Eh Basa dinten kamari-kamarina kitu?,
abdi kungsi ningali berita di Televisi  nyeta nu eusina : 
Yen pa Walikota Pemda bandung ngitruksikuen ka jajaran 
karyawan pemdana kedah ngagunakuen basa Sunda di 
lingkungan kantor sareng dinten-dinten anu tos 
ditangtukeun kedah ngange anggