Saya salut dengan pendirian mbak Vini untuk tidak terlalu mengagungkan titel ..... saya pun setuju kalo koruptor itu juga dikatakan sebagai sampah.... tapi bagaimanapun juga saya ikut berbangga lho kalo alumni UNDIP banyak yang menjadi "orang". Dan sebagai orang yang pernah merasakan kerasnya perjuangan untuk merampungkan sekolah... saya juga sangat menghargai beliau2 ini yang mungkin telah menggunakan begitu banyak waktu untuk meraih gelar kesarjanaan yang lebih tinggi lagi.... ini bukan berarti saya mengagungkan titel dan menurut saya titel atau embel2 S2, S3, S4, S5 ..... bukan diraih hanya sekedar untuk suatu kebanggaan karena saya juga tidak melihat beliau2nya ini gembar gembor saya ini lho bertitel profesor ato doktor....  Kalaupun toh ada bbrp orang yang merasa bangga dengan apa yang telah diraihnya menurut saya sah2 saja toh untuk meraihnya juga perlu perjuangan......

Rasanya tidak fair kalo kita langsung men"judge" mereka sebagai koruptor atao langsung menjudge tidak bermutu.... menurut saya perlu dillihat dulu dalam konteks apa mereka berbicara.... apakah sebagai seorang manusia biasa yang juga bertanya2 tentang keberadaaan Tuhannya ? ataukah mereka sedang berbicara dalam kapasitas mereka sebagai para doktor ataupun professor..... Kalo mereka berbicara sebagai seorang manusia biasa yang mencari nilai ketuhanan ... ya tentunya baik lulusan SD, ataupun professor sekalipun akan berbicara dalam bahasa yang sama ....... hanya stylenya saja yang berbeda.... Dan rasanya masyarakat di sekitar kitapun menuntut kita (sebagai orang yang mungkin dianggap berpendidikan karena pernah duduk di bangku kuliah) untuk berhati2 dalam mengambil kesimpulan ..... apalagi kesimpulan yang bisa mendiskreditkan seseorang.... seperti apakah semua koruptor itu S2 dan S3 ataukah semua S2 dan S3 itu koruptor atau tidak bermutu ?

Saya tidak sedang berusaha membela mereka yang sekolah S2, S3... tapi rasanya perlu juga untuk melihat segala masalah itu jangan hanya dari satu sisi saja.....

Kalo saya boleh berpendapat... yang bisa saya tangkap dari diskusi kemaren .... topiknya sudah sangat melebar dan rasanya lebih mengedepankan emosi..... itu yang menurut saya harus segera dihentikan.

Salam dari Surabaya,
Mei


At 08:42 AM 3/27/2004 +0700, you wrote:
Pagi.....semua.....
Sebenarnya kita tahu orang lain disebut cendekiawan atau enggak itu bukan dari S2 atau S3 kok.
Bukannya saya sok tau,saya memang baru lulusan 3 tahun yg lalu,istilahnya baru seumuran jagung,kalo bunga mungkin masih kuncup lah,belum kelas manajer atau direktur atau apalah yg bagian petinggi2 itu.
Tapi saya sudah bisa kok menilai orang,mana yg digolongin ke cendekiawan atau enggak.
Kalau lulusan S2 atau malah S3 tapi cuma jadi koruptor2 di negara ini,dan juga jadi perusak2 tatanan negara ini buat apa???
Berarti kan S2nya atau S3nya cuma jadi beban dimasyarakat,jadi sampah!!!!jangan banggalah dengan titel yg kita miliki ini,semakin tinggi ijazah yg kita punya,beban mental kita sebenarnya semakin berat lho.
Kita harus bisa bertanggung jawab atas semua yg telah kita capai itu.
Kita harus bisa tunjukkan ke masyarakat bahwa kita itu berguna dengan keilmuan kita.
Untuk Daryono,jangan terlalu bangga sama senior2 kita yg sudah S2 atau S3 lah.......
 
 
 
Rgds,
v-i-n-i

Kirim email ke