|
Magga, ieu aya artikel anu sae. Ngeunaan
tokoh-tokoh jabar nu meunang lencana. Dicutat ti koran PR
Wasalam,
DURAHMAN
16 Tokoh Asal Jabar Dapat Satya
Lencana
MINAHASA, (PR).-
Karena dinilai berjasa dalam membangun sektor pertanian di daerahnya sehingga berkontribusi nyata bagi pencapaian kinerja sektor pertanian nasional, Gubernur Jabar Danny Setiawan dan 15 orang tokoh lain asal Jawa Barat dianugerahi penghargaan satya lencana oleh pemerintah. Dengan jumlah tersebut, Jawa Barat menjadi daerah paling banyak tokohnya mendapat penghargaan dibandingkan daerah lain yang keseluruhannya mencapai 63 orang. Sebagaimana dilaporkan wartawan "PR" Handiman dari
Minahasa, pemberian penghargaan Satya Lencana Pembangunan kepada gubernur dan
Satya Lencana Wirakarya itu disematkan langsung oleh Presiden Megawati
Soekarnoputri di hadapan 15.000 petani dan nelayan yang hadir pada acara Pekan
Nasional Kontak Tani dan Nelayan Andalan (Penas KTNA) XI di Tondano Minahasa
Sulawesi Utara, Sabtu (5/6).
Selain gubernur, penerima satya lencana asal Jabar
adalah H. Maman Suparman (KTNA Kab. Sukabumi), Endang Udin (KTNA Kab. Karawang)
H. Achmad Dadang (Bupati Karawang), Drs. H. Tatang Farhanul Hakim (Bupati
Tasikmalaya), Drs. Maman Suleman (Bupati Sukabumi), Ir. Mulyadi Sukandar (Kepala
Dinas Perkebunan Jabar), Ir. Dady Mulyadi (Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan
Jabar), Ir. Adjat Sudrajad (Kepala Dinas Pertanian Kota Bogor), Ir. Ahmad Rizal
(Kepala Balai Peternakan Bogor), H. Mubin Usman (KTNA Kota Depok), H. Hamid
(KTNA Kab. Bogor), Sardi (KTNA Kab. Karawang), Ibrahim Naswari (KTNA Kab.
Cianjur), Ir. Misa Suwarsa (KTNA Kab. Karawang).
Ketiadaan ”database”
Sementara itu, saat membuka Penas KTNA XI di
Tondano Minahasa Sulawesi Utara, Sabtu (5/6), Presiden Megawati mengatakan,
salah satu penyebab utama kehancuran sektor pertanian dan perikanan di Indonesia
adalah ketiadaan database potensi kedua sektor tersebut. Selain itu, juga karena
adanya beberapa kelemahan dunia pertanian dan perikanan dari masing-masing
daerah. "Ketiadaan database itu sangat ironis karena Indonesia sejak dulu
dikenal sebagai negara agraris dan bahari," katanya.
Dijelaskan Megawati, produksi pertanian dan
perikanan sering kali tidak tepat sasaran sehingga sering kali berlebihan atau
kekurangan dibanding kebutuhan pasar. "Kelebihan produksi mengakibatkan harga
jatuh sedangkan kekurangan menyebabkan pemerintah harus mengimpor dari luar
negeri," katanya.
Megawati mencontohkan Provinsi Jawa Timur hanya
sanggup memasok 30 ton ikan bandeng dari 100 ton per hari yang dibutuhkan
masyarakatnya. "Namun, karena Pemprov Jatim tak mengetahui data potensi
daerahnya, perikanan bandeng tak dikembangkan hingga saat ini," katanya.
Karena itu, Megawati mendesak setiap pemerintah
daerah serta kelompok tani dan nelayan di seluruh Indonesia segera menyusun
database tersebut. "Kita harus segera mengetahui potensi dan kelemahan sumber
daya pertanian dan perikanan dari masing-masing daerah di seluruh Indonesia.
Jika tidak, dunia pertanian dan perikanan akan terus terpuruk karena terlalu
banyak mengandalkan pihak asing," katanya.
Padahal, menurut Megawati, bila mengetahui potensi
dan kelemahannya, banyak komoditi pertanian dan perikanan Indonesia tidak hanya
mampu memenuhi pasar domestik saja tetapi juga luar negeri. "Saya contohkan
kebutuhan rebung dari Cina, Taiwan, dan negara Asia Timur lainnya sangat tinggi,
tetapi kenyataannya Indonesia tidak bisa memanfaatkannya," katanya.
Namun anehnya, lanjut Mega, justru petani dan
nelayan Indonesia malah memproduksi komoditi yang sudah berlebihan di pasaran.
"Maka tak heran, dunia pertanian dan perikanan Indonesia terus terpuruk meskipun
selalu dijadikan ikon pembangunan Indonesia," katanya.
Selain masalah ketiadaan database, Megawati
mengatakan ada beberapa faktor lain yang menyebabkan keterpurukan dunia
pertanian dan perikanan seperti sulitnya perkreditan, lahan pertanian yang
sempit, pencurian ikan oleh nelayan asing, dan sebagainya.
Meski demikian, Megawati mengakui pemerintah masih
sulit untuk mengatasi itu semua dalam waktu singkat. "Peralatan angkatan laut
kita sudah sangat bobrok dibandingkan dengan panjang garis pantai yang harus
dijaga. Reformasi pertanahan pun harus segera dilakukan. Pakar hukum pertanahan
harus mampu mengatur pewarisan dan pengalihan tanah yang tidak menyebabkan
kepemilikan tanah menjadi terkaveling-kaveling sehingga otomatis menghambat
kemajuan dunia pertanian," katanya.
Konversi lahan
Sementara itu, Ketua Umum Penas KTNA XI, Ir. H.
Winarno Thohir, yang mewakili para petani dan nelayan mendesak pemerintah segera
mengendalikan alih fungsi (konversi) lahan pertanian, memperbaiki irigasi,
menjamin kestabilan harga gabah, mempermudah akses ke perbankan, memberdayakan
ekonomi rakyat, revitalisasi penyuluh pertanian, dan sebagainya. "Hal itu semua
dibutuhkan agar dunia pertanian tidak kian terpuruk," katanya.
Winarno mengatakan bila semua itu tak segera
ditangani, dunia pertanian dan perikanan Indonesia dipastikan tak mampu bersaing
dengan luar negeri. "Dunia pertanian kita harus segera bisa bersaing atau
mengalahkan mereka jika ingin sejahtera," katanya. (A-129)***
Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id
Yahoo! Groups Links
|

