Jejer anu sae, bari tiasa dipadungdengken langkung jero: kapamimpinan!
Tantan
ARTIKEL PR
Selasa, 25 Mei 2004
Sebutan, Tokoh Pemimpin Sunda
Oleh TJETJE H PADMADINATA
AKHIR-akhir ini, dari beberapa ungkapan pendapat baik tertulis maupun
lisan, sering terungkap istilah "tokoh pemimpin" Sunda. Terasa ada
pencampuradukan (kesimpangsiuran) dalam batasan (defenisi),
pengertian, pemahaman, sebutan, julukan bahkan dugaan yang perlu
diluruskan. Dan yang paling harus dijernihkan adalah pencampuradukan
antara tokoh pemimpin Sunda dengan hanya sekadar (pernah) jadi
petinggi pemerintahan negara, terutama posisi politik birokrasi
formal, menteri ke atas.
Belakangan ini, sebutan tokoh pemimpin Sunda lebih diartikan
(setidaknya dikonotasikan) politis-birokratis formal daripada
sosiologis-kultural. Kalau begitu duduk persoalannya, maka terutama
tokoh pemimpin lingkungan masyarakat adat Sunda jadi tidak termasuk
tokoh pemimpin Sunda. Ini berbahaya, karena tanpa sadar menempatkan
etatisme di atas populisme, pemerintahan di atas kemasyarakatan.
Dalam kerancuan berpikir tersebut, bagaimana halnya dengan membangun
civil society (masyarakat kewargaan) yang sekarang ini terasa urgen
imperatif?
Arti tafsir sempit yang hanya terfokus pada posisi politis-birokratis
formal (simbol-status?), mungkinkah secara tanpa sadar merupakan
akibat dari puluhan tahun feodalisme politik yang korup. Dalam rezim
kekuasaan yang otoriter-korup, bukankah Sunda patut berbangga diri
justru kalau tidak pernah ada orang Sunda yang terlibat di dalamnya?
Sunda boleh berbangga diri, jika selama puluhan tahun berada dalam
sarang penyamun tanpa ada orang Sunda yang (ikut terbawa) jadi
penyamun. Ikan laut itu tidak asin, meskipun air laut asin. Ikan laut
menjadi asin, sesudah dia mati. Bagaimana Sunda bisa bermartabat,
kalau (misalnya) dipimpin oleh orang yang menderita geger budaya
(cultural shock)? Sunda jangan dijadikan komoditas dalam
komersialisasi politik, Sunda padati, Sunda japati, Sunda sajati!
Tokoh pemimpin Sunda belum tentu atau tidak usah (pernah) jadi
menteri ke atas, begitu pula menteri ke atas yang (kebetulan) orang
Sunda belum tentu tergolong atau mau disebut tokoh pemimpin Sunda.
Bahkan konon kabarnya, pernah ada orang Sunda yang jadi menteri
berkata, "Jangan sebut saya orang Sunda, saya ini orang Indonesia".
Ada juga menteri yang (kebetulan) orang Sunda, selalu menjawab pakai
bahasa Indonesia waktu disapa dengan bahasa Sunda. Kedua menteri yang
(kebetulan) orang-orang Sunda tersebut, berbuat begitu karena mungkin
saja di waktu itu takut dicap "kesukuan-kedaerahan". Lain dulu lain
sekarang, yang penting jangan mengacaukan bobot eksistensi sosiologis-
kultural seseorang dengan posisi politis-birokratis formal sese-orang
lainnya.
Mungkin terutama hanya Otto Iskandar Dinata dan Muharam
Wiranatakusumah (Kangjeng Haji), yang memenuhi kualifikasi-kriteria
lengkap untuk disebut tokoh pemimpin Sunda yang pernah jadi menteri
(pe-tinggi pemerintahan negara). Jadi tokoh pemimpin Sunda dulu, baru
kemudian jadi menteri. Jangan dibalik logika-etikanya!
Sekali lagi, apa kaitannya antara bobot ketokohan seseorang dalam
masyarakat dengan jabatan/kedudukan resmi sese-orang dalam
pemerintahan negara? Sutisna Senjaya (Sutsen) adalah tokoh pemimpin
Sunda (keturunan menak Banyumas seperti Dipati Ukur?) yang pernah
jadi anggota konstituante produk Pemilu 1955/1956, Emma Bratakusumah
adalah juga tokoh pemimpin Sunda yang tidak berambisi jadi menteri.
Sukanda Bratamanggala adalah nasionalis-militer yang adalah juga
tokoh pemimpin Sunda, bukan hanya karena pernah jadi Ketua Umum
Pengurus Besar Paguyuban Pasundan yang sebatas organisasi pendidikan
dan kebudayaan.
Tokoh pemimpin Sunda adalah orang yang secara signifikan (pernah)
memimpin gerakan dan/atau organisasi kesundaan. Sekadar (pernah) jadi
ketua umum institusi kesundaan, belum tentu atau tidak otomatis
adalah juga tokoh pemimpin Sunda. Pemimpin adalah leader, ketua
hanyalah sekadar chairman. Ketokohan seseorang mensyaratkan adanya
pengakuan umum (social recognition), tidak bisa hanya semata-mata
merasa gedhe rumongso (GR) akibat ilusi diri yang berkepanjangan
terus-menerus. Kasihan memang, kalau Citrayuda merasa diri (ilusi
diri) seolah-olah Gatotkaca!
Selanjutnya pula, Sunda tidak identik dengan Ki Sunda. Ki Sunda sudah
pasti adalah Sunda, namun tidak semua Sunda adalah juga Ki Sunda. Ki
Sunda adalah Sunda yang berjuang, the fighting Sundanese; bukan Sunda
japati yang maju tak gentar membela yang bayar! Tokoh-tokoh militer
Siliwangi tidak semuanya orang Sunda, ada juga orang-orang Batak,
Minangkabau, Kawanua, Jawa, dll.
Mendiang Kolonel Omon Abdurrachman pernah bilang begini kepada
penulis, "Tje, di zaman revolusi di Bandung Selatan (Soreang-Ciwidey)
yang paling berani pernah bukan orang Sunda tapi Jawa, Ton (H.R.
Dharsono)." Masyarakat Sunda memang dikenal mempunyai tole-ransi
tinggi, selain Sunda pituin Sunda mukimin pun bisa saja jadi
pemimpin. Selain Daeng Kanduruan Ardiwinata yang keturunan Sulawesi
Selatan, bukankah Soekarno yang Jawa itu tumbuh menjadi pemimpin
utama di Pasundan?
Elite Sunda yang betul-betul punya akar budaya Sunda (bukan Sunda
jadi-jadian dan/atau penuh kepura-puraan), umumnya kurang punya
ambisi kekuasaan-kemewahan duniawi. Mereka tidak anti-penguasa, tapi
suka menertawakan penguasa yang sok kuasa dan sok kaya.
Orientasi Sunda bukan pada kekuasaan (termasuk ambisi teritorial),
tapi pada kepahlawanan dalam menegakkan yang hak. Paralel dengan
bangsa Wales di Inggris (United Kingdom), para tokoh pemimpin Sunda
sajati sangat menjunjung tinggi nilai-nilai harga diri dan kehormatan
(honour) kewajiban (duty), dan pakusarakan (patriotism). Mereka punya
sikap dasar tidak asal Sunda (eksklusif-diskriminatif), tapi Sunda
yang tidak cacat karakter. Tokoh pemimpin Sunda jelas anti-korupsi,
sadom araning baraja sakunang araning geni. Tokoh pemimpin Sunda
pasti pro-demokrasi, giri leungsi tanpa hina.
Sebagai salah satu produk dalam kemajuan berpikir, muncul pula nilai-
nilai baru di kalangan Ki Sunda, harga diri, percaya diri, mandiri,
mawas diri, dan tahu diri. Selain warisan nilai-nilai tradisi yang
baik, Sunda perlu akrab dengan ilmu pengetahuan dan teknologi
(science and technology). Hanya dengan begitu, maka Sunda akan punya
daya kompetisi yang memadai. Hidup adalah kompetisi, dan jangan
berbuat licik dan curang! Sunda wajib selalu eling bahwa musuh-musuh
demokrasi di antaranya adalah konspirasi, diskriminasi, korupsi, dan
kekerasan.
Dari orang-orang muda Sunda sekarang, diharapkan bukan hanya terbatas
sebagai generasi penerus tradisi tapi generasi baru yang menciptakan
nilai-nilai baru pula. Watak seseorang, dibentuk oleh produk
interaksi antara nilai intrinsik pribadi dengan pengaruh lingkungan:
burung sejenis terbang bersama, a bird of one kind flocks together.
Khusus dikaitkan dengan perpolitikan yang entah kapan membaiknya bagi
rakyat banyak, substansi politik adalah soal pilihan dan
keberpihakan. Pilihlah republikanisme demokratik, untuk rakyat yang
berdaulat!
Tokoh pemimpin Sunda jangan selalu dikaitkan dengan kedudukan dan
kekuasaan dalam pemerintahan, melainkan dengan pengabdian dalam dan
untuk masyarakat (bangsa). Terlebih lagi, hati-hati dengan orang yang
menderita penyakit post-power syndrome untuk ambisi dan perlindungan
diri dari kejaran dosa dan kejahatan. Kalau kepuasan lahiriah itu
bisa semu (pura-pura), kepuasan batiniah inner satisfaction) itu
murni.
Post veba, verbere; Pok, prak. Hayu urang babarengan, hayu urang
meunang...!***
Penulis, politikus senior Sunda.
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/