�
Ressa Yanuardin Widiyatmoko
Traffic Management, Marketing and Sales Division
PT. Televisi Transformasi Indonesia
Jl. Kapt. P. Tendean Kav 12-14A
Jakarta 12790 - Indonesia
email : [EMAIL PROTECTED]
-----Original Message-----
From: Juanda Juanda [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: 01 Maret 2004 09:11
To: asep; basi; dahliana; djudjun; eri; icha; lia; Libra; Lina; malicha maulidha;
maman; nonny; ranum; Ressa Yanuardin Widiyatmoko; sofa; wanit; yanti; yung
Subject: FW: Aku Bermimpi Jadi KORUPTOR (Kwik Kian Gie)
�
Aku bermimpi Jadi Koruptor Oleh Kwik Kian Gie
Akhir�-akhir ini media massa, seminar, diskusi,�konferensi pers, talk show, ngerumpi,
dan pembicaraan di warung-warung gegap gempita dengan topik KKN. Terpilihnya Komisi
Pemberantasan Korupsi oleh DPR diberitakan secara hiruk-pikuk pula. Saya sempat
berpikir apakah KPK akan efektif karena modus operandi korupsi yang begitu beragam.
Lagi pula, moral dan mental yang sudah rusak tidak termasuk dalam tugas pokok dan
fungsi (tupoksi) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Jadi, kalau diibaratkan pohon,
KPK hanya menangani daun yang rusak karena akarnya busuk. Selama akarnya tidak
diobati, selalu akan bermunculan daun-daun yang rusak. Mengobati akar atau kalau
sudah tidak bisa membunuhnya saja, tidak termasuk domain KPK.
Karena intensnya dikonfrontasi dengan topik KKN seperti ini, saya� tertimpa mimpi.
Dalam mimpi itu saya menjadi koruptor. Saya menguasai betul berbagai cara berkorupsi,
dari yang paling kotor sampai yang paling canggih. Maka, saya menjadi orang sangat
kaya. Rasanya tidak seorang pun yang mempunyai gambaran betapa besar kekayaan yang
saya peroleh dari korupsi. Semuanya bisa dibeli dengan uang, juga hukum.
Maka, dalam salah satu pesta ketika saya mabuk, saya berkata, "I am the Lord, I am
the law, and I am the richest man in Indonesia."
MIMPI selalu kacau. Dalam melakukan korupsi saya terkadang menjadi� penguasa,
terkadang pengusaha, terkadang pegawai negeri rendahan,� terkadang pengusaha besar,
tukang parkir, dan apa saja yang mempunyai kekuasaan. Kekuasaan adalah modal dasar
korupsi.
Sebagai pengusaha saya menyalahgunakan semua celah yang ada. Yang paling mudah dan
sederhana adalah menjadi rekanan dan pemasok kepada� pemerintah. Pemerintah
membutuhkan barang dan jasa. Setiap tahunnya membelanjakan jumlah uang yang luar
biasa besarnya. Caranya adalah kongkalikong dengan pejabat yang mempunyai wewenang
untuk membeli barang dan jasa untuk kebutuhan kementerian atau badan pemerintah yang
dipimpinnya. Harga saya naikkan berkali lipat dan selisihnya saya bagi dengan sang
pejabat. Hasilnya lumayan, tetapi saingannya berat, karena banyak sekali yang
melakukan hal ini.
Konsepnya terlampau mudah. Meski demikian, saya sudah tidak melakukannya sendiri.
Saya sudah mempunyai banyak pegawai tingkat tinggi yang tidak memalukan kalau saya
suruh bergaul dengan para pejabat yang rata-rata sarjana. Merekalah yang melayani
pejabat habis- habisan, dari melayani istri dan anak- anaknya sampai mengantarkan
sambil membayari mereka berbelanja. Bahkan, mereka sampai berfungsi sebagai pembantu
rumah tangga sang pejabat.
Modal utama cara berbisnis seperti ini adalah rai gedhek, mental budak, dan tahan
ngelesot berhari-hari sambil sering berfungsi sebagai badut.� Usaha ini yang dilakukan
pegawai-pegawai saya berjalan terus. Saya sendiri meningkatkan diri dalam berkreasi
dan inovasi konsep-konsep yang lebih canggih.
Setiap zaman saya memberi peluang KKN yang bentuknya lain. Sejak tahun enam puluhan
saya sudah melakukan banyak cara. Semuanya saya lakukan dalam mimpi juga, yang ketika
itu saya bermimpi menjadi konglomerat.� Berbagai modus operandi sudah saya tulis dalam
berbagai artikel yang� dihimpun dalam buku kecil dengan judul Saya Bermimpi Jadi
Konglomerat.
DALAM mimpiku sekarang aku untung besar dengan hanya ongkang-ongkang� saja. Pemerintah
bermaksud meningkatkan ekspor (export drive). Caranya memberikan kredit murah dengan
bunga 12 persen setahun asalkan kreditnya dipakai untuk membiayai kegiatan ekspor.
Bunga deposito ketika itu 22 persen setahun. Saya mengajukan permohonan kredit ekspor
dengan rencana ekspor yang meyakinkan. Feasibility study dibuat oleh konsultan asing
dan ditulis dalam bahasa Inggris. Pejabat tinggi kita menganggap apa saja yang asing
dan dalam bahasa Inggris mesti lebih benar dan lebih pandai. Demikian juga laporan
keuangan saya juga seluruhnya ditulis dalam bahasa Inggris setelah diaudit oleh
kantor akuntan yang termasuk big five di dunia. Segera saja kreditnya cair. Tentu
dengan uang suap seperlunya. Kegiatan ekspor juga saya laksanakan. Hanya yang saya
ekspor gombal, kain pel, potongan- potongan sisa tekstil untuk membuat pakaian jadi.�
Barang-barang ini diekspor kepada perusahaan saya sendiri di Singapura.� Setibanya,
barang-barang itu langsung dibuang. Jadi tidak ada penggunaan uang dari kredit ekspor
untuk ekspor beneran. Namun, saya dapat memperlihatkan semua dokumen ekspor. Kredit
dengan bunga 12 persen saya depositokan dengan bunga 22 persen. Kredit yang saya
peroleh Rp 500 miliar. Dalam setahun saya mendapatkan pendapatan bersih (setelah
dipotong pajak) sebesar Rp 93,5 miliar, yaitu 22 persen dari Rp 500 miliar dipotong
pajak sebesar 15 persen. Bunga yang harus saya bayarkan kepada bank BUMN sebesar 12
persen dari Rp 500 miliar atau Rp 60 miliar.� Saya untung Rp 33,5 miliar for doing
nothing.
Yang paling hebat adalah ketika ketahuan dan diberitakan di media massa.� BI
menyatakan tidak ada yang dirugikan karena saya membayar utang� pokoknya tepat waktu.
Demikian juga dengan bunga sebesar 12 persen� setahun yang mereka tentukan. Hi-hi,
mereka tidak peduli bahwa tujuan meningkatkan ekspor tidak tercapai. Jelas mereka
membodohkan diri sendiri, menjadikan dirinya sendiri "teh botol" (teknokrat bodoh dan
tolol) karena saya sogok. Sambil melakukan ini terus, melalui asosiasi perusahaan,
dengan kawan-kawan saya kampanye antisuap. Media massa memberitakannya besar-besar
tanpa kritik karena penyuapan cara halus yang dinamakan public relations saya cukup
canggih.
DALAM bidang transportasi darat Indonesia sangat ketinggalan. Praktis tidak ada
jalan-jalan raya yang bebas hambatan (highway atau free way).� Bayangkan, jalan raya
sepanjang Pulau Jawa yang membangun adalah� Daendels. Dalam kemerdekaan yang 58 tahun
itu kita tidak mampu membangun jalan raya dari pulau yang paling padat. Sekarang
keuangan negara bangkrut-krut. Pemerintah dalam arti APBN tidak mempunyai uang.
Namun, bank-bank BUMN banyak duitnya.
Saya usulkan supaya saya diberi izin membangun jalan tol swasta yang� milik saya.
Modal yang dibutuhkan tentu sangat besar. Dengan menyogok seperlunya, saya memperoleh
100 persen dari dana yang dibutuhkan untuk membangun jalan tol tersebut. Biayanya Rp
800 miliar. Dengan kredit Rp 800 miliar jadilah jalan tol. Begitu dipakai, pemakainya
membayar tol fee secara tunai. Pemasukan uang ini dibagi 40 persen untuk saya dan 60
persen untuk membayar cicilan utang serta bunganya. Jadi begitu jalan tol selesai,
arus uang tunai serta-merta masuk ke kantong saya tanpa modal sama sekali. Utang
saya beserta bunganya juga serta-merta dicicil dari pemasukan tol fee yang tunai.
Saya membuat proyeksi tentang berapa tahun sejak� dimulainya utang akan lunas,
misalnya 15 tahun. Lantas saya umumkan bahwa setelah 15 tahun, jalan tol saya
hibahkan kepada pemerintah.
Bukankah luar biasa cemerlangnya saya?
Tidak. Seperti saya katakan, tidak semua birokrat tingkat tinggi "teh botol". Mereka
tahu bahwa semuanya dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri. Namun, saya sogok plus
saya berikan segala argumentasinya, seperti jalan tol itu perlu, pemerintah tak punya
uang, dan yang terpenting ideologinya bahwa pemerintah sebaiknya tidak ikut campur
memiliki barang, seperti jalan tol sekalipun. Saya jelaskan bahwa ini aliran pikiran
yang modern yang menyerahkan semuanya kepada mekanisme pasar. Mereka dan publik
memakan teori ini.
Saya tertawa geli lagi karena ini bukan teori baru.
Adam Smith yang mengenali berlakunya mekanisme pasar, adanya invisible hands yang
mengaturnya. Namun, hal itu sudah lama ketinggalan zaman karena ditulisnya pada tahun
1776. Intinya masih berlaku, tetapi tidak untuk barang publik, melainkan untuk
barang-barang kelontong yang bisa dipersaingkan dan tidak vital sifatnya. Jalan tol
mengandung monopoli natural karena ruangnya untuk jalan tol untuk ruas tertentu hanya
satu.� Mengapa harus diberikan kepada saya? Karena saya sogok! Namun,� justifikasinya
berbagai argumen yang ternyata ditelan dengan fanatik� karena yang berkuasa ketika itu
"teh botol".
PARALEL dengan ide tentang jalan tol ini, berbagai gedung pencakar� langit saya beli.
Gedung bank BUMN saya beli dengan uang yang 100 persen milik bank itu sendiri. Saya
memperoleh pinjaman dari bank BUMN yang bersangkutan. Gedungnya saya beli. Karena
gedung sudah milik saya, bank harus membayar sewa kepada saya. Perolehan pembayaran
sewa ini saya pakai untuk mencicil utang pokok beserta bunganya dalam bentuk
anuitas.� Jumlah anuitasnya saya samakan dengan uang sewa yang saya terima. Dengan
demikian, setelah sekian tahun gedung yang segitu besarnya milik saya.� Mulai saat itu
hasil sewa sepenuhnya saya nikmati karena utang sudah� lunas sama sekali. Bayangkan,
berapa besar pendapatan saya karena yang saya begitukan bukan hanya satu gedung. Masa
pimpinan bank begitu bodoh?
Tidak, tetapi menjadi bodoh karena cemerlangnya pikiran saya ditambah dengan
perolehan uang banyak dari persekongkolan dengan saya.
INDONESIA sudah maju, mempunyai banyak perusahaan asuransi, antara lain asuransi
jiwa. Kalau tertanggung mati, ahli warisnya mendapat santunan besar. Saya menciptakan
orang-orang yang tidak ada.� Jadi, saya menciptakan tertanggung fiktif yang tempat�
tinggalnya di daerah-daerah yang sangat terpencil. Setelah membayar premi beberapa
kali saja, saya menciptakan dokumen aspal tentang kematian tertanggung yang memang
tidak ada. Ahli warisnya orang-orang saya semua.
Masih banyak lagi cara-cara membobol perusahaan asuransi. Tentu orang dalam
perusahaan asuransi harus ikut di dalam komplotan ini supaya tidak meneliti lagi.
Maka, hampir semua perusahaan asuransi modal ekuitinya negatif.
Ketika ramai dibicarakan tentang adanya kemungkinan pemalsuan uang,� bukan hanya satu
pihak saja yang terlibat, seperti yang bahkan disebut namanya di surat kabar. Saya
melakukannya juga. Uang palsu saya tidak pernah ketahuan karena tidak pernah beredar.
Uang yang saya palsu senantiasa mengendap di kas sebagai iron stock atau persediaan
minimum untuk menjaga keamanan likuiditas. Jadi, saya mencetak uang palsu.
Uang ini saya tukar dengan uang yang harus selalu ada, tetapi nyatanya tidak pernah
beredar karena setiap bank harus mempunyai persediaan minimal. Dengan demikian tidak
akan pernah diketahui kecuali kalau akuntan publik mengauditnya dengan mencatat nomor
seri uang dan selanjutnya mengamati apakah uang dengan nomor seri�tertentu itu
terus-menerus mengendap di kas. Akuntan publik tidak sampai ke sana pikirannya.
Masih banyak lagi yang saya lakukan dalam mimpi.
Akan saya lanjutkan dalam mimpi berikutnya.
�
Kwik Kian Gie Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional
--------------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1479
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id