hatur nuhun kang Jalak,
abdi tos rada lami maca berita ieu teh..
Janten emut deui na tos dugi kamana atuh tindakan Tim Advokasi Muslim teh?
asa adem2 wae...
----- Original Message -----
Sent: Thursday, October 21, 2004 12:31 PM
Subject: [Urang Sunda] Majalah Syir'ah...

Ari Kang Maman ti group De Bodor naha enya aya? Nyabit2 Seler Sunda oge. Naha neya kitu? da abdi tos sababaraha kali mendakan carita ngeunaana anjeuna.

Jalak

Punten teu di SUndakeun, Ti millis PKS

Majalah Syir'ah Berlabel Islam tapi menyerang Islam
Jika yang menghantam Islam itu orang Yahudi dan Nasrani, bisa dimaklumi. Karena sudah ada sinyalemen Allah dalam Al-Qur'an. Tapi kini penghantaman Islam ini dilakukan oleh orang "Islam" dan membawa-bawa dalil Al-Qur'an. Bagaimana kita menyikapi fitnah berlabel "Islam" ini?

imageMajalah yang satu ini memang keterlaluan. Nama dan motonya sangat islami, diambil dari Al-Qur'an. Dalam beberapa edisinya, Syir'ah men�­can�­tum�­kan surat Al-Ma`idah 48 di inside cover. Kata "Syir'ah" yang berarti peraturan, memang diambil dari surat Al-Ma'idah 48. Ujung ayat ini diakhiri dengan kalimat "Fastabiqul Khairat" yang dijadikan moto perjuangan di kala�­ngan Pemuda Muham�­madiyah. Tapi, apakah opini dan beritanya mendakwahkan Islam dan menjunjung kemuliaan umat Islam? Ternyata bertolak belakang seratus delapan puluh derajat. Justru sering menurun�­kan tema yang mendukung kaum Nasrani dan menyebarkan pendis�­kreditan Islam.
Ketika terjadi pro-kontra umat Islam dan Kristen tentang RUU Kerukunan Umat Beragama, Syir'ah malah berpihak ke kalangan Nasrani. Maka bulan Januari 2004 Syir'ah mengangkat tema utama "Kerukunan Dalam Bahaya". Berita dan analisisnya jelas mendukung aspirasi umat Nasrani, dengan beberapa judul tulisan: "Urungkan RUU Kerukunan Umat Beragama" (hal. 16); "Aturan Kerukunan yang Mencakar" (hal. 18-22); "Akui yang Lima, Akui Selain yang Lima" (hal. 23-26); "Kerukunan Tak Bisa Didikte" (hal. 28-31), dan lain-lain.
Menjelang pemilihan DPR, DPRD dan DPD pada Pemilu yang lalu, bulan April 2004 Syir'ah menurunkan tema utama "Politikus Busuk di Partai Islam." Dari berita yang disuguhkan, dapat ditebak bahwa tujuannya adalah penggembosan terhadap Partai-partai Islam.
Perwajahannya pun jauh dari kesan Islami. Saat umat Islam ramai-ramai mengecam pornografi dan pornoaksi dalam kasus Goyang Ngebor Inul yang seronok, Syir'ah malah memihak sang Ratu Ngebor pada edisi Juni 2003 dengan tema "Rasulullah Pun Menikmati Goyang." Fakta yang dijadikan dalih adalah adanya Tarian Duet (Hadra) Maut yang berpasangan antara laki-laki dan perempuan adalah tradisi di kalangan keturunan Rasulullah, dan pertunjukan Tari Perut yang dilakukan di atas perahu-perahu Nil ini dihiasi dengan kaligrafi Arab bertuliskan La ilaha illallah, Masya Allah, dan Subhanallah. "Tari Perut menjadi trademark negeri yang kaya peradaban itu. Di sana, lembaga fatwa tidak mengeluarkan pengharaman terhadap Tari Perut" tulis Syir'ah membela.
Ilustrasi edisi ini sangat jorok, yaitu para penari Tari Perut yang sedang bergoyang –maaf– terlihat auratnya antara buah dada sampai pusarnya. Lalu pada halaman 49 dipersembahkan puisi untuk Sang Ratu Ngebor berjudul "Syair Inul" yang dihiasi dengan foto latar seorang wanita tak berbusana yang sedang menari (bergoyang).
Edisi Januari 2004, ditampilkan potret "telanjang dada" Cornelia Agatha pada rubrik Sudut Panggung. Begitu juga edisi Februari 2004, rubrik Sudut Panggung memajang foto sensual Rieke Diah Pitaloka yang ber�­telanjang dada memamerkan kalung emasnya.
Edisi Maret 2004, pada rubrik Mereka Bicara, Syir'ah mela�­por�­kan secara detail kehi�­dupan prostitusi di kota Parung. Penyuguhan berita esek-esek ini pun tak menanamkan moral, bahkan cenderung mem�­popu�­lerkan. Konyolnya, Syir'ah memuji wilayah mesum ini dengan sebutan "unik" karena letaknya ber�­dekatan dengan pesantren. Ini menanamkan opini kepada pembaca seolah-oleh perilaku mesum tidak ditolak oleh komu�­nitas pesantren.
Pendiskreditan terhadap Islam kembali dilakukan di edisi Mei 2004 yang memblow up seks bebas di kampus Islam yang dilakukan oleh para aktivis kampus Islam, aktivis Harakah Khilafah (Hizbut Tahrir?), dan alumnus pesantren. Foto ilustrasinya pun sangat mesum dan melecehkan Islam. Ada foto wanita berjilbab sedang tidur berpelukan di ranjang dengan lawan jenisnya, ada cover VCD porno lengkap dengan cuplikan foto bugilnya, dan seterusnya. Seolah-olah, adegan mesum itu sangat akrab di kalangan "kampus hijau."

Memfitnah Tokoh Islam


Fitnah Syir'ah yang paling fatal dan jauh kaidah jurnalistik yang wajar adalah edisi Februari 2004. Pada laporan utama "Pindah Agama Karena Hidayah" yang disajikan, disebutkan bahwa pindah agama baik dari non Islam ke Islam maupun dari Islam ke non Islam adalah "karena hidayah Ilahi." Padahal jika berlabel Islam, idiom "karena hidayah" tidak tepat ditujukan untuk orang yang pindah keyakinan dari Islam ke agama lain. Istilah yang tepat untuk kepindahan iman dari Islam ke agama kafir adalah "tersesat" atau "murtad."
 
Nafsu mencoreng reputasi umat Islam oleh wartawan Syir'ah pada edisi ini sangat menggebu-gebu. Dilukiskan pada halaman 21-22 tentang murtadnya pelawak terkenal dari Sunda. Disebutkan bahwa Kang Maman yang bernama asli Muhammad Shalat, salah seorang anggota D'Bodors (group lawak terkenal di nusantara yang dimo�­tori oleh Abah Us Us). Menurut Syir'ah, Kang Maman pindah agama karena "berangkat dari petunjuk Ilahi." Alasannya, dia orang yang taat beribadah dan berlatar belakang ustadz. Dia pindah agama karena ketika shalat tahajud didatangi oleh penampakan sosok tubuh yang mengaku Nabi Isa alias Yesus Kristus yang mengatakan, "Akulah yang utama di dunia dan akhirat." Setelah masuk Kristen, Kang Maman bisa mengobati orang yang sakit dengan doa-doa yang dihaturkan kepada Yesus Kristus.

Menanggapi berita tersebut, Kang Maman alias Kang Ibing yang di kenal di dunia lawak dengan julukan si Kabayan membantah. Dia mengatakan bahwa dirinya bernama asli H. Kusmayatna Kusumadinata. Untuk pindah iman ke Kristen pun sangat mustahil. Karena pelawak Sunda fanatik �­Islam yang ber�­domisili di Ban�­dung ini aktif berdakwah sampai saat ini. Hari-harinya dipenuhi dengan ceramah agama, karena dia juga se�­orang mubaligh yang memegang jabatan sebagai Pembina Pesantren Modern Baitur�­rahman yang memiliki 8 cabang di Bandung, Cilegon, Pandeglang, Riau sampai Kendari, Sulawesi Tengah.

Menang�­gapi bantahan ini, Annuri berkilah bahwa Kang Maman yang dimaksud Syir'ah bukanlah Kang Ibing alias Kabayan, tapi Kang Maman lain yang pernah menjadi anggota D'Bodors. Tetapi, ketika Tabligh mendesak dengan bebe�­rapa pertanyaan, Annuri akhirnya meng�­akui bahwa dia belum mela�­kukan penge�­cekan baik kepa�­da Kang Maman maupun kepada Abah Us Us selaku ketua D'Bodors. Annuri hanya mengutip berita dari internet dan mengkonfirmasikan kepada majalah Narwastu (majalah bulanan kristiani). Lho, kok, membebek majalah Kristen?

Wartawan sekaligus staff redaksi Syir'ah ini tak mengelak bahwa dia memang agak lalai dalam menulis berita tersebut dengan alasan waktu yang sempit. Padahal, jika ini alasannya, berarti berita tersebut belum matang untuk disuguhkan. Karena menyuguhkan berita yang masih mentah, berarti meracuni pembaca.

Abah Us Us, komandan D'Bodors yang menjadi obyek penderita dalam berita gegabah Syir'ah menyatakan bahwa dia tidak pernah dikonfirmasi oleh pihak Syir'ah. Dengan tegas dia membantah adanya anggotanya yang murtad, sebab tidak ada anggotanya yang bernama Kang Maman. Memang nama Kang Maman pernah ada di group lawak Sunda, tapi bukan D'Bodors melainkan Trio Wijaya. Kang Maman yang ini pun bukan bernama asli Muhammad Shalat, melainkan Maman Wijaya.

Menyikapi fitnah tersebut, Abah Us Us menegaskan bahwa dia siap perang melalui jalur hukum. Karena akidah adalah persoalan yang sangat krusial. "Kalau soal begini ini, mau perang ya peranglah! Saya nggak takut. Ya, kalau sudah pakai fitnah-fitnah keluar-masuk agama itu kan sudah akidah. Urang Sunda bilang sudah "pecat iman." Sudah dosa tidak berampun, itu, mah" tegas Abah Us Us mengakhiri wawancara.

Untuk itu, KH Athian Ali Dai telah menyiapkan Tim Advokasi yang tergabung dalam Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI). "Masalah ini kami kaji lebih lanjut di Divisi Anti Pemurtadan FUUI. Insya Allah para pengacara FUUI yang akan menuntaskan kasus fitnah Syir'ah," jelasnya.
 
Majalah ini diduga dijadikan corong Jaringan Islam Liberal yang dibiayai oleh lembaga asing The Asia Foundation, karena dari beberapa edisi terlihat banyak iklan Komunitas mereka diantaranya iklan JIL, iklan Komunitas Utan Kayu, iklan Radio 68H. Selain itu majalah ini banyak menampilkan artikel-artikel ttg Islam liberal antara lain masalah bolehnya nikah beda agama, fikih lintas agama dan lain sebagainya


Memang Syir'ah harus menebus dan membayar mahal atas isu-isu negatif yang ditebarkannya. Pelajaran berharga harus diberikan agar kelak tak seenaknya mendiskreditkan umat Islam. Selamat berjuang Tim Advokasi Muslim.

 
Hati-hati musuh dalam selimut, mereka lebih berbahaya



Sumedang Tandang Nyandang Kahayang



Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke