Kawan, saya seorang muslim, tulisan di bawah ini kudapatkan dr seorang temanku -yg 
berbeda iman-
bertahun lalu. Kujumpai dia masih tersimpan dalam mailbox-ku. 
Kami bersahabat sangat baik, perbedaan agama hanyalah selaput tipis di antara kami, 
kami tak
pernah menjadikannya semacam tembok kasar, apalagi kawat duri yg kurang mengenakkan 
bagi satu sama
lain. Dulu ia kawan traveling dan hunting foto yg menyenangkan, juga dng stamina 
tangguh. Setelah
berpindah kota, kami masih saling bertukar email, walau frekuensinya mungkin hanya dua 
minggu
sekali. Semula saat kubaca dulu, nampaknya sekilas bukan tulisan yg biasa aku sbg 
muslim akan
menyimpannya lama. Tapi saya bersukur telah menyimpannya. Tulisan itu -walau bukan 
tulisannya-
selalu menjadi bahasa dan wajah paling penuh kasih dan lembut darinya, bila aku 
mengingatnya.
Tulisan yg jauh dari niatan lain atau yang dapat menyakiti hati, bukan pula tulisan yg 
mencederai
diri sendiri. Maka tak kuhapus. Ia telah memberiku pengertian yg lebih baik tentang 
bagaimana ia
mensyukuri keimanan yg dipercayainya, dan telah turut memberi kami definisi yg cocok 
bagi bentuk
persahabatan kami. 
rochim.

---
Tentang Yesus, Khayalan dan Manusia

Aku sering bertanya dalam hati apakah Yesus itu
manusia dari daging dan darah seperti kita atau hanya
suatu khayalan dalam pikiran kita, suatu gagasan yang
melampaui penglihatan manusia.

Sering kau merasa seolah-olah dia hanyalah mimpi yang
dilihat beribu manusia pada saat yang sama, dalam
tidur yang lebih lelap dari tidur-tidur lain dan fajar
yang lebih cerah dibandingkan seluruh fajar.

Dan saat kami menceritakan mimpi itu kepada seorang
yang lain, kami seolah-olah menganggapnya sebagai
kenyataan yang sungguh-sungguh terjadi. Kemudian kami
mewujudkan khayalan itu sesuai dengan keadaan kami
dengan mengenakan tubuh kepadanya dan suara menurut
keinginan kami.

Tetapi sesungguhnya dia bukanlah impian. Kami telah
mengenalnya selama bertahun-tahun dan memandang dia
dengan mata telanjang di siang bolong.

Kami menyentuh tangannya, mengikutinya dari suatu
tempat ke tempat lain. Kami mendengar
khotbah-khotbahnya dan menyaksikan perbuatannya.
Nyata sudah bahwa kami ini bukanlah hanya semacam
pikiran yang mengejar pikiran yang lebih dalam atau
suatu impian di atas daerah mimpi.

Yesus dari Nazaret adalah peristiwa besar. Orang ini,
yang orangtua dan sanak saudaranya kami kenal, adalah
suatu mukjizat di Yudea. 

Aliran sungai dari segala musim tidak akan mampu
menghanyutkan kenangan-kenangannya.

Dan biarpun peristiwa-peristiwa muncul dengan
tiba-tiba dan menghilang dalam sekejap, kenangannya
tetap tinggal berabad-abad dari angkatan ke angkatan

Dia adalah gunung pijar di waktu malam, cahaya lembut
dibalik pegunungan. Dia adalah topan di bentangan
langit, angin silir di tengah fajar.

Dialah gemuruh air terjun yang jatuh dari gunung ke
dataran rendah menerjang semua yang menghampar. Tapi
dia juga adalah derai tawa kanak-kanak.

Aku menantikan musim bunga setiap tahun yang menuruni
lembah ini. Aku selalu merindukan bunga-bunga mawar
dan kembang melati, tapi tiap tahun hatiku bertambah
gundah. Kuingin bernyanyi dengan musim bunga, tapi aku
tidak kuasa.

Namun ketika Yesus memasuki musim-musimku, dialah
sesungguhnya musim bunga, dan di dalam-Nya terpenuhi
janji sepanjang tahun.

Dia memenuhi hatiku dengan kegembiraan. Aku tumbuh
seperti bunga violet, makhluk yang malu-malu dibawah
sinar kedatangannya.

Berubahnya musim-musim di jagat raya ini tidak akan
sanggup menghapus keindahannya dari bumi kita.

Bukan, Yesus bukanlah khayalan atau buah pikiran para
penyair. Dia adalah manusia seperti engkau dan aku,
yang bisa dipandang, dijamah dan didengar suaranya.
Namun dalam hal-hal tertentu ia berbeda dengan kita.

Dia seorang manusia yang gembira. Dan di lorong
kegembiraannya, ia menemukan duka seluruh anak
manusia. Ia memandang kegembiraan mereka melalui
hubungan dukacitanya.

Ia mampu melihat wujud-wujud yang tidak dapat kita
lihat dan mampu mendengar suara-suara yang tak
terdengar manusia biasa. Dia seakan berbicara melalui
kita kepada bangsa-bangsa yang belum dilahirkan.

Yesus terbiasa hidup sendiri. Dia ada diantara kita,
tetapi tidak bersama kita. Dia tinggal di atas bumi,
tetapi berasal dari langit. Dan hanya dalam
kesendirian kita kita bisa mengunjungi dunianya yang
sepi.

Dia mencintai kita dengan kasih yang lembut. Hatinya
adalah sebuah kilang anggur. Engkau dan aku bisa
datang kepadanya dengan secangkir minuman darinya.

Suatu hal yang tidak kumengerti tentang Yesus : Ia
selalu menyenangkan para pendengarnya ; Ia bergurau,
mempermainkan kata-kata, tertawa dengan begitu riang,
meskipun matanya memandang di kejauhan dan suaranya
mengandung duka. Tetapi kini aku mengerti. Sering
kubayangkan dunia ini sebagai perempuan yang
mengandung putra sulungnya. Ketika Yesus lahir, dialah
putra sulung itu. Dan ketika ia mati, dialah manusia
pertama yang akan mati.

Tidakkah kaulihat betapa bumi terdiam di hari Jumat
yang hitam, sedang gugusan langit berbenturan ?

Tidakkah kaurasa betapa kita hanyalah kenangan
berkabut ketika ia menghilang dari pandangan kita ?


=====
rochim hadisantosa
http://www.hadisantosa.com
http://www.fotografer.net/isi/personal/index.php?id=29

__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - More reliable, more storage, less spam
http://mail.yahoo.com

--------------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1808
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id


Kirim email ke