Baraya, ieu aya wartos tina GATRA, soal buronan Jerman anu 
nyababkeun Pa Habibie, tilas Presiden urang, Kacacandak. Terutami 
perkawis kapal perang ex jerman timur tea. Ka para wargi anu hilap 
deui, kapungkur Majalah TEMPO dibredel teu kenging terbit deui, 
kulantaran ngawartakeun soal kapal perang ex jertim ieu. Katingalina 
mah soal Kapal Perang ex Jertim teh seueur skandal, boh di Jermanna 
oge di Indonesiana.

-WALUYA- 

Petualangan Belut Buron Kakap

TIM gabungan kepolisian Paris dan polisi Jerman (Bundes Kriminal Amt-
BKA) nyaris frustrasi. Empat hari diendus, Ludwig Holger Pfahls 
justru raib. Di apartemennya, di Rue Dupleix Nomor 17, Avenue de 
Suffen, Distrik 7, Paris, 200 meter dari Menara Eiffel, sosoknya tak 
kelihatan. Di kamar berukuran 50 meter persegi yang disewa seharga 
3.300 euro per bulannya itu, Pfahls tinggal dengan pacarnya, cewek 
30 tahun asal Moldavia. Di saat para hamba wet tengah jenuh menanti, 
tiba-tiba Pfahls nongol.

Selasa pekan lalu pukul 12.50, tatkala kawasan Eiffel ramai 
dibanjiri wisatawan, Pfahls berniat meninggalkan apartemennya. 
Pacarnya, dan juga seorang teman pria berumur 40 tahun, turut serta. 
Petugas BKA menghampiri pria berjanggut putih itu, "Apakah Anda 
Pfahls?" "Oui, je suis Monsieur Pfahls," jawabnya. Sejurus kemudian, 
petugas mengepung lokasi itu.

Pfahls tak berkutik. Pria berusia 61 tahun itu tampaknya segera 
mengakhiri petualangannya di jeruji bui. Setelah jadi buron Interpol 
selama lima tahun, kini ia harus siap menghadapi pengadilan atas 
rangkaian ulah culasnya. Baik di Prancis maupun di Jerman, Pfahls 
mengukir jejak kriminal yang menghebohkan. Juergen Kremb, wartawan 
Der Spiegel, menilainya sebagai buron kriminal paling besar di 
Jerman sesudah Perang Dunia II. Sewaktu menjadi Kepala Biro Der 
Spiegel untuk Asia Tenggara, Juergen pernah menguber Pfahls hingga 
ke Bali.

Der Spiegel edisi 19 Juli lalu kembali menuliskan dugaan terkaitnya 
Habibie dalam pelarian Pfahls selama ini. Der Spiegel juga pernah 
menuliskan kisah ini pada terbitan 6 November 2000. "Kasus Pfahls 
pasti akan menyedot perhatian publik Jerman," kata Juergen. Juergen 
kini wartawan Spiegel untuk Wina. Ia tengah berlibur di Italia, 
tatkala Pfahls ditangkap. Juergen mengaku, adrenalinnya langsung 
naik, mendengar berita itu.

Media-media besar di Jerman selama sepekan lalu menjadikan 
penangkapan Pfahls sebagai berita utama. Suddeutsche Zeitung, harian 
terbesar di Bayern, Jerman wilayah selatan, Rabu pekan lalu menulis 
satu setengah halaman peringkusan itu. Yang mengejutkan, koran itu 
menyebutkan, Pfahls kemungkinan pernah bersembunyi di kediaman 
seorang teman baiknya: mantan Presiden Republik Indonesia Prof. B.J. 
Habibie.

Harian konservatif Jerman, Frankfurter Allgemeine Zeitung, Jumat 
pekan lalu malah memasang foto bersama B.J. Habibie-Pfahls di 
halaman empat. Keduanya tampak tersenyum. Foto itu diambil pada 
pembukaan Technogerma di Indonesia, pameran yang diselenggarakan 
Kamar Dagang Jerman di Indonesia (Ekonid), 1 Maret 1999. Menurut 
Frankfurter, penampilan Pfahls hari itu merupakan penampakan 
terakhir Pfahls di muka umum. Setelah itu, ia lenyap bagai ditelan 
bumi.

Pfahls memang kenal baik dengan Habibie. Ia bekas salah satu deputi 
kanselir di bawah pemerintahan Kanselir Helmut Kohl. Pfahls, yang 
pernah menjadi Deputi Menteri Pertahanan, terlibat dalam sejumlah 
kasus korupsi sebesar 1,9 juta euro (DM 3,8 juta). Sebagian dari 
duit hitam itu ditengarai masuk kas partai Kohl yang saat itu lagi 
berkuasa, Christian Democratic Union (CDU-CSU), periode 1993-1998.

Uang itu didapat dari berbagai perjanjian jual-beli antar-negara 
yang ditangani Pfahls saat menjabat sebagai petinggi negara. Mulai 
kasus penjualan kilang minyak Leuna di daerah bekas wilayah Jerman 
Timur kepada Elf Aquitaine, perusahaan minyak Prancis, penjualan 36 
tank Jerman ke Arab Saudi, hingga penjualan senjata ke Taiwan.

Belakangan, Helmut Kohl mengakui telah menerima uang tersebut dari 
orang-orang yang tak pernah ia buka identitasnya. Penjualan sumur 
minyak Leuna seharga 30 juta euro, misalnya, sebagian hasilnya ia 
akui untuk mengisi pundi-pundi kas partai. Ia meminta maaf atas 
kesalahannya melanggar peraturan transparansi keuangan partai.

Setelah Helmut Kohl kalah dalam pemilu tahun 1998, dua pertiga dari 
dokumen penting berbagai transaksi itu hilang tak berjejak. Segepok 
berkas yang lenyap di antaranya adalah ihwal penjualan 16 kapal 
pemburu kapal selam (U-Boot-Jagd-Korvetten). Kapal bekas milik 
Jerman Timur itu dilego ke Indonesia pada 1994. Jumlahnya 39 buah: 
16 korvet, 14 kapal pendarat tank (LST), dan sembilan penyapu ranjau.

Penjualan itu kontroversial, karena banyak ditentang menteri 
perekonomian dan ABRI, pada masa itu. Apalagi, harganya dinilai 
tidak wajar. Namun Habibie, saat itu Menteri Riset dan Teknologi 
merangkap Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, secara 
politik di atas angin. Ia mengemban Inpres Nomor 3/1992, yang 
memberinya wewenang untuk menjajaki dan menegosiasi pengadaan kapal 
untuk TNI Angkatan Laut itu.

Kini kondisi kapal itu mengenaskan. Butuh duit ratusan milyar untuk 
memperbaikinya. Sebagian mengapung di perairan Surabaya, mesinnya 
mati sama sekali (lihat: Nasib Malang Mesin Perang).

Menurut Hans Leyendecker, wartawan Suddeutsche Zeitung yang menulis 
lebih dari dua artikel panjang soal keterkaitan Habibie dan Pfahls, 
dokumen pembelian 16 kapal korvet oleh Indonesia itu masih ada. Ia 
memastikan, Pfahls terlibat langsung dalam pengadaan 39 kapal perang 
yang ditangani Habibie itu.

Negosiasi pembelian kapal itu dilakukan tahun 1992. Saat itu, Pfahls 
sudah mengundurkan diri dari Deputi Menteri Pertahanan Jerman. Ia 
lantas bekerja sebagai pengacara. Tapi, kata Leyendecker, penjualan 
alat militer memerlukan proses panjang, malah bisa bertahun-
tahun. "Pfahls-lah yang mempersiapkan deal-deal itu ketika masih 
aktif di Kementerian Pertahanan," kata Leyendecker.

Di Jerman, kata Leyendecker, kasus penjualan kapal "kualitas Jerman" 
ke Indonesia ini kurang menarik perhatian publik. Tapi ia tahu, 
parlemen Jerman telah membentuk tim untuk mengumpulkan fakta tentang 
kasus Kohl dan konco-konconya ketika masih menjabat sebagai Kanselir 
Jerman. "Penjualan kapal itu diterangkan detail," katanya.

Jejak lain mengenai Pfahls di Indonesia ditemukan pada 2001. Ia 
dikabarkan menginap di salah satu hotel di Nusa Dua, Bali. 
Kepergiannya diatur Nikolaus Holzer, asisten manajer saat Pfahls 
menduduki posisi CEO Daimler Chrysler di Singapura (1992-1998). 
Nikolaus adalah anak Dieter Holzer, pialang senjata yang punya 
hubungan luas dengan dinas rahasia Jerman. Dieter dan Pfahls adalah 
dua sahabat karib. Juergen Kremb menguber Pfahls ke Nusa Dua, tapi 
tak berhasil.

Berikutnya, pada tahun 2000, Pfahls dikabarkan menginap di sebuah 
rumah milik orang kaya di Indonesia yang disebut "teman Habibie", 
tepatnya di Negara. Perburuan ke sini juga tak menuai hasil.

Tapi Habibie mengaku tidak kenal Pfahls. Pria kelahiran Gorontalo 
ini memang melihat koran yang memasang foto dirinya bersama Pfahls. 
Jagoan pesawat yang dikenal sebagai "Mr. Crack" ini ingat, foto itu 
diambil saat pembukaan pameran Technogerma. Ketika itu, kata 
Habibie, banyak orang yang ingin berfoto dengannya. Orang-orang 
Jerman pun ada di kiri-kanannya. "Mungkin orang itu kebetulan di 
belakang saya, dan gambarnya terambil," kata Habibie (baca: Terseret 
Orang Tak Dikenal).

Benar tidaknya hubungan B.J. Habibie-Pfahls mungkin baru akan 
terbuka kelak di pengadilan. Menurut Maximilian Hofmeister, hakim 
yang menangani kasus kakap ini, Pfahls baru dituntut dalam kasus 
korupsi penjualan 36 tank Fuchs ke Arab Saudi. Ia didakwa menilap 
sogokan 1,9 juta euro, dan menilap pajak dari uang yang diterimanya.

Kaitan kasus Pfahls dengan Indonesia belum disentuh. "Namun tidak 
tertutup kemungkinan akan terbuka ke sana," kata Hofmeister kepada 
Gatra. Maklum, Pfahls punya banyak kontak di Indonesia, ketika ia 
menjabat sebagai CEO Daimler Chrysler di Asia Tenggara.

Hofmeister juga membuka peluang atas kemungkinan terkuaknya pelarian 
Pfahls ke Indonesia. Polisi Jerman telah meguber Pfahls ke 12 
negara, antara lain Kanada, Lichtenstein, Inggris, Cina, Filipina, 
dan Indonesia. Pfahls memang ditengarai bersembunyi di Asia setelah 
menghilang dari Taiwan, Juli 1999. Negara yang disinggahi 
kemungkinan Indonesia. "Kami belum yakin soal itu, namun Anda bisa 
lihat nanti pada proses pengadilan," katanya.

Pfahls lahir di Luckenwalde, dekat Berlin, pada 13 Desember 1942. Ia 
doktor di bidang hukum. Ia lancar berbahasa Prancis, Inggris, dan 
Jerman sebagai bahasa ibu. Sampai 1973, Pfahls bekerja sebagai juri 
di Pengadilan Wilayah Bayern. Ia kemudian menjadi jaksa untuk kasus-
kasus niaga.

Kariernya menanjak sejak menjadi konsultan pribadi Franz Josef 
Strauss, petinggi CSU yang menjadi Kepala Wilayah Bayern. Ia 
menyiapkan dan mendampingi Strauss pada banyak perjalanan dan 
pertemuan. Di sinilah ia mulai menggalang jaringan dengan orang-
orang yang berpengaruh. Pada Juli 1985, Pfahls menduduki jabatan 
sebagai Kepala Dinas Rahasia Dalam Negeri Jerman selama dua tahun.

Pada 7 April 1987, ia menduduki jabatan Deputi Menteri Pertahanan 
Urusan Pengawasan Peralatan Militer. Tak mengherankan bila B.J. 
Habibie yang pernah menjabat sebagai manajer untuk lini produksi 
senjata militer di Messerschmitt-Boelkow Blohm, perusahaan turbine 
engineering dan peralatan militer, kenal dengan Pfahls.

Ketika sang mentor Strauss meninggal pada 1988, prestasi Pfahls 
malah meroket. Pada 15 Januari 1989, tanggung jawabnya bertambah. Ia 
ikut menangani bidang pertahanan dasar, seperti kontrol peralatan 
militer, termasuk urusan pertahanan dalam negeri. Meliputi senjata, 
logistik teknologi informasi, transfer informasi, protokol, 
rekrutmen, informasi militer, dan humas.

Pfahls dianggap sering membuat perjanjian di luar kebiasaan, tapi 
anehnya tetap dapat berjalan lancar. Banyak perjanjian sulit yang 
dibantu kelancarannya. Walaupun Jerman terkenal dengan industri 
senjata pemusnah, ekspor industri ini bukanlah hal mudah. Setiap 
perjanjian jual-beli memerlukan izin dari banyak pihak. Kesempatan 
inilah yang dimanfaatkan Pfahls untuk bermain.

Adalah Karlheinz Schreiber, broker terkemuka perdagangan senjata 
berdarah Jerman-Kanada, yang mengatur seluruh pembayaran ongkos 
pelicin untuk para pejabat yang memuluskan bisnisnya. Polisi 
menemukan buku harian di kediaman Schreiber. Buku itu memuat semua 
kronologi peristiwa dagang, perjanjian, dan daftar orang yang 
menerima pelicin, lengkap dengan jumlahnya. Nama Pfahls ditulis 
secara eksplisit.

Pfahls, yang pernah bekerja pada dinas rahasia Jerman, punya 
jaringan luas. Ia dikenal licin, bak belut. Tahun 1999, surat 
penangkapan Pfahls atas kasus korupsi penjualan tank ke Arab Saudi 
diteken. Ia berjanji terbang ke Muenchen. Namun ia tak muncul. 
Pfahls langsung menghilang di Asia. Ia pun gampang melenggang 
berkelana di Taipei dan RRC (Cina) karena luasnya koneksi dia.

Wajar bila Pfahls punya hubungan mesra dengan para petinggi 
Taiwan. "Provinsi Cina Daratan yang memberontak" ini membeli kapal 
selam dari Belanda, tanpa persenjataan. Taiwan berhasil mendapatkan 
senjatanya dari Jerman berkat bantuan seorang tokoh di Indonesia. 
Menurut wartawan Der Spiegel, Juergen Kremb, selama 1990-1997 B.J. 
Habibie ke Taiwan delapan kali. "Saya tidak berhasil membuktikan 
apakah kepergian itu ada hubungannya dengan transaksi Jerman-Taiwan, 
tapi saya sangat mencurigainya," kata Juergen.

Peristiwa Pfahls, kapal Jerman Timur, juga penjualan senjata ke 
Taiwan, sudah lama berlalu. B.J. Habibie juga sudah mengalami 
berbagai pergantian posisi: menteri, wakil presiden, presiden, 
hingga kini menjadi rakyat biasa yang tinggal di Jerman sana. 
Habibie mengaku tak terusik atas berbagai berita penangkapan Pfahls 
itu, termasuk foto-fotonya yang terpampang di koran Jerman.

Memang tak mudah menyingkap sebuah misteri, termasuk dalam pembelian 
kapal eks-Jerman Timur, yang sudah 10 tahun berlalu.

Khudori, Miranti Soetjipto dan Luky Setyarini (Jerman)
[Laporan Utama, Gatra, Edisi 37 Beredar Jumat 23 Juli 2004] 




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke