Waduh... Padahal pertanyaan saya enteng sekali loh, cuma untuk membuktikan asumsi anda bahwa AT sudah bertobat. Katanya orang intelek kalau bependapat harus berdasarkan fakta bukan berdasarkan asumsi-asumsi, dugaan-dugaan dan prasangka baik semata.
Memang Rosululloh juga berpesan agar kita selalu berprasangka baik.

Tapi kalau kita mengedepankan Persepsi dan Syakwa Sangka dalam mensikapi realitassusah akan berpikir obyektif.
Dalam kehidupan apalagi kehidupan polotik katanya banyak Tipu Daya.

Agus

dr. Thohar wrote:
ha ha ha ha
akhirnya kok terus aku yang bikin arus diskusi. Wis ah capek ....
sorry tenan iki para Bapakdan Ibu  yang minulyo.
 
masih banyak yang harus saya setubuhi ......... (maklum bujang)
ada si cantik text book yang dengan mesra dan suka rela mau ku setubuhi ...dan membuat pikiranku melayang jauh menerawang menguliti bagian bagian raga yang tiada terjamah mata. Puncak kenikamatan bisa ku tenggak dengan memahami semua nikmat tuhan yang di berikan pada kita.
Alhamdulillah persetubuhannku jadi ngerti dan mensyukuri nikmat Allah SWt, kenapa kok kita bisa melihat kenapa kita bisa mendengar, dan kita juga di bekali dengan zat zat yang sangat dinamis dan fluktuatif konsentrasinya yang bisa memicu kita untuk cepat marah, atau malah mengendalikan nafsu kita sehingga lebih wise atau memicu kita untuk brangasan, iritabel. Zat zat itu masuk lewat makanan yang kita makan....
Jadi ada benernya makanlah yang halal dan baik cara memperolehnya, karena akan sanagat berpengaruh terhadap fungsi emosi, pengendalian diri, serta fungsi sosial manusia.
Masih ada juga gunting, jarum peso, endoskop, MRI yang harus kugumuli ku lucuti untuk mencapai citaku, ...
wah kok dadi nglantur koyo ngene...........
wis wis mau sholat asar,
wasalam

Kirim email ke