Cuman kuliahnya aja di Semarang, asline sih Jatim......kalo praktek aborsi
di smg sudah jadi rahasia umum, tidakkah IDI
bertindak.......??..............
Wassalam
----- Original Message -----
From: "Riyadi Wahyudjatmiko" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, February 21, 2004 10:02 AM
Subject: Re: [UNDIP] Berita menarik dari Semarang......... ( Suara Merdeka)


> Bu Imas asli Semarang ? atau cuma kuliahnya aja yang di
> Semarang ?
> yg disebut bapak dokter kita itu cuma sebagian saja dari
> kehidupan malam Semarang
> yang "RUSOH" belum lagi kalau penginapan 2x dan hotel 2X
> nya tiap malam diceck hampir 95% pasangan bukan suami
> istri!!!!!!!!!
> Dan msh banyak lagi dokter 2X yang berpraktek pengguguran
> tsb, selain yang disebutkan bpk dr.Thohar.
>
> On Fri, 20 Feb 2004 09:53:14 +0700
>   "imas lia" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >Masak tho pak praktek aborsi di semarang sampe
> >segitunya....... lha kalo aborsi sendiri itu bukannya
> >ilegal?...
> >Tapi kok ya kebangetan, wis nglakoni mestine yo gelem
> >nanggung akibate.........
> >
> >Wassalam
> >  ----- Original Message -----
> >  From: dr. Thohar
> >  To: [EMAIL PROTECTED]
> >  Sent: Friday, February 20, 2004 8:50 AM
> >  Subject: [UNDIP] Berita menarik dari Semarang.........
> >( Suara Merdeka)
> >
> >
> >  Cara "Legal" Aborsi Ilegal
> >
> >  Rumah bercat putih itu tampak bersih. Dua pohon nangka
> >di bagian kanan, menaungi pagar besi bercat hijau. Di
> >teras, dua kursi rotan kusam mengapit meja tak bertaplak.
> >Bersih. Garasi, di sisi kanan rumah, tertutup. Pintu
> >rumah pun jarang terbuka. "Kalau mau bertama malam saja,
> >Mas," kata tetangga sebelah rumah.
> >
> >  Para tetangga di Jalan Pnd Pedurungan itu tak ada yang
> >tahu, rumah bercat putih itu menyimpan rahasia.
> >Pemiliknya, Bu Ris, perawat pada seorang dokter di
> >kawasan perumahan elite Tugu Muda. Ketika kami datang
> >Kamis sore itu, setelah janjian di malam sebelumnya, dia
> >menyambut ramah. "Taksinya jalan diminta menunggu. Nanti
> >saya teleponkan kalau mau pulang," pintanya. Dia meminta
> >masuk, dan menutup pintu. Tak ada suara apa pun di rumah
> >itu, sepi. "Bapaknya anak-anak belum pulang. Anak saya
> >kuliah di luar kota. Pembantu sudah pulang jam 2 tadi,"
> >jelasnya.
> >
> >  Wanita itu masih memakai seragam perawatnya. "Saya baru
> >sampai setengah jam lalu. Banyak pasien tadi." Ia lalu
> >pamit. Di ruang tamu itu, tak banyak perabotan. Di
> >dinding kanan, di atas teve, ada foto keluarga. Bu Ris,
> >suami, dan dua anaknya. Dia berkebaya. Mungkin itu foto
> >lima tahun yang lalu. Ada beda yang tegas di wajahnya,
> >pipinya belum segemuk sekarang. Lehernya pun belum
> >bergelambir.
> >
> >  "Wajahnya keras. Aku takut," kata Novi, teman wanita
> >yang bersama saya. Dia datang memang untuk urusan
> >penting. Saya hanya mengantarnya.
> >
> >  "Coba, sudah berapa bulan?" tiba-tiba wanita itu
> >datang. Dia sudah berganti pakaian, berkain. Tangannya
> >membawa nampan, dua sirup merah, di gelas yang berkabut.
> >
> >  Novi memandang saya, dan beringsut, mendekati Bu Ris.
> >Wanita itu memegang perut Novi, "Masih kecil. Udah telat
> >berapa lama?"
> >
> >  "Tidak sampai satu bulan," jawab Novi.
> >
> >  "Sudah tes laboratorium?"
> >
> >  Novi mengangguk.
> >
> >  "Kalau masih kecil begini, gampang. Oh ya, dari siapa
> >tahu kalau saya dapat membantu," tanyanya.
> >
> >  "Dari Mbak Maria, Bu. Ia pasien Ibu dua bulan lalu,
> >kasir di Citraland," jelas saya.
> >
> >  "Oh, dia. Betul. Waktu itu dia datang dengan suaminya
> >ke sini. Katanya, kesundulen, terlalu dekat jaraknya
> >dengan si sulung. Berapa ya waktu itu, kayaknya sudah
> >hampir 3 bulan usia kandungannya. Kok bisa kenal, Maria?"
> >
> >  "Oh, dia masih famili, Bu," saya berbohong. Dan,
> >tampaknya dia tahu, dan tak peduli. Dia cuma tersenyum,
> >tipis. "Dulu Maria tahu ke sini karena Wiwied. Itu pasien
> >saya yang paling parah. Setahun 2 kali dia ke sini.
> >Terakhir, usia kandungannya sudah 6 bulan. Sudah bayi.
> >Saya sampai berkeringat "ngerjainya". Tapi, badannya
> >Wiwied memang kuat. Kini dia sudah di Surabaya, dengan
> >bule, pacarnya." Wanita itu diam. Sepertinya dia sadar,
> >terlalu banyak bicara.
> >
> >  "Untuk Wiwied, saya pasang harga tinggi. Apalagi dia
> >kan pelacur," suaranya datar. Saya berkeringat. "Ee...
> >sebentar, Bu. Sakit tidak?" Saya menggenggam tangan Novi
> >saat menanyakan itu. "Ya lumayan. Tapi kalau masih kecil
> >seperti Mbak... siapa ya, tidak sakit, kok. Sebentar."
> >"Dibius?"
> >
> >  "Tidak! Saya tidak mau Anda berlama-lama di sini,
> >terbaring. Jika dibius, terlalu lama waktu untuk sadar,
> >dia juga akan lemas," katanya.
> >
> >  Novi saya lihat mulai takut. Ini memang harus
> >dikelarkan, batin saya.
> >
> >  "Soal sakit atau tidak, gampanglah, Bu. Tapi harga,
> >bagaimana? Ibu kan tahu, seperti kata saya ditelepon
> >kemarin, Novi ini masih mahasiswa, tentu tidak bisa
> >seperti Wiwied."
> >
> >  "Saya pasang tarif normal saja, Rp 900 ribu. Itu plus
> >obat selama seminggu. Sudah bawa pembalut, kan?" "Maaf,
> >nggak bisa kurang, Bu?"
> >
> >  "Mana bisa? Ini beresiko. Anda boleh berpikir lagi.
> >Waktu saya tidak banyak. Nanti kalau sudah ada uangnya,
> >baru kemari. Lagian, itu masih kecil, kok." Ia berdiri.
> >Kami pun berdiri, dan menyampirinya yang telah membuka
> >pintu. "Kalau sudah ada uangnya, langsung datang saja,
> >nggak usah menelpon lagi. Tunggu di depan saja, nanti
> >taksi saya panggilkan dari dalam." Pintu tertutup,
> >setengah berdebam.
> >
> >  ******
> >  Praktek aborsi ilegal yang dilakukan Bu Ris terhitung
> >banyak di Semarang. Bahkan, sebuah rumah bersalin di
> >Semarang Atas pun bersedia melakukan hal itu. Tapi,
> >dengan "pengamanan" yang sangat ketat, prosedural
> >kedokteran yang lazim. Beruntung, saya mendapat
> >kesempatan menjadi saksi "permainan" ini.
> >
> >  Sore itu, dengan sejumlah prasyarat, saya dikenalkan
> >Maria dengan,. sebut saja, Ria (26), seorang pegawai.
> >Berbeda dari Novi, Ria memang hamil, dan bermaksud untuk
> >menggugurkan kandungannya. "Aku rekomendasikan ke dokter
> >karena Ria berani bayar mahal, dan dia tak tahan sakit,"
> >tutur Maria.
> >
> >  Cantik, mungil, rambutnya merah-cat, panjang sebahu.
> >Dadanya penuh, dengan pinggang yang kecil. Dia mengenakan
> >rok cukup panjang, sedikit di atas lutut. Dan kaget waktu
> >Maria mengenalkanku. "Kamu ke sana kudu bawa suami. Ini
> >temen aku, bisa dipercaya. Kalau tidak bawa suami, nanti
> >terlalu banyak pertanyaan." Ria hanya bisa pasrah.
> >
> >  Kami pun berangkat. Dokter yang dituju praktek di Jalan
> >Ydtr, kawasan Tugu Muda. Rumah yang asri, dua lantai
> >dengan pagar tinggi. Banyak mobil beparkiran saat kami
> >tiba. Saya berjalan bersisihan dengan Ria, melewati pintu
> >pagar yang hanya dibuka separo, menuju meja resepsionis.
> >"Maria," kata saya.
> >
> >  Wanita muda itu membuka buku pendaftaran. "Waktu
> >janjian Anda 20 menit lagi." Dia memberikan kartu,
> >"Silakan tunggu di dalam," katanya.
> >
> >  Saya menggandeng Ria masuk ke ruang tunggu. Dan, di
> >sana, saya kaget. Bu Ris tampak sedang menuntun seorang
> >pasien ke luar dari ruang praktek. Saya mencoba tak
> >melihat, tapi terlambat. Meski tak menegur, tampak ia pun
> >kaget melihat saya berada di situ. "Kok kemari?"
> >tanyanya, ketika saya menjajari langkahnya ke luar
> >ruangan.
> >
> >  "Ngantar istri. dia nggak berani kalau nggak pakai
> >bius."
> >
> >  "Sudah, nggak usah bohong," ia tersenyum masam.
> >
> >  Akhirnya saya tahu, Bu Ris belajar mengaborsi secara
> >otodidak, setelah bertahun-tahun membantu di situ. Ia pun
> >kemudian membeli alat kuret, dan menawarkan bantuan
> >kepada para pasien yang tidak jadi aborsi di klinik itu,
> >karena biaya yang terlalu tinggi. "Ya bukan sabotase.
> >Saya malah membantu mereka yang tidak mampu," dalihnya.
> >
> >  Soal resep obat? "Saya hanya tuliskan saya antibiotik
> >yang keras dan obat pendatang haid untuk menuntaskan.
> >Selama ini aman, kok," akunya. "Memberi obat yang sama
> >dengan resep dokter saya tidak berani."
> >
> >  Dengan cara itu, Bu Ris sudah "berpraktek" selama 2
> >tahun. Pasiennya tak tetap. Dia juga tak lagi ingat
> >jumlah total pasiennya. "Kalau 30 ya adalah," akunya.
> >
> >  Ongkos mahal yang dikatakan Bu Ris memang terbukti.
> >Dokter di ruang praktek itu tak banyak bertanya. Bahasa
> >Jawanya baik, dan ia memakai nama Jawa, Nsrh, meski ia
> >termasuk warga keturunan. Usianya cukup tua, sebagian
> >rambutnya memutih, dengan wajah yang dikotori bintik
> >hitam. Setelah bertanya ini-itu, dokter kandungan itu
> >berkata serius. "Jika memang Anda serius, saya dapat
> >membantu. Tapi, saya tidak sendirian. Saya hanya dapat
> >mengerjakannya jika Anda mendapat rekomendasi dari
> >laboratorium perihal keadaan janin Anda."
> >
> >  Ketika kami bersedia, dia memberikan alamat sebuah
> >laboratorium di kawasan Kampung kali. "Tunjukkan saja
> >memo dari saya ini, mereka sudah mengerti, kok."
> >
> >  Kami segera meluncur ke sana. Dan, seperti yang diduga,
> >saat menunjukkan memo dari dr Nsrh, Ria langsung diminta
> >masuk. Saya tidak tahu dia diapakan. Cuma 20 menit, dia
> >keluar, wajahnya agak pucat. Kami lalu segera kembali ke
> >mobil. "Aku di-USG. Nih, hasil USG-nya," sodornya.
> >
> >  Saya membaca. Tertulis, "Dari hasil USG, terdapat
> >kelainan pada janin yang beresiko pada keadaan janin dan
> >kesehatan ibu." lalu beberapa tulisan lain yang tak dapat
> >saya pahami artinya. "Itu rekomendasi untuk aborsi,"
> >jelas Ria. "Memang janinmu beresiko ya?"
> >
> >  "Haha.. ya tidak. Ini kan hanya cara mereka untuk aman.
> >Artinya, secara prosedural, mereka telah legal. Ini
> >tindakan "penyelamatan". Jadi, aman dari tuntutan hukum,"
> >Ria menjelakan.
> >
> >  Di lembar kedua, saya melihat nota pembayaran hasil
> >USG. Hampir Rp. 500 ribu. Sampai di ruang praktek dr
> >Nsrh, malam telah jatuh, hujan gerimis tipis, pukul 20.13
> >WIB. Mobil-mobil pasien sudah tak ada. Resepsionis juga
> >kosong, hanya Bu Ris yang masih menunggu. Ria langsung
> >masuk, saya menunggu. Tak sampai satu jam, dia sudah
> >keluar, sempoyongan. Mukanya pucat. Bu Ris mendudukkan
> >dia didekat saya. "Pegangi," perintahnya.
> >
> >  "Sakit?" tanya saya, iba.
> >
> >  Ria mengangguk. Ria memang harus mengaborsi bayi itu
> >demi masa depannya. Tunangannya masih sekolah S2, dan
> >mereka baru akan menikah setahun lagi. Tapi, seks yang
> >tanpa pengaman, membuat janin itu tumbuh tak sesuai
> >rencana. Dan, untuk menutupi malu, aborsi pun ditempuh.
> >"Dia nggak mau mendampingi, nggak kuat melihat darah,"
> >jelasnya. Tapi, saya sendiri ragu pada kebenaran
> >ceritanya.
> >
> >  Bu Ris datang, dia menyodorkan kwitansi, Rp 2,2 juta.
> >Sebungkus obat, dan satu lembar resep. "Resep ditebus
> >kalau obat dari sini sudah habis. Oh ya, waktu haid akan
> >lebih lama dari biasa, nggak perlu cemas," ia
> >menjelaskan. Saya mengambil dompet dan membayar. Bu Ris
> >melihat dengan nada heran. Ya, itu memang uang Ria, saya
> >sengaja membawanya biar "sandiwara" ini berjalan nyata.
> >
> >  "Kalau mau KB sebulan sampai 3 bulan, ke rumah saja,"
> >ucap Bu Ris, waktu menutup pintu pagar. Malam itu, ia
> >lembur.
> >
> >  *****
> >  "Kakiku di kangkangkan, di letakkan di atas penyangga.
> >Persis seperti akan melahirkan," cerita Ria, waktu saya
> >mengantarnya pulang. Ia tampak mengantuk.
> >
> >  "Perawat itu lalu mencukur dan menyabuni bagian bawah
> >tubuhku, dan melap bersih. Ia siapkan nampan di bawah
> >pangulku, ia lalu memanggil dokter... Eh, kamu punya
> >rokok?"
> >
> >  Ria menyalakan rokok, kaca mobil ia turunkan
> >seperempat. "Lalu dokter itu datang, ia trsenyum. 'Nggak
> >usah tegang, santai saja, nggak sakit, kok.' Lalu, ia
> >membiusku, biur lokal. Dan, kemudian aku merasa ada yang
> >hangat, masuk ke vaginaku. Lalu ya itu, aku merasa ada
> >yang mengaduk-aduk perutku, cukup lama, seperti
> >disendoki. Sepertinya dua kali dia berganti alat. Lalu
> >dia bilang, 'Cukup.' Selanjutnya Ibu perawat yang
> >membersihkan, juga memasang pembalut. Aku mencoba duduk,
> >tapi pusing banget." Ia menghembuskan asap rokoknya.
> >"Kita makan, yuk? Eh, kamu harus ingat janji kita ya, aku
> >gak mau namaku disebutkan," pintanya. Saya mengangguk,
> >tapi menolak ajakan makan. "Tidak sakit?"
> >
> >  "Nyeri saja. Ini saja masih terasa perih. Padahal,
> >darah yang keluar sedikit. Kata si dokter, sehabis minum
> >obat ini, pagi nanti sudah seperti haid biasa. Cuma
> >darahnya lebih hitam dan kental." Ia mengambil rokok
> >lagi. Di wajahnya seperti ada rasa sesal. "Kamu nggak
> >merasa berdosa?" "Udah ah, jangan tanya yang begituan.
> >Pusing nih...."
> >
> >  ******
> >  Di sebuah klinik bersalin di kawasan Semarang Atas,
> >prosedur yang sama juga terjadi. Saya kembali
> >"bersandiwara" dengan Novi. Tapi, kali ini, kami hanya
> >sampai mendapatkan rekomendasi untuk mengikuti USG di
> >laboratorium di kawasan Simpanglima. Namun tentu hal itu
> >tak kami lakukan.
> >
> >  Setelah semua data saya catat, juga jam pertemuan
> >dengan mereka, dr Nsrh saya hubungi lewat telepon, 4 hari
> >kemudian. Ia kaget waktu saya mintai konfirmasi soal
> >praktek aborsidi kliniknya. Ia membantah. Waktu saya
> >ingatkan, ia tetap mengelak. Saya minta bertemu untuk
> >wawancara, ia menolak. "Anda jangan memeras saya. Tak ada
> >bukti apa pun. Jika pun saya melakukan itu, semua atas
> >permintaan pasien dan atas pertimbangan medis. Saya tidak
> >pernah praktek ilegal," tegasnya.
> >
> >  Tapi, ketika saya ingatkan dia soal "permainan"
> >legalitas itu, dia terdiam. Kemudian, dia meminta
> >bertemu. Pagi keesokan harinya, saya bertemu, di teras
> >depan rumahnya, pukul 07.32 WIB. Itu waktu yang dia
> >minta, karena pukul 08.00, dia sudah harus berpraktek di
> >rumah sakit yang hanya 500 meter dari rumahnya. Ketika
> >saya muncul, dia segera mengenali saya. "Anda kan pernah
> >ke sini, bersama nyonya?" Saya mengangguk.
> >
> >  "Begini saja, saya kembalikan semua uang yang telah
> >Anda bayarkan. Bagaimana?"
> >
> >  Saya tersenyum. "Saya hanya butuh konfirmasi saja, dan
> >wawancara resmi. Jadi, Dokter boleh membantah atau apa
> >pun, tapi saya punya beberapa bukti." Dokter itu berdiri,
> >wajahnya tegang. "Kalau tahu begini, saya tidak akan mau
> >membantu Anda. Silakan Anda tulis, apa pun. Ingat, bukti
> >yang anda pegang itu legal, tidak ada unsur ilegal.
> >Selamat pagi!" Ia berbalik, masuk ruangan, meninggalkan
> >saya di teras itu, sendirian. Saya mencoba menghubungi Bu
> >Ris. Tapi, belum lagi saya berkata apa pun, dia sudah
> >misuh-misuh. Telepon kemudian dia banting! (tim smc)
> >
> >
> >
> >
> >
> >  Muhamad Thohar Arifin, MD
> >  Dept of Neurosurgery, Hiroshima University Japan
> >  1-2-3 Kasumi Minami-ku Hiroshima Japan 734-8551
> >  81-82-257-5227 fax 81-82-257-5229 home 81-82-264-0502
> >  cell 81-90-6171-6000
> >  [EMAIL PROTECTED]
> >  www.talk.to/thohar or www.thohar.tk
> >
> >
>
>---------------------------------------------------------------------------
---
> >  Do you Yahoo!?
> >  Yahoo! Mail SpamGuard - Read only the mail you want.
>
>
============================================================================
===============
> Akses Internet Prabayar TELKOMNet-Prepaid,
>  nominal Rp.10.000- Rp.150.000.
> Dapatkan di Plasa - Plasa TELKOM terdekat (khusus di Jawa Timur)
>
============================================================================
===============
>
> --------------------------------------------------------------------------
> Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum:
http://forum.undip.ac.id
> to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1358
> DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id
>
>
>
>



--------------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1365
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id


Kirim email ke