KEBEBASAN PRIBADI ***************** Punyakah manusia kebebasan pribadi? Yes, absolutely! Di kamar, kalau mau, saya bisa cuma pakai black leather thong memperlihatkan sepasang gluteus maximus saya yang cute. Istri saya, kalau mau, bisa seperti ikan duyung mengurai rambutnya, bertelanjang dada hanya pakai kain.
Diruang privat, kalau mau, saya bisa menenggak Smirnoff tanpa perlu beralasan bahwa Kanada waktu Winter amat dingin dan alkohol diperlukan untuk penghangat badan. Just snap it!. Tak perlu pula melihat kenyataan bahwa saya bukan sejenis Beaver yang tinggal di hutan kayu melainkan manusia yang tinggal dirumah dengan dilengkapi pemanas. Jadi meskipun suhu diluar minus 60 derajat C, didalam rumah, saya bisa panas kesumukan. Kalau mau, dikamar tidak saja saya bisa berpikir namun mempraktekkan bahwa semua agama itu sama. Saya bisa Shalat dengan diawali "Kunjuk Asmo Dalem" dengan membuat tanda salib diselingi gerakan Taichi, ditutup dengan Yoga dan ucapan Ohm Swasti Wastu Ohm Tat Sat. Saya bisa lanjutkan uraian panjang bukti bahwa saya bisa exercise kebebasan sepenuhnya dalam ruang privat saya. Tanpa perlu perduli dengan berbagai hukum, aturan, petunjuk dari kitab suci atau pemuka agama atau dari siapa saja. Hanya ada saya dan saya dan Allah. Saya hanya menguntungkan atau merugikan diri saya sendiri. Saya hanya bertanggung jawab terhadap diri saya sendiri kepada Allah. Bagaimanapun, didepan publik saya tidak bisa exercise kebebasan saya tsb. Bukan karena tidak memenuhi standar kepatutan umum melainkan karena saya tidak lagi hanya bertanggung jawab terhadap diri saya sendiri. Kepantasan umum bisa berubah-rubah tergantung selera dari kartel pemilik jaringan mass media. Kalau media TV jutaan kali menayangkan iklan mengenai pembalut wanita dan yeast infection maka vaginal discharge menjadi hal yang pantas dikemukakan didepan umum. Pemilik majalah porno Hustler, Larry Flint, sedemikian rupa memborbadir publik dengan pornography maka coitus yang dulu dianggap hubungan pribadi yang intim menjadi publikasi umum. Di tengah masyarakat, saya tidak bisa bebas merokok karena bisa membebani orang lain dengan bahaya second hand smoker; berarti pula saya mempromosikan life-style merokok yang tidak sehat. Bagaimana dengan alkohol. Bukankah hak saya untuk menghangatkan badan ditengah iklim dingin di Kanada? That's nonsense! Orang minum alkohol, merokok, drugs bukan karena alasan dingin atau kenikmatan normal lainnya melainkan karena kecanduan! Apakah masyarakat tidak punya hak untuk kecanduan? Tentu saja, mengapa tidak. Masyarakat Barat selama ribuan tahun exercise hak untuk kecanduan alkohol. Bagaimana dengan masyarakat lain?, seperti masyarakat native Indian yang juga tinggal di daerah dingin seperti di North America?. Menyedihkan. Bangsa yang perkasa ini menjadi luluh-lantak begitu alkohol dipasarkan kepada mereka. Sekarang native indians menggali kapak peperangan terhadap alkohol a.k.a air api. Disetiap Indian reserve yang saya ketahui di Alberta ditulis peringatan No Alkohol. FYI, native Indian bukan pemeluk agama Islam Ditengah masyarakat Barat pun lifestyle minum alkohol diakui sebagai beban masyarkat. Kecelakaan lalu lintas, domestic violence dan kriminalitas di negara barat punya kaitan erat dengan kultur menenggak alkohol. Tunggu dulu!. Bagimana dengan social drinker yang terbiasa selama puluhan tahun minum alkohol. Toh mereka tetap sebagai law-abide citizens, tak pernah Drink and Drive, tidak pernah melakukan tindakan kriminal apapun?!. Mengapa tidak hanya orang-2 yang melakukan tindakan kriminal saja yang digarap? Menurut statistik disetiap party (dimana selalu tersedia alkohol), 5 percent dari participant akan tidak bisa mengkontrol diri. Artinya, kemungkinan mengendarai kendaraan dalam keadaan mabok sehingga membhayakan pengendara lain, atau berkelahi, atau melanggar kesusilaan. Oleh karena itu tidak benar hanya membebankan tanggung jawab terhadap 5 percent saja, karena kondisi tsb di set-up oleh semua participants dalam pesta. Satu-satunya solusi adalah party dengan tanpa alkohol! Mengorbankan kebebasan demi solidaritas masyarkat, demi akal sehat, mungkinkah??. Amat muskil! sebab pertama-tama kultur alkohol adalah kultur kecanduan. Seperti semua bentuk kecanduan ia tidak mudah untuk dilepaskan. Sulit dibayangkan orang Barat mau ngajak date tanpa minum alkohol terlebih dahulu, kontak sosial tanpa pakai boost, meluangkan waktu evening dirumah tanpa snaps. How unhappy they gonna be! Tancep kayon, kaum Muslim adalah masyarakat yang disayang Allah SWT. Hak kebebasan mereka untuk minum alkohol dan kecanduan telah dicabut sejak sebelum lahir. Adalah menyedihkan melihat sesama muslim yang berdalih sebagai pendobrak dogma-mati agama mendorong umat Islam yang kebanyakan adalah miskin dan sederhana seperti bangsa native Indian, yang mestinya sudah bahagia dengan whatever mereka punya, untuk menuntut kembali hak kebebasan tsb. Eko Raharjo Calgary --------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #311 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
