Rumah Seribu Cermin

  Di sebuah desa kecil, ada sebuah rumah yang dikenal dengan nama "Rumah
Seribu Cermin." Suatu hari seekor anjing kecil sedang berjalan-jalan di desa
itu dan melintasi "Rumah Seribu Cermin". Ia tertarik pada rumah itu dan
memutuskan untuk masuk melihat-lihat apa yang ada di dalamnya.
  Sambil melompat-lompat ceria ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui
pintu depan. Telinga terangkat tinggi-tinggi, ekornya bergerak-gerak secepat
mungkin.
  Betapa terkejutnya ia ketika masuk ke dalam rumah, ia melihat ada seribu
wajah ceria anjing-anjing kecil dengan ekor yang bergerak-gerak cepat. Ia
tersenyum lebar, dan seribu wajah anjing kecil itu juga membalas dengan
senyum lebar, hangat dan bersahabat.
  Ketika ia meninggalkan rumah itu, ia berkata pada dirinya sendiri, "Tempat
ini sangat menyenangkan. Suatu saat saya akan kembali mengunjunginya
sesering mungkin."

  Sesaat setelah anjing itu pergi, datanglah anjing kecil yang lain. Namun,
anjing yang satu ini tidak seceria anjing yang sebelumnya. Ia juga memasuki
rumah itu.
  Dengan perlahan ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu. Ketika
berada di dalam, ia terkejut melihat ada seribu wajah anjing kecil yang
muram dan tidak bersahabat. Segera saja ia menyalak keras-keras, dan dibalas
juga dengan seribu gonggongan yang menyeramkan.
  Ia merasa ketakutan dan keluar dari rumah sambil berkata pada dirinya
sendiri, "Tempat ini sungguh menakutkan, saya takkan pernah mau kembali ke
sini lagi."

  Seringkali gambaran atau kesan tentang wajah yang ada di dunia ini, yang
kita lihat ... adalah cermin gambaran dan kesan dari wajah kita sendiri.

  Kalau kita mengesankan keramahan, maka dunia akan tampak ramah...
  Kalau dunia terasa suram, mungkin itu karena kesan yang kita berikan...

 
 
RAHASIA UMUR KITA


Diawal zaman, Tuhan menciptakan seekor sapi.Beliau berkata kepada
sang sapi "Hari inikuciptakan kau! Sebagai sapi engkau harus pergi
kepadang rumput. Kau harus bekerja dibawah terik matahari sepanjang
hari. Kutetapkan umurmu sekitar 50 tahun." Sang Sapi keberatan
"Kehidupanku akan sangat berat selama 50 tahun. Kiranya 20 tahun
cukuplah buatku. Kukembalikan kepadamu yang 30 tahun" Maka setujulah
Tuhan.


Dihari kedua, Tuhan menciptakan monyet. "Hai monyet, hiburlah manusia.
Aku berikan kau umur 20 tahun!" Sang monyet menjawab "What? Menghibur
mereka dan membuat mereka tertawa? 10 tahun cukuplah. Kukembalikan 10
tahun
padamu" Maka setujulah Tuhan.


Dihari ketiga, Tuhan menciptakan anjing. "Apa yang harus kau lakukan
adalah menjaga pintu rumah majikanmu. Setiap orang mendekat kau harus
menggongongnya. Untuk itu kuberikan hidupmu selama 20 tahun!" Sang
anjing menolak : "Menjaga pintu sepanjang hari selama 20 tahun ? No
way.! Kukembalikan 10 tahun padamu". Maka setujulah Tuhan.


Dihari keempat, Tuhan menciptakan manusia. Sabda Tuhan: "Tugasmu adalah
makan, tidur, dan bersenang-senang. Inilah kehidupan. Kau akan
menikmatinya. Akan kuberikan engkau umur sepanjang 20 tahun!" Sang
manusia keberatan, katanya "Menikmati kehidupan selam 20 tahun? Itu
terlalu pendek Tuhan. Let's make a deal. Karena Sapi mengembalikan 30
tahun usianya, lalu anjing mengembalikan 10 tahun, dan monyet
mengembalikan 10 tahun usianya padamu, berikanlah semuanya itu padaku.
Semua itu akan menambah masa hidupku menjadi 70 tahun. Setuju ?" Maka
setujulah Tuhan.


AKIBATNYA..............................


Pada 20 tahun pertama kehidupan, kita makan, tidur dan bersenang-senang.
30 tahun berikutnya, kita harus bekerja keras sepanjang hari untuk
menopang keluarga kita.
10 tahun kemudian kita menghibur dan membuat cucu  kita tertawa dengan
berperan sebagai monyet.
Dan 10 tahun berikutnya kita tinggal dirumah, duduk didepan pintu, dan
menggonggong kepada orang yang lewat...

 
 
 
Selamat Siang .....
  Selamat Kerja......


  Memberikan Pujian

  Seorang pengemis duduk mengulurkan tangannya di sudut jalan. Tolstoy,
  penulis besar Rusia yang kebetulan lewat di depannya, langsung berhenti dan
  mencoba mencari uang logam di sakunya. Ternyata tak ada. Dengan amat sedih
  ia berkata, "Janganlah marah kepadaku, hai Saudaraku. Aku tidak bawa uang."

  Mendengar kata-kata itu, wajah pengemis berbinar-binar, dan ia menjawab,
  "Tak apa-apa Tuan. Saya gembira sekali, karena Anda menyebut saya saudara.
  Ini pemberian yang sangat besar bagi saya."

  Setiap manusia, apapun latar belakangnya, memiliki kesamaan yang mendasar:
  ingin dipuji, diakui, didengarkan dan dihormati.

  Kebutuhan ini sering terlupakan begitu saja. Banyak manajer yang masih
  beranggapan bahwa orang hanya termotivasi uang. Mereka lupa, nilai uang
  hanya bertahan sampai uang itu habis dibelanjakan. Ini sesuai dengan teori
  Herzberg yang mengatakan bahwa uang tak akan pernah mendatangkan kepuasan
  dalam bekerja.

  Manusia bukan sekadar makhluk fisik, tapi juga makhluk spiritual yang
  membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bernilai. Mereka butuh penghargaan dan
  pengakuan atas kontribusi mereka. Tak perlu sesuatu yang sulit atau mahal,
  ini bisa sesederhana pujian yang tulus.

  Namun, memberikan pujian ternyata bukan mudah.
  Jauh lebih mudah mengritik orang lain.

  Seorang kawan pernah mengatakan, "Bukannya saya tak mau memuji bawahan,
  tapi saya benar-benar tak tahu apa yang perlu saya puji. Kinerjanya begitu
  buruk." "Tahukah Anda kenapa kinerjanya begitu buruk?" saya balik bertanya.
  "Karena Anda sama sekali tak pernah memujinya!"

  Persoalannya, mengapa kita begitu sulit memberi pujian pada orang lain?

  Menurut saya, ada tiga hal penyebabnya, dan kesemuanya berakar pada cara
  kita memandang orang lain.

  Pertama, kita tidak tulus mencintai mereka. Cinta kita bukanlah
  unconditional love, tetapi cinta bersyarat. Kita mencintai pasangan kita
  karena ia mengikuti kemauan kita, kita mencintai anak-anak kita karena
  mereka berprestasi di sekolah, kita mengasihi bawahan kita karena mereka
  memenuhi target pekerjaan yang telah ditetapkan.

  Perhatikanlah kata-kata di atas: cinta bersyarat. Artinya, kalau
  syarat-syarat tidak terpenuhi, cinta kita pun memudar. Padahal, cinta yang
  tulus seperti pepatah Perancis: L`amour n`est pas parce que mais malgre.
  Cinta adalah bukan "cinta karena", tetapi "cinta walaupun". Inilah cinta
  yang tulus, yang tanpa kondisi dan persyaratan apapun.

  Cinta tanpa syarat adalah penjelmaan sikap Tuhan yang memberikan rahmatNya
  tanpa pilih kasih. Cinta Tuhan adalah "cinta walaupun". Walaupun Anda
  mengingkari nikmatNya, Dia tetap memberikan kepada Anda. Lihatlah bagaimana
  Dia menumbuhkan bunga-bunga yang indah untuk dapat dinikmati siapa saja tak
  peduli si baik atau si jahat. Dengan paradigma ini, Anda akan menjadi
  manusia yang tulus, yang senantiasa melihat sisi positif orang lain. Ini
  bisa memudahkan Anda memberi pujian.

  Kesalahan kedua, kita lupa bahwa setiap manusia itu unik. Ada cerita
  mengenai seorang turis yang masuk toko barang unik dan antik. Ia berkata,
  "Tunjukkan pada saya barang paling unik dari semua yang ada di sini!"
  Pemilik toko memeriksa ratusan barang: binatang kering berisi kapuk,
  tengkorak, burung yang diawetkan, kepala rusa, lalu berpaling ke turis dan
  berkata, "Barang yang paling unik di toko ini tak dapat disangkal adalah
  saya sendiri!"

  Setiap manusia adalah unik, tak ada dua orang yang persis sama. Kita sering
  menyamaratakan orang, sehingga membuat kita tak tertarik pada orang lain.
  Padahal, dengan menyadari bahwa tiap orang berbeda, kita akan berusaha
  mencari daya tarik dan inner beauty setiap orang. Dengan demikian, kita akan
  mudah sekali memberi pujian.

  Kesalahan ketiga  disebut paradigm paralysis. Kita sering gagal melihat
  orang lain secara apa adanya, karena kita terperangkap dalam paradigma yang
  kita buat sendiri mengenai orang itu. Tanpa disadari kita sering
  mengotak-ngotakkan orang. Kita menempatkan mereka dalam label-label: orang
  ini membosankan, orang itu menyebalkan, orang ini egois, orang itu mau
  menang sendiri. Inilah persoalannya: kita gagal melihat setiap orang sebagai
  manusia yang "segar dan baru". Padahal, pasangan, anak, kawan, dan bawahan
  kita yang sekarang bukanlah mereka yang kita lihat kemarin. Mereka berubah
  dan senantiasa baru dan segar setiap saat.

  Penyakit yang kita alami, apalagi menghadapi orang yang sudah bertahun-tahun
  berinteraksi dengan kita adalah 4 L (Lu Lagi, Lu Lagi -- bahasa Jakarta).
  Kita sudah merasa tahu, paham dan hafal mengenai orang itu. Kita menganggap
  tak ada lagi sesuatu yang baru dari mereka. Maka, di hadapan kita mereka
  telah kehilangan daya tariknya.

  Sewaktu membuat tulisan ini, istri saya pun menyindir saya dengan mengatakan
  bahwa saya tak terlalu sering lagi memujinya setelah kami menikah. Sebelum
  menikah dulu, saya tak pernah kehabisan bahan untuk memujinya. Sindiran ini,
  tentu, membuat saya tersipu-sipu dan benar-benar mati kutu.

  Pujian yang tulus merupakan penjelmaan Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha
  Penyayang. Maka, ia mengandung energi positif yang amat dahsyat. Saya telah
  mencoba menerapkan pujian dan ucapan terima kasih kepada orang-orang yang
  saya jumpai: istri, pembantu yang membukakan pagar setiap pagi, bawahan di
  kantor, resepsionis di kantor klien, tukang parkir, satpam, penjaga toko
  maupun petugas di jalan tol.

  Efeknya ternyata luar biasa. Pembantu bahkan menjawab ucapan terima kasih
  saya dengan doa, "Hati-hati di jalan Pak!" Orang-orang yang saya jumpai juga
  senantiasa memberi senyuman yang membahagiakan. Sepertinya mereka terbebas
  dari rutinitas pekerjaan yang menjemukan.

  Pujian memang mengandung energi yang bisa mencerahkan, memotivasi, membuat
  orang bahagia dan bersyukur. Yang lebih penting, membuat orang merasa
  dimanusiakan.

 
 
Have a nice and long weekend
 
Wassalam
 
Thx
Take Care
Imas
 
 

Kirim email ke