Haturan Baraya US sadaya...!
poe ieu dina koran PR aya warta ngenaan kalender ki Sunda anu geus
ampir 500 tahun ngaleungit (ceunah da teu apal abdi mah).
Mangga ieu copianana meunang nyutat tina koran PR poe ieu, punten teu
disundakeun mangga wilujeng maca...!

Cag...ah, nuhun.

BM'69

Kalender Sunda, Setelah 500 Tahun Menghilang
Nitih wanci nu mustari
geus datang kana wayah
dina waktu nu saestu
hayu urang ngabaladah 
pananggalan, si kala Sunda 
HINGGA saat ini orang Sunda kerap gelisah kalau bicara soal sejarah
asal-usul mereka. Semua paguneman atau sawala soal sejarah Sunda
selalu terbentur pada minimnya bukti fisik berupa candi, prasasti, dan
artefak lainnya. Meski ada manuskrip berbentuk naskah cerita,
jumlahnya tidak banyak dan kerap tersebar di beberapa tempat.
Sejarawan Sunda Prof. Dr. Edi S. Ekadjati mengakui bahwa dalam
percaturan sejarah nasional, sejarah Sunda memang tidak banyak
dibicarakan. Menurutnya, dalam Buku Sejarah Nasional, kisah tentang
sejarah Sunda hanya mengungkap tentang Kerajaan Sunda dengan Raja Sri
Baduga di daerah yang sekarang disebut Jawa Barat.
Belakangan, lahir historiografi Sunda cukup lengkap yang ditulis Ketua
Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Jabar Dr. Nina H. Lubis bertajuk
Sejarah Tatar Sunda. Namun, harus diakui, hal itu masih belum cukup
menjawab kegelisahan yang mengendap. 
Dalam situasi gelisah seperti itu, upaya penemuan kembali "sejarah
yang hilang" itu patut dihargai. Termasuk apa yang dilakukan oleh Ali
Sastramidjaja (69 tahun) atau akrab dipanggil Abah Ali.
Setelah hampir 9 tahun memeras otak dan energi, Ali akhirnya
merampungkan kerjanya menyusun sistem penanggalan (kalender) Sunda.
Kabarnya, ia "menghabiskan" 9 unit komputer untuk mengerjakan
penghitungan rumit dengan rumus-rumus matematis. 
"Sebelumnya, saya juga mengumpulkan berbagai data dan buku yang
seluruhnya membahas tentang sistem penanggalan, baik Masehi, Hijriah,
Jawa, India, dll. Namun, sayangnya dokumentasi itu hanya ada dua data
sahih yang benar-benar menggunakan sistem penanggalan Sunda. Pertama
adalah Prasasti Citatah di Cibadak Sukabumi atau terkenal sebagai
Sanghyang Tapak dari abad 11 Masehi. Kedua, catatan dari kakek saya
dari abad 20 Masehi di Sukabumi," papar Ali Sastamidjaja yang lahir 27
Oktober 1935.
Menurut pria yang sempat belajar teknik di negeri Belanda itu,
kalender Sunda ternyata menggabungkan dua sistem penghitungan yaitu
lunar (bulan) dan solar (matahari) atau dual-system. 
**
KALAU dirunut lagi, penelitian kalender Sunda yang disebutnya sebagai
Kala Sunda itu dilakukannya sejak 1983. "Pada 1991, kalender Sunda
dengan sistem lunar (candra kala/Saka Sunda) dan solar (surya kala)
itu dipatenkan," katanya.
Dari hasil penelitiannya itu, ia meyakini bahwa kalender sistem Sunda
yang paling akurat dibandingkan sistem lainnya. "Sistem ini belum
pernah dikoreksi. Saya sudah melakukan studi komprehensif bahkan
memperbandingkannya dengan penanggalan sistem Julian, Gregorius, dan
Islam," tegas laki-laki yang juga pencipta kecapi 3 surupan dan
waditra 10 nada ini.
Ia menyatakan bahwa selama ini telah berlangsung subordinasi budaya
Sunda dalam penentuan tarikh peristiwa sejarah yang terkait dengan
manusia Sunda. 
Menurut penyusun naskah Sunda Kalangider (terdiri 9 jilid memuat lima
penanggalan Caka, Masehi, Caka Sunda, dan Caka Jawa) ini, tahun-tahun
peristiwa sejarah Sunda telah dipersepsi secara salah. "Tahun-tahun
yang termuat dalam prasasti maupun artefak itu selalu dipersepsi
sebagai tahun Saka India karena merunut pada pengaruh Hindu. Bila
dialihkan menjadi tahun Masehi tinggal ditambah 78 tahun saja (1
Saka:78 Masehi)," urainya.
Hal ini, lanjutnya, tak lepas dari pengaruh budaya Mataram Jawa yang
juga memasukkan sistem penanggalannya. "Sistem penanggalan Jawa
Mataram itu disebut kala pranata mangsa yang jauh berbeda dengan
sistem Sunda."
Kelahiran kalender sistem ini dilakukan oleh Sultan Agung Mataram pada
1633 Masehi. "Dari bukti tertulis, sistem ini tidak diawali dengan
tahun ke-1 tapi 1555. Kalau dihitung lagi, usianya tidak lebih dari
400 tahun," tuturnya.
Setelah hampir 500 tahun tak lagi diakrabi, sebuah yayasan Candra
Sangkala Panata Calagara yang menjadi penyokong Ali, akan menerbitkan
untuk pertama kalinya kalender Sunda. "Tahun baru 1941 Caka atau 1927
Saka jatuh pada 18 Januari 2005. Pada hari itu, kami akan akan
melakukan seminar di Pendopo Kabupaten Bandung Jalan Dalem Kaum, mulai
pukul 20.00 WIB," ungkap Roza R. Mintaredja, pimpinan yayasan.
Ia mengungkapkan mereka yang ingin tahu kenapa tahun baru menurut
sistem kalender 1941 Caka/1927 Saka jatuh pada 18 Januari 2005, bisa
hadir pada acara itu."
Dalam konteks kekinian, apa yang diharapkan dari penerbitan Kala Sunda
itu? Menurut Ali Sastramidjaja, setidaknya menjadi panggeuing Ki Sunda
untuk kembali bangkit dan tidak lagi menjadi subordinat pelaku budaya
lain. (Erwin Kustiman/"PR")***






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources 
often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today!
http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke