Makam Syaikh Abdul Qadir Utuh
BEBERAPA hari terakhir ini, sebagian ulama Jawa Timur (dan mungkin
pula di Jabar dan seluruh Tanah Air) merasa resah karena mendengar berita bahwa makam
Syaikh Abdul Qadir Jaelani telah hancur atau sedikitnya rusak terkena serangan tentara
sekutu. Sebagian umat Islam juga merasa marah ketika mendengar makam yang katanya
berada di Basra itu rusak.
Berita itu sampai juga kepada kami, beberapa wartawan yang kebetulan
tengah santai dan bercengkerama dengan para mahasiswa Indonesia yang baru dievakuasi
dari Bagdad. Saat itu seorang ulama menelefon kami, empat wartawan Indonesia yang
tengah bertugas di Yordania untuk mengecek berita ini.
Setelah telefon ditutup, ada kejanggalan yang kebetulan tertangkap
oleh Tam Tam Zam Zami, B.A. (25), mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas
Bagdad Irak. "Lha kok makam Syaikh Abdul Qadir Jaelani di Basra? Bukan, makam itu
letaknya di Bagdad," kata Tam Tam. Basra memang tengah hancur lebur. Kota kedua
terbesar di Irak itu sejak seminggu ini telah menjadi ajang pertempuran tentara sekutu
dengan tentara dan milisi Irak. Di kota yang berpenduduk 1,5 juta ini memang tidak ada
makam Syaikh Abdul Qadir Jaelani.
Setelah menelefon beberapa sumber di Bagdad, termasuk Mufti Besar
Irak Syaikh Abdul Karim al Mudarris di Bagdad, dapat dipastikan bahwa makam bapak
tarekat ini tidak mengalami kerusakan apa-apa. Kami pun bersyukur. Bisa dibayangkan
bagaimana bergolaknya dunia Islam jika sampai pasukannya Bush dan Blair salah sasaran
dan mengebom makam tokoh sufi ini. Jika ini terjadi, gejolak juga pasti terjadi di
Indonesia mengingat ajaran dan amalan tarekat Syaikh Abdul Qadir Jaelani dianut jutaan
rakyat Indonesia, terutama kalangan Nahdliyin.
Setelah itu, sambil menyantap masakan olahan Muhammad Ilham (mantan
mahasiswa Indonesia yang baru lulus dari Universitas Yordania) kami pun ngobrol ngalor
ngidul. Topik yang paling hangat dibahas adalah soal makam dan Masjid Syaikh Abdul
Qadir tadi.
Soal yang satu ini Tam Tam punya cerita. Menurut anak terakhir dari
lima bersaudara hasil pernikahan H. Manaf Mufti dengan Ny. Ria Latifah (almarhumah)
ini, makam dan Masjid Syaikh Abdul Qadir Jaelani yang letaknya di jantung Kota Bagdad
tidak mudah dihancurkan, sekalipun oleh peluru kendali (rudal) dan bom.
Pemuda Madura yang besar di Pontianak ini mengatakan, berdasarkan
cerita yang dia dengar dari masyarakat dan para ulama termasuk Syaikh Abdul Karim Al
Mudarris, sejak perang tahun 1991 Irak terus dibom Amerika sampai 1998. Konon, pernah
ada dua bom yang mengarah ke makam keramat itu. Akan tetapi, kedua bom itu melenceng
dan jatuh ke sungai serta tidak meledak.
Tam Tam menambahkan, jauh sebelum perang kali ini berkecamuk,
Presiden Saddam Hussein secara khusus telah menempatkan para ulama terkemuka Irak di
sekitar makam dan Masjid Syaikh Abdul Qadir Jaelani. "Barangkali tujuannya untuk
melakukan upaya agar masyarakat dan bangsa Irak dapat lolos dari perang yang sangat
mengerikan tersebut. Mereka kan senjatanya tak secanggih Amerika. Oleh karena itu, doa
dan keimanan merupakan senjata yang paling ampuh untuk melawan para agresor," ujarnya.
Malahan, sambung pemuda kelahiran 22 Oktober 1978 ini, Mufti Besar
Irak yang sangat dihormati itu pernah menegaskan bahwa dia akan tetap berada di
lingkungan makam dan Masjid Syaikh Abdul Qadir Jaelani. "Saya akan tetap di sini,
menjaga kedaulatan bangsa dan negara Irak dari para agresor yang zalim," tandas Tam
Tam mengutip pernyataan sang mufti.
Mufti besar Irak ini sangat ramah kepada mahasiswa asing terutama
Indonesia. Keterikatanya dengan Indonesia cukup kuat karena dia adalah kawan baik
mantan Presiden Abdurrahman Wahid. Terlebih itu, putrinya bernama Syilan telah
disunting pemuda asal Banyuwangi bernama Abdul Khalik, calon doktor Ushul Fiqh dari
Universitas Bagdad.
Tam Tam mengaku sudah belajar di Negeri 1001 Malam itu sejak 7 tahun
lalu. Hingga kini dia belum pernah sekalipun mendengar kalau sampai makam dan Masjid
Syaikh Abdul Qadir Jaelani dibom. "Makanya, saya benar-benar terkejut ketika diberi
tahu teman-teman wartawan Indonesia kalau makam dan Masjid Syaikh Abdul Qadir Jaelani
telah hancur dibom rudal pasukan AS. Saya sendiri tidak yakin itu bisa terjadi,"
tandas pemuda yang mendapatkan beasiswa belajar di Bagdad Irak melalui jalur Ittihadul
Muballighin pimpinan K.H. Syukron Makmun.
Bahkan, kata Tam Tam lebih lanjut, sejak dirinya dan teman-teman
mahasiswa dari Indonesia dievakuasi dari Kota Bagdad, ia sama sekali belum pernah
mendengar info yang menyebutkan bahwa makam dan masjid Syaikh Abdul Qadir Jaelani
dibom.
Ia lalu mengisahkan cerita masyarakat Irak dan juga para ulama
terkemuka Irak yang pernah ditemuinya di Masjid Syaikh Abdul Qadir Jaelani. "Dulu
pernah makam dan masjid itu mau dibom oleh pasukan Amerika, tetapi yang menjadi korban
adalah para bengkel yang berada di sekitar makam dan Masjid Syaikh Abdul Qadir
Jaelani. Enggak tahu saya mengapa? Yang pasti, sampai saya meninggalkan Bagdad 17
Maret lalu, kondisi makam dan Masjid Syaikh Abdul Qadir Jaelani tetap kokoh."
Selama 7 tahun kuliah di Bagdad, Tam Tam telah ratusan kali
mengunjungi makam Abdul Qadir. Maklum, jarak makam itu dari tempat tinggalnya tidak
begitu jauh. "Jarak dari tempat tinggal saya ke makam dan masjid tersebut tidak
terlalu jauh. Kalau naik taksi paling lama 10 menit," ujar mahasiswa yang tinggal
delapan bulan lagi menyelesaikan studinya ini.
Makam dan Masjid Syaikh Abdul Qodir Jaelani memang selalu dikunjungi
banyak umat Islam. Masjidnya cukup luas, berukuran sekira 50x50 meter. Di sebelah kiri
mimbar terdapat makam Syaikh Abdul Qadir Jaelani yang diletakkan di dalam ruang
tersendiri yang berukuran 10x10 meter. Ruangan ini disekat dengan tirai besi menjadi
dua bagian, untuk lelaki dan wanita. Dalam ruangan tersebut, para peziarah bisa
melakukan salat sunat, membaca Alquran, melakukan wirid, dan berzikir. "Umat Islam
Indonesia yang datang ke Irak pasti berziarah ke makam dan Masjid Syaikh Abdul Qadir
Jaelani," papar Tam Tam.
Selain terdapat makam Syaikh Abdul Qadir Jaelani, di lingkungan
masjid itu juga berdiri sebuah sekolah dan pasar yang menjajakan berbagai kebutuhan
seperti pakaian keperluan salat dan makanan. Untuk sekolahnya mulai dari tingkat
sekolah lanjutan tingkat pertama (tsanawiyah) dan sekolah lanjutan atas (aliyah),
ratusan bahkan bisa lebih siswa yang belajar di sana.
Ia sendiri mengaku sering melakukan salat sunat dan berdoa di makam
tokoh yang sangat dikenal dan namanya sering dibaca oleh umat Islam terutama jika
sedang melakukan tawashul.
Bahkan, kata dia lagi, pada saat-saat musim ujian di kampus, ia
sering belajar di dekat makam tersebut. "Enggak tahu, pokoknya senang aja tinggal
lama-lama di makam tersebut untuk belajar. Tempatnya enak banget dan nyaman untuk
belajar," ujarnya sambil menebar senyum.
Sebagai seorang Muslim yang pernah dan sering berkunjung ke makam
dan Masjid Syaikh Abdul Qadir Jaelani tersebut, tentu saja Tam Tam seperti juga jutaan
umat Islam dari belahan bumi lain di dunia berharap, makam dan Masjid Abdul Qadir
Jaelani itu tidak hancur dilumat kesadisan para agresor Amerika Serikat dan sekutunya.
"Saya berdoa, mudah-mudahan peninggalan yang sangat bersejarah itu tetap bisa kita
saksikan kelak setelah perang berakhir. Juga saya berharap kelak bisa kembali ke
Bagdad untuk melanjutkan pendidikan yang tinggal sebentar lagi selesai," ujar Tam Tam
penuh harap. (Budhiana dari Amman Yordania)***
IKLAN
HALAMAN DEPAN KE ATAS
PR CYBER MEDIA
-
Hak Cipta � 2002 - Pikiran Rakyat Cyber Media
-
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/