Nyanggakeun, warta utama KOMPAS poe ieu...
Dina kolom sejenna, wapres JK ngabejakeun yen masalah DANA KOMPENSASI
dina tahap NGADATA keneh!

isk

-----------------------------
Anak Keluarga Miskin Terancam Putus Sekolah 

Garut, Kompas - Kenaikan harga BBM yang disusul melonjaknya harga
kebutuhan hidup dan biaya transportasi semakin dirasakan oleh keluarga
miskin. Keberlanjutan sekolah anak-anak dari keluarga tidak mampu itu
terancam karena orangtua mereka tidak sanggup menyediakan biaya
transportasi dan membayar kewajiban lainnya, sementara dana kompensasi
kenaikan harga BBM tidak kunjung turun.

Hari Minggu (20/3) kemarin dari Garut dilaporkan sebanyak 14 siswa SMP
Negeri Cibatu I, Kabupaten Garut, Jawa Barat, terancam putus sekolah
karena tidak mampu membayar kebutuhan sekolah dan biaya transportasi.
Sementara itu dari pinggiran Danau Toba dilaporkan sejumlah besar
orangtua dan anak-anak sekolah di Kecamatan Pangururan, Kabupaten
Samosir, Sumatera Utara, resah karena para pemilik perahu motor
berencana menaikkan tarif angkutan.

Keadaan serupa dialami anak-anak sekolah di wilayah pinggiran dan
pedalaman yang mau tidak mau harus menggunakan angkutan umum untuk
sampai ke sekolah mereka.

Deny Suwarja, guru Biologi SMP Negeri Cibatu I, Sabtu, mengemukakan,
14 murid di sekolah itu terancam putus sekolah akibat orangtua mereka
tidak mampu menyediakan biaya transportasi dan biaya lainnya yang
diperlukan anak mereka. "Angka itu kemungkinan bisa bertambah setelah
ada pendataan baru," katanya.

Menurut Deny, para siswa yang terancam putus sekolah tersebut berasal
dari keluarga tidak mampu. Mereka bisa terus sekolah karena sejak
Oktober 2004 mendapat bantuan biaya transportasi dan keperluan belajar
dari donatur. Namun, uang dari donatur itu sudah habis terpakai sejak
Januari 2005.

Dua di antara siswa yang terancam putus sekolah itu sempat mengirimkan
surat pernyataan pengunduran diri kepada pihak sekolah. Namun, dengan
bantuan guru dan siswa lain mereka kembali bersekolah. Mereka
sebenarnya termasuk anak-anak yang mendapatkan beasiswa Jaring
Pengaman Sosial (JPS).

Ingin tetap sekolah

Euis Nurhayati (13) menangis menjerit-jerit saat neneknya, Ny
Murbaisih (64), meminta siswi kelas I SMP Negeri Cibatu I itu berhenti
sekolah. Murbaisih sendiri diam-diam sering menangis jika mengingat
nasib cucu yang tinggal dengannya sejak kecil itu. Ayah Euis meninggal
dua tahun lalu, sedangkan ibunya, Elis Hartati, bekerja sebagai tenaga
kerja wanita di Riyadh, Arab Saudi, sejak November 2004.

Menurut Murbaisih, saat masih bekerja di Jakarta, ibu Euis masih
mengirimi uang setiap bulan. "Sekarang jangankan uang, kabar beritanya
pun belum pernah kami terima," tutur Murbaisih yang belakangan juga
sering sakit-sakitan.

Seminggu setelah berhenti sekolah, sejumlah guru SMP Negeri Cibatu I
datang ke rumah Murbaisih dan meminta Euis kembali sekolah. Semua
ongkos dan kewajiban lainnya akan diusahakan oleh para guru.

Saat bertemu dengan Kompas, Euis tak bisa banyak bicara, kecuali air
matanya terus berlinang. Dia justru mengungkapkan isi hatinya melalui
tulisan tangan. "Saya tidak ingin putus sekolah. Saya ingin jadi
dokter untuk membantu orang- orang miskin," katanya dalam tulisan
tersebut.

Euis setiap hari harus berjalan kaki sekitar dua kilometer dari rumah
neneknya di Desa Sukaluyu, Kecamatan Sukawangi, ke SMP Negeri Cibatu
I. Jangankan uang untuk angkutan umum, biaya yang harus dikeluarkan di
sekolah, seperti iuran pramuka dan fotokopi soal ulangan senilai Rp
300, pun dia tak punya. Meskipun sudah mendapatkan bantuan biaya
transportasi ke sekolah dari gurunya, Euis tetap datang berjalan kaki.
Uang itu, katanya, akan digunakan jika sewaktu- waktu harus
memfotokopi soal ulangan.

Menurut gadis ini, jangankan untuk biaya sekolah, untuk makan
sehari-hari dia dan neneknya hanya bisa menyantap nasi dengan
semangkuk kecil sayur kacang dan kerupuk. "Sudah bertahun-tahun saya
ingin mencicipi biskuit seharga Rp 500 dan minum susu rasa stroberi,"
tulis Euis ketika ditanya apa yang sudah lama diinginkannya tetapi
belum tercapai.

"Saya merasa berdosa sekali saat meminta anak saya berhenti sekolah.
Saya terpaksa melakukannya karena tidak ada uang sedikit pun untuk
mengongkosinya sekolah. Setelah harga BBM naik, jangankan untuk
sekolah, untuk makan sehari-hari pun tidak ada," tutur Ny Sunengsih
(35), orangtua Ade Sutrisna (14), siswa kelas II SMP Negeri Cibatu I
yang sempat melayangkan surat pengunduran diri kepada pihak sekolah.

Ade Sutrisna dan orangtuanya tinggal di Desa Mekarsari 02/07,
Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, sekitar enam kilometer dari
sekolahnya.

Setiap hari Ade Sutrisna membutuhkan uang Rp 1.500 untuk ongkos
angkutan dan Rp 300 sebagai persiapan jika ada ulangan mendadak, sebab
hampir setiap ulangan siswa diwajibkan membayar ongkos fotokopi soal
Rp 300 hingga Rp 500. Ayah tiri Ade yang bekerja sebagai pedagang
asongan di kereta api di Jakarta sudah dua bulan tidak pulang dan
tidak mengirimkan uang. Sunengsih sendiri hanya bekerja sebagai buruh
tani.

Meskipun hobi berenang, Ade tak sekali pun pernah berenang di kolam
renang di Garut. "Ongkosnya Rp 7.000, jadi saya tidak pernah ikut dan
tidak dapat nilai," katanya. Di luar jam sekolah Ade lebih suka
menjual tenaga kepada tetangga yang butuh tenaga permanen, perontok
padi, atau mencari kayu bakar.

Dua minggu terakhir anak sulung dari tiga bersaudara ini juga sudah
kembali ke sekolah berkat bantuan teman-teman sekelasnya yang
berpatungan masing-masing Rp 100 setiap hari. Setiap usai jam
pelajaran, bendahara kelas memberinya Rp 1.500 untuk ongkos dari rumah
ke sekolah. "Tapi kadang-kadang saya malu juga terus merepotkan
teman-teman," kata Ade yang bercita-cita jadi insinyur elektro ini.

Nasib serupa dialami Irman Maulana (16), siswa kelas II SMP Negeri
Cibatu I yang tinggal di Kampung Kancil, Kecamatan Cibatu. Setiap hari
dia harus jalan kaki menempuh jarak enam kilometer ke sekolah. "Saya
sering pinjam uang kepada teman untuk memfotokopi soal ulangan, tetapi
sering juga tidak dikasih," tuturnya memelas.

Kendati sangat berat dan susah, Irman bertekad untuk tetap sekolah.
"Kalau tidak sekolah, saya takut nanti tidak bisa jadi seniman yang
baik," ujarnya.

Ancaman putus sekolah juga dihadapi Asep (10), salah seorang anak yang
selamat dari musibah longsor di Kampung Ampera, Desa Jayagiri,
Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung. Kedua orangtua Asep-pasangan
Bagja-Ny Rusmi-tewas dalam musibah pada 3 Maret 2005.

"Ayeuna rayi abdi ngan sakola saminggu dua kali. Ngiring sakola Kejar
Paket A (Sekarang adik saya hanya bisa sekolah seminggu dua kali.
Mengikuti sekolah Kejar Paket A)," ujar Ny Rusmina (20), kakak kandung
Asep. Saat ditinggal orangtuanya, Asep baru duduk di kelas II SD. Lena
(14), kakak Asep yang kini duduk di kelas IV SD, bernasib lebih baik
karena sejak musibah itu dia dibawa neneknya ke Subang, Jawa Barat.

Dana kompensasi BBM

Kenaikan harga BBM juga meresahkan anak-anak sekolah yang tinggal di
pinggiran Danau Toba, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, yang
selama ini bergantung pada angkutan perahu motor. Para pemilik perahu
motor mengaku tak bisa lagi mencukupi biaya operasional jika harus
mempertahankan tarif lama.

"Kami dengar pemilik boat (perahu motor-Red) akan menaikkan ongkos
boat. Kalau angkutan naik, berat rasanya karena untuk biaya sekolah
saja orangtua sudah repot," kata Heltimen Malau, siswa kelas I SMA
Santo Mikail Pangururan.

Selama ini anak-anak pinggiran Danau Toba, seperti dari Desa Tamba,
Sihotang, Pintu Batu, dan Boho, harus mengarungi danau dengan naik
perahu motor jika pergi ke sekolah.

"Jika menggunakan boat sekali jalan kami cukup membayar Rp 500,
sedangkan jika menggunakan jalur darat biayanya Rp 1.000. Jika
berlangganan, ongkos boat lebih murah lagi. Selama ini kami sangat
terbantu dengan boat," kata Heltimen.

"Kami terpaksa akan menaikkan ongkos. Mungkin jadi Rp 750 atau Rp
1.000 sekali jalan," kata Krisman Simbolon (53), pemilik perahu motor.

Rencana kenaikan tarif itu tak pelak meresahkan para orangtua yang
anaknya pergi ke sekolah dengan menggunakan angkutan perahu motor.
"Semua harga bahan pokok naik, seperti beras, gula, dan minyak goreng,
padahal pendapatan kami terus turun karena pertanian bawang gagal.
Harga benang untuk kain tenun juga naik, sementara harga jual tenun
ulos turun," tutur Lesti Sinurat, warga Desa Pardugul, Kecamatan
Pangururan.

Kepala SMP Negeri Cibatu I Bobon Rusyana, Ny Murbaisih di Desa
Sukaluyu, dan para orangtua siswa di pinggiran Danau Toba itu berharap
pemerintah bisa segera meringankan beban mereka agar anak-anak
tersebut tetap bisa sekolah.

Bobon berharap dana kompensasi bahan bakar minyak segera turun dan
tidak berdasarkan kuota yang ditetapkan Dinas Pendidikan, tetapi
diberikan berdasarkan jumlah anak tidak mampu yang terdapat di setiap
sekolah. (y09/GUN/AIK)


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke