KESALAHAN TAFSIR ULIL TERHADAP ISLAM ************************************ Eko Raharjo, Calgary
Ulil Abshar Abdala dan pemikiran kontroversialnya mengenai pemahaman Islam mengingatkan saya kepada Bruce Lee (rest his soul), seorang inovator dalam bidang martial art yang popular pada tahun 70an. Bruce Lee membuat gebrakan kontroversial dengan menyatakan bahwa kungfu tradisional Cina adalah the classical mess, mambo-jambo yang sarat dengan jurus (kata) yang tak berguna. Ia mempromosikan suatu konsep training sistem martial art yang eclectic, efektif dan relevan dengan konteks perkelahian atau tournament jaman sekarang. Diantaranya ia memasukkan footwork ala Muhamad Ali dari disiplin western boxing dalam sistem kungfunya. Keefektifan teknik kungfu Bruce Lee dalam melibas lawan mungkin tidak diragukan, namun tampaknya ia kurang menyadari bahwa esensi terdalam dari martial art bukanlah disana. Martial art adalah suatu way of life (Do), bukan sekedar kumpulan teknik (Jutsu) yang efektif untuk menghajar lawan. Menjalani hidup bersama alam dan sesama manusia secara damai dan harmoni adalah ultimate goal dari para biarawan Shaolin yang mempraktekkan kungfu. Jadi ukuran kehebatan seorang martial artist justru dari kemampuannya dalam menghindari perkelahian, dengan cara mengkontrol ego dan emosi. Chinese kungfu (quanfa) merupakan sistem martial art dengan konteks Cina dengan segala kultur dan mentalitasnya, seperti halnya karate dengan konteks Jepang. Bila orang gagal dalam memahami konteks budaya dan mentalitas lokal tsb dapat dipastikan ia akan mengalami kesulitan dalam memahami esensi terdalam dari kungfu atau karate. Ulil (dan JIL), ibarat Bruce Lee, berusaha merubah agama Islam agar menjadi "the best fighting system". Bagi mereka praktek agama Islam haruslah efektif dan relevan sesuai dengan jaman. Konteks Arab abad ke VII dianggap konteks lokal yang patut ditinggalkan karena merupakan past history yang ketinggalan jaman. Mereka menoleh ke suatu penafsiran dan praktek Islam yang eclectic dan utilitarian, yang dianggap lebih efektif dan up to date dengan jaman sekarang. Bagi saya usaha Ulil dan JIL adalah bagaikan reinventing the wheel. Agama Islam merupakan Dien (way of life) yang diimani bersumber pada wahyu Allah (al-Quran) yang terintegrasi dalam konteks waktu dan lokal Arab (dan Muhammad saw sebagai rasul Nya). Memahami konteks waktu-lokal Arab, terutama kehidupan rasulullah, justru critical dalam memahami wahyu (kehendak) Allah dalam Islam. Mereka yang tidak bisa menerima konteks waktu-lokal Arab dengan segala kulturnya mungkin ditakdirkan untuk mengerti Islam secara dangkal, superfisial. Unfortunately, generasi muda seperti Ulil yang mencita- citakan suatu masyarakat Muslim yang modern dengan kesuksesan duniawi yang melimpah menjadi frustasi dengan konteks Arab yang melekat dalam Islam. Sebab menurut standar ukuran Barat, konteks Arab adalah inferior dan menghambat kemajuan. Lepas dari rasa simpati terhadap semangat pembaharuan dari generasi muda, kita harus berani kritis bertanya: benarkah kemajuan dan kesejahteraan duniawi model Barat yang menjadi cita-cita Islam?. Sejauh Islam menghargai kesuksesan duniawi, hal pertama yang tidak boleh dilupakan adalah ultimate goal dari Islam yakni untuk mencari ridlo Allah, menjadi patuh-submissive terhadap karsa Nya. Dengan kata lain, ajaran Islam lebih mengutamakan kesejahteraan dan keselamatan jiwa dunia dan akherat. Bagi orang beriman pemilihan konteks Arab, seperti halnya konteks Yahudi, bukanlah suatu kebetulan belaka. Sebab kalau Allah menghendaki, agama Islam atau Yahudi akan jauh lebih sukses secara duniawi bila diintegrasikan dalam konteks Romawi yang telah memiliki budaya tinggi. Masyarakat Yahudi dan Arab (dibawah pimpinan Muhamad saw) memiliki persamaan yakni dalam hal kesederhanaan dan ketertindasannya. Ribuan tahun bani Israel dibawah pimpinan nabi-nabi memelihara agamanya, namun ribuan tahun pula mereka hidup terlunta-lunta jauh dari peradaban modern dan kesejahteraan duniawi. Yesus (Isa as) nabi terakhir dari bani Israel bahkan menegaskan mereka yang lemah dan tertindas adalah ahli waris surga, sebaliknya mereka yang kaya (dan berkuasa) sulit masuk surga, ibaratnya onta masuk lubang jarum. Ajaran Islam sepeti yang dipraktekkan Muhamad saw juga sarat dengan pemihakan kepada kaum dhuafa. Berdasar dari konteks historis tsb tidak mengherankan bahwa Islam sesungguhnya lebih pas untuk kelompok miskin dan tertindas, bukan disesuaikan menurut selera kelompok elite, atau masyarakat kaya, modern dan berkuasa, seperti Romawi atau Amerika. Ulil dan JIL punya kecenderungan untuk menjadikan Islam sebagai agama yang eclectic. Orientasi mereka adalah pada fungsi bukan pada sumber. Kebenaran dianggap lebih besar dari Islam. Konsekuensinya, semua agama, atau apa saja yang mengacu kepada kebenaran tidak saja sama, melainkan lebih utama dari Islam. Tentu saja hal ini bertentangan dengan esensi terdalam dari ajaran agama (reliji) Islam. Meskipun nucleus dari agama adalah kebenaran, namun agama adalah lebih dari sekedar kumpulan kebenaran; karena kebenaran selalu relatif. Tanpa iman kepercayaan, agama merupakan sekedar kumpulan kebijaksanaan kemanusiaan, yang justru dapat dipastikan pada gilirannya akan mati membeku. Dalam agama Islam, keesaan Allah (tauhid) dan konteks waktu dan lokal Arab yakni bersaksi bahwa Muhammad saw adalah rasulNya merupakan esensi keimanan yang tidak dapat ditinggalkan. Ulil memilih jalan pintas dalam memahami Islam katimbang sulit-sulit menggali konteks Arab (kehidupan Rasullulah). Salah satunya adalah mencomot ajaran "tetangga" yang terlihat lebih mentereng dan populer. Namun solusi semacam ini hanya melahirkan kesalahan yang fatal. Pemikiran Ulil mengenai wahyu yang terus hidup dalam bentuk akal dan pemikiran manusia adalah diambil dari ajaran Kristen mengenai Roh Kudus. Agama Kristen mengajarkan bahwa Roh Kudus selalu menyertai dan menerangi pemikiran Gereja. Konsili Vatikan ke II pada abad ke XX yang mengakui adanya keselamatan diluar Gereja adalah dianggap karya khas dari Roh Kudus. Banyak orang, termasuk Ulil, kagum dengan sistem pengkoreksian agama semacam itu. Namun jika orang mau kritis bukankah sudah sejak abad ke VII telah diwahyukan bahwa Islam adalah agama yang memberikan keselamatan, dan Muhammad saw adalah RasulNya. Jadi dimanakah Roh Kudus selama 13 abad? Sehingga Gereja selama itu selalu undermine Islam dan mencerca Rasullulah? Sementara itu Islam sejak awal selalu mengajarkan umatnya untuk menghormat kepada semua nabi (termasuk Yesus) dan para pengikutnya. Islam dengan konteks waktu dan lokal Arab (mengimani Muhamad saw sebagai rasulNya) merupakan agama yang unique yang mengajarkan way of life yang jelas berbeda dengan masyarakat Barat pada umumnya. Islam menentang kerakusan ekonomi, melarang Alkohol dan tidak menyetujui segala bentuk eksploitasi seks tanpa batas. Islam menggugah masyarakat untuk berjuang membebaskan segala eksploitasi dan penindasan terhadap kaum lemah dan miskin. Dunia yang didominasi dan dikontrol oleh Barat selama 400 tahun terakhir ini telah menghasilkan perbudakan, penjajahan, ketidak-adilan, pemiskinan dan lenyapnya dignity dari rakyat dunia ketiga. Islam mengancam hukuman berat bagi para penjahat, bukan karena Islam kejam, melainkan karena Islam berpihak kepada korban. Islam pula yang justru mempunyai sistem hukum (syariah) yang memungkinkan pihak korban untuk memberikan pengampunan langsung kepada pelaku kejahatan. Tidak seperti yang selalu disalah mengerti, Islam tidak mengajarkan untuk anti atau memusuhi suatu ras atau bangsa, apakah itu Yahudi, Romawi atau Amerika. Sebaliknya Islam adalah satu-satunya agama yang secara eksplisit mengajarkan toleransi terhadap pihak-pihak yang mempunyai kepercayaan dan way of life yang berbeda. Usaha-usaha Ulil dan JIL dalam memperbaharui Islam adalah seperti Bruce Lee dalam merenovasi kungfu, penuh dengan kesalah-pengertian terhadap esensi dasar Islam. Apakah Ulil patut mengalami nasib seperti Bruce Lee yang mati secara misterius di apartemen milik Betty Ting Pei (bukan istrinya) di Hongkong?. Tentu saja tidak. Saya pribadi mempercayai maksud baik dari Ulil dan JIL. Pemikiran seperti Ulil justru diperlukan untuk mendorong bangkitnya fundamentalisme Islam yang sejati yakni yang mengacu kepada penafsiran dan praktek Islam yang otentik, yang mencitrakan sifat-sifat Allah SWT yang penuh belas kasih dan pengampunan terhadap kaum lemah-dhuafa namun sekaligus mengutamakan keadilan dalam masyarakat. Sudah barang tentu untuk merealisasi cita-cita terbentuknya masyarakat Muslim yang mulia tersebut diperlukan prudensi kemanusiaan dan usaha keras untuk mengusai semua ilmu pengetahuan yang diperlukan. Wassalam Eko Raharjo --------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #320 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
