Selamat Siang Pak Ferry
terimakasih atas Attachmentnya
 
The choice by Ahmad Deedat
 
Ahmad Deedat mengawali pembahasannya dari ayat Alkitab ULANGAN 18, bahwa nabi yang sama seperti Musa adalah Muhammad, bukan Isa. Karena Musa dan Muhammad sama-sama dilahirkan oleh ayah-ibu, menikah, punya anak dan seterusnya.
 
Menurut saya: Ahmad Deedat keliru sebab seharusnya persamaan yang dimaksud bukan hal-hal yang umum tetapi yang spesifik seperti berikut ini:
 
sewaktu bayi  Musa dan Isa sama-sama berada dalam situasi akan dibunuh oleh Firaun dan Herodes,
semasa hidupnya  mempunyai tanda mukjizat yang melimpah sebagai tanda/bukti kenabiannya yang mana orang yang menyaksikannya pada kala itu (sampai hari ini) mengakui keduanya
akhir hayatnya  tidak ditemukan jenazahnya
 
satu hal penting yang ingin saya sampaikan kepada anda adalah bahwa akhir hidup Isa bukanlah akibat langsung disiksa/disalib/dibunuh, tapi karena Isa (dengan sadar) "menyerahkan nyawaNya" dalam peristiwa penyaliban tersebut.
 
Dilanjut, Isa bukan 'sekedar' Nabi tapi yang benar adalah bahwa Isa adalah AL Masih Mesias Juruselamat.
 
Dalam memperkenalkan diriNya, Isa melakukan hal-hal sebagai berikut:
1. mengajar banyak orang (dan memilih murid-murid) sehingga Isa dikenal dengan sebutan Guru/Rabbi
2. (berinisiatif) mengadakan banyak mujizat (tanpa harus menunggu perintah/petunjuk seperti Musa) sehingga Isa dikenal dengan sebutan Nabi
3. berdiskusi dengan Ahli-ahli Taurat, Imam-imam dan orang-orang Farisi tentang "hal-hal ilahi" seperti Anak Allah, Anak Manusia, Anak Abraham, Anak Daud dsb.
 
AL Masih adalah salah satu (tambahan) dari 99 nama Allah (yang diyakini orang Islam), setara dengan Al Hakim, Ar Rahman dsb.
 
smoga anda tidak puas
salam
samuel
 
 
----- Original Message -----
Sent: Saturday, March 27, 2004 3:18 AM
Subject: Re: [UNDIP] mengapa tidak memilih Islam

Numpang lewat.....
Ini cuplikan dari buku karangan Ahmed Deedad ,The Choice Dialog Islam-Kristen
bab 1-3-2 Sejarah masa lalu
 
Peringatan Yang Diwahyukan
Hal ini terjadi di awal missinya menyiarkan Islam di Makkah. Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang asyik mengundang pembesar-pembesar kaum Quraisy untuk mendengarkan ajakannya. Rupanya beberapa orang sedang mendengarkan Beliau berbicara, ketika seorang laki-laki miskin yang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum, mencoba untuk ikut berbicara dalam diskusi tersebut, agar Rasulullah memperhatikan dirinya. Rasulullah tidak berkata apa-apa tetapi dalam hatinya beliau berkata (bisakah kamu sedikit bersabar. Tidakkah kau lihat bahwa akibat ketidak sabaranmu, saya akan kehilangan pendengar-pendengar yang lain). Saya yakin, untuk orang-orang yang lebih rendah, berdosa atau tidak, mungkin kesalahan seperti ini tidak menjadi masalah besar (terlalu remeh). Tetapi tidak bagi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Bukankah Allah memilih beliau dan menghormati Beliau sebagai orang yang mulia?
 
Di tengah-tengah pembicaraan beliau dengan anggota-anggota suku Quraisy, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengirim wahyu melalui Malikat Jibril sebagai peringatan.
 
"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam: 4)
 
Beliau Bermuka Masam
"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?" (QS. 'Abasa: l-4).
 
Rasulullah secara tidak sadar merasa kesal (cemberut) karena adanya interupsi dalam ceramahnya. Mungkin juga laki-laki miskin itu merasa sakit hati. Tetapi beliau dengan segera sadar dan simpati pada orang miskin dan buta itu dan tanpa keberatan sama sekali beliau memberi tahukan wahyu yang berupa peringatan tersebut kepada pendengarnya sekalian.
 
Sesudah kejadian tersebut, setiap kali bertemu dengan laki-laki buta tersebut, beliau menyambutnya dengan gembira dan berterima kasih karena beliau telah diperingatkan oleh Allah. Bahkan laki-laki buta tersebut diangkat menjadi Gubernur Madinah dalam dua periode. Begitulah sikap ketulusan dan rendah hati yang dikagumi Carlyle.
 
Kesetiaan Beliau
2. "Ini adalah tentang kebaikan hati yang tiada batasnya beliau tidak pernah lupa pada istri pertamanya Khadijah. Lama setelah Khadijah meninggal, Aisyah merupakan istri muda beliau yang tersayang, wanita yang berbeda dengan wanita-wanita lain karena budi pekertinya yang luhur. Pada suatu hari, Aisyah yang pandai ini mengajukan pertanyaan pada beliau, "Sekarang, apakah saya lebih baik daripada khadijah? Dia adalah janda, tua dan sudah tidak begitu cantik. Kamu lebih mencintaiku dibandingkan Khadijah, bukan?"--"Tidak, demi Allah!", jawab Rasulullah. "Demi Allah, tidak! Dia mempercayaiku sewaktu orang-orang di dunia ini menjauhiku, hanya dialah teman baikku!" (Hero and Hero-worship, halaman 76).
 
Tidaklah mudah menolak godaan syetan untuk mengalahkan ego dari istrinya yang masih muda, cantik dan pandai, Aisyah binti Abu Bakar Shiddiq. Mengapa tidak membiarkannya mendengar sanjungan yang menyenangkan dirinya. Bahkan Khadijahpun sudah tidak ada lagi sehingga tidak mungkin sakit hati. Akan tetapi Rasulullah tidak mau berbohong. Perlakuan seperti itu menunjukkan kepada kita bahwa beliau adalah orang yang mulia, yang tetap tercatat sejak 40 abad yang lalu.
 
untuklengkapnya ini saya attach e-booknya.
 
salam
 
BTW, astronot Amrik itu belum ada yang nginjak bulan mas,itu cuma rekayasa orang amrik aja waktu era perang dingin, saya lihat filmnya kalo nggak salah judulnya The Greatest Conspiracy....

 

Kirim email ke