Mas Ressa...
 
Demam berdarah ki diagnosane gampang gampang susah lho...
wong infeksi saluran nafas yang disertai dengan penurunan trombosit serta hematokrit itu ada juga lho. Jangan dikira diagnosa DB itu kaya mendiagnosa kutil atau wudun.
 
Demam berdarah itu pasti kalo sudah di lakukan tes serologi virus dengue. Dan ini tes laboratorium yang tidak semua RS punya, hanya lab untuk kepentingan riset saja biasanya yang punya.
Atau nunggu kalo memang sudah terjadi perdarahan,  baru bisa di tegakkan sangkaan DB. Jadi kalo kita mau survey, saat ini  penderita yang di rawat  di indonesia dengan dugaan DB kira kira 50 persen adalah penderita batuk pilek dan 50 persen DB. Jangan keburu menyalahkan siapa siapa Mas. dalam kondisi bencana seperti ini, yang terbaik adalah berbuat menurut kapasitas kita masing masing.
Dan obat DB saat ini tu belum ada, jadi perawatannya hanya mengatasi gejala dan tandanya saja. Karena paling bahaya adalah shyok maka yang dilakukan adalah memberi cairan yang berlebih. Dan memang DB ini menurut WHO bisa dirawat di rumah kalo kecukupan cairan bisa tercapai. Dan kalo ada tanda perdarahan baru di bawa ke rumah sakit. Tapi karena fasilitas kesehatan kita ini masih belum prima... ya akhirnya dokter2 jaga di RS Pemerintah tidak mau kecolongan, sehingga di lorong pun ada pasien rawat inap dengan infus. Padahal ini juga tidak sehat bagi semua ( baik dokter, pasien sendiri,). Di rumah sakit itu ada namanya nosokomial infection. Jadi Infeksi yang disebabkan karena seseorang di rawat di RS, dan biasanya kumannya ini bandel bandel dan resisten terhadap antibiotik.
 
salam


Muhamad Thohar Arifin, MD
Dept of Neurosurgery, Hiroshima University Japan
1-2-3 Kasumi Minami-ku Hiroshima Japan 734-8551
81-82-257-5227 fax 81-82-257-5229 home 81-82-264-0502
cell 81-90-6171-6000
[EMAIL PROTECTED]
www.talk.to/thohar or www.thohar.tk


Do you Yahoo!?
Yahoo! Search - Find what you�re looking for faster.

Kirim email ke