KOMPAS---Metropolitan   
Kamis, 24 Juni 2004 

Menengok Sisa Kejayaan Kasultanan Banten 

MELIHAT reruntuhan bangunan di dalam Keraton Surosowan, siapa nyana jika 
istana itu dibangun pada tahun 1526, ketika Sultan Maulana Hasanudin, sultan 
kedua dalam silsilah Kasultanan Banten, memerintah. Bangunan yang nyaris 
rata dengan tanah itu masih sangat kuat, meski telah ditumbuhi lumut. Kolam 
pemandian "khusus putri" Roro Denok di tengah keraton bahkan masih utuh. 
Siang itu, beberapa anak tampak asyik sekali mandi di air kolam yang kotor. 

KASULTANAN Banten yang mulai berkembang pada abad 16 hingga akhirnya runtuh 
pada pertengahan abad 19 tak ayal menyisakan banyak kenangan. Sisa-sisa 
kejayaan dan kemegahan istananya masih dapat kita saksikan hingga saat ini, 
meski hanya berupa bangunan-bangunan tidak utuh setelah dihancurkan 
pemerintah Hindia-Belanda. 

Keraton Kaibon, misalnya. Meski saat ini dikelilingi permukiman penduduk 
yang makin padat saja, istana seluas dua hektar itu tetap terjaga sebagai 
cagar budaya. Keraton di RT 05 RW 02 Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan 
Kasemen, Kabupaten Serang juga masih dikelilingi kanal dan Kali Banten 
seperti saat pertama kali dibangun pada awal abad 19. Hanya saja, kanal yang 
menyodet Kali Banten itu sekarang terlihat kotor dan kurang terawat. Begitu 
pula dengan Kali Banten yang di bantarannya telah bertebaran gubuk-gubuk 
liar. 

"Kalau dulu, katanya airnya sangat bening dan alirannya tidak mampet seperti 
ini. Kali Banten ini hanya 500 meter dari laut dan panjangnya sampai daerah 
Pandeglang," kata Mulangkara (34), penjaga Keraton Kaibon, saat menerima 
peserta Wisata Sejarah yang diselenggarakan Pusat Kajian Sejarah Budaya 
(PKSB) Universitas Indonesia pimpinan Kartum Setiawan, Sabtu (19/6). 

Selain Keraton Kaibon, Banten Lama juga masih menyisakan Benteng Speelwijk, 
Klenteng Kwan Im Hud Cow, Keraton Surosowan, dan Masjid Agung Banten. 

Nama Keraton Kaibon yang dibangun pada tahun 1815 ini diambil dari kata 
keibuan. Pada waktu itu, sultan ke 21 yaitu Sultan Syafiuddin masih sangat 
belia sehingga pemerintahan dijalankan oleh ibundanya, Ratu Aisyah. 

Pada tahun 1832, keraton dihancurkan oleh pemerintah Hindia-Belanda 
bersama-sama dengan keraton lainnya, termasuk Keraton Surosowan. Asal muasal 
penghancuran keraton, menurut pemandu wisata dari Museum Purbakala Banten 
Obay Sobari, adalah ketika Du Puy, utusan Gubernur Jenderal Daen Dels 
meminta kepada Sultan Syafiudin untuk meneruskan proyek pembangunan jalan 
dari Anyer sampai Panarukan, juga pelabuhan armada Belanda di Teluk Lada (di 
Labuhan). 

Namun, Syafiuddin dengan tegas menolak. Dia bahkan memancung kepala Du Puy 
dan menyerahkannya kembali kepada Daen Dels yang kemudian marah besar dan 
menghancurkan Keraton Kaibon. 

Meski demikian, ada banyak bagian bangunan yang masih berdiri tegak hingga 
sekarang, yaitu pintu-pintu dan deretan candi Bentar khas banten atau 
disebut gerbang bersayap. Masih dapat dilihat pula Pintu Paduraksa, pintu 
khas Bugis yang sisi kanan dan kirinya tersambung, tidak seperti kebanyakan 
pintu keraton yang bagian atasnya tidak tersambung. 

Ruangan yang diduga kamar Ratu Aisyah juga masih tersisa seperempat bagian. 
Kamar ini khas karena bagian lantainya dibuat lebih menjorok ke bawah 
(tanah) untuk diisi air sebagai pendingin ruangan. Di atasnya, baru lah 
dipasang papan yang berfungsi sebagai lantai. Saat ini, masih terlihat 
adanya lubang-lubang penyangga papan. 

SUASANA serupa terasa di Keraton Surosowan, keraton seluas 3,8 hektar yang 
lokasinya berdekatan dengan Masjid Agung Banten di Kampung Banten, Desa 
Banten, Kecamatan Kasemen, Serang. 

Pancuran mas adalah satu bagian di dalam keraton yang menarik perhatian. 
Pancuran yang sebenarnya terbuat dari tembaga dan bukan emas itu dahulu 
biasa digunakan untuk mandi para pejabat dan juga abdi kerajaan. Begitu 
kondangnya nama Pancuran Mas sehingga orang-orang yakin bahwa pancuran itu 
memang terbuat dari emas. "Setelah Kasultanan Banten runtuh, tak tahunya ada 
penjarahan. Pancuran diambil semua, mungkin dikira emas," ujar Obay. 

Kolam Roro Denok adalah bagian lain yang juga masih terjaga. Di tengah 
kolam, terdapat tempat istirahat bernama Bale Kambang. Menurut Obay, air 
untuk mengairi kolam diambil dari Tasik Ardi, semacam danau buatan yang 
terletak tiga kilometer dari keraton. Air di danau disodet antara lain dari 
Kali Kronjen dan Pelamunan. 

Keraton Surosowan telah tiga kali dibangun akibat hancur karena perang. 
Terakhir, keraton dihancurkan oleh Daendels pada tahun 1808. 

Banten Lama atau Surosowan adalah situs yang berkelanjutan. Di sana ada 
peradaban prasejarah dan berlanjut ke zaman klasik (Hindu-Budha), lalu 
beralih ke kebudayaan Islam pada abad ke-16. 

Menurut Obay, sebagian sultan yang memerintah di Banten Lama dikuburkan di 
pemakaman dekat dengan Masjid Agung Banten yang didirikan Sultan Maulana 
Hasanuddin. Masjid yang telah delapan kali dipugar antara tahun 1923-1987 
ini sampai sekarang terus dibanjiri peziarah dari berbagai pelosok 
Indonesia. 

"Ada yang sekadar ingin tahu makam para sultan, tetapi banyak juga yang 
berziarah untuk meminta keselamatan," kata beberapa pedagang cindera mata 
yang berjualan di sepanjang jalan menuju masjid. Bahkan, ada pula orang yang 
"menjual" air sumur yang ada di dalam lingkungan masjid dengan harga 
seikhlasnya. 

Masjid bertambah lengkap dengan adanya menara di depan masjid yang dibangun 
semasa kekuasaan Sultan Haji pada tahun 1620 oleh seorang arsitek Belanda, 
Hendrik Lucazoon Cardeel. Pada waktu itu, Cardeel memang membelot ke pihak 
Banten, dan kemudian dianugerahi gelar Pangeran Wiraguna. 

BEREKREASI ke peninggalan Kasultanan Banten barangkali bisa menjadi 
alternatif mengisi liburan, sangat mengasyikkan dan jauh dari kesan 
"mengernyitkan dahi'. 

Wisata sejarah belakangan marak digelar oleh berbagai kelompok atau lembaga, 
baik professional atau "kelas" mahasiswa. Salah satu kelompok adalah PKSB. 
Masih ada lembaga lain seperti Sahabat Museum, lalu Museum Sejarah miliknya 
Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Pemprov DKI, Studi Klub Sejarah Universitas 
Indonesia, dan lainnya. 

Yuli, Kepala Sekolah SLTP 7 Cilacap, Jawa Tengah, mengaku apresiatif dengan 
kegiatan seperti ini. Dia sengaja pergi dari Cilacap pada Jumat malam dengan 
menyewa jasa travel agar bisa mengikuti wisata sejarah ke Banten. (Susi 
Ivvaty) 




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke