FYI...Semoga bermanfaat. Thank's Best Regards Herias IT Dept PT Uni Enlarge Industry Indonesia Cakung, Jakarta [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED]; 081310878628
> > > Ayah, Kau Pasti Bangga > > > Oleh Didi Tarsidi > > > > > > Kami berempat - istriku dan kedua anak laki-laki kami - bersimpuh di > > > sisinya, tenggelam dalam renungan kami masing-masing tentang jasad yang > > > kehadirannya disimbolkan dengan pusara itu. "Ayah," hatiku berkata, "kau > > tak > > > pernah mengenal istriku Wacih, tak pernah pula kau melihat secara > > jasmaniah > > > anak kami Tommi dan Sendy. Tapi aku tahu Tuhan selalu membawa berita > baik > > > tentang kami kepadamu." > > > > > > Ayah meninggal ketika aku masih duduk di bangku SMP karena beri-beri, > > > penyakit milik orang miskin. Ayah (dan begitu pula Ibu) tidak akan mulai > > > makan sebelum mereka tahu bahwa kelima anaknya terbebas dari rasa lapar. > > > Tapi bukan hanya keluarga kami yang miskin ketika itu, di era tahun > 50-an > > > dan 60-an. Kemiskinan bahkan telah mengakibatkan aku kehilangan > > > penglihatanku: mataku terinfeksi karena kekurangan vitamin A. > > > > > > Ketika segala upaya telah gagal untuk memulihkan penglihatanku, dan Ibu > > dan > > > semua kerabatku sudah menerima kebutaanku sebagai takdir yang tak > mungkin > > > dipungkiri dan akan menjalani kehidupan sebagaimana orang-orang buta > lain > > > yang mereka ketahui, Ayah masih penuh dengan harapan bahwa aku dapat > "jadi > > > menak" > > > meskipun tunanetra. Bahkan ketika sesepuh kampung mencoba > > menghalang-halangi > > > rencana Ayah, dan Ibu menangisi keputusannya, Ayah tetap bertekad > > mengirimku > > > ke sekolah khusus bagi tunanetra di Bandung, yang ketika itu dipandang > > > sebagai tempat yang amat jauh dari desaku di pedalaman Sumedang. > > > > > > Kami baru bertemu lagi setahun kemudian, ketika aku sudah duduk di kelas > > dua > > > SD pada tahun 1961. Aku tengah berjalan menuju asrama dengan memakai > topi > > > kertas buatanku sendiri dan mengepit sehelai kertas bertulisan Braille - > > > tulisanku sendiri - ketika tiba-tiba suara yang sangat kukenal menyebut > > nama > > > kecilku. Ibu dan Ayah! Kami duduk di bangku di depan kamar tidurku, Ayah > > di > > > sebelah kiriku dan Ibu di kananku. Dengan bangga kuperlihatkan topi > kertas > > > buatanku dan kubacakan teks lagu "Kota Sumedang" yang kutulis sendiri. > > Lalu > > > dengan penuh kenikmatan aku makan oleh-oleh yang mereka bawa sambil > > > bercerita banyak tentang sekolahku, tentang teman-temanku di asrama, dan > > > bertanya tentang teman-temanku di kampung. Aku juga bercerita tentang > > > hari-hari pertamaku jauh dari sanak saudara, hari-hari yang kulalui > dengan > > > iringan tangis kerinduan. Baru kemudian kuketahui bahwa Ayah dan Ibu > harus > > > memberanikan dirinya untuk menjengukku di Bandung saat itu. Sesepuh > > kampung > > > kami sering berkata kepada mereka, "Relakan saja Didi jauh dari kalian; > > dia > > > sudah menjadi anak Negara; kalian tidak akan diperbolehkan menemuinya > > ...". > > > > > > "Ayah, kau selalu yakin akan kebenaran keputusanmu untuk menjauhkan aku > > dari > > > kampung halaman meskipun kau tidak sempat menyaksikan wujud kebenaran > > itu". > > > Ayah tidak sempat membaca nilai-nilai ijazah SMP-ku. Ayah tidak sempat > > tahu > > > bahwa sejak SPG aku bersekolah bersama-sama dengan teman sekelas yang > > awas. > > > Aku tidak sempat bercerita kepada Ayah bagaimana aku menangis terharu > > ketika > > > aku dinyatakan lulus terbaik dalam ujian sarjana bahasa dan sastra > Inggris > > > di IKIP Bandung. Ayah juga tidak sempat hadir dalam wisuda S2-ku dari > > > program studi bimbingan dan konseling di PPS UPI. > > > > > > "ayah, kau tak pernah secara fisik menyaksikan keberhasilan demi > > > keberhasilan yang telah kuraih. Ayah, tahukah engkau bahwa aku dosen > UPI? > > > Tahukah engkau bahwa aku sering ke luar negeri untuk tugas-tugas negara > > dan > > > organisasi?" Aku tahu itu hal yang biasa-biasa saja bagi banyak orang > > lain; > > > tapi bagi Ayah yang petani kecil itu pasti sangat membanggakan. > > > > > > "Sekarang kita ke makam Nenek, Pa," tiba-tiba suara Tommi menyadarkanku > > dari > > > renungan itu. Kami pun berjalan menuju kuburan Ibu yang tidak jauh dari > > > situ. Ibu sempat menyaksikan kelahiran anak-anak kami meskipun tidak > > sempat > > > melihat mereka besar dan menjadi mahasiswa. Tapi Aku dan istriku sempat > > > menyenangkan Ibu secara materi untuk beberapa tahun hingga dia meninggal > > > pada tahun 1996. Kami bahagia bahwa Ibu melewatkan tahun-tahun terakhir > > > kehidupannya dengan kepuasan dan kebanggan atas keberhasilan hidup kami. > > > Kalau Ibu bertemu dengan Ayah di alam baka sana, dia pasti bercerita > > tentang > > > kami kepada Ayah, dan Ayah pun pasti bangga. > > > > > > ***** > > > Didi Tarsidi > > > Jl. H. Kurdi Baru II/17 > > > Bandung 40243 > > > Indonesia > > > Tel. (62 22) 5200182 > > > Mobile: 081572025726 > > > ***** -------------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1439 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
