Kenging ti milis tatanggi, punten teu disundakeun
sareng deui punten bilih parantos ngaos eusi serat ieu
tong bendu.

@ERN

Note: forwarded message attached.


=====
-----------------------------
http://www.urang-sunda.or.id
-----------------------------

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 
--- Begin Message --- Assalamu`alaikum wR wB

Kritik itu perlu, apalagi kalau datangnya dari rakyat dan mass media. Terlebih-lebih bila teguran itu menyangkut nasib manusia yang malang. Begitulah, walau Pemerintah Bush cepat tanggap, namun dari jumlah bantuan yang kelewat kecil, maka rakyat dan media AS ramai-ramai mencapnya "stingy" alias pelit.
Label yang sama juga diberikan kepada negara-negara Arab anggota-anggota Gulf Cooperation Council (JCC) yang kaya raya. Abdul Bari Atwan, Pemimpin Redaksi "Al-Quds Al-Arabi" yang terbit di London, tanpa tedeng aling-aling menyatakan kekesalan dan kekecewaannya, "We Arabs failed in peace as we did in war. We failed in all tests of democracy and human rights. Here, we are registering a new failure on the humanitarian front."
Entah karena kritik itu atau karena apa, yang jelas ada wujud konkrit. Arab Saudi, Kuwait dan lain-lain yang terkesan  "sluggish" dan "stingy" dalam merespon segera mengambil langkah-langkah konkrit. Alhamdulillah bantuan itu datang dan ... datang lagi.
Yang menggembirakan kita semua ialah bahwa bantuan itu bukan LOAN, tetapi HIBAH. Mudah-mudahan begitu adanya.
Hutang luar negeri "kita", yaitu pemerintah dan swasta, berjumlah lebih kurang Rp1.000 triliun. Kemudian, dalam APBN 2005, jumlah cicilan hutang (bunga+pokok) mencapai Rp46 triliun, kira-kira hampir 1/6 APBN.
KTT "Tsunami" sehari di Jakarta (06/01) yang dihadiri oleh para pemimpin ASEAN, negara-negara donor dan PBB (Sekjen), berhasil melahirkan "komitmen bantuan" sebesar US$3,5 miliar (lebih kurang Rp40 triliun). Yang jelas, bantuan sebesar itu yang sebagian kecil baru dicairkan, tidak berupa "hibah", tetapi "hutang". Dewasa ini masih melalui tawar menawar. Gagasan "moratorium" masih diperdebatkan. Seperti kita maklum, Pemerintah RI menggunakan 50% anggarannya untuk membayar hutang!
Berikut ini dua berita terkait dengan negara-negara GCC, khususnya Arab Saudi, yang dimuat dalam Republika-online. Maaf kepada al-ikhwah dan al-akhawaat yang telah membacanya.
Fadhol
_________________________________________________


Senin, 10 Januari 2005  20:33:00



(1)  Bantuan Kemanusiaan yang Minus Publikasi



Laporan: Damanhuri Zuhri



Batam-RoL -- Diam-diam bantuan kemanusiaan dari masyarakat dan pemerintah Arab Saudi  sudah masuk ke Indonesia, tepatnya di Bandara Hang Nadim Batam  Kepulauan Riau sejak 6 Januari lalu.



Tepatnya ketika sejumlah kepala negara  termasuk Sekjen PBB Kofi Annan bertemu dalam KTT Tsunami di Jakarta  Convention Center (HCC) Kamis (6/1). Bantuan kemanusiaan dari salah satu negara  Islam ini memang sepi publikasi dan sorotan kamera sangat berbeda  dengan bantuan dari negara Barat yang kaya akan publikasi.



Bantuan dalam bentuk makanan, obat-obatan, selimut, karpet dan lainnya  itu diangkut pesawat Arab Saudian Cargo dengan jenis pesawat MD 11. Ahad pagi kemarin, bantuan dari masyarakat dan pemerintah Arab Saudi  tersebut diserahkan Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Abdullah



Abdulrahman 'Alim dan diterima Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ismeth Abdullah.  Menurut rencana bantuan serupa bakal datang 11 dan 13 Januari mendatang  di Batam dan beberapa kali di Medan sehingga mencapai 1000 ton.



Menurut 'Alim yang telah bertugas di Indonesia lebih dari 10 tahun ini  mengungkapkan sebetulnya sejak beberapa hari gempa dan gelombang  tsunami melanda Aceh di Indonesia yang dikenal sebagai mayoritas penduduk  muslim terbesar di dunia, /Khadimul Haramain/ (Pelayan dua kota suci,  red) Raja Fahd bin Abdul Aziz dan Putra Mahkota Pangeran Abdullah bin  Abdul Aziz telah  menginstruksikan Menteri Dalam Negeri Arab Saudi untuk  mengawasi pengumpulan dan pengiriman bantuan kemanusiaan tersebut.   �Karena itu, kami yakin sekali jumlah bantuan dari masyarakat dan  pemerintah Arab Saudi untuk Indonesia lebih dari 200 juta riyal (senilai Rp 500  milyar,� tegas 'Alim.



'Alim menyebutkan, bila selama ini sejumlah negara Barat baru sebatas  komitmen untuk memberikan bantuan kepada sejumlah negara yang menjadi  korban bencana, masyarakat dan pemerintah Arab Saudi justru sudah  mewujudkannya. �Itu bisa dilihat dari kepeduliaan para pemimpinnya. Raja Fahd  sendiri menyumbang 20 juta riyal. Putra Mahkota Pangeran Abdullah 10  juta riyal dan seorang pengusaha kaya Pangeran Waleed bin Talal  menyumbang 70 juta riyal sebesar 15 juta riyal berupa uang tunai dan sejuta set

pakaian, 3000 tenda senilai 55 juta riyal.�



Menjawab pertanyaan mengapa bantuan kemanusiaan dari Arab Saudi yang  sudah tiba di wilayah Indonesia tersebut sepi publikasi sehingga tidak  banyak rakyat Indoensia yang mengetahuinya sehingga hal ini bisa saja  menimbulkan kesan seakan-akan negara-negara Islam lamban dan kurang peduli  terhadap saudaranya yang terkena musibah, dengan tegas 'Alim  mengatakan, �Pemerintah Saudi Arabia dan juga negara-negara Islam yang lain  apabila menyumbang sesuatu tidak perlu mengumukan di media massa. Jadi  cukup menyumbang saja, karena itu memang sudah aturan agama,� jelas 'Alim.



'Alim lalu mengungkapkan ketika terjadi gempa yang dahsyat menimpa Iran  akhir tahun lalu, pemerintah dan masyarakat Arab Saudi juga memberikan  bantuan yang sangat besar, tak kurang dari 170 juta dolar AS, tapi  tidak dipublikasikan di media massa. �Di Iran juga pada waktu terkena  bencana tahun 2003, pemerintah Saudi Arabia mebawa kurang lebih 170 juta  dolar AS. Inilah yang dinamakan memberi bantuan tanpa memberi tahu kepada  media atau apa. Ibaratnya, jika tangan kanan memberi, maka tangan kiri  tak perlu tahu,� ungkap 'Alim mengutip sebuah hadits Rasulullah SAW.



Apakah dengan demikian nantinya tidak ada kesan dan citra seakan-akan  negara-negara Islam tidak peduli terhadap saudaranya, 'Alim mengatakan,  �Orang-orang Islam yang ada di pemerintahan maupun seluruh masyarakat  Arab Saudi dalam hati mereka sudah ada semangat untuk membantu  orang-orang yang terkena bencana terutama di Aceh. Mereka (para korban bencana  itu, red) sudah ada dalam hati kami,� tandas 'Alim seraya menambahkan  Indonesia adalah saudara kandung Arab Saudi.



Pandangan senada diungkapkan Gubernur Kepri Ismeth Abdullah. Menurut  dia, tidak ada kesan bahwa negara-negara Islam lambat membantu korban  bencana di Aceh. �Tidak. Tidak ada kesan seperti itu. Pemerintah juga tidak mendapatkan kesan seperti itu yang kami tahu bantuan berdatangan  terus karena memang masing-masing mempunyai kondisi yang berbeda-beda.�



Selasa, 11 Januari 2005  11:25:00



(2)  Din: Negara-negara Arab dan Islam Bantu Lebih Banyak





JAKARTA -- Wakil Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin mengatakan, negara-negara Arab dan Islam memberikan bantuan yang lebih banyak dibandingkan negara-negara yang selama ini dianggap negara donor. �Yang paling penting status bantuan tersebut sepenuhnya hibah atau sodaqoh,� katanya di Jakarta, Senin (10/1).



Karena itu, Din menyesalkan sikap pemerintah Indonesia yang tak melibatkan negara-negara Arab dan Islam pada KTT Tsunami, beberapa waktu lalu. Ini kesalahan fatal yang dilakukan pemerintah. Padahal mereka juga mampu memberikan kontribusi pemikiran dan bantuan dana bagi pemerintah Indonesia. Sedangkan bantuan dari negara donor lebih banyak dalam bentuk utang lunak, selain itu lebih sukar dicairkan. Bantuan dana dari negara-negara Arab dan Islam lebih kongkret dan tak berbelit-belit. �Sayang, pemerintah lebih memberikan perhatian kepada negara-negara donor yang selama ini membebani Indonesia dengan utang.�



Pemerintah Arab Saudi, katanya, memberikan bantuan dana sebesar 30 juta dolar AS secara cash. Belum lagi dana yang dikumpulkan oleh raja dan masyarakat di sana, mencapai sekitar Rp 1 triliun. Menurut Din, masih banyak lagi negara-negara Islam yang memberikan bantuan tanpa embel-embel utang atau pinjaman lunak kepada Indonesia, seperti Pakistan, Turki, Uni Emirat Arab, dan lainnya. Bahkan, ada juga yang siap membangun sekolah bagi anak-anak Aceh, berkapasitas 4.000 siswa. Sementara itu, melalui siaran persnya, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Jeddah, Saudi Arabia, menyatakan bahwa perhatian pemerintah dan masyarakat Arab Saudi terhadap gempa dan tsunami sampai saat ini masih tinggi. Ini terbukti dari terus mengalirnya sumbangan mereka melalui KBRI Riyadh, KJRI Jeddah, maupun pemerintah Arab saudi sendiri.



Dari bantuan sebesar 10 juta dolar AS yang disalurkan, pemerintah Arab Saudi memberikan sebesar 2,5 juta dolar AS untuk Indonesia. Bahkan, untuk meningkatkan masuknya bantuan tersebut, Raja Fahd telah menginstruksikan Televisi Arab Saudi agar mengorganisisasi telethon yang berlangsung mulai pagi hingga malam hari. Dalam acara itu, tampak para keluarga raja, pejabat, pengusaha, dan masyarakat Arab Saudi secara sukarela memberikan sumbangannya, hingga terkumpul 300 juta riyal lebih (83 juta dolar AS). Sementara KBRI Riyadh berhasil mengumpulkan sumbangan sebesar Rp 100 juta dan KJRI Jeddah mendapatkan 5.000 dolar AS.

Bekerja sama dengan PT Garuda Indonesia, KBRI Riyadh telah mengirimkan bantuan 15,8 ton. Bantuan juga datang dari Sultan Brunei Darussalam sebesar 100.000 dolar AS, Kementerian Kebudayaan Belia dan Sukan dan Persekutuan Pengakap (Pramuka) Brunei, masing-masing 250.000 dan 4.000 dolar Brunei. Duta Besar RI Yusbar Djamil mengatakan, staf KBRI Bandar Seri Begawan dan masyarakat Indonesia di Brunei berhasil mengumpulkan dana 11.000 dolar AS. ( fer/sam )
 

           
---------------------------------
Trial Yahoo! Mobile for FREE and win 3 dream holidays.

[Non-text portions of this message have been removed]


--- End Message ---

Kirim email ke