FYI...Semoga bermanfaat. Thank's
Best Regards
Herias
IT Dept
PT Uni Enlarge Industry Indonesia
Cakung, Jakarta
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED]; 081310878628
----------------------------------------------------------------------------
----
dr Hardiono D Pusponegoro , wrote :
Kalau mau berhati-hati demam berdarah:
Biasanya anak yang mengalami demam berdarah:
- demam tinggi mendadak yg sulit turun dengan obat
- kalau demam bisa turun, anak tetap terlihat lesu
- gejala demam berdarah bisa saja tidak khas, seperti demam yang lain
- kalau ragu:
- tetap harus periksa darah, mulai hari kedua atau ketiga. Kalau
baru demam satu hari biasanya tidak terlihat perubahan di darah.
- tetap ragu: periksa darah tiap hari
- Sangat curiga: periksa darah 2 kali sehari.
----------------------------------------------------------------------------
----
Dalam minggu ini Indonesia mengalami kondisi memprihatinkan
khususnya jatuhnya banyak korban karena gigitan nyamuk Aedes aegypti atau
albopictus,
bukan nyamuknya yang kita takuti tetapi virus dengue yang dibawahnya.
Proses virus ini sungguh hebat dimana masuk lewat pembuluh getah bening atau
jaringan lymph
kemudian beradaptasi dengan sel - sel darah putih / leucocyt
( Tugas darah putih adalah memusnahkan benda asing yang masuk ke dalam
tubuh)
virus ini mempunyai naluri bahwa untuk mengatasi sel darah putih salah -
satu jalan
adalah bahan dasar yang ada dalam darah untuk pembuatan sel darah
putih harus dihancurkan atau dihambat pengirimannya agar virus ini bisa
berkembang lebih
cepat dari pertumbuhan sel darah putih
( Hal ini bisa dideteksi dengan melemahnya energi--kurang berfungsi--pada
sistem kelenjar pituitary yang berfungsi untuk memproduksi hormon
pertumbuhan dan hormon pemusnahan sel tubuh yang dianggap mengganggu atau
sudah
waktunya dimatikan --beban kerja terlalu berat--)
dengan demikian virus ini bisa masuk ke sirkulasi darah akibatnya sel darah
merah (eritrocyt)
akan tercemar / rusak, Tubuh kita secara otomatis (pituitary ) akan
mengirimkan enzim pemusnah
ke limpa untuk menghancurkan sel - sel darah merah tersebut dan mengganti
dengan sel darah merah yang baru.
Apabila Kapasitas kerja limpa terlampaui karena banyaknya sel darah merah
yang tercemar
maka terjadi kebocoran darah dan mengalir ke dalam/luar tubuh (Tubuh kita
akan memakai thrombocyt atau sel darah pembeku untuk mengatasi kebocoran ini
sehingga persediaan thrombocyt akan berkurang secara cepat bila
kebocoran ini tidak bisa diatasi, Tubuh akan kekurangan cairan dan bahan
dasar (mineral,kalium dan
natium) sehingga pembuatan sel darah putih akan berkurang).
Dari proses diatas terlihat bahwa cara mengatasi virus ini adalah 0.
Mengetahui lebih awal apakah dalam tubuh kita sudah ada virus yang masuk
Lewat deteksi energi atau labotarium ).
1. Menjaga agar tubuh jangan sampai kekurangan cairan bila virus sudah ada
di tubuh
( Banyak minum bila perlu transfusi darah jika kondisi gawat )
2. Menjaga agar kelenjar pituitary ( lokasi di bawah otak besar ) supaya
dapat mengeluarkan enzim pertumbuhan secara cepat untuk dapat mengganti sel
yang tercemar.
3. Menjaga agar limpa dapat bekerja dengan normal.
Apabila ini bisa kita kerjakan maka otomatis tubuh bisa memproduksi sel
darah putih yang digunakan untuk melawan virus dengue tersebut. Sampai
sekarang dunia kedokteran belum menemukan obat yang dapat mengatasi virus
ini dan hanya mengandalkan kekebalan tubuh pasien semata - mata..
----------------------------------------------------------------------------
----
-----Original Message-----
From: Adam Bachtiar [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, February 17, 2004 6:14 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [mgt-93] Fwd: FW: Tidak ada bintik merah TAPI Demam Berdarah,
so hati-hati
----------------------------------------------------------------------------
----
Korban Meninggal Demam Berdarah: "IBU,BERPELUKAN..."
Jakarta, KCM
Meski sudah 2 minggu, Nova, ibu muda yang tinggal di daerah Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan, masih berduka. Rabu (3/2),dia kehilangan Bima,
anak semata wayangnya. Penyakit demam berdarah merenggut nyawa bocah
aki-laki berusia 6 tahun itu.
Sudah takdir, begitu kata sebagian orang. Tetapi,Nova merasa dokter
yang menangani anaknya tidak profesional. Selain salah diagnosa,
penanganan dokter juga tidak maksimal.
Tidak Minta Dibacakan Buku Ceritera Hari itu, Kamis 29 Januari, Bima (6),
bersekolah
seperti biasa. Kondisi tubuhnya amat sehat. Sepulang sekolah, bocah tampan
yang duduk di kelas 1 sekolah elit High Scope Indonesia di bilangan TB
Simatupang itu, masih mengerjakan pekerjaan rumahnya di kamar. Seperti
hari lainnya, Bima menyelesaikan pelajaran sekolahnya pukul 14.30.
Setelah itu, ia masih mengikuti kegiatan ekstra kurikuler selama 45 menit.
Pukul 15.15 barulah Bima pulang ke rumah dijemput supir.
"Untuk perjalanan dari sekolah ke rumah, biasanya saya bawain jus dan
snack. Dia suka jus apa saja terutama buah-buahan lokal seperti pepaya,
tomat, jeruk, mangga, pisang ambon. Cemilannya bisa nugget atau roti,"
tutur Nova, ibu muda yang hanya memiliki satu anak itu.
Setengah jam setelah tiba di rumah, Bima mandi air hangat yang sudah
disiapkan ibunya. Setelah bermain-main sejenak dan shalat maghrib, tanpa
disuruh Bima mengerjakan PR-nya.
"Anak itu gampang sekali, tidak pernah membuat susah. Biar anak tunggal
sangat mandiri. Tidak perlu diingatkan berkali-kali untuk mengerjakan PR
atau shalat," kata sang ibu. Seperti juga hari-hari lainnya, pukul 9.00
malam, Bima beranjak ke tempat tidur. Entah mengapa, malam itu, dia
tidak minta dibacakan buku ceritera kesayangannya.
Padahal, biasanya Bima tidak bisa tidur kalau belum dibacakan kisah
binatang kesukaannya.
"Tumben, anak ini langsung tidur. Saya pegang badannya kok panas. Saya
ambil termometer, setelah diukur ternyata panasnya 38,5 derajat Celcius.
Cukup tinggi. Langsung saya beri obat penurun demam Proris, " ujar Nova
yang sempat heran setelah diberi obat, kok demam anaknya tak juga turun.
Pukul 01.00 dinihari, Nova bangun untuk memeriksa keadaan Bima. Pipi
sang anak terlihat memerah. "Saya yang ada di sebelahnya saja bisa
merasakan hawa panasnya." Begitu diukur suhu tubuhnya mencapai 40,5
derajat Celcius. Nova mulai khawatir, mengapa obat demam yang
diberikannya pukul 22,00 sama sekali tak bereaksi.
Memberi obat lagi jelas tidak mungkin, karena harus diberikan setiap 8
jam. "Karena takut step, tubuhnya saya terapi dengan alkohol. Sementara
bagian yang berbahaya seperti kening, dahi, belakang tengkuk,ketiak, saya
kompres
dengan plester penurun panas"
Semalaman Nova tidak tidur. Ia tidak langsung membawa putra tunggalnya
ke dokter, karena mengira Bima hanya menderita radang tenggorokan.
Apalagi, Bima juga mengeluh lehernya sakit. Setelah lewat 8 jam, sekitar
pukul 04.00 pagi, Nova kembali memberikan obat demam untuk kedua
kalinya, karena suhu tubuh Bima masih cukup tinggi.
Pagi-pagi sekali,Jum'at (30/1), Nova langsung mendaftar melalui
telepon ke Rumah Sakit Pondok Indah untuk memeriksakan anaknya.
"Saya baru dapat giliran jam 1.00 siang. Karena pasiennya penuh dan
dokter di sana baru praktik jam 10.00," tuturnya.
Muntah-muntah Selama menunggu dibawa ke dokter, Bima di rumah
muntah-muntah luar biasa. Nova kembali menghubungi rumah sakit mengabarkan
kondisi
anaknya yang mengkhawtirkan. Namun, petugas di rumah sakit tak
bisa berbuat apa-apa karena dokter baru tiba siang hari. Ketika itu, suhu
tubuh Bima hanya turun sedikit, sekitar 39,5 derajat Celcius. Dia
sama sekali tak mengeluh. Makan pun masih mau. Meski sakit, buah
apel, keju, nasi dengan lauk udang, dilahapnya.
"Makannya jalan, tapi muntahnya juga jalan terus. Begitu muntah saya
suapi lagi, karena takut dehidrasi. Minumnya juga kuat. Setiap 2 jam,
satu botol Aqua habis. Tetapi, muntahnya semakin sering. Saya sampai
kelelahan mengejar antara muntah dengan memberi makanan lagi, " ujar
Nova. Usai shalat Jum'at, begitu akan dibawa ke dokter, hujan turun
sangat deras. Badai melanda Jakarta, pohon-pohon besar di jalanan
tumbang. "Asbes, seng, terbang seperti daun di depan
rumah saya," kata Nova yang tinggal di Jalan Radio Dalam Raya,
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Siang itu, Bima batal pergi ke dokter,
karena keadaan cuaca sangat berbahaya.
Pukul setengah empat sore, ketika badai mereda, mereka baru bisa
berangkat ke rumah sakit. "Jalanan porak poranda, akibat banyak pohon
tumbang. Setelah menunggu pohon digergaji dan disingkirkan dari jalan
raya, mobil saya baru bisa lewat," ujar Nova yang sampai di rumah sakit
pukul 18.30. Karena dokter langganannya ke luar negeri, Nova memilih
dokter lain. "Saya pilih dokter yang namanya sudah sangat populer dan
dikenal bagus," ujarnya Setelah Nova menceriterakan keadaan Bima, dokter
memeriksa bocah itu dengan sangat teliti. Mulai dari telinga, hidung,
mata, hingga mulut. Paru-paru dan perutnya ditekan-tekan, sembari
bertanya, "Sakit nak?", Bima menggeleng, "Tidak".
Usai memeriksa, dokter mengatakan, "Nggak apa-apa ini bu. Anak ibu hanya
menderita radang tenggorokan." Ketika Nova bertanya mengapa anaknya
muntah luar biasa, bahkan air dari perutnya keluar banyak sekali? Dokter
menjawab enteng, "Ah, anak ibu belum dehidrasi.
Minumnya masih banyak kan? Ini cuma radang saja kok." Sewaktu didesak lagi
soal muntah yang berlebihan dokter hanya mengatakan iritasi di
tenggorokan memang menyebabkan gatal dan muntah. "Penjelasan itu tidak
memuaskan saya, kemudian saya tanya lagi, perlu infus apa tidak ya?"
Dokter menjawab enteng, "Tidak."
Suaminya, sempat menyenggol lengannya, "Yang sekolah siapa sih?"
tanyanya bercanda, agar Nova menghentikan pertanyaan-pertanyaan
kritisnya. Nalurinya sebagai ibu yang ingin melindungi anaknya, membuat
Nova terus mempertanyakan jawaban dokter yang menurutnya tidak
meyakinkan.
"Lalu kami ke luar ruangan. Anak saya minta jaketnya dibuka. Begitu
dibuka saya kaget lihat tangannya seperti orang kena tampek, ada
bercak-bercak hitam. Aduh anak saya nggak begini nih tangannya. Saya
balik lagi. Dok kenapa nih Bima, kok tangannya begini? Yang saya tahu
anak saya tangannya mulus banget," tanya Nova kepada dokter. "Ah nggak
apa-apa, karena panasnya tinggi, pembuluh darahnya lebih kelihatan,"
jawab dokter enteng.
Dokter memberikan obat antibiotik cair, Velocef, 250 miligram, obat
demam Proris dan Parasetamol 300 miligram.
"Nanti kalau sudah minum obat ini 3 hari, dan belum
sembuh, cek darah ya," pesan dokter.
Sesampainya di rumah, Nova langsung memberikan obat-obat itu pada
anaknya. Setelah minum obat pemberian dokter, muntah Bima berkurang,
demamnya pun turun, meski masih 38,5 derajat Celcius. "Oh obatnya
bekerja, pikir saya senang." Tapi, Nova tak lantas berhenti berikhtiar.
Ia mencoba mendapatkan second opinion dari dokter lain. "Saya itu
orangnya paranoid. Saya tak pernah percaya satu dokter. Saya cek lagi ke
dokter lain." Entah mengapa, kali ini Nova meminta pendapat dari
mertuanya yang juga dokter spesialis anak. "Pa, saya kok nggak puas,
tolong Bima diperiksa lagi."
Sang kakek kemudian memeriksa cucu laki-lakinya dengan teliti, termasuk
melihat obat yang diberikan dokter. "Nggak apa-apa.
Dia radang tenggorokan. Obat yang sudah diberikan dokter minum
saja, habiskan. Itu sudah benar," kata sang kakek. Nova belum puas juga
dengan jawaban itu.
Dia bertanya-tanya dalam hati, setahunya anak demam tidak boleh
lama-lama. Ia takut otak anaknya akan mengecil, atau ada efek lainnya.
Namun, mertuanya meminta Nova berpikir positif saja untuk anaknya.
Beli kambing kurban Hari Sabtu (31/1), kondisi Bima membaik. Anak ini
malah sempat membeli kambing yang akan dikurbankannya pada hari raya Idul
Adha. "Bu, aku ingin kurban, dan kambingnya aku pilih sendiri."
Usai memberi makan kambing yang baru dibeli bersama ibunya, Bima
bermain dengan sepupunya.
Muntahnya sudah berhenti dan suhu tubuhnya 37,5 derajat Celcius.
Keesokkan harinya, Minggu (1/2), pada hari raya Lebaran Haji, Bima masih
bermain seperti biasa. Hanya saja ia terlihat lemas, dan lebih banyak
tidur-tiduran. Nova sempat memberinya jus jambu.
Namun, Bima sudah tak mau makan. Ia hanya minum terus.
Malam harinya, kira-kira pukul 21.30, kakeknya menanyakan kabar Bima via
SMS, "Bagaimana posisi Bima?" Dijawab Nova, panasnya
masih 38,5 derajat Celcius. "Coba cek darah," jawab sang kakek yang
diiyakan Nova.
Menjelang sebuh, suhu badan badan Bima mendadak naik 40,5 derajat
Celcius. "Saya panik. Anda yang nggak beres nih.
Wong panasnya sudah turun kok naik lagi. Pasti ada infeksi," tutur Nova.
Bima, masih sempat minta makan. "Bu, aku pengin makan," kata si anak.
Ibunya memberi pisang Ambon. Tak berapa lama, Bima malah muntah-muntah.
Kali ini, muntahannya agak berbeda. Seperti ada lendir coklat. "Saya tidak
curiga karena saya bayangkan jika pisang ambon teroksidasi warnanya
berubah coklat." Yang mengherankan, ketika suhu badannya diukur, bagian
atas menunjukkan angka 40.5 derajat Celcius, namun dari pangkal paha sampai
kaki, sangat dingin.
Senin sore (2/2) sekitar pukul 15.00, Bima digotong ke UGD RS Pondok
Indah. Setengah jam kemudian, Bima sudah tiba di RS.
Melihat kondisi Bima, dokter jaga UGD langsung berkomentar, "Aduh,
anak ibu kayaknya DB nih." Nova balik bertanya, "Apa DB dok?" ,"Demam
berdarah," jawab dokter. "Saya langsung lemes," ujar Nova.
Paramedis di rumah sakit langsung panik, mereka segera melakukan cek
darah memastikan jumlah trombositnya. Saat itu, trombositnya masih
20.000. Bima disarankan segera masuk ICU. Sayangnya, ICU di rumah sakit
tersebut sudah penuh. Ruang ICCU pun sudah tak bisa menampung lagi.
Akhirnya, Nova diberi tiga pilihan, RSCM, RS Bintaro atau sebuah rumah
sakit elit di wilayah Jakarta Selatan. Berdasarkan pertimbangan
mertuanya yang berprofesi dokter, Nova memilih yang terakhir. Apalagi
rumah sakit tersebut, jaraknya cukup dekat dari rumahnya. "Tapi jujur
saja, sebenarnya perasaan saya tidak setuju Bima dirawat di rumah sakit
tersebut," tuturnya.
Kepada dokter di RS Pondok Indah, Nova sempat menyayangkan, mengapa pada
pemeriksaan pertama, anaknya tak terdeteksi demam berdarah. Malah,
menyuruh kembali lagi setelah 3 hari. "Dokter itu sudah nggak bisa
ngomong apa-apa lagi," ujar Nova. Ia juga kesal pada mertuanya karena
sebagai dokter tak bisa mendeteksi demam berdarah yang diderita Bima.
Senin malam itu, Bima dibawa dengan ambulans kerumah sakit yang sudah
dipilih keluarganya.
Sebelum berangkat, Nova sempat bertanya pada dokter Hinky Hindra Irawan
Satari, ahli spesialis penyakit daerah tropis yang berpraktik di RSCM,
soal tindakan apa yang akan diambil dokter dalam keadaan Bima yang sudah
kritis. Diterangkan oleh dokter, Bima harus segera mendapatkan vena
session, infus di bagian kaki. Karena dari tangan sudah tidak bisa,
darahnya sudah membeku.
"Saya bertanya lagi, apakah di rumah sakit yang akan kami tuju itu sudah
mengerti tindakan yang akan dilakukan. Dokter mengatakan di sana sudah
siap, dan begitu tiba, langsung diambil tindakan.
Saya percaya saja." Hanya ditangani perawat Sesampainya di rumah sakit
yang dituju, alangkah terkejutnya Nova, karena Bima kembali dimasukkan ke
UGD, dan menjalani pemeriksaan dari awal lagi. "Saya membentak
petugasnya, ini kan sudah ada file-nya dari RS Pondok Indah, kok masih
diperiksa ulang. Mereka nggak jawab. Entah apa memang demikian prosedur
rumah sakit. Lama sekali anak saya diperiksa di UGD, baru kemudian dibawa ke
ICU."
"Yang lebih hebat lagi," lanjut Nova, "Sejak anak saya masuk, dia hanya
ditangani suster. Dokter anak, yang harusnya berjaga di ICU baru datang
menjelang tengah malam. Ketika dia datang, anak saya sudah rapi, dan
sudah diinfus oleh suster. Dia tinggal lihat-lihat aja." Akibat dokter
datang terlambat, perawat yang menangani, sempat berkali-kali salah
menusukkan jarum infus ke tubuh Bima yang darahnya sudah mengental.
"Suster itu seenaknya tusuk sana, tusuk sini, salah-salah terus, sampai
anak saya teriak-teriak," tutur Nova dengan nada tinggi.
Kepada dokter tadi, Nova sempat bertanya mengapa
anaknya tidak mendapatkan vena session. "Ini sudah cukup, nggak
perlu lagi," kata dokter. "Saya diam saja. Dia malah menyarankan foto
paru-paru lagi, artinya kembali lagi pada pemeriksaan awal yang
sudah dilakukan di RS Pondok Indah."
Selasa pagi (2/2), sekitar pukul 8.00, kondisi Bima drop. Ia merasa
kedinginan luar biasa. Suhu tubuhnya 35,5 derajat Celcius. Dokter dan
perawat terlihat panik. "Kenapa dokter pada panik,saya nggak ngerti.
Anak saya kemudian dikasih pemanas. Alat itu, semacam ada lampunya, yang
dipasang dari bagian pinggang sampai kaki Bima."Ibu masih dingin
sekali, minta selimut. Empat deh bu selimutnya, " keluh Bima berulang-ulang.
Nova menanyakan kepada perawat mengapa anaknya menggigil kedinginan.
"Nggak apa-apa bu, pasien demam berdarah memang begitu, kadang stabil,
kadang shock." Pada saat kritis itu, barulah beberapa dokter datang,
malah ada yang menyarankan mencari dokter anestesi untuk melakukan vena
session. "Saya pikir kok baru sekarang diambil tindakan vena session,
padahal saya sudah menanyakan hal itu sejak tadi malam," pikir Nova.
Lebih mengherankan lagi, dokter anak yang menangani Bima, baru pagi itu
memeriksa seluruh catatan medis Bima. "Mana file dari RS Pondok Indah?
Mana foto paru-paru? Mana hasil pemeriksaan darah? Mana laporan
trombosit?" tanya dokter itu panik. "Semua kertas-kertas itu berserakan
di atas meja. Padahal kondisi anak saya sudah sangat drop, dan dokter
baru mempelajari catatan medisnya," tutur Nova kesal. Wajah-wajah dokter
dan perawat terlihat panik, malah ada sebagian yang berusaha menahan air
mata. "Mereka kelihatan putus asa. Tetapi tetap tidak ngomong apa-apa
pada saya. Kenapa muka mereka begitu?" tanya Nova dalam hati. Pagi itu
juga Bima mendapatkan vena session, infus di bagian
kakinya, ditambah infus di bagian leher. "Ada tiga selang yang masuk
ke leher anak saya," kata Nova, yang berusaha memastikan apakah dokter
yakin dengan tindakan infus di bagian leher anaknya. "Ini satu-satunya
kesempatan," ujar dokter itu. Alasannya, di bagian leher ada pembuluh
darah besar, jadi lebih gampang. Perawat juga memasang infus di bagian
selangkangan Bima.
Setelah beberapa lama dipasang, infus di bagian selangkangan Bima
menimbulkan bengkak. Ketika ditanyakan, perawat dengan enteng berujar,
"Oh, ternyata yang di sini nggak bisa dok, infusnya nggak masuk," kata
Nova menirukan ucapan suster tersebut.
Sempat terlintas dalam pikiran Nova, memindahkan anaknya ke rumah sakit
lain, tapi kondisi Bima sudah terlalu parah.
Satu-satunya hal yang bisa dilakukannya tinggal ikhtiar dan berdoa.
Tinja berwarna hitam Selasa sore, Bima buang air besar. Nova semakin
cemas, karena warna tinja anaknya hitam. "Saya kaget, kok tinjanya
berwarna hitam. Ketika saya tanya ke dokter, dijawab tidak apa-apa. Itu
merupakan proses perjalanan penyakit." Namun, kondisi Bima semakin
parah. Sekujur tubuhnya, mulai dari kepala sampai kaki membengkak.
"Bima diguyur 9 botol infus. Itu apa saja, saya nggak tahu," ujar
Nova sedih. Ia kembali bertanya kepada dokter, "Kok bengkak sih dok? Ini
gimana anak saya?", "Nggak apa-apa bu, nanti kempes sendiri, sejalan
dengan keluarnya virus, nanti kempes sendiri," jawab dokter.
Diantara bagian tubuh lainnya, paha Bima, yang terlihat paling besar
karena bengkak. Nova kembali bertanya, "Dok kok pahanya besar sekali?",
dokter menenangkan, "Nggak apa-apa, itu proses perjalanan penyakit. Ibu
tenang saja."
Dalam kondisi tubuh membengkak, Bima masih sadar dan bertanya pada
ibunya, "Bu, kapan teman-teman mau jenguk aku? Aku pengin pulang, aku
pengin sekolah lagi, aku mau main sama temen-temen.
Bu, bawa dong temen-temen aku ke sini," kata Bima mengoceh sampai
tengah malam. Sore harinya, pukul 17.00, suster kepala ruangan masih
memberi informasi yang cukup menghibur. Lima jam lagi Bima akan berhasil
melewati masa kritisnya. "Apa maksudnya," tanya Nova. "Sebentar
lagi, Bima, akan normal," jawab suster yang memberitahukan posisi
trombosit Bima 29.000.
"Alhamdulilah," sahut Nova bersyukur.
Hari itu, Bima ingin sekali minum fruit tea rasa anggur dan peach. "Dia
juga lapar, pengin makan. Karena puasa, saya hanya memberi air sesendok.
Itu pun ditegur perawat." "Bu, aku pengin minum yang glek-glek, kok
nggak boleh sih, pelit amat," ujar Bima lagi.
Hari Rabu, pukul 01.00 dini hari, Bima meminta ibunya membersihkan
darah-darah kering disekitar jarum infusnya. "Bu, tolong bedak-bedakin
juga dong. Ibu cium-cium juga ya," pintanya. Nova menciumi tangan
anaknya. "Gantian dong bu, tangan yang satu lagi, "kata Bima. "Kakinya,
ciumin juga ya bu," lanjutnya. Setelah puas diciumi ibunya, Bima minta
ijin tidur. "Bu, aku tidur ya." Sebelum tidur, Bima sempat membaca doa.
Pada saat anaknya tidur, Nova menanyakan kondisi anaknya pada perawat.
Semuanya dijawab bagus. Air di paru-parunya pun sudah berkurang. "Entah
itu sekadar lips service atau apa, tetapi mereka memberi harapan optimal
kepada saya," tutur Nova.
Pukul 01.30, Nova sempat shalat di samping tempat tidur Bima. Tiba-tiba
anaknya memanggil, "Ibuuu.., berpelukan", belum sempat Nova memeluk
anaknya, baru berlari ke arah tempat tidurnya, Bima sudah ngos-ngosan,
nafasnya sesak. Nova segera berteriak memanggil suster, memintanya
mengambil alat pacu jantung.
Tetapi, satu orang perawat ICU yang berjaga ketika itu, malah sibuk
mengatur volume selang infus. "Saya bingung dan marah, kok reaksinya
seperti itu, pintu kaca ICCU saya gedor keras-keras.
Tolong anak saya, ambil alat bantu pernafasan," teriak Nova.
Perawat kemudian memberikan CPR melalui pompa. "Saya masih memberi
semangat, 'Ayo tolongin anak saya, jangan putus asa.' Saya masih
optimis, karena saya masih ingat janji-janji suster sore harinya bagus
banget," kata Nova. Bima kemudian disuntik adrenalin, detak jantungnya
sempat naik, tapi kemudian tak ada sambutan lagi, dan... hilang.
Dengan alat kejut jantung pun tak bisa mengangkat lagi,grafik detak
jantungnya
tak bergerak lagi.
"Sudah bu, kami sudah berusaha, maaf..," ujar perawat.
Tubuh Nova langsung lemas, antara percaya tidak percaya, Bima, anak
semata wayangnya, telah meninggalkannya untuk selama-lamanya, tepat
pukul 02.15 pagi.
Ia hanya bisa menyayangkan, mengapa pada saat kritis itu, tak ada satu
dokter pun yang menangani anaknya.
Satu hal yang masih berkecamuk di benak Nova dan kerabatnya hingga hari
ini,adalah: Kok bisa sih di kota metropolitan, dengan rumah sakit yang
katanya favorit, penderita demam berdarah tidak tertolong nyawanya?
Padahal, biaya yang harus dikeluarkannya selama dua hari dirawat di
rumah sakit, cukup besar, lebih kurang Rp12,5 juta.
Mengapa pelayanan yang diterimanya sedemikian buruk?
Dalam keadaan marah dan kecewa, ia sempat ingin menggugat pihak rumah
sakit. Tetapi setelah mempertimbangkan kemungkinan anaknya akan
diotopsi, Nova menyurutkan langkahnya. "Saya tidak mungkin melakukan itu
(otopsi) pada anak saya," ujarnya lirih. Ia hanya berpesan kepada para
orangtua, begitu anak panas lebih dari 37,5 derajat Celcius, dan sudah
diberi obat demam, suhunya tidak turun-turun, segera bawa ke dokter.
Bila dokter tak berinisiatif mengecek darah, bawa sendiri ke laboratorium
dan periksa darahnya. Kalau perlu,pemeriksaan laboratorium dilakukan selama
dua hari berturut-turut. Bila
selama dua hari itu terjadi penurunan jumlah trombosit segera bawa ke rumah
sakit, dengan
menunjukkan bukti penurunan trombositnya.
"Tidak usah menunggu bintik merah, karena sampai Bima meninggal, tak ada
bintik merah sama sekali di tubuhnya," ujar Nova lirih. (ZRP)
----------------------------------------------------------------------------
----
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/IYOolB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
Milis kota-bogor ... media interaktif untuk 'orang Bogor' dan yang pernah
tinggal di Bogor.
Jika ingin keluar dari milis ini, harap kirim e-mail kosong ke :
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kota-bogor/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1441
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id