Baraya, ieu aya artikel ti milis tatangga, jigana mah meunang "copy 
paste" ti Koran Surabaya, Surya. Lumayan kanggo lenyepaneun 
sateuacan angkat Juma'ahan. Nyanggakeun :

Pilpres dan fenomena kebangkrutan agama 

Oleh Agus Purwanto 

---------------------------------


Pekerja di Lab Fisika Teori dan Filsafat Alam (LaFTiFA) ITS; 

mantan Vice-President of Saijou-Hiroshima Association

Dalam rentang waktu satu tahun ini kita disodori tiga peristiwa 
serupa meski tak sama yaitu Inul, AFI, dan pilpres. Ketiganya 
merupakan jalan menuju puncak yang menyita perhatian publik, 
fenomenal dan rakyat menjadi penentu akhirnya. Ketiganya juga 
menyimpan ironi, yakni melibatkan asing dan mengisyaratkan 
ketakberdayaan agama. 

Inul adalah pribadi yang melejit dengan gerak revolusi pinggulnya 
yang berkecepatan tinggi. Ketika karir ini masih bersifat lokal, 
yakni dari kampung ke kampung, tidak terdengar tanggapan atasnya. 
Tetapi begitu naik ke level nasional mulai muncul kritik dan 
kontroversi. Kritik keras bahkan larangan atas Inul dan Inulisasi 
direpresentasikan oleh raja dangdut, Rhoma Irama. 

Sebenarnya kritik Rhoma ada pada jalur yang benar tetapi wajah 
sendu, polos, dan kadang tetes air mata Inul membangkitkan simpati 
massa atasnya dan anti-Rhoma. Singkat kata, Inul menang dan 
popularitasnya kian meroket. Banyak artis berdecak kagum dan 
menumpang ketenarannya. 

AFI adalah aktivitas kelompok yang mampu memaksa sebagian masyarakat 
duduk manis di depan teve selama dua jam setiap Sabtu malam dan 
mendiskusikannya esok hari. Ada tiga juri yang menilai penampilan 
setiap kontestan AFI tetapi kata akhir tereliminasi tidaknya sang 
kontestan adalah para pemirsa. 

Pemenang akhir AFI pertama adalah Fery, kontestan asal Medan. 
Penampilannya yang kalem dan cerita yang sempat berkembang 
sebelumnya bahwa dia berasal dari kalangan wong cilik telah 
menumbuhkan simpati dan mengalahkan dua pesaing akhirnya, Kia dan 
Mawar. Para pengamat dan pekerja seni seperti Agus Sutejo Jiwo di 
salah satu teve swasta mengatakan sebenarnya Kia lebih representatif 
daripada Fery. 

Pemilu 5 Juli merupakan hajatan nasional dengan berbagai suguhan 
baru yang sangat menarik. Salah satu suguhan tsb adalah debat 
capres, para capres bebas mengurai argumen, bersumpah dan 
menjanjikan berbagai layanan gratis bila terpilih. Tetapi keputusan 
akhir pemenang pilpres adalah rakyat yang memutuskannya di 570.000-
an TPS di seluruh pelosok tanah air. 

Pemenangnya adalah mereka yang simpatik, tinggi besar, tampan dan 
pandai menyanyi, serta yang dianiaya dengan fatwa haram. Pasangan 
paling kredibel dan kompeten yang konon didukung kelompok reformis 
maupun strong and democratic leader versi iklan kampanye Gus Dur 
terpaksa harus tersingkir. 

Kesamaan dari tiga peristiwa di atas adalah kedaulatan rakyat dan 
keterlibatan pihak asing. Inul menang dari Rhoma, Fery menjadi nomor 
satu dan SBY-JK serta Mega-Hasyim masuk pilpres putaran kedua adalah 
atas kehendak rakyat. Untuk kasus terakhir kita perlu menyampaikan 
selamat kepada rakyat yang telah menentukan calon pimpinannya lima 
tahun ke depan secara bebas dan mandiri. 

Ketiganya juga melibatkan asing. Inul makin berkibar ketika media 
asing Newsweek memberitakan perjalanan karirnya secara cukup 
lengkap. AFI, Indonesian Idol maupun Who Wants to Be a Millioner 
adalah tayangan impor atau produk asing. Sedangkan pemilu saat ini 
juga didanai, ditongkrongi dan dipengaruhi orang asing berkedok 
pengamat, analis maupun akademisi. 

Kematian agama 

Ketiga peristiwa di atas juga mengisyaratkan satu hal yang perlu 
dicermati dan disikapi lebih serius. Kuntowijoyo (Kompas, 7/7/2004) 
dalam kasus politik yang baru berlangsung menyebut dengan istilah 
pragmatisme religius. Maksudnya, dikotomi sekuler-religius hilang 
dan semua urusan mempunyai dimensi rasional, ketuhanan dan 
kemanusiaan. Kunto merujuk fakta bahwa semua pasangan capres-
cawapres membawa warna nasionalis-religius. 

Bila hanya melihat peristiwa politik pilpres kita mungkin memang 
harus optimistis seperti akhir tulisan Kunto, siapa pun yang dipilih 
hasilnya pasti sekuler-religius. Namun menjadi lain bila tiga 
peristiwa di atas dilihat sebagai satu kesatuan yang kronologis dan 
hirarkis. Mulanya Inul sebagai individu, kemudian AFI sebagai 
komunitas panggung Indosiar dan terakhir perhelatan nasional 
pilpres. 

Inul berasal dari keluarga biasa yang cukup aktif dalam mengikuti 
pengajian di Pasuruan, salah satu kota santri di Jatim. Pasuruan 
sendiri sempat dua kali mencuri perhatian publik tanah air. Tepatnya 
ketika Amien Rais dicekal datang di kota tsb beberapa tahun lalu, 
dan ketika fatwa haram memilih pemimpin perempuan tiga bulan lalu. 

Tetapi Inul dan Inulisasi yang berkembang pesat sama sekali tidak 
merepresentasikan santri dan berbagai atributnya. Santri yang baru 
belajar mengeja huruf hijaiyah pun tahu bahwa goyang ngebor Inul 
dilarang untuk dipertontonkan. Uniknya, pemuda-pemuda kampung yang 
cukup rajin shalat berjamaah di masjid ikut mencemooh Rhoma Irama 
lantaran pernah memarahi Inul. 

Di sini agama menjadi tidak berdaya menyentuh problem Inul dengan 
kreasinya. Opini yang berkembang adalah goyang ngebor merupakan 
problem seni dan kreativitas karenanya tidak perlu dilarang. 
Sesekali diberitakan Inul adalah alumni sekolah Islam dan pandai 
membaca Alquran untuk membangun opini bahwa sang ratu ngebor adalah 
sosok kreatif-religius. 

Di akhir setiap acara AFI selalu ada peserta yang tereliminasi. Di 
saat perpisahan yang mengharukan peserta selalu berangkulan satu 
sama lain sambil --maaf-- mengelus-elus pundak yang tak tertutup 
kain dan bercium pipi peserta tereliminasi yang lawan jenis 
sekalipun. Beberapa menit menjelang acara berakhir ada nasihat dari 
pembina ruhani AFI, "Jangan lupa, rajin sembahyang." AFI pun tampak 
bagai tontonan artistik-religius. Artinya, seni dengan segala 
asesorisnya termasuk yang menabrak agama maupun kegiatan ritual 
seperti sembahyang dapat berjalan berbarengan secara damai. 

Kasus pemilu mungkin yang paling seru. Para pemuka agama berdiri 
berseberangan, saling hajar lalu minta dukungan pada komunitas yang 
sama. Mereka pun tanpa risih membicarakan pembagian bakal pendapatan 
dengan rekan yang kebetulan lain dukungannya. Padahal pembicaraan 
itu ditayangkan media elektronik secara luas. Gus Dur pun terpaksa 
menjadi 'makelar' dengan meminta orang lain mencoblos pasangan 
Wiranto-Solah sementara dia sendiri mengulang-ulang pernyataan akan 
golput. 

Umat yang selama ini penurut dan patuh mulai berani mengabaikan 
pimpinan mereka dan secara bebas menentukan calonnya sendiri. Umat 
mulai 'rasional' dan tidak takut kuwalat karena tidak mengikuti 
saran dan ajakan para kiai. Lebih dari itu, umat juga tidak peduli 
isu 'anti Islam' yang diembuskan pada calon pilihannya, pun tak 
peduli fatwa haram presiden perempuan. 

Peristiwa elite agama selama musim kampanye lalu mengingatkan kita 
atas perilaku para agamawan di Eropa abad 19 yang tidak sesuai 
dengan kaidah agama yang banyak dikhutbahkannya. Waktu itu Nietsczhe 
memberontak dengan teriakan terkenal, "Tuhan telah mati." Protes 
Nietsczhe cukup relevan diusung ke negeri ini. Inulisasi, AFI dan 
pemberontakan atas perilaku elit agama serta perilaku elit agama itu 
sendiri saat pilpres tentu lebih dari sekadar fenomena sekuler-
religius melainkan juga kebangkrutan dan kecenderungan pada kematian 
agama. 

Atau boleh juga meminjam istilah Comte, masyarakat Indonesia sedang 
memasuki zaman ketiga yakni zaman positif. Zaman dengan segala 
fenomenanya yang tidak lagi memerlukan penjelasan teologis (agama) 
maupun metafisis. 

Menanti kesadaran 

Ketiga peristiwa di atas jelas memberi pesan yang memprihatinkan 
dari perspektif agama. Jepang barangkali dapat dijadikan contoh dari 
negeri positivistik. Di bulan Desember denyut perayaan Natal dapat 
dirasakan di seantero Jepang. Uniknya, mereka tidak merasa atau 
mengaku sebagai umat kristiani. Mereka pun mengaku tidak tahu 
mengapa harus merayakan Natal selain tahu bahwa Barat melakukan 
pesta semacam ini di setiap akhir tahun. Dalam banyak kesempatan 
penulis bertanya kepada mahasiswa S1 sampai S3 perihal agama mereka. 
Jawabnya seragam, "Tidak tahu" dan mereka merasa tidak beragama, dan 
mengalami peristiwa keagamaan hanya dalam tiga kesempatan. Ketika 
lahir disambut secara budhis, menikah secara kristiani dan kembali 
budhis dalam ritual kematian. 

Ketercerabutan cita keagamaan masyarakat Indonesia belum separah 
masyarakat Jepang. Namun bila melihat ke belakang, misalnya, sepuluh 
tahun lalu kemudian dibandingkan keadaan saat ini, yang mana 
perempuan Indonesia berani tampil semi telanjang di televisi tanpa 
rasa risih sedikit pun maka tidak terlalu berlebihan bila 
dibayangkan dan diprediksi bahwa dalam satu-dua dasawarsa ke depan 
kita akan lebih dari Jepang dalam pengasingan agama secara formal 
dan lebih dari Barat dalam memuja tradisi nudis dan pergaulan bebas. 

Kematian agama tidak berarti ateisme yang meniadakan Tuhan, 
melainkan dikesampingkannya peran agama dan Tuhan sebagaimana 
pandangan dunia mekanik (mechanical world view). Tuhan dan 
ciptaanNya diibaratkan sebagai clockmaker dan jam yang dibuatnya. 
Mulanya sang pembuat jam berpikir keras jam macam apa yang akan 
dibuatnya, setelah ide muncul jam pun dibuat dan kemudian dibiarkan 
berjalan sendiri sampai rusak. Singkatnya, Tuhan telah pensiun dari 
kesibukan proses penciptaan mahluk. 

Dalam era kematian agama barangkali Tuhan masih disebut-sebut bahkan 
secara hiruk-pikuk. Namun penyebutan itu telah kehilangan makna 
transendentalnya. Penyebutan itu pun tak lebih dari sekadar menyebut-
nyebut perihal jenazah yang ada di depan kita sementara kita bebas 
melakukan apa saja tanpa segan dan malu di depannya. 
Itulah gambaran keagamaan masyarakat Indonesia yang terefleksi dari 
tiga serangkai peristiwa Inul, AFI, dan pilpres. Para elit harus 
membumikan ajaran agama dan tidak boleh memperdagangkan dan 
mempermainkan agama. Elite Muhammadiyah, NU, Persis, Al-Irsyad dan 
yang lainnya tidak boleh gampang dibeli. Aktivis HMI, PMII, IMM, 
KAMMI dan berbagai kelompok pengajian kampus tidak boleh disewa 
untuk demo atau pun berebut duduk di belakang saat ujian apalagi 
nyontek. Sedikit kesalahan mereka akan mempercepat proses kematian 
agama di negeri ini. Sebab, merekalah simbol dan bukti doktrin agama 
terdekat yang dapat dilihat langsung massa kebanyakan.




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke