Dominasi Mayoritas ******************* Tidak terlalu sulit untuk melihat bahwa dinegara maju barat baik di Eropa maupun north America berlaku dominasi mayoritas. Masyarakat mayoritaslah yang memegang pemerintahan, yang membentuk hukum dan perundang-undangan. Masyarakat mayoritaslah yang menentukan kebijaksanaan politik dan pendidikan. Masyarakat mayoritaslah yang menguasai perekonomian negara. Masyarakat mayoritaslah yang makmur dan kaya raya yang mendiktekan life-style bangsa, dst.
Di Amerika dan Canada dimana merupakan negara imigran dominasi mayoritas bahkan lebih menyolok. Menariknya yang menjadi mayoritas (jumlah yang banyak) di North America bukanlah native Indian melainkan kulit putih (white-European descent), yang bagi masyarakat Indian adalah "imigran". Dalam kurun dua dasa warsa terakhir pola imigrasi di Amerika dan Kanada bergeser dari Eropa menjadi Asia, terutama dari Cina dan India. Namun disini tidak terjadi dominasi minoritas seperti yang terjadi di Asia Tenggara atau di Afrika Barat dimana minoritas Cina dan India mendominasi disana. Sistem demokrasi dan free market tidak saja cocok untuk negara dengan model dominasi mayoritas melainkan sudah merupakan kebutuhan esensial yang tidak dapat ditinggalkan. Sebab hakekat demokrasi adalah memberi power bagi mayoritas dimana tentu saja bagi negara dengan dominasi mayoritas semakin menciptakan kemapanan. Sedangkan free market menjamin mereka yang makmur akan menjadi semakin makmur, lagi-lagi mayoritas yang diuntungkan. Tidak mengherankan model negara dengan dominasi mayoritas seperti di barat terbukti membawa kemajuan, kestabilan dan bertambahnya kemakmuran. Tidak ada bentrokan, perpecahan, riot, dan radikalisme. Tidaklah demikian halnya dinegara ketiga seperti di Indonesia dan Philipina. Sistem free market yang dianut oleh pemerintah disana telah memunculkan dominasi minoritas Cina dalam bidang ekonomi yang mendatangkan resentment dari pihak mayoritas. Dilain pihak merebaknya demokratisasi telah menyebabkan rakyat mayoritas yang tadinya tidak berdaya apa-apa menjadi memiliki kesadaran dan power untuk menuntut hak-haknya. Maka bentrokan dan perpecahan, riot dan radikalisme merupakan konsekuensi yang tidak mungkin dihindarkan. Di Indonesia situasinya lebih rumit karena dominasi minoritas tsb tidak datang dari minoritas Cina saja dan tidak hanya dalam bidang ekonomi saja melainkan dalam life-style dan praktek keagamaan. Barat dengan demokrasi dan free marketnya telah berhasil memajukan negaranya sebab disana berlaku dominasi mayoritas. Namun dalam skala dunia, Barat tidaklah mayoritas. Sebaliknya dominasi minoritas (Barat) merupakan kenyataan dunia global sekarang ini. Tentu saja free market dan demokrasi tidak akan pernah berfungsi. Semakin dipaksakan semakin besarlah bentrokan, perpecahan, radikalisme dan terorisme. Hanya ada dua cara untuk mengatasinya, yakni melakukan genocide terhadap masyarakat dunia seperti yang akan dilakukan oleh Amerika dan Inggris terhadap Irak (yang pernah dilakukan terhadap bangsa native Indian) sehingga situasi dunia berbalik menjadi dominasi mayoritas (Barat), atau membiarkan masyarakat dunia bebas menganut bentuk negara dan cara hidup yang diyakini masing-masing. Eko Raharjo. Calgary --------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #333 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
