Punten teu disundakeun. Ieu aya artikel alus (sae) ti milist tatangga. From: "hadie nurwanto" <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Saat Islam Kembali ke Eropa
Saat Islam Kembali ke Eropa Inilah paradoks besar dalam realitas global: Tatkala umat Islam diberi label teroris, dan terus diburu, pada saat bersamaan populasi umat Islam di dunia Barat kian meningkat. Eropa, misalnya, kini menjadi pusat gravitasi atau ''surga'' bagi gerakan Islam. Di London, kegiatan umat Islam mendapat dukungan dari Wali Kota Ken Livingstone. Sang wali kota, antara lain, mengizinkan pawai cadar pada 17 Juli 2004 di ibu kota Inggris itu. London pun kini punya julukan baru: Londonstan (negara London). Dukungan terhadap gerakan Islam pun datang dari Pangeran Charles yang memberikan hadiah kepada Yayasan Leicester. Yayasan ini menyebarkan gagasan Sayyid Qutub yang telah memfatwakan jihad melawan tirani dunia dan Sayyid Maududi yang memfatwakan kewajiban kembali ke hukum syariah. ''Surga'' lainnya bagi gerakan Islam di Eropa adalah Swiss. Dengan tradisi lamanya dalam hal netralitas negara dan perannya sebagai pusat perbankan, negara ini enggan mengambil tindakan terhadap gerakan Islam dan tak menghentikan aliran dana dari perbankan yang menganut prinsip moral. Pada 1960-an, dengan perlindungan keluarga raja Saudi, murid Hasan al-Banna, Said Ramadan, mendirikan Islamic Center di Jenewa. Anak-anak Said Ramadan meneruskan perjuangan sang ayah. Hani Ramadan, anak Said Ramadan yang juga ketua Islamic Center Jenewa, pernah memfatwakan kepada kaum muda Islam Eropa untuk menolak masuk angkatan darat Prancis dalam perang di Afghanistan. Mereka dianjurkan pula untuk melancarkan protes kepada PBB atas pendudukan Afghanistan oleh AS dan sekutunya. Sementara itu, Tariq Ramadan, saudara Hani Ramadan, dalam rekaman kaset dan bukunya, yang diedarkan di toko buku dan perpustakaan Islam, melontarkan wacana berbeda tentang ajaran dan metode perjuangan Hassan al-Banna tetapi ia tidak mengkritiknya. Tariq yang mengklaim dirinya sebagai korban dari konspirasi Zionis dan Islamfobia, terang-terangan mendukung perjuangan Hamas sebagai gerakan perlawanan terhadap kezaliman Israel. Namun, paradoks global itu tetap hidup. Perkembangan Islam terus mendapat label miring. Dalam tulisannya, ''The War for Eurabia'' (Asian Wall Street Journal, 3 Februari, 2005), Caroline Fourest menyatakan perkembangan Islam di Eropa perlu diwaspadai. Penulis buku Frere Tariq (Grasset, 2000) ini berharap para pembuat keputusan di dunia Barat tak hanya mengarahkan perhatian kepada wilayah gerakan Islam di Timur Tengah, melainkan juga Eropa. Apalagi, menurut dia, ''Tokoh-tokoh di balik gerakan Islam Eropa sudah mengeluarkan fatwa yang bernada anjuran untuk menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuan.'' Salah satu tokoh tersebut adalah Tariq Ramadan, intelektual yang aktif menjadi pembicara dalam berbagai diskusi di Eropa dan AS. Ia juga dosen Universitas Notre Dame. Tokoh lainnya adalah Dr Yusuf Qardhawi, ketua Dewan Fatwa Eropa, intelektual terkemuka yang pikirannya secara luas dianut umat Islam di seluruh dunia. Di mata Fourest, dunia Barat merupakan medan tempur bagi ''kaum militan'' Islam. Eropa, katanya pula, adalah garis depan pertempuran sekaligus base camp untuk merekrut pasukan baru Islam untuk melancarkan balas dendam. Fourest memaparkan bahwa dalam melancarkan gerakan, kelompok Islam menggunakan dua pilihan. Pertama, pilihan jihad seperti ditempuh Ayman Al-Zawahiri. Kedua, pendekatan reformis seperti dilakukan Ikhwanul Muslimin. Keduanya berupaya mencapai tujuan yang sama, ''mengibarkan bendera Islam di manapun umat Islam berada.'' Kelompok pertama, katanya, membidik target simbol-simbol Barat melalui kekerasan, sedangkan kelompok kedua melawan Westernisasi lewat masjid, radio, dan publikasi. Prioritas pertama, mereka memimpin dari Eropa. Fourest mencurigai Syekh Yusuf Qardhawi, intelektual Muslim yang terkenal begitu moderat, sebagai ''panglima'' dalam gerakan Islam di Eropa. Ini gara-gara pendapat ketua Dewan Fatwa Eropa tersebut, ''Insya Allah, Islam akan kembali ke Eropa, dan orang-orang Eropa akan memeluk Islam. Dari sana, Islam kemudian akan menjalar ke seluruh dunia.'' Pendapat ini dipahami sebagai rencana untuk menaklukkan kembali Eropa, sedangkan penaklukan itu pasti akan menciptakan kekerasan. Fourest memandang pendapat cendekiawan terkemuka dari Universitas Al-Azhar itu telah terasuki paham Ikhwanul Muslimin, yang gagal merebut kekuasaan di Mesir, dan kalah dalam perang saudara di Algeria. Dan, menurut dia, Eropa kini menjadi target ronde ketiga, prioritas teratas. Yusuf Qardhawi, ulama yang fatwa-fatwanya sangat berpengaruh, dituduh Fourest sebagai tokoh berbahaya. ''Pemimpin Muslim Eropa itu juga memfatwakan bahwa setiap kontak dengan Yahudi harus dengan senjata,'' katanya. Di akhir tulisannya, Fourest mengungkapkan kekecewaan, karena, ''Nilai-nilai yang dianut Barat ternyata dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan dari kelompok kepentingan tertentu.'' Ia kemudian melontarkan provokasi retoris, ''Dapatkah gerakan gerilya bawah tanah yang menentang kebebasan publik dan pribadi ini ditoleransi selamanya atas nama kebebasan yang sama?'' ( Republikaonline, Jumat, 11 Februari 2005 ) ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today! http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/0EHolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

