IS INDONESIA A GREAT COUNTRY OR WHAT? Eko Raharjo Kalau ada yang mengatakan Indonesia adalah a great country saya tidak akan membantahnya sebab saya mengalaminya sendiri. Berkunjung ke Indonesia sebagai turis saya melihat betapa berbedanya Indonesia sekarang dengan Indonesia 10 tahun yl. Sekarang mobilitas kaum wanita sedemikian tinggi. Dalam pesawat terbang, kereta dan bus banyak dijumpai wanita bepergian sendiri sehingga seorang pelancong pria seperti saya punya chance yang tinggi untuk memperoleh teman perjalanan wanita.
Jaman dulu wanita yang bepergian sendiri sangatlah jarang sehingga ketika masih mahasiswa untuk memperoleh teman perjalanan wanita, saya terpaksa menerapkan jurus tengik; seperti pesan pada travel agent sbb: "mas saya beli tiket untuk adik perempuan saya, tolong dicarikan tempat duduk yang bersebelahan dengan perempuan". Namun tetap saja apes, dapat teman duduk perempuan dengan profesi 'ubab'. Dulu seorang pria yang sudah menikah akan 'kelimputan' kalau memperkenalkan diri kepada gadis: mengaku menikah atau tidak. Jaman sekarang justru dengan penuh kebanggaan memperkenalkan diri: "nama saya Santoso, anak saya tiga, istri dua..." Orang yang mendengar akan wow! sebab masih ada two space available, istri ketiga dan keempat. Sebaliknya orang yang memperkenalkan diri seperti: "saya Rakimin, masih single.." Bah betapa terkesan tidak becusnya orang tsb. Entah hadist atau fatwa dari mana tapi inilah yang santer beredar di Indonesia: bagi (pria) yang mampu, poligami diwajibkan. Give me a break! Pria mana yang tidak mampu berpoligami???. Itulah sebabnya poligamist pertama yang saya jumpai ketika di Jakarta bukan orang sepreti Bill Gate melainkan seorang pemulung. Poligamist kedua yang saya temui adalah seorang yang kerjanya tidak jelas kadang jadi penjaga malam, kadang sopir metro pocokan. Untuk berpoligami satu- satunya kemampuan yang diperlukan adalah menemukan wanita yang lebih bodoh dan tidak mampu dari ybs. Indonesia adalah gudang untuk keduanya, yakni pria berkemampuan seperti itu dan wanita yang tidak mampu. Saya bertanya-tanya kapan sih Muhammad saw mengajarkan pria berpoligami? Bukankah poligami sudah menjadi hasrat primordial dari kaum pria sejak Muhammad saw belum lahir. Untuk apa nabi mengajarkan hal yang setiap orang (pria) potentially jagoan. Pernahkah nabi mengajarkan berkencing, berberak atau 'mbadog' (makan banyak)? Perkecualian mungkin terhadap Arab yang menderita wasir, kencing batu atau pembengkakan prostat sehingga hajat natural tsb menjadi perkara muskil dan complicated. Menjunjung tinggi harkat wanita itulah yang senantiasa diajarkan nabi Muhammad saw kepada masyarakat yang notabene Arab yang terkenal sampai sekarang tidak mampu menghargai hak-hak kaum wanita. Ketika pertamakali Muhammad saw memperoleh penampakan dari malaikat Jibril tidak kepada siapapun melainkan kepada seorang wanita, Khadijah, ia meminta pertimbangan atas peristiwa yang maha penting tsb. Dengan Khadijah pula Muhammad saw mempraktekkan perkawinan monogami sampai sang istri berpulang kerahmatulah. Diriwayatkan betapa duka nestapa hidup nabi ditinggal sang kekasih belahan hati. Menjunjung harkat wanita! Yah, katanya itu juga yang menjadi misi "Wong Solo" dalam berpoligami. Ia mengawinkan agama dengan bisnis dengan cara mengawinkan diri sendiri dengan para pegawainya, sekeretarisnya. Sehingga sebagai entrepreneur ia bisa memperoleh pelayanan ke-sekretariatan dan sekaligus ke-seks-kretariatan dari seorang wanita tanpa repot-repot menaikkan gaji. Oleh karena itu ia memperoleh award, dengan maksud agar kesuksesannya tersebut dijadikan suri teladan bagi seluruh Muslim di Indonesia. Is it a great country or what? Eko Raharjo Calgary -------------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1934 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
