JIL Sekedar Brand Name?
**********************
Pemakai jilbab sejak lama memperoleh tekanan dan diskriminasi
di Indonesia. Belum lama berselang seorang wartawati ditolak
untuk mencover lawatan pejabat ke luar negeri karena berjilbab.
Apa reaksi JIL? Tokoh JIL, Ulil, malahan memberikan pandangan
yang pada prinsipnya merendahkan nilai jilbab dalam Islam.
Apakah tidak memberi kesan bahwa JIL dan pihak tertentu dalam
pemerintah in concert bertujuan melenyapkan pemakai jilbab?
Pemikir liberal mencita-citakan suatu penghayatan keagamaan
yang merdeka, penghormatan perbedaan dan pengutamaan harmoni.
Namun tindak-tanduk tokoh dan pengikut JIL tidak terlihat
demikian. Dari kesan yang saya tangkap lewat mailing list
Islib dan media umum, perjuangan JIl lebih mengarah kepada
memberi tekanan terhadap kaum fundamentalis/revivalis.
Eksistensi dari kaum fundamentalis tidak diterima sebagai
suatu diversiti, melainkan sebagai penghalang yang harus
disingkirkan. Oleh karena itu terhadap kaum fundamentalis,
JIL terlihat tidak menaruh hormat dan tidak punya niat untuk
hidup berdampingan dengan harmonis.
Pengikut JIL memberikan kesan secara terang-terangan bahwa
penghormatan mereka ditujukan kepada Barat. JIL dengan mudah
hidup berdampingan secara harmonis dengan pihak non-Islam
(Kristen) ketimbang sesama pemeluk Islam lainnya. Suatu hal
yang sulit dimengerti, namun dipraktekkan sejak lama oleh
tokoh-tokoh Islam yang mengaku moderat seperti Abdurahman
Wahid. Mereka akan sangat menggebu-gebu untuk memperjuangkan
hak-hak kaum minoritas, apakah itu hak berpolitik (misal
jatah kepemimpinan dalam ABRI) dari pihak Kristen, hak-hak
kaum homoseksual, dst, katimbang misalnya hak berjilbab dari
kaum Muslimah. Tentu saja hal semacam ini memancing kejengkelan
dan perpecahan dari kelompok Muslim lainnya.
Kelompok fundamentalis sebaliknya memandang Barat dibawah
pimpinan USA sebagai pihak yang bertanggung jawab atas
kekacauan, kemiskinan dan tertekannya negara-2 dengan
mayoritas Islam, contoh khasnya adalah Palestina. Tuduhan tsb
bukannya tanpa bukti. Sejak jaman kolonial sampai sekarang
tangan-tangan Barat memang tidak pernah lepas dari urusan
dalam negeri dari negara-negara Islam. Tidak sulit melihat
bahwa negara Barat berkepentingan "menertibkan" negara-2 tsb
dengan menerapkan policy carrot and stick. Mereka yang tidak
menurut akan digebuk!
In short, saya mempertanyakan apakah JIL merupakan liberal
sejati? apa bukan sekedar brand name dari suatu kelompok
yang berjuang untuk merebut simpati publik? Pemikiran Ulil
yang undermine keyakinan orang, misalnya dalam perkara jilbab,
tidak bisa disebut sebagai pemikiran yang liberal. Seperti
saya singgung diatas saya mempertanyakan pula mengapa JIL dan
mereka yang mengaku sebagai Muslim moderat lainnya tidak
punya respek dan tidak ingin hidup berdampingan dengan kaum
fundamentalis, tetapi sangat nafsu untuk memeluk apa saja
asalkan berbau Barat. Padahal justru Barat lah yang selalu
tidak menghormati perbedaan, yang memaksakan penyeragaman
seperti globalisasi, McDonaldisasi dst. Apakah ini tidak
bertentangan dengan the very essence of liberalism????
Eko Raharjo
Calgary
K
"Fuad Lalean " wrote:
>
> --- In [EMAIL PROTECTED], Eko Raharjo <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> >
> > Yang saya pelajari adalah science dan teknologi yang universal sejak
> > jamannya Avicena (Ibnu Sina) sampai Watson & Cricks. Saya tinggal
> > disini (Kanada) diantaranya karena disini pemakai jilbab (muslimah),
> > ubel-ubel (Sikh), rock kotak-kotak (pria Scotish) tidak memperoleh
> > harassment. Sebaliknya di Indonesia pemakai jilbab di haras oleh
> pihak
> > pemerintah dan orang-orang terpelajar yang membanggakan dirinya
> > sebagai JIL.
>
> Wah, yang ini saya kurang setuju. Memang ada bukti2 nya, ya, kalau
> JIl/pendukung JIL melakukan pelecehan terhadap pemakai jilbab? kalau
> yang ditulis oleh ulil itu kan mempertanyakan, dan berargumentasi
> dengan hal2 tersebut, bukannya melecehkan. bahkan saya lihat, justru
> pendukung JIL lah yang selama ini memperjuangkan keberagaman dalam
> umat islam: mau pakai jilbab, mau nggak, mau berjenggot, mau enggak,
> yang pasti harus saling menghormati dalam satu harmoni.
>
> Pendukung JIL mungkin terdengar keras, karena situasi saat ini justru
> yang memaksa mereka bersuara keras. suara2 dari para literalis,
> revivalis, fundamentalis (saya sebenarnya "malas" menggunakan
> istilah2 itu) sudah bergaung dengan keras. Contoh: ulil menurut
> syariat islam dihukum mati, kalau polisi nggak mentertibkan judi
> gelap, maka akan ditertibkan sendiri, de el el.
>
> >Saya tinggal disini karena banyak dari orang sini yang
> > tahu bagaimana cara menghadapi radikalisme (kemarahan, resentment)
> > dari dunia ketiga (Muslim) yang miskin yakni dengan toleransi dan
> > memahami situasi mereka. Tidak seperti JIL malah bergaya sok pintar,
> > menggurui, melecehkan yang dapat dijamin kelompok Muslim radikal
> > akan tambah berlipat-lipat yang dapat diramalkan pada akhirnya
> terjadi
> > perang antara sesama Muslim, sesama orang miskin, sesama
> > dibawah "penjajahan" Barat.
> >
>
> Wah, mungkin justru sebaiknya anda pulang sekali-kali ke indonesia.
> Justru JIL dan pendukungnya sangat mendukung budaya dialog dalam
> semangat toleransi yang penuh. Bahkan lintas agama. Gaya menggurui,
> sok pintar, ya itu mungkin saja. Sama nggak dengan gaya menggurui
> ulama yang bilang amerika itu kafir?
>
> > Radikalis itu tidak dilahirkan namun diciptakan lingkungan. Negara
> > ketiga (yang bekas dijajah Barat) adalah lingkungan subur bagi
> > tumbuhnya kaum radikal. Pertama-tama situasi post-penjajahan
> > telah membuat hidup mereka tersudut (misal kasus pendudukan
> > Palestina oleh Israel). Kedua, kususnya di Indoensia selalu saja ada
> > orang-orang sendiri, baik itu yang namanya Orde (Perjanjian) Baru
> > ataupun JIL yang selalu menghalangi dan menekan penghayatan
> > Islam secara bebas dan mandiri (pakai jilbab, memelihara janggut,
> > mengikuti prinsip sariah dst). Seperti yang tersirat dari sdr
> Armando,
>
> Loh...siapa yang menghalangi orang2 pakai jilbab atau memakai
> janggut? lain halnya dengan syariat islam: bagaimana hak2 non muslim
> dalam syariat islam tersebut? contoh: bisakah non muslim menjadi
> pemimpin formal dalam masyarakat yang menerapkan syariat islam?
> presiden, gubernur? Coba saja di kanada ada gerakan yang menginginkan
> penerapan syariat kristen secara formal, kemungkinan besar kaum
> minoritas muslim di sana nggak setuju. Ya kan?
>
> Sepengetahuan saya, pendukung JIL justru menentang penyeragaman
> pemahamam islam secara bebas dan mandiri. Dan dalam "perjuangan"
> mereka itu justru JIL sering mendapat tekanan. Contoh: iklan Islam
> warna warni di somasi MMI, pemahaman islam gaya ulil dianggap patut
> dihukum mati. Jadi siapa yang menghalangi dan menekan penghayatan
> islam secara bebas dan mandiri?
>
> regards,
>
> fuad lalean.
>
---------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #291
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id