Punten kanu sanes islam,

Ieu aya kajian kanggo urang sadaya tiasa diaos..:

 

Presiden Wanita dalam Pandangan Islam

Sumber : http://www.syariahonline.com

Para fuqaha dari semua madzhab Islam telah Ijma' (konsensus) Tidak Sahnya serta Haramnya Wanita Menjadi Kepala Negara. Kesepakatan para ulama tersebut di atas, di dasarkan pada beberapa dalil dan alasan berikut ini:

 

1. HADITS SHAHIH RASULULLAH SAW: "Tidak akan berjaya selama-lamanya suatu kaum yang mengangkat wanita / perempuan menjadi kepala negara".

 

(Hadits Riwayat AL-BUKHARI dalam shahihnya, Fathul Baari; kitab al-Fitan 13/ 53, kitab al-Maghazi 8/126; AT-TIRMIDZI dalam Sunannya, Tuhfatul Ahwadzi; bab al-Fitan 6/541-542; AN-NASA’I dalam Sunannya, bab larangan menempatkan wanita dalam pemerintahan, 8/227 dan AHMAD dalam musnadnya, Fathur Rabbani 19/206-207 dan 23/35).

 

Sebab disabdakan hadits ini; ketika Rasulullah saw mendengar tentang pengangkatan putri raja Persia (Kisra) yang bernama Buran sebagai pengganti ayahandanya yang telah mangkat. Istinbath (pengambilan hukum) dari hadits ini berdasarkan kaidah ushul : "Kesimpulan hukum diambil dari keumuman lafadz, bukan dari kekhususan sebab".

 

Para ulama dan fuqaha semua madzhab, baik salaf maupun khalaf sepakat memahami hadits tersebut sebagai larangan keras mengangkat wanita menjadi kepala negara. Mereka semua sepakat bahwa salah satu syarat kepala negara adalah laki-laki.

 

2. IJMA’ PARA FUQAHA.  Dapat dirujuk kepada berbagai referensi (Tafsir, Hadits, Fiqh, Usul Fiqh dan Siasah Syar'iyah) diantaranya:

 

a. Madzhab Hanafi: - Syarh Fathul Qadiir oleh Ibnu Hammam, 7/297-298.

 

b. Madzhab Maliki: - Bulghatus Salik liaqrabil Masaalik oleh Ahmad bin Muhammad As-Shaawi, 3/261. - Tafsir al-Qhurthubi, 7/ 171

 

c. Madzhab Syafi'i: -Takmilah Al-Majmu' syarhul Muhadzaab Imam Syairaazi oleh Muhammad Najiib al-Muthi'i, 19/114 -Nihayatul Muhtaaj ilaa Syarhil Minhaaj oleh Imam ar-Ramli, 7/ 389 -Al- Ahkaam as-Sulthaniyah oleh Al-Mawardi hal 27. -Fadha'ih al- Bathiniyah oleh Imam al-Ghazali hal, 180. -Al-Mawaqif wa Syarhuha oleh al-Iji dan al-Jurjani, 8/350. -Al-Irsyaad oleh al-Juwaini , hal. 246-247 -Tafsir Ibnu Kastsir, 1/76.

 

d. Madzhab Hambali: -Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah, 11/180.

 

e. Madzhab Dhahiri: -Al- Fashlu fi al-Milal wa al- Ahwa' wa an-Nihal oleh Ibnu Hazm, 4/166.

 

f. Fiqh Kontemporer: - Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, oleh Dr. Wahbah az-Zuhaili , 6/ 693. - Min Fiqhi ad-Daulah, oleh Yusuf al-Qardhawi, hal 165.

 

3. DALIL LOGIKA ILMIAH. Jabatan kepala-negara dalam wacana hukum Islam termasuk walayah-kamilah (kepemimpinan penuh), atau walayah-'aamah (kepemimpinan umum) yang meliputi walayah-diniyah ( kepemimpinan agama) dan walayah-harbiyah (kepemimpinan militer). Di Indonesia kepala negara otomatis menjadi Pangti ABRI. Maka kedua walayah (kepemimpinan) ini tidak dapat sepenuhnya diemban oleh wanita, sesuai dengan kodrat dan fitrahnya.

 

4. DALIL SEJARAH AGAMA. Allah swt tidak pernah mengangkat wanita menjadi Nabi atau Rasul, ini tidak lain diantaranya karena kenabian dan kerasulan itu meliputi walayah-diniyah dan walayah-harbiyah sehingga tidak dapat sepenuhnya diamanatkan kepada wanita.

 

5. DALIL SEJARAH ISLAM. Praktek dan aplikasi sejarah semenjak Khilafah Islamiyah di masa Abu Bakar ash-Shiddiq hingga Khilafah Islamiyah di Turki. Tak seorangpun diantara para pemegang kepemimpinan umum tersebut dari kalangan wanita sekalipun pada masa tersebut banyak tokoh wanita yang memiliki keahlian dalam berbagai bidang kehidupan. Fenomena historis ini membuktikan adanya ijma' amali (konsensus implementatif) yang membenarkan pendapat para ulama dan fuqaha tersebut di atas.

 

Oleh karena itu masalah ini bukanlah masalah khilafiyah tetapi sudah disepakati oleh ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah baik dikalangan ahlul-hadits maupun ahlul-fiqh. Memang ada pendapat lain yang nyleneh dari satu firqoh Khawarij tapi pendapat ini tidak dianggap sebagai suatu pendapat yang membatalkan ijma diatas, karena Khawarij adalah sempalan dlm Islam. Begitu juga kelompok lain yang menentang ijma’ ini adalah kelompok ulama kontemporer pemuja Feminisme yang muncul dari dunia Barat atau dari dunia Islam yg berkiblat ke Barat, sehingga penafsiran mereka inginnya semua ayat dan sunnah disesuaikan dg Barat, sehingga yg menjadi patokan bukan lagi al-Qur’an ataupun as-Sunnah melainkan kehidupan masyarakat Barat, sehingga pendapat mereka tertolak keabsahannya.

 

Demikianlah jawaban dan tadzkirah ini kami tujukan kepada umat Islam agar tidak ikut mempercepat kehancuran bangsa dan negara yang kini tengah menghadapi berbagai krisis. Allah SWT. berfirman: "Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfa'at bagi orang-orang yang beriman". (QS. Adz Dzaariyaat :55)

 

Email ti: Nabiel Almusawa

 

 

-----Original Message-----
From: Nety Martin [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Sunday, June 06, 2004 1:10 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [UrangSunda] Kiai Khos ngaharamkeun milih Mega

 

Muhun nya teh....

kaleresan aya Ibu didieu.meuni seuri ningali aya bahasa Bedul.

teh tien <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Bedul teh anak bagong teh.......bedul !! siah !!

Nety Martin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Alah aya bahasa BEDULLLLL sagala.

etamah bahasana uarngciamis.....

asa tos lami teu nguping bedul.

Nursalam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Hahahahahaahaha bisaan kang hasan mah

-----Original Message-----
From: Hasan Supriadi [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, June 04, 2004 1:47 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [UrangSunda] Kiai Khos ngaharamkeun milih Mega

BEDUUULLL ... !!!

si Akang ieu mah... ma enya Kyai Langitan disaruakeun jeung munding...!?

sok aya-aya bae...

ari sayah mah nu sok ngalilieur wanoja Kang...

ma enya wanoja rek disaruakeun jeung munding euy...

hehehehe...

 

 

^_^

 

 

----- Original Message -----

Sent: Friday, June 04, 2004 11:00 AM

Subject: RE: [UrangSunda] Kiai Khos ngaharamkeun milih Mega

 

Punten sateuacanna - simkuring sanes nyanyahoanan, perkawis larangan kaum hawa janten pamingpin tea, eta mah da aya hadist na, duka ari shahih atanapi henteu na eta hadist teh, kumargi simkuring sanes ahli hadist, mung pernah ngadangu sareng maca. Nanging leres dina waktos ngaluarkeun fatwa ieu ayeuna pas pisan sareng moment pilpres anu kaleresan oge aya hiji calon na kaum hawa, siga taun 1999, waktos eta oge hareeng perkawis ieu teh, ngan teu dugikeun ka kaluar fatwa ti NU. Hanjakal pisan upami ieu mung tarekah pulitik wungkul.

 

Dasar kyai mah lain ulama bae, da aya munding oge make ngaran kyai, mangkana sok ngalilieur jalema. Tah mun kitu mah upami kyai nu sok ngarungsingkeun urusan jelema teh diragukeun status jelema na, leres?



Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id





Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id




Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id



Do you Yahoo!?
Friends. Fun. Try the all-new Yahoo! Messenger

Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id




Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id






Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke