Dua bulan kamari soal penutupan gereja teh rame dina milis-milis 
utamina mah milis apakhabar sareng milis Islam. Aya nu nyoalkeun 
soal HAM sagala rupa. Jarang nu ningali tina sudut beda etnis.  
Padahal kaributan kieu teh ceuk kuring mah leuwih kuat unsur beda 
etnisna tinimbang beda agamana, antara nu asli jeung pendatang nu 
kabeneran beda agama. Kulantaran kajadian gereja ditutup teh 
seseringna di Tatar SUnda (tangerang , bekasi, Bandung) kuring 
ngiluan nulis, sabab aya nu nulis ukur ditempo tina sudut HAM, bari 
jeung teu ningali unsur-unsur sanesna. Dihandap ieu postingan 
kuring, ngajawab ka pak DP nu keukeuh peuteukeuh nutup komo jeung 
ngarusak gereja teh ngalanggar HAM :

"Betul pak DP kalau yang membuat "onar" itu pantas untuk dihukum, 
tapi yang paling penting adalah tidak terjadi lagi kejadian seperti 
itu. Seperti yang saya sudah bilang kasus penyerbuan "Gereja" itu 
sering
terjadi di daerah pinggiran kota. Biasanya "gereja" ini berupa sebuah
rumah tempat tinggal atau "ruko" (rumah toko)di suatu perumahan yang
berada di pinggiran kota yang dirubah fungsinya menjadi tempat
ibadah. Tempat ibadah yang beginian yang paling rawan "diserbu" orang
sekampung yang mengelilingi kompleks perumahan tersebut.

Developer perumahan biasanya menyediakan fasilitas publik, termasuk
tempat ibadah, tapi tempat ibadah dibuat rata-rata adalah Mesjid,
karena memang sulit juga kalau harus menyediakan gereja, sebab
nantinya gereja itu milik ummat Nasrani yang mana? mengingat penghuni
perumahan yang Nasrani belum tentu satu Gereja. Banyaknya aliran
didalam agama Kristen mengakibatkan membutuhkan banyak gereja,
sehingga dalam satu komunitas perumahan, bisa-bisa diperlukan
beberapa gereja untuk memenuhi kebutuhan umatnya. terlalu banyaknya
gereja di lingkungan orang-orang yang masih sederhana dan lugu
mengandung "bahaya" yaitu issue Kristenisasi. Jadi sebenarnya perlu
kearifan juga dari umat minoritas dalam membangun tempat ibadahnya.

Karena Pak DP menybut-nyebut soal ketertiban umum, saya kira soal ini
bukan soal Islam atau bukan, tapi lebih menunjukkan bagaimana sifat
bangsa kita. Kalau kita menyetir di jalan raya di Pulau jawa atau
Sumatera, pasti merasa jengkel oleh kelakuan orang-orang yang meminta
sumbangan buat mesjid dengan memasang drum ditengah jalan dan
berteriak-teriak memakai loud-speaker. Tapi jangan begitu
saja "menyalahkan" Islam, sebab di Minahasapun anda akan menemukan
hal yang serupa(kalau menurut saya malah lebih menjengkelkan, karena
bukan saja drum yang dipasang di tengah jalan, tapi orangnya pun siap
berjibaku berdiri ditengah jalan, menantang ditabrak mobil), tetapi
bedanya sumbangannya buat membangun Gereja!.


Salam,
WALUYA


--- In [EMAIL PROTECTED], "Dana Pamilih"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> DP: Tidak ada alasan yang dapat membenarkan tindakan kejahatan
> vandalisme dan teror. Tindakan kejahatan ini pantasnya diadili dan
> dimasukkan penjara.
>
> Repotnya: menurut keyakinan mereka tindakan ini termasuk nahi
mungkar,
> padahal menurut hukum negara sekuler tindakan ini dikategorikan
> vandalisme dan teror thd agama/minoritas.
>
> Anehnya lagi dalam kasus filem BCG yang menurut pengertian hukum
> sekuler itu cuma 'kenakalan' dianggap suatu kejahatan.
>
> Apakah konsep ketertiban umum dalam Islam? Cuma sebatas menutup
> aurat? Kenakalan dianggap kejahatan dan kejahatan cuma dianggap
> kenakalan?








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke