Strategi Kebudayaan untuk Ki Sunda
Oleh STEVANUS SUBAGIJO

SEMOGA saja Ki Sunda tidak menelan mentah-mentah artikel Solatun, Mempertanyakan Jati Diri Ki Sunda ("PR", 5/6). Bukan karena ukuran kepemimpinan Sunda yang diajukan Solatun kurang, sebaliknya bahkan sangat ideal. Bayangkan enam R (cageur, bageur, bener, jujur, pinter, singer) dan jati diri kepemimpinan Rasulullah saw. (siddiq, amanah, tabligh, fathanah). Tidak ada yang menyangsikan bahwa karakteristik ini semua merupakan keniscayaan utama bagi kepemimpinan Sunda.

Namun pertanyaannya, kenapa bukan Ki Sunda yang dilengkapi dengan ideal kepemimpinan itu semua, mengapa harus (masih bisa) orang lain yang non-Sunda. Solatun seperti hendak mengatakan agar Ki Sunda nrimo saja, sekalipun pemimpin etnik Sunda tidak muncul, asal ukuran ideal kepemimpinan di atas bisa dijalankan, oleh non-Sunda sekalipun, pastilah baik bagi etnik Sunda.

Solatun mungkin kesal dengan acara lempar batu di ITB atau Pascasarjana Unpad yang cuma seorang saja yang teriak "Aduh sirah aing nyeri euy". Gemas melihat pola asuh "anak emak" yang menihilkan jiwa merantau Ki Sunda ke pengeboran, pelayaran, eksploitasi hutan. Masak dari seratus orang yang berbisnis di Bandung Raya cuma delapan yang Sunda?

Identik dengan Solatun, sobat Y. Herman Ibrahim dalam tulisannya, Identitas Sunda dalam Pusaran Kampanye Capres ("PR", 4/6) seperti kehilangan fakta-fakta potensial kepemimpinan Sunda. Sehingga muncul otosugesti kepada diri Ki Sunda bahwa masyarakat Sunda pada umumnya tidak memiliki kerinduan apa pun terhadap pemimpin nasional dari kalangan mereka, justru karena mereka tidak pernah memilikinya.

Ada lingkaran self helplessness (ketidakberdayaan yang dipelajari) dan saling lempar-sebab ihwal tiadanya kepemimpinan Sunda. Bagaimana pemimpin Sunda bisa lahir lha wong tidak ada contoh pemimpin Sunda. Sebaliknya bagaimana pemimpin Sunda bisa dijadikan contoh lha wong tidak ada yang melahirkan. Pertanyaannya, mengapa untuk melahirkan kepemimpinan Sunda, harus ada contoh Ki Sunda yang sudah memimpin terlebih dahulu?

Jika budaya Sunda "menghukum" urang Sunda sehingga tidak ada yang menjadi pemimpin, bukankah setiap budaya, termasuk Sunda mempunyai dinamikanya sendiri lewat akulturasi budaya dengan non-Sunda. Dan memungkinkan untuk transformasi budaya yang lebih bisa menjawab persoalan kepemimpinan lokal di Jawa Barat khususnya dan Indonesia umumnya dengan lahirnya Ki Sunda, pemimpin dengan 6 R dan karakteristik kepemimpinan Rasulullah saw.?

Y. Herman Ibrahim sendiri mengatakan bahwa di Bandung sebagai pusat Sunda, nilai-nilai kesundaan mulai pudar. Jika yang pudar kesundaan yang positif tentu sangat disayangkan. Tetapi jika yang pudar adalah nilai-nilai kesundaan yang menjadi penyebab mandulnya kepemimpinan Sunda, bisa jadi dinamika budaya Sunda lewat akulturasi budaya non-Sunda membuka peluang lahirnya pemimpin Sunda. Nilai-nilai budaya Barat misalnya yang lebih menghargai prestasi individu, melugaskan Ki Sunda untuk tampil dengan tanpa ada kekangan kultural yang selama ini disinyalir mengebiri kepemimpinan Sunda.

Di akhir tulisannya Solatun seperti ingin lari dari pertanyaan yang mengejar terus yakni mengapa bukan Ki Sunda yang memimpin. Solatun menghibur diri bahwa yang penting bukan soal pemimpin etnik Sunda atau bukan. Yang penting mendefinisikan ulang, siapakah diri kita sejatinya (sebagai bagian dari masyarakat Sunda), apa misinya, hendak ke mana manusia Sunda, bagaimana cara membawanya dst. Padahal semuanya ini tidak menjadi excuse penyelamat.

Siapakah diri kita yang sejatinya, akan dikejar pertanyaan, bahwa kesejatian Ki Sunda mestinya tidak menafikan faktor kepemimpinan yang sifatnya netral bagi semua etnik. Apa misi hidup kita sebagai bagian dari entitas budaya Sunda, sama juga, mengapa tidak ada misi budaya yang melahirkan pemimpin Sunda. Hendak dibawa ke mana manusia Sunda, mestinya pertanyaan ini mudah dijawab jika ada pemimpin Sunda yang mengerti Sunda. Bagaimana cara membawa perjalanan budaya masyarakat Sunda, mestinya juga berpikir, termasuk bagaimana membidani lahirnya figur pemimpin Sunda.

**

SEHARUSNYA kita tidak lari dari polemik awal Atip Tartiana dan Muradi, mengapa pemimpin etnik Sunda sedikit atau tidak ada? Baik dengan otosugesti bahwa kemungkinan itu memang produk budaya atau mencari generalisasi bahwa yang penting karakter pemimpin bukan keetnikkannya, yang penting maslahat bagi masyarakat Sunda, meski ia bukan Sunda pituin.

Tidak ada sebuah suku pun di dunia ini yang ditakdirkan mandul pemimpin. Kepemimpinan bukan masalah takdir etnik, pemimpin bisa dilahirkan dari semua etnik, termasuk Sunda. Mengapa Sunda mengalami krisis kepemimpinan, mustinya kita tidak berhenti hanya memaklumi sejarah yang mungkin menyebabkannya. Kita harus berani membuat strategi kebudayaan yang subur bagi kelahiran Ki Sunda pemimpin itu.

Merekayasa budaya dan membuat peluang cikal bakal kepemimpinan Sunda. Identik dengannya ialah mengapa tidak ada atau jarang orang Tionghoa menjadi pegawai negeri atau tentara, karena kultur diskriminatif kita yang mengondisikan seperti itu. Sehingga si Acong atau Mei Lan lebih "jago" di bidang ekonomi karena cuma lapangan itulah yang terbuka buat mereka secara luas.

Namun sebelum kita melebar pada topik yang lebih luas, ada baiknya kita tetap kembali pada pertanyaan awal polemik ini. Mengapa tidak ada atau sedikit etnik Sunda yang memimpin. Sebagai suku terbesar kedua di Indonesia setelah Jawa dan sebagai suku terbesar di Jawa Barat, hukum mayoritas-minoritas mestinya berlaku. Dalam arti bahwa probabilitas calon pemimpin Sunda, lempar batu di ITB dan Pascasarjana Unpad atau pedagang di Bandung Raya, ya pasti orang Sunda, yang lebih banyak terkena batu atau tampil. Lebih banyak calon pemimpin Sunda yang bakal terpilih, karena kuantitas calonnya lebih banyak Sundanya daripada suku lain.

Sesuatu yang sifatnya mayoritas yang tidak memperoleh kewajaran dalam sifatnya yang dominan pasti mempunyai sebab dan menciptakan kontradiksi dalam relasi mayoritas-minoritas. Ia tidak akan kuat, meski ia mengakomodasi kepentingan mayoritas. Kennedy yang Katolik pernah memimpin Amerika Serikat yang menurut kebiasaan presidennya mutlak Protestan. Ia tak bertahan lama. Jadi pemimpin etnik Sunda di Jawa Barat sudah harga mati, final, karena mayoritas Sunda. Di tingkat nasional pun harus ada persentase pemimpin Sunda berbanding pemimpin suku lain. Soal mengapa tidak ada pemimpin Sunda, ini soal belenggu kultural yang harus dibuka dengan rekayasa budaya sebagai sebuah strategi. Kesadaran ini harus menjadi milik generasi Sunda dan setiap pemimpin Sunda untuk membuka ladang kepemimpinan baru untuk orang Sunda.

Tentu bahwa kemayoritasan Sunda di Jawa Barat dan nasional tidak diarahkan untuk menjadi dominasi yang negatif. Alih-alih sebuah cauvinisme etnik yang cenderung diskriminatif ala ras Aria Hitler. Tetapi sekadar mengakomodasi realitas hukum mayoritas-minoritas yang menjadi konstituen budaya di mana kesundaan itu hidup. Jika etnik Sunda bukan problem dalam kepemimpinan di Jawa Barat atau nasional -- karena konsekuensi kemayoritasan itu -- apakah hal yang sama bisa berlaku jika mayoritas Jawa-Muslim di Indonesia bisa menerima presiden minoritas yang non-Jawa-Kristen misalnya. Demokrasi memungkinkan hal itu, tetapi ini melanggar realitas relasi mayoritas-minoritas tadi. Itu demokrasi yang kompulsif atau sifat egaliter bahwa kepemimpinan bagi suku mayoritas seperti Sunda tidak harus dari etnik Sunda, justru menyimpan krisis dan konflik laten.

**

SEORANG pemimpin bagaimana pun ideal bertumpu pada akar budayanya, akar massanya. Mungkin saja pemimpin itu bukan Sunda tapi ia bisa berakar pada kultur dan massa Sunda. Namun bahwa hukum mayoritas kesundaan, di mana pemimpin Sunda dan mayoritas masyarakat Sunda (jadi klop) tetap harus terpenuhi. Jika tidak dipenuhi akan menjadi potensi disharmoni, justru karena yang mayoritas tidak terakomodasi secara maksimal.

Inilah yang seharusnya menjadi motif bahwa pemimpin Jawa Barat harus Sunda, lebih banyak orang Sunda berkiprah di Jawa Barat dan Indonesia daripada non-Sunda yang kuantitasnya lebih kecil. Sekali lagi ini bukan menciptakan dominasi mayoritas. Karena hal sebaliknya yakni tirani minoritas juga tidak baik. Minoritas yang memimpin sesuatu yang sifatnya mayoritas, akan cenderung mengutamakan in group feeling-nya sebagai salah satu karakter asalnya yang manipulatif.

Sebuah pemancing lahirnya strategi kebudayaan untuk Ki Sunda ialah agar seluruh entitas budaya Sunda melakukan katakanlah "ijtihad budaya", dalam arti berhenti untuk hanya melihat potensi bawaan dari orang, alam dan kulturalnya sebagai satu-satunya keunggulan. Mengapa? Situasinya sekarang bukan lagi komparatif saling membandingkan antarorang, alam dan kultur yang satu dengan yang lain. Ki Sunda harus kompetitif, bersaing untuk lahirnya calon pemimpin untuk memimpin tanah Sunda yang bersaing dengan tanah provinsi lain.

Untuk itulah dinamika budaya Sunda harus kompetitif bersaing dengan budaya lain untuk merahimi lahirnya jabang bayi pemimpin Sunda. Mi'ing Bagito dalam sebuah seminar pernah berseloroh, konon karena begitu kuatnya naluri seni orang Bali, maka ranting patah atau pohon tumbang pun bisa dimanfaatkan kayunya menjadi benda ukiran. Saking kuatnya naluri seninya itu, di Bali tidak boleh mati lampu, karena bisa-bisa dalam kegelapan itu, jempol mertua yang diukir.

Apa yang tersirat di situ ialah bahwa bakat alam atau bakat terkondisikan (seperti contoh orang Tionghoa) sebuah etnik jangan dipandang sebagai satu-satunya trade mark. Semua etnik terbuka untuk menjelejahi dan menggali potensi baru. Akan banyak Ki Sunda yang jadi lawyer seperti rekannya yang Batak, pemilik ruko seperti Tionghoa, pemimpin negeri seperti Jawa, berlayar seperti Manado, pedagang seperti orang Padang.

Bersama "pemimpin budaya" Sunda dari lingkungan keluarga sampai masyarakat umum, mari kita pikirkan strategi apa untuk mendongkrak lahirnya pemimpin etnik Sunda di Jawa Barat khususnya dan Indonesia umumnya. Tidak usah takut dituduh SARA. Bahkan di Amerika Serikat yang demokratis saja, komposisi dan akseptabilitas kepemimpinan etnik mempunyai pengaruh yang signifikan. Apakah keturunan Yahudi, Inggris, kulit hitam atau keturunan Asia, ada porsinya. Mayoritas apa akan menentukan apa, sah-sah saja. Kalau Ki Sunda menyerahkan kepemimpinan masyarakat Sunda yang mayoritas, kita memasuki irasionalitas budaya Sunda yang akut. Duh.***

Penulis peneliti pada "Center for National Urgency Studies", Jakarta, tinggal di Cileungsi, Bogor.


Do you Yahoo!?
Yahoo! Small Business - Try our new resources site!

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke