Maca ieu warta ieu aya rasa hanjakal...hanjakal teu bisa nyaksian karya agung US. Mugi aya baraya nu kersa mantuan milari info naha aya kitu video acara ieu? Sim kuring enyaan hayang pisan miboga rekamanana.

Salam
tirta
 
 

   Pikiran Rakyat                     Kamis, 30 Desember 2004

440_garis_atas.gif (100 bytes)
Toebagoes Oemaj Martakoesoemah, Tjetje Soemantri, dan Tari Sunda

DIGELARNYA pertunjukan tari Sunda yang mengambil tema Tari Sunda Dalam Ayunan Selendang Oemaj dan Tjetje yang digelar pada 26 Desember lalu di GK Sunan Ambu, Jln. Buahbatu 212 Bandung cukup menarik untuk diapresiasi. Karya demi karya tari yang digarap dan digelar oleh Kelompok Seniman Pusbitari pada malam itu, bukan hanya karya tari yang dicipta oleh almarhum Tjetje Somantri dan Toebagoes Oemaj Martakoesoemah saja, tetapi juga dalam kesempatan tersebut digelar pula karya-karya tari hasil kreasi para seniman sebelumnya dan hasil kreasi para seniman sesudahnya, seperti yang dikreasi oleh Irawati Durban lewat Tari Merak dan Tedi Sudiarto lewat Tari Wilara.

Pendeknya, pertunjukan tari yang digelar sebagai bagian dari acara pemberian Anugerah Budaya dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata kepada almarhum Toebagoes Oemaj Martakoesoemah dan Tjetje Somantri itu, adalah sebuah pertunjukan tari yang berupaya menggambarkan perkembangan dan pertumbuhan tari Sunda dari zaman ke zamannya, yang pada titik-titik tertentu, diakui atau tidak secara estetik dipengaruhi oleh Tari Topeng Cirebon. Hal ini setidaknya terlihat pada beberapa karya tari Sunda yang juga mengambil topeng sebagai bagian dari medan ekspresi yang dikreasi secara mengagumkan oleh para senimannya. Setidaknya hal itu, terlihat pada karya Tari Topeng Menak Jingga yang dikreasi oleh Tjetje Somantri dan Toebagoes Oemaj Martakoesoemah pada tahun 1947/1948 lalu, ketika ke duanya pada saat itu masih aktif di Badan Kesenian Indonesia (BKI).

Peran Toebagoes Oemaj Martakoesoemah dalam menjalin kerja sama dengan Tjetje Soemantri itu adalah dalam menata kostum dan pola lantai, disamping itu dibantu pula oleh Bah Kayat yang tidak kalah pentingnya dalam menata gending. Berkaitan dengan itu, tak aneh kalau Nano S dalam sebuah esainya mengatakan bahwa Bah Kayat pantas juga diberi Anugerah Budaya atas daya kreasinya dalam menata gending. Mengapa demikian? Karena karya-karya gending yang dikreasi oleh Bah Kayat telah memberikan nyawa pada karya tari yang dikreasi oleh Tjetje Somantri dan Toebagoes Oemaj Martakoesoemah.

**

PERTUNJUKAN tari Sunda yang secara keseluruhan diberi judul Tari Soenda 1933-2004 dibuka dengan pertunjukan kilas balik perkembangan dan pertumbuhan tari Sunda sebelum Toebagoes Oemaj Martakoesoemah dan Tjetje Soemantri menciptakan karya-karya tari dalam wanda anyar, yang naskah pengadegan dan sutradaranya digarap oleh Teaterawan Bambang Arayana Sambas, salah seorang pendiri Teater Epos pada akhir tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an di Tasikmalaya.

Pada pergelaran bagian awal disajikan berbagai bentuk karya tari yang di dalamnya tidak melibatkan kaum perempuan dari kalangan menak. Apa pasal? jika kaum perempuan dari kalangan menak ini ikut manari, maka mereka akan dicap oleh masyarakat kalangan menak pada saat itu sebagai "wanita nakal".

Perempuan dari kalangan nonmenak pada saat itu memang sudah aktif menari, khususnya dalam tari-tari rakyat, seperti dalam Ketuk Tilu, Roenggeng dan sebagainya.

Dalam konteks inilah bisa kita mengerti bila Dr. Sri Hastanto pada malam itu mengatakan dalam sambutannya bahwa almarhum Tjetje Soemantri dan Toebagoes Oemaj Martakoesoemah pada zamannya adalah pejuang gender, yang memberi peluang begitu besar kepada kaum perempuan dari kalangan menak untuk menari. Perjuangan Tjetje dan Oemaj tentu saja tidak sia-sia, karena terbukti pada zamannya begitu banyak kaum perempuan dari kalangan menak yang mempelajari karya-karya tari mereka hingga tersebar seperti sekarang ini, seperti yang dipelajari orang di perguruan tinggi kesenian, yang tidak hanya dipelajari oleh kalangan menak saja, tetapi juga dipelajari oleh rakyat kebanyakan yang tertarik untuk mempelajarinya di sekolah-sekolah tinggi kesenian maupun di sanggar-sanggar tari.

Berkaitan dengan itu pula bisa kita mengerti bila Dr. Sri Hastanto berkata lebih lanjut, bahwa pihak Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata sudah dua tahun ini mengusulkan kedua seniman tersebut untuk menerima bintang jasa dari pemerintah. Jika memang pemerintah pada akhirnya memberi bintang jasa untuk kedua seniman tersebut, ada baiknya Bah Kayat pun diberi.

Lepas dari itu, pada bagian kedua dalam acara tersebut digelar karya-karya tari Tjetje Soemantri yang dikreasinya bersama Toebagoes Oemaj Martakoesoemah dan Bah Kayat. Karya-karya yang digelar pada malam itu antara lain Tari Dewi, Tari Sekar, Tari Golek Rineka, Tari Kukupu, Tari Kendit Binayung, Tari Srigati, Tari Sekar Arum, Tari Sulintang hingga Tari Topeng Menak Jingga. Dari sejumlah karya tari yang dicipta Tjetje pada saat itu begitu besar memberikan peran kepada kaum perempuan dari kalangan menak untuk menari, yang jauh dari hal-hal yang sensual maupun erotik seperti yang terdapat dalam sejumlah tari rakyat.

Setidaknya selera kaum menak tercermin di situ menghindarkan diri dari pornoaksi. Selera semacam ini pun tampak pula pada karya tari yang dikreasi oleh Irawati Durban, salah seorang murid Tjetje Somantri dalam karyanya Tari Merak yang dicipta pada tahun 1965, juga dalam Tari Wilara karya Tedi Sudiarto murid Irawati Durban di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung. Karya tersebut dicipta pada tahun 2004.

**

ACARA yang digagas oleh Irawati Durban seperti yang digelar di GK Sunan Ambu itu, memang patut didukung sekaligus disambut oleh berbagai pihak. Apa yang diberikan oleh pemerintah kepada kedua seniman tersebut tentunya bukan hanya mempertimbangkan apa yang dikemukakan oleh Irawati Durban, tetapi juga pemerintah tentunya telah melihat hingga sejauh mana peran kedua seniman tersebut dalam menumbuh-kembangkan tari Sunda dalam wanda anyar, yang tumbuh dan perkembang pada zamannya di Tatar Sunda.

Ada bagusnya jika di tahun-tahun mendatang tidak hanya karya-karya Toebagoes Oemaj Martakoesoemah dan Tjetje Somantri saja yang digelar oleh Pusbitari, tetapi juga karya-karya para seniman tari lainnya, yang siapa tahu pada zaman itu ada juga para pencipta tari lainnya yang selama ini kita ketahui. Di samping itu ada baiknya pula, bila data-data itu ada, pihak Pusbitari menerbitkan petikan-petikan percakapan proses kreatif antara Toebagoes Oemaj Martakoesoemah dengan Tjetje Somantri dalam setiap garapan tari yang mereka ciptakan berdua. Adanya data semacam itu setidaknya menjadi penting bagi seseorang yang ingin menulis keduanya tidak saja berangkat dari analisis-analisis mereka terhadap karya tari saja, tetapi juga menyuruk lebih jauh ke dalam alam pikiran kedua seniman tersebut dalam berproses kreatif yang kini telah menjelma sebuah ikon dalam pertumbuhan dan perkembangan seni dan budaya Sunda. (Soni Farid Maulana/"PR").***




Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends today! Download Messenger Now

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke