Pak Eko said:
 
Orang boleh saja ke Mesjid, Gereja,
Kelenteng seribu sekali untuk bertobat, itu baik-baik saja,
tapi kalau dia nyamber jemuran tetap harus ditangkep dan diadili.
Sebab yang pertama adalah urusan pribadi dan yang kedua adalah
urusan umum. Yang pertama orang lain tidak perlu ikut campur,
yang kedua masyarakat yang baik harus turut campur to make sure
kalau hukum betul ditegakkan, justice is served!
 
 
Saya setuju sekali dengan pendapat pak Eko ini......
Setiap hal itu tidak dapat dilihat dari satu sisi tapi harus berbanyak sisi, kalo kita kembali ke masalah Akbar atau para koruptor lainnya tentunya dari sisi agama saya berharap dia/mereka benar2 bertobat shg dikemudian hari tidak mengulanginya tapi dari sisi sosial or hukum saya tetep ingin dia dihukum, dia telah berani melanggar dan pelanggaran dia telah ada aturan hukumnya, berarti dia harus tetep dihukum......
Sudah pernah saya posting kalo hukum ada untuk mengatur kehidupan bermasyarakat kita, hukum ada untuk ditepati, hukum ada jauh sebelum dia melakukan pelanggaran itu dan dia adalah anggota masyarakat yang kehidupannya diatur oleh hukum........ apa jadinya jika orang yang berkuasa menegakkan hukum di Indonesia tercinta ini membebaskan orang yang melanggar hukum............. kelihatan sekalikan kalo hukum kita tidak ada kekuatannya terhadap orang yang punya kuasa dan uang.........apalagi jika kita lihat dan bandingkan antara kasus korupsi dengan kasus maling ayam (mengikuti contoh dari pak Eko....heheheh.................)
 
 
Pak Eko Said:
 
Mereka yang mengerti mengenai hakekat kekuasaan akan tahu bahwa pada dasarnya Power corrupts!. Absolut Power corrupts absolutely!.
 
 
Saya juga setuju hal ini........ saya rasa hal ini sudah jadi rahasia umum........ hehehe........... ada kesempatan, sarana dan prasarana, kenapa tidak.........??................ mungkin begitu filsafat mereka...............
 
 
Untuk masalah pendidikan, saya rasa tidak terlalu berpengaruh........... bisa saja orang tidak berpendidikan tinggi ngomong politik seperti para master politik kita .... seperti sekarang ini banyak terjadi ada beberapa caleg ternyata pendidikannya tidak sampai SMA............. bukankah itu salah satu bukti bahwa pendidikan bukan main point bagi seseorang untuk bisa mengomentari hal2 yang terjadi skg ini.............Dan bukankah para koruptor kita berpendidikan tinggi tapi mereka bertingkah layaknya orang desa yang tidak tamat SD dan berprofesi sebagai maling................................?????...............
 
 
Terima Kasih
Wassalam

Kirim email ke