Liputan6.com, Jakarta: 
Keramaian memecah keheningan di Desa Ciwaru, Kecamatan Cilengkrang, 
Kabupaten Bandung, malam itu. Suara musik bamplang diseling sorak- 
sorai penonton membuat suasana desa yang terletak di lerang Gunung 
Manglayang, ini menjadi semarak. Malam itu hampir seluruh warga Desa 
Ciwaru berkumpul di halaman rumah seorang warga desa yang sedang 
menggelar hajatan khitanan.

Sebagaimana biasanya, hajatan-hajatan penting bagi warga Desa Ciwaru 
selalu dimeriahkan dengan cara mengundang para atlet benjang untuk 
bertarung. Meski tampak seperti pertandingan gulat, pertarungan ini 
bukan sebuah pertarungan gulat yang sebenarnya. Ini adalah 
pertarungan benjang, olah raga asli Desa Ciwaru yang telah ada sejak 
200 tahun silam.

Di Ciwaru, benjang adalah olah raga yang sangat populer. Bahkan, 
benjang lebih populer dari pencak silat. Benjang menjadi ajang bagi 
para lelaki desa untuk menunjukkan keperkasaan dan keberanian. Olah 
raga ini juga menjadi ajang bagi orang tua untuk menyampaikan pesan-
pesan moral.

Pertarungan di pesta khitanan ini juga lebih ramai dari biasanya. 
Hampir semua petarung benjang malam itu turun arena. Mereka sengaja 
datang untuk melihat kekuatan lawan. Sebab, tak lama lagi akan ada 
kompetisi resmi di tingkat kecamatan. Seorang di antara mereka yang 
turun bertarung adalah Asep Komar. Saat itu, Asep turun sekadar 
berlatih. Tenaga lelaki ini masih banyak disimpan untuk kompetisi 
antarperguruan benjang keesokan harinya.

Asep Komar adalah jawara benjang yang sangat terkenal di Ciwaru. 
Usianya masih muda, tapi kemampuannya bermain benjang sangat tinggi. 
Di kampungnya belum ada seorang pun atlet benjang yang berhasil 
mengalahkannya. Bakat benjang Asep tak lepas dari pengaruh bapaknya, 
Dadang, pendiri dan pelatih perguruan benjang, Libot Muda. Dadang 
adalah mantan pemain benjang yang sangat disegani pada masa mudanya.

Benjang adalah gulat tradisional Sunda yang telah ada sejak 1802. 
Benjang muncul bahkan sebelum gulat modern dikenal di Indonesia. 
Sejarah benjang berawal dari tradisi para petani di Kecamatan 
Cilengkrang. Awalnya, permainan adu fisik ini digelar di atas 
tumpukan jerami pada saat musim panen. Teknik kuncian dan belitan 
mulai ditemukan seiring dengan digunakannya instrumen musik bamplang 
sebagai pengiring pertarungan. Dari sinilah kemudian dikenal istilah 
benjang dengan aturan permainan yang telah dibakukan.

Kini, benjang semakin berkembang di Ciwaru. Dari dasar ilmu benjang, 
mereka mempelajari teknik gulat dan mencoba mengikuti pertarungan 
gulat modern. Beberapa di antaranya menangguk sukses menjadi juara 
di tingkat lokal maupun nasional. Satu di antaranya adalah Asep 
Komar, anak Dadang.

Meski telah menguasai teknik-teknik gulat modern, kesetian mereka 
terhadap benjang ternyata tak pernah luntur. Benjang seolah menjadi 
roh bagi kehidupan mereka. Apalagi di Cilengkrang, kebanggaan 
sebagai jawara benjang ternyata lebih dihargai daripada sebagai 
juara gulat. Tak heran jika Asep memerlukan persiapan yang lebih 
baik menjelang turun di kompetisi antarperguruan yang segera digelar.

Hari menjelang malam, kesibukan di perguruan Libot Muda mulai 
terasa. Seluruh anggota perguruan hadir termasuk para suporter. 
Sebuah truk telah disewa untuk mengangkut mereka menuju ibu kota 
Kecamatan Cilengkrang. Atlet-atlet benjang Libot Muda akan bertarung 
dalam sebuah kompetisi antarperguruan benjang. Kompetisi tanpa 
hadiah tetapi begitu penting karena akan dikukuhkan peserta yang 
akan menjadi jawara.

Berbeda dengan tarung bejang untuk hajatan yang dilakukan di atas 
tanah, tarung benjang untuk kompetisi dilakukan di atas sebuah 
panggung. Seiring suara musik bamplang, kompetisi benjang pun 
dimulai. Para atlet dari beberapa perguruan benjang berkumpul di 
seputar panggung. Satu demi satu mereka membuka tantangan kepada 
lawan dengan ngibing atau menari.

Dalam benjang, lawan tidak ditentukan berdasarkan aturan yang rumit. 
Pertimbangannya hanya satu jika ingin bertarung: turun menari dan 
jika telah menemukan lawan yang cocok, bukalah baju untuk bertarung. 
Jika tidak berani, maka menyingkirlah dari panggung. Lawan juga 
tidak diukur berdasarkan berat badan seperti halnya gulat. Ukurannya 
sangat sederhana, keberanian dan kemampuan mengukur kekuatan diri 
dan lawan.

Melalui ukuran itu, Asep sebagai seorang jawara benjang terlihat 
turut dalam ajang ini. Dua kali turun ngibing ternyata tidak ada 
seorang lawan yang berani menghadapinya. Baru ketiga kali ngibing, 
dia menemukan lawan tanding. Di bawah pantauan ayahnya dan puluhan 
pasang mata penonton, Asep menunjukkan keperkasaannya. Gerakannya 
lincah dan bertenaga. Dua kali dia membuat lawannya terlentang kalah.

Belum puas mendapat lawan dengan berat badan yang seimbang, Asep 
turun lagi. Kini, ia mendapatkan lawan lebih besar. Hasilnya, seri. 
Sekali Asep menelentangkan lawannya. Sekali pula dia terlentang.

Pertarungan benjang terus berlangsung hingga tengah malam. Satu demi 
satu, para atlet menunjukkan keberaniannya. Anehnya, sepanjang 
pertandingan berlangsung tak ada luapan emosi yang menggebu. Namun 
justru inilah hebatnya benjang, yang menang diajarkan untuk tidak 
sombong dan yang kalah harus disemangati. Untuk itu juga pemenang 
justru harus mencium tangan yang kalah.

Tak terasa seluruh atlet pun telah turun bertanding. Ada yang kalah 
dan menang. Meski tak ada hadiah bagi pemenangnya, puluhan mata 
penonton yang menyaksikan kehebatan mereka bertarung adalah hadiah 
yang luar biasa. Mata penontonlah yang mengukuhkan mereka sebagai 
jawara-jawara benjang.(AWD/Tim Potret)


--- In [EMAIL PROTECTED], kumincir <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> kumincir mengirim berita dari Liputan6.com untuk anda !:
> 
> 
> Pesan dari kumincir:
> ---------------------------------------
> Ti Liputan6.com...
> 
> Judul Berita:
> ---------------------------------------
> Benjang, Gulat Tradisional Sunda
> 
> Ringkasan Berita:
> ---------------------------------------
> Hanya mereka yang terlatih yang lolos dari arena tanpa cedera. 
Bagi yang tak terlatih, jangan coba-coba. Ini adalah benjang, olah 
raga keras yang bisa membuat tangan dan kaki patah atau tubuh cedera 
karena bantingan. 
>   
> Untuk berita lengkapnya dapat dilihat disini:
> http://www.liputan6.com/v.php?ID=81541 
> 
> http://www.liputan6.com/ - Aktual, Tajam dan Terpercaya
> http://www.sctv.co.id
> 
_____________________________________________________________________
___



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke