Putra Mahkota di Tengah Pusaran Sejarah

Heboh Al-Zaytun tak lepas dari konflik internal Darul
Islam sepeninggal Kartosoewirjo. Ada peran intelijen
militer di situ. Lelaki renta itu sudah sulit bicara.
Suaranya patah-patah dan tak beraturan. Tubuhnya
kurus, tatapannya nanar. Stroke yang menyerangnya
Januari lalu membuat mulutnya mencong ke kanan. Dengan
piyama cokelat muda dan topi haji berwarna putih, pagi
itu ia tak lebih dari seorang kakek biasa.

"Encep (anak) dari TEMPO? Tolong, jangan tanya hal-hal
yang bisa membuat bapak kambuh," kata istri lelaki
itu. Sang lelaki tak peduli. Ia memandang televisi
yang memutar video karaoke lagu-lagu Sunda.

Sesekali ia mencoba bercakap, tapi selalu dengan susah
payah. Dagunya mesti diangkat ke atas dengan tarikan
napas yang berat dan berderit. "Memang, semua urang
leuweung sekarang sudah begini," tuturnya. Urang
leuweung atau orang hutan adalah istilah yang biasa
dipakai masyarakat Sunda untuk kelompok Darul Islam,
yang sempat masuk hutan setelah dibabat pasukan
Republik.

Di Kampung Leuwisari, Singaparna, Jawa Barat, lelaki
itu tinggal. Adah Djaelani, 79 tahun, itu adalah tokoh
senior yang disebut-sebut sebagai pendiri gerakan
Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW
9). Ini merupakan gerakan sempalan Darul Islam yang
diproklamasikan Kartosoewirjo pada awal kemerdekaan.
Setelah dia sendiri pensiun pada 1996, Adah juga
dipandang bertanggung jawab atas penunjukan Panji
Gumilang, kini pemimpin Pesantren Al-Zaytun, sebagai
imam NII KW 9 yang baru. (Panji Gumilang menolak
terlibat dalam NII).

Heboh Al-Zaytun karenanya tak bisa dipisahkan dari
sejarah Darul Islam dan persaingan para ahli waris
gerakan itu di era reformasi sekarang ini. Sejarah
panjang dan penuh liku.

Pada 1948, kecewa terhadap pemerintah pusat yang
menyerahkan wilayah Jawa Barat kepada Kerajaan Belanda
melalui Perjanjian Renville, Kartosoewirjo tak hanya
membentuk pemerintahan tapi juga sayap militer bernama
Tentara Islam Indonesia. Meski memproklamasikan
kemerdekaan negara Islam di seluruh Nusantara, NII
efektif hanya memikat Aceh dan Sulawesi Selatan.

Pada era Kartosoewirjo, Negara Islam Indonesia terbagi
menjadi beberapa wilayah, tapi tidak pernah mencapai
sembilan jumlahnya. Itu pula yang membuat para
pengikut setia cita-cita Kartosoewirjo kini
beranggapan NII KW 9 telah menyimpang. Fakta
penyimpangan lain: adalah Adah Djaelani yang membawa
sisa pasukan DI menyerahkan diri kepada militer
Indonesia pada 1962.

Ironis bagi Adah, dia ditangkap dan dipenjarakan pada
masa Orde Baru (1986) dengan tuduhan makar: menjadi
Presiden NII dan bertanggung jawab atas aksi yang
"merongrong ideologi negara, menggulingkan
pemerintahan, dan menyebarkan rasa permusuhan."

Setelah komandan tertinggi NII, S.M. Kartosoewirjo,
ditangkap pada 1962, praktis gerakan NII tak berkutik.
Sebagian aktivis yang mendapat pengampunan mencoba
menghimpun diri. Tapi perseteruan antar-anggota
membuat gerakan tak pernah solid. Salah satu yang
"bergigi" adalah Adah Djaelani. Ia berhasil menghimpun
tokoh-tokoh penting seperti bekas pengawal
Kartosoewirjo, Ules Sudja�i, serta ribuan jemaah
lainnya. Adah juga mengembangkan jaringan NII dari
semula hanya delapan menjadi sembilan komandemen atau
wilayah kerja.

"Ketika di Cipinang itulah Adah kerap dikunjungi oleh
A.S. Panji Gumilang," kata Herman Ibrahim, pensiunan
kolonel dari Kodam Siliwangi Jawa Barat, yang pernah
aktif menangani kasus-kasus NII.

Panji alias Abu Toto memang bukan orang baru bagi
Adah. Sejak akhir 1970-an, Panji sudah aktif dalam
gerakan serupa NII. Pada 1982, ia, misalnya, pernah
ditahan delapan bulan karena menggelar aksi menentang
Sidang Umum MPR. Di penjara, ia makin akrab dengan
aktivis NII lainnya.

Panji juga pernah bergabung dengan Lembaga Kerasulan
pimpinan Karim Hasan. Organisasi ini adalah derivasi
gerakan NII yang percaya bahwa zaman sekarang analog
dengan Periode Mekah dalam perjuangan Nabi Muhammad.
Karena itu, orang sekarang diizinkan tak menunaikan
salat karena di zaman Nabi perintah sembahyang baru
keluar pada Periode Madinah.

Umar Abduh, pengecam Panji, menuding Panji
memanfaatkan kedekatannya dengan Adah untuk
mendapatkan restu mengembangkan kembali NII KW 9.
"Adah memberi restu itu," kata Umar. Umar kini adalah
Ketua SIKAT (Solidaritas Umat Islam untuk Korban NII,
Al-Zaytun, Abu Toto), organisasi yang getol menampung
pengaduan bekas anggota NII KW 9 dan mengkritik
Al-Zaytun.

Di tangan Abu Toto, menurut Umar, sayap dilebarkan. Ia
mencanangkan program rekrutmen jemaah besar-besaran.
Pesantren Al-Zaytun dipercaya oleh musuh-musuh Abu
Toto disiapkan pada periode ini.

Tapi penunjukan Adah kepada Panji Gumilang memancing
sengketa. Bukan apa-apa, sesungguhnya Abu Toto punya
saingan. Sejumlah aktivis NII di Bandung yang
dihubungi TEMPO menyebutkan orang yang 'berhak'
mengembangkan NII adalah Tahmid Rahmat Basuki, anak
Kartosoewirjo. Seperti Adah, Tahmid juga mendekam di
penjara pada 1983. Tak sulit menjawab mengapa Panji
Gumilang terpilih. Selain berada dalam klik yang
berbeda dengan Adah, dibandingkan dengan Panji
Gumilang, Tahmid kurang menguasai jaringan.

Karena tak sreg dengan 'sang putra mahkota' itulah
kasak-kusuk berkembang. "NII KW 9 tak ada hubungannya
dengan NII yang diperjuangkan orang tua kita dulu,"
kata Dodi Muhammad Giri, cucu Kartosoewirjo.

Pendapat Dodi dibenarkan Abdul Fattah Wirananggapati,
Kuasa Usaha Komandeman Tertinggi--organ di bawah
Panglima Tertinggi NII Kartosoewirjo. "Mereka cuma
orang yang mencari makan dengan menjual NII," ujarnya.
Pada 1992, Fattah pernah dihukum delapan tahun penjara
karena tuduhan makar.

Intrik kekuasaan memang persoalan laten dalam gerakan
NII. Ibarat kapal besar yang dihantam badai, penumpang
kapal NII menyelamatkan diri ke sekoci-sekoci kecil.
Tiap sekoci punya komandan sendiri dan mengklaim
dirinya ahli waris Kartosoewirjo yang sah.

Karena terserak dalam sekoci kecil itu pulalah NII
juga gampang disusupi militer. Ketika tentara
melakukan aksi bumi hangus terhadap aktivis NII pada
awal 1980-an, mereka saling tuding lawan politik
mereka sebagai musuh dalam selimut.

Aksi Adah Djaelani, misalnya, sejak awal dicurigai
ditunggangi militer. Menurut Herman Ibrahim, pada
periode 1970-1980-an, operasi khusus yang digelar Ali
Moertopo kerap merangkul kelompok Islam garis keras.
"Ali Moertopo melakukan taktik pancing dan jaring
terhadap kalangan Darul Islam, termasuk kelompok Adah
Djaelani," kata Herman. Maksudnya, tentara membina
mereka untuk menekuk kelompok itu di kemudian hari.

Terbukti, pada awal 1980-an, semua aktivis NII disikat
habis. Adah Djaelani, Ules Sudja�i, dan kawan-kawan
ditangkapi. Adah divonis 20 tahun penjara, sedangkan
Ules 12 tahun.

Menurut Abdul Fattah, 'pengkhianatan' Adah
sesungguhnya berlangsung sejak dulu. Ketika itu, pada
Agustus 1962, Adah bersama 31 petinggi meneken
pernyataan yang pada intinya mengakui NII sebagai
organisasi sesat. Pernyataan itulah yang melemahkan
NII era Kartosoewirjo. "Mereka sudah batal sejak awal.
Mereka menyeberang dari garis gerakan," kata Fattah.

Kedekatan Adah dengan militer juga membuat banyak
kalangan mencurigai Adah mendapat kompensasi materi.
Adah, misalnya, disebut-sebut mendapat jatah bisnis
minyak tanah dari militer pada periode 1970-an.

Kabar ini dibenarkan Ules Sudja�i, kawan satu faksi
Adah Djaelani. "Saya tahu ia mendapat jatah minyak
tanah dari tentara. Tapi saya tak pernah mendengar ada
sesuatu di belakang itu. Semua untuk perjuangan. Saya
juga pernah dapat (bisnis itu)," kata Ules dalam
sebuah wawancara dengan Forum Ulama Umat
(FUU)--lembaga yang menginvestigasi gerakan NII KW 9.
Wawancara itu direkam oleh video FUU untuk dijadikan
materi dokumentasi.

Pengadilan kasus NII pada periode 1980-an juga
membuktikan peran militer itu. Pemimpin NII wilayah
Jawa dan Madura, Danu Muhammad Hasan, di sidang bahkan
mengaku sebagai seorang intel pembantu. "Saya pembantu
Bakin di bawah pembinaan seorang perwira tinggi,"
tuturnya. Tapi, justru ketika sedang 'menghimpun'
anggota NII itulah Danu ditangkap. "Kami memang
membina semua tertuduh, bahkan sampai memberi modal
untuk berdagang," kata Jaksa Agung Ali Said ketika
itu. Dengan kata lain, Adah--jika tuduhan musuh
politiknya benar--bukan satu-satunya kader NII yang
digarap militer.

Adakah 'pola' NII lama itu diteruskan Panji Gumilang?
Sulit dipastikan. Panji sendiri seperti ingin
menghapus masa lalunya. "Bidang saya ini pendidikan.
Jangan ditanya yang macam-macam begitu," katanya.
Tentang hubungannya dengan Adah, ia malah berkelit:
"Jangan bertanya kepada saya. Silakan tanya kepadanya
apakah dia mengenal saya." Padahal Adah sendiri tak
menyangkal hubungannya dengan Panji Gumilang dan
Al-Zaytun. Di dinding rumahnya terpasang sebuah potret
ia dan istrinya berpose di pesantren megah itu. "Bapak
menjadi salah satu penasihat Al-Zaytun," kata sang
istri. Seorang cucunya bahkan bersekolah di sana.

Panji Gumilang mendua. Sebagai penyandang gelar
pemimpin NII KW 9, ia mendapat banyak kemudahan.
Mengutip Abdul Fattah Wirananggapati, di Jawa
Barat--tempat roh gerakan negara Islam tak pernah
benar-benar bisa pupus--mengibarkan bendera NII sangat
efektif untuk mengumpulkan jemaah. Tapi, ketika masa
lalu itu digugat, Panji menyembunyikannya. 



        
                
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - 100MB free storage!
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke