Cianjur Sarang
Teroris?
Selasa, 19 Oktober 2004 | 21:10 WIB
TEMPO Interaktif, Cianjur:Bupati Cianjur, Wasidi Swastomo, membantah
wilayah Kabupaten Cianjur menjadi basis terorisme. Menurut Bupati Wasidi banyak
anggapan pelaku teror berasal dari daerah penghasil tauco, serta aman bila
bersembunyi di wilayah Kabupaten Cianjur.
Pernyataan Bupati Wasidi
sekaligus menepis pernyataan Panglima Kodam III Siliwangi, Mayor Jenderal Iwan
Sulanjana. Sebelumnya, dalam Rapat Koordinasi Musyawarah Pimpinan Daerah se-Jawa
Barat di Gedung Bappeda Jawa Barat, Pangdam Siliwangi, Mayjen Iwan Sulanjana,
menyatakan daerah selatan Jawa Barat, termasuk Cianjur dan Sukabumi, menjadi
tempat persembunyian para pelaku teror. Alasannya, faktor infrastruktur di
wilayah selatan Jawa Barat selama ini dinilai kurang sehingga membuat nyaman
para pelaku teror.
Pernyataan Mayjen Iwan berdasarkan data bahwa
dedengkot penebar teror bom Natal 2000 dan bon Legian Bali 2002, Encep Nurjaman
alias Riduan Isomudin alias Hambali, berasal dari Kampung Pamokolan Desa
Sukamanah Kecamatan Karangtengah Kabupaten Cianjur, sekitar 3 kilometer ke arah
timur kota Cianjur. Lalu, salah seorang tersangka kasus bom di Kedubes
Australia, Kuningan, Agus Ahmad alias AAH, adalah warga Kampung Cijujung Desa
Kademangan Kecamatan Mande Cianjur. Ia juga pernah membawa Dr Azahari dan Nurdin
M Top, serta bahan peledak ke sebuah rumah di Kampung Cisuren Desa Gunungsari
Kecamatan Sukanagara Cianjur.
Namun, Bupati Wasidi, menolak jika faktor
infrastruktur yang kurang memadai di wilayah Cianjur Selatan menjadi bagian dari
kenyamanan pada pelaku teror untuk bersembunyi. "Tidak ada hubungan antara
kurangnya infrastruktur di wilayah Cianjur selatan dengan dengan potensi
persembunyian para teroris," ujar Wasidi saat dihubungi Tempo, Selasa
(19/10).
Faktor infrastruktur yang dianggap masih minim, menurut Bupati
Wasidi, disebabkan kurangnya dana untuk menggarap wilayah Cianjur selatan. "Kami
juga meminta bantuan pihak Provinsi Jawa Barat dan pemerintah pusat untuk
membangun infrastruktur sebagai antisipasi terhadap tudingan tadi," kata
Wasidi.
Selain itu, Bupati Cianjur juga membantah pernyataan Pangdam
Siliwangi yang menyatakan ada gelontoran dana sebesar 1 juta dollar AS ke sebuah
pesantren di Cianjur selatan. Dana itu, kata Mayjen Iwan, berasal dari Timur
Tengah. "Itu tidak benar. Hasil pantauan kami selama ini terhadap beberapa
pesantren yang dianggap radikal atau beraliran keras, tidak ada satu pun
pesantren yang menerima kucuran dana sebesar sejuta dolar dari Timur
Tengah,"bantah Bupati Wasidi.
Walaupun menjadi sorotan soal sarang
teroris, Kabupaten Cianjur, tetap mencoba menerapkan konsep syariat Islam dengan
adanya Program Pembangunan Masyarakat Berakhlakul Karimah (Gerbang Marhamah).
"Justru Gerbang Marhamah ini merupakan respon masyarakat sebagai antisipasi
terhadap tudingan miring soal bercokolnya pelaku-pelaku terorisme internasional
di Kabupaten Cianjur," kata Bupati Wasidi.
Deden Abdul Aziz