Hehehehehe... semua kok tanggapanya minor ya. Padahal semua lembaga (termasuk undip) juga butuh duit untuk pengembangan. Ketidak percayaan publik karena pertanggung jawabanya yang kurang transparan..

Padahal Prof. Eko sudah mensyaratkan ketat :
Rangking 5 besar di kelas saat SMU.. (harus-nya pinter kalau raportnya bukan palsu)
Punya duit 150 Juta.....


Memang kesanya tidak adil kalau tidak ikut test. Bagaimana kalau kita uslkan syaratnya ditambah, test UMPTN tidak boleh nyontek dan dibantu Joki, serta sekor dari UMPTN adalah minimal benar 75%. Mungkin itu lebih adil.

Agus B Raharjo

Ressa Yanuardin Widiyatmoko wrote:

Ah, ternyata para pendidik kita juga mau jadi pengusaha (mau duitnya aja he,he,he...) Mudah2an ada Pak/Bu Dosen disini terutama dari Fak. Kedokteran, hati-hati ya, Soalnya di Jabotabek di berita pagi ini ada berita tentang Dokter yang salah diagnosa DBD lho. Lha wong DBD didiagnosa sakit maag. Trus Pasiennya meninggal deh. Saya jadi pingin tahu dokternya itu lulusan mana ya ? Jangan sampai lulusan Undip !


Ressa Yanuardin Widiyatmoko
Traffic Management, Marketing and Sales Division
PT. Televisi Transformasi Indonesia
Jl. Kapt. P. Tendean Kav 12-14A Jakarta 12790 - Indonesia
email : [EMAIL PROTECTED]




--------------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1544
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id




Kirim email ke