakni Commerce Asset-Holding Berhard asal Malaysia, yang
menawar Rp 26,5 per lembar saham. * Heru


---------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #143
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id


Kirim email ke