PR. Artikel. Senin, 06 Januari 2003
Toleransi Hidup Rukun di Dusun Susuru
DUSUN Susuru di Desa Kertayasa Panawangan Ciamis
sebenarnya tak beda dengan dusun lainnya, baik di
Ciamis maupun daerah lainnya. Namun, ada yang khas di
dusun ini: sudah sejak lama tumbuh dan berkembang dua
agama berbeda, serta sebuah kepercayaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa.
Kekhasan itu saat ini tampaknya layak untuk sama-sama
direnungi karena fakta yang ada di Susuru jarang
ditemukan di daerah lainnya. Selain itu, karena Susuru
seakan telah memberikan pelajaran soal toleransi dan
kerukunan antarumat beragama serta penganut
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Mereka tidak gontok-gontokan, tidak saling curiga satu
sama lainnya. Hidup mereka benar-benar berdampingan
dan saling tolong-menolong. Cara mereka hidup jelas
bisa dijadikan teladan. Jika semua bisa seperti
masyarakat Susuru, boleh jadi negeri ini aman, tidak
ada bentrokan berdarah karena sentimen agama,
misalnya.
Agama pertama yang tumbuh dan berkembang di dusun
berjarak 10 km dari pusat kota Panawangan ke sebelah
barat atau 40 km dari Kota Ciamis ini, tentu saja
Islam. Agama kedua, Kristen. Sementara itu,
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kepercayaan
yang diajarkan Djatikusumah dari Cigugur Kuningan.
Para penganutnya sudah sejak lama memang punya
toleransi yang tinggi terhadap penganut agama dan
kepercayaan yang lain. Penganut agama Islam yang
menduduki jumlah terbanyak dari penganut agama dan
kepercayaan lainnya, tidak pernah menganggap super
ketimbang yang lainnya. Sebaliknya, dengan penganut
agama Kristen dan kepercayaan. Mereka tidak pernah
minder berhubungan dengan pemeluk agama Islam.
Yang unik, penghuni Susuru yang berjumlah sekira 2.000
orang ini sudah saling mengenal cara atau kebiasaan
beribadahnya masing-masing. Penganut Islam tahu kapan
penganut Kristen dan kepercayaan beribadah -- demikian
pula caranya. Penganut Kristen dan kepercayaan pun
hafal benar kapan penganut Islam beribadah. Lebih unik
lagi, mereka umumnya hapal doa-doa yang diucapkan
penganut agama lainnya, walau tidak dengan fasih.
Letak tempat ibadahnya pun berdekatan sekali. Masjid
dan rumah peribadatan penganut kepercayaan saling
berhadapan, sedangkan tempat beribadah peganut Kristen
berada sekira 20 meter dari keduanya. Ketiganya, dalam
kondisi terpelihara, kecuali tempat beribadah penganut
kepercayaan.
Tak pelak, adanya dua agama berbeda dengan kepercayaan
yang bisa hidup dan berkembang bertahun-tahun tersebut
cukup mengundang decak kagum Wakil Gubernur Drs. H.
Soedarna T.M. dan Bupati Ciamis H. Oma Sasmita
Sumardi, S.H., M.Si., ketika berkunjung ke dusun ini
beberapa waktu lalu. "Dusun ini luar biasa. Di sini
ada tiga kelompok yang memiliki keyakinan beragama
berbeda. Namun, mereka sangat toleran," kata Soedarna.
Sementara itu, Bupati H. Oma mengatakan kerukunan
beragama di Susuru tsb sebenarnya bisa dicontoh daerah
lain yang sering bertentangan, seperti di Maluku.
Kerukunan itu, tambahnya, harus tetap dijaga. "Jangan
seperti di daerah lain yang saling bertentangan,
gara-gara perbedaan agama," ungkapnya.
**
MENGENAI penganut kepercayaan terhadap Tuhan YME di
Susuru ini, berdasar catatan berjumlah 30 KK. Mereka
jadi penganutnya konon sejak 1981 lalu.
"Kami menganut kepercayaan ini memang sejak 1981.
Agama karuhun Sundanya sendiri (demikian mereka
menyebut kepercayaan yang dianutnya- red.) diajarkan
Pak Djatikusumah dari Cigugur Kuningan," kata Kono
(56), pupuhu dari kelompok tersebut. Hingga sekarang,
mereka tetap kokoh memegang ajaran itu, tidak
terpengaruh oleh ajaran agama resmi di Indonesia.
Kelompok itu hidup sederhana. Mereka hidupnya
mengandalkan hasil pertanian berkebun karena di
wilayah Susuru tidak ada lahan pesawahan. Hasil
pertanian tersebut mereka jual ke kota melalui jalan
sempit berbatu yang dibangun tahun 1981.
Menurut Kono, Adli, dan Holis (keduanya ais pangampih
penghayatan), mereka merupakan penduduk asli Susuru,
bukan pendatang. Asal mula mereka menjadi penghayat
kepercayaan, setelah mendapat ajaran dari Djatikusumah
dari Cigugur Kuningan. Setelah itu, mereka secara
turun-temurun melaksanakan ajaran-ajaran Djatikusumah
dengan setia, hingga sekarang.
Diakui beberapa penganut ajaran itu, dalam
perkembangannya, memang ada anggota yang "menyeberang"
ke agama lain, seperti ke Islam atau Kristen.
Umpamanya, karena pernikahan. Namun demikian, mereka
tidak memasalahkannya. "Yang penting, anggota kami
tetap percaya bahwa Tuhan itu ada. Itu saja," kata
mereka.
Dan memang, walaupun mereka tidak menganut ajaran
agama tertentu, mereka tetap percaya bahwa Tuhan itu
ada. Mereka pun tetap melaksanakan ibadat seminggu
sekali secara bersama atau tiap waktu secara
pribadi-pribadi di rumahnya masing-masing.
Pegangan mereka dalam beribadah adalah Pikukuh Tilu.
Sementara Tuhan YME mereka sebut Gusti Pangeran Sikang
Sawijiwun. Ajaran-ajaran mereka yang berada di bawah
lindungan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Ciamis
tersebut umumnya menggunakan aksara Sunda. Pusat
keagamaannya, di Cigugur, Kuningan. (Aam Permana
S./"PR")***
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - 50x more storage than other providers!
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/