Zakiyah Daradjad

Ketika SMU Jadi Ketua OSIS, DO Fakultas Kedokteran Undip

Zakiyah Daradjad - SM/dok
http://www.suaramerdeka.com/harian/0211/26/nas2.htm
SEMARANG- Istri tersangka pelaku peledakan bom Bali Imam Samudera alias Abdul Azis, Zakiyah Daradjad bin Saiful Fauzan, tercatat pernah kuliah di Fakultas Kedokteran (FK) Undip hingga semester VI atau kelas muda. Ayahnya seorang PNS yang beralamat di kompleks BTN Blok F 149 Serang, Jawa Barat.

Zakiyah adalah tamatan SMAN Jepara jurusan IPA 1990. Karena prestasinya, dia berhasil menembus perguruan tinggi negeri lewat jalur PMDK pada 7 Agustus 1990.

Namun, selama kuliah di Undip prestasinya biasa-biasa saja. Mahasiswa yang bernomor induk 3630 itu terakhir memiliki indeks prestasi 2,17.

Semester pertama menempuh belajar di FK Undip berhasil mendapat IP 2,65 dengan nilai antara lain pada mata kuliah Pancasila A, Biologi BC, Fisika C, dan Kimia B.

Pada semester VII, mahasiswa FK diwajibkan mengikuti program co assistant (co-as). Namun sebelum program itu, yang mahasiswa harus berhubungan langsung dengan pasien, dia sudah tidak kelihatan di kampus. Gara-gara bercadar?

FK Undip tidak melarang mahasiswanya mengenakan kerudung selama menempuh kuliah. Mahasiswa yang kini tercatat sebagai mahasiswa FK dan berjilbab jumlahnya sangat banyak. Hanya saja, bagi mahasiswa yang bercadar, tampaknya, kurang leluasa mengikuti kuliah terutama pada masa co-as. Misalnya mengenai baju yang harus dikenakan.

"Setiap mahasiswa yang masuk ke ruang praktikum harus steril dengan mengenakan pakaian bedah," tutur Dekan FK Undip Prof dr Kabulrahman SpKK (K) didampingi Pembantu Dekan I dr Anon Surendro PAK, Senin (25/11), di ruang kerjanya.

Menolak Aturan

Namun, mahasiswa dengan indeks prestasi semester I tercatat 2,65 itu tidak mau memakai pakaian steril. Justru bersikukuh dengan pakaiannya yang tertutup rapat, bahkan selalu mengenakan kaca mata hitam. Pihak fakultas yang memiliki aturan tersebut tidak bisa menoleransi.

Dalihnya, sebagai calon tenaga medis harus menjalani pendidikan. Pemeriksaan terhadap pasien, contohnya, harus bersentuhan langsung. Zakiyah tampaknya memegang teguh prinsipnya untuk tidak bersentuhan dengan lain jenis. Sekalipun hal itu untuk memeriksa kondisi kesehatan pasien.

"Tenaga dokter di rumah sakit harus melayani semua orang, tanpa membeda-bedakan pasien," kata Anon. Selain itu, terdapat aturan umum selama mahasiswa mengikuti ujian. Yaitu foto di kartu ujian harus sesuai dengan mahasiswa, identitas harus jelas, foto ijazah juga mesti terang. "Kalau memakai cadar, kami tidak bisa mengetahui apakah dia mahasiswa kami atau bukan," jelasnya. Selama kuliah, tidak ada kabar berita menyangkut aktivitasnya di kampus. Hal itu memunculkan kesan Zakiyah tergolong tertutup, serta membatasi pergaulan.

Undip bukannya hendak membatasi ruang gerak mahasiswanya, apalagi melakukan diskriminasi. Sebagai contoh, lanjut Anon, beberapa tahun lalu terdapat dua orang mahasiswa yang menolak semua kegiatan yang berlangsung di hari Sabtu. Alasannya, Sabtu adalah hari sabbath (sabat).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sabat berarti hari ketujuh (hari Tuhan beristirahat sesudah menciptakan alam semesta, menurut kitab Taurat). "Seorang di antaranya memilih keluar dari FK Undip, tetapi seorang lagi bisa menaati aturan hari Sabtu tetap mengikuti program akademik dan bisa lulus," ungkapnya.

Tentang Zakiyah, keyakinannya untuk selalu mengenakan cadar cukup kuat. Terbukti, setelah mengetahui aturan FK Undip bagi mahasiswa co-as, dia tidak kelihatan di kampus. Fakultas tidak menerima surat pengunduran diri secara resmi. Akhirnya, Undip mengeluarkan surat drop out (DO) yang tertuang dalam SK Rektor Undip No 013/SK/PT/09/99 tentang pemutusan hubungan studi sebagai mahasiswa Undip. Universitas beralasan mahasiswa angkatan 1990 itu tidak melakukan daftar ulang diri sebagai mahasiswa Undip.

Pintar

Namun, ketika masih menjadi murid SMU Negeri 1 Jepara (1987-1990), Zakiyah Darajad, terkenal sebagai murid yang pintar dan aktif dalam berbagai organisasi siswa. Kepintaran siswi bertubuh mungil itu dapat dilihat dari prestasi akademik. Tidak hanya menjadi juara kelas, Zakiyah langganan juara umum di tingkat sekolah.

Selain pintar dan cerdas, juga aktif dalam kegiatan OSIS. Bahkan pernah menjadi ketua OSIS, selain juga aktif di Pramuka dan remaja masjid. "Zakiyah memang pintar dan aktif. Saya menjadi temannya satu kelas, mulai kelas I sampai kelas IIIA2-2," tutur Puji Santoso (31), kemarin.

Dikatakan, sewaktu Zakiyah menjadi pimpinan OSIS, Puji menjadi seksi olahraga. Kebetulan, bintara polisi itu, memang menggeluti seni bela diri karate. "Saya memang jadi anak buahnya waktu dia aktif di OSIS," ujar puji.

Berkat prestasinya, begitu lulus dari jurusan A2 (Biologi), Zakiyah masuk Fakultas Kedokteran Undip tanpa tes, melalui jalur PMDK. Puji mengakui, setelah lulus tidak pernah kontak ataupun ada acara reuni, sehingga nyaris lupa. Ingatannya kembali segar, ketika muncul pemberitaan Zakiyah Darajad, istri Abdul Aziz alias Imam Samudra, tersangka kasus bom Bali.

Asal Orang Tua

Hal serupa juga dikemukakan guru dan karyawan SMUN 1 Jepara. Memang tidak semua guru dan karyawan mengenalnya. Maklum saja, Zakiyah sudah lulus 12 tahun lalu. Ada guru dan karyawan yang baru masuk belakangan. Demikian juga gurunya sudah banyak yang pindah atau pensiun.

Informasi dari Kepala Sekolah Drs H Soewardi dan Kepala TU (Tata Usaha) SMUN 1 Jepara Bambang Wisaksono SPd, Zakiyah Darajad tercatat masuk kelas I tanggal 14 Juli 1987.

Ayahnya, Saeful Fauzan asli Jepara, ibu dari Demak. Namun, saat itu keluarga Zakiyah tinggal di Serang (Banten), karena ayahnya bekerja di sana. Masa SLTP-nya pun diselesaikan di Serang. Sewaktu menempuh belajar di SMUN 1 Jepara, dia tinggal bersama saudara orang tuanya. Alamat yang tertera dalam buku induk sekolah, tertulis alamat di Serang.

"Zakiyah memang terkenal pintar dan aktif di organisasi, terutama OSIS. Dia sangat menonjol," ujar Bambang Wisaksono, yang mulai bertugas di SMUN 1 Jepara sejak 1988, ketika Drs Suyoto menjabat kepala sekolah.

Istiada

Selain Zakiyah, tercatat nama Istiada bin Oemar Sovie yang pernah menempuh studi di FK Undip. Istiada adalah istri Joko Pitono (tersangka lain dalam kasus peledakan bom Bali). Perempuan kelahiran Pemalang 12 Juni 1965 tersebut memiliki nomor induk 3019. Berbeda dari Zakiyah, dia masuk kuliah lewat jalur UMPTN pada 10 Agustus 1987.

Menurut Dekan Kabulrahman, dia juga tidak lulus dari FK Undip. Sebabnya sama dengan Zakiyah, tidak bisa menaati aturan akademik. Misalnya untuk mengenakan baju steril ketika masuk ruang praktikum karena memakai cadar.

Istiada tidak diketahui keberadaannya di kampus sejak 1991. Setelah penangkapan Joko Pitono di Pemalang, namanya disebut-sebut sebagai istrinya.

Rektor Undip Prof Ir Eko Budihardjo MSc membenarkan, Zakiyah dan Istiada sebagai mahasiswa PTN tersebut. Menurut dia, Zakiyah sempat diberi teguran pada 1994 karena tidak aktif kuliah. Setelah teguran keempat, akhirnya Rektor mengeluarkan surat DO terhadap Zakiyah pada 1999.

Ke Malaysia

Beberapa teman dekat Zakiyah semasa kuliah di Fakultas Kedokteran (FK) Undip menuturkan, pada semester pertama Zakiyah yang disebut berwajah mirip Sitoresmi itu tergolong orang yang ceria dan mudah bergaul. Dia pandai dan rajin kuliah, sehingga masuk dalam "10 besar".

"Namun begitu mengikuti perkumpulan pengajian tertentu, dia mulai mengenakan jilbab, bahkan tak lama kemudian bercadar. Sejak itu, dia memperlihatkan sikap yang tertutup dan sering meninggalkan kuliah, sehingga prestasi belajarnya menurun," tutur rekan wanita yang enggan disebutkan namanya.

Sikap ekstrem lainnya, jelas dia, ketika Zakiyah dan teman-teman pengajiannya mengikuti praktikum anatomi. Mereka meminta dosen agar kelas atau tempat praktikum dibedakan antara mahasiswa pria dan wanita. Saat praktik di ruang operasi, Zakiyah juga tidak mau melepas cadarnya. Padahal peraturan fakultas dan dunia medis pada umumnya, identitas dokter atau mahasiswa kedokteran yang akan melaksanakan operasi harus jelas. Jika bercadar, tentu sulit melakukan identifikasi.

Beberapa rekan kuliahnya yang dihubungi Suara Merdeka bersedia memberikan informasi tentang Zakiyah semasa menimba ilmu di Undip, namun mereka enggan disebutkan jati dirinya.

Teman kuliah lainnya menyatakan, Zakiyah akhirnya tidak lulus karena sejak semester VI tidak pernah kuliah dan dikabarkan menikah, lalu hijrah ke Malaysia mengikuti suaminya yang kemudian dikenal sebagai Abdul Aziz alias Imam Samudera. (Agus Toto Widyatmoko, Asep BS, Sukardi-16k)



---------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #258
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id


Kirim email ke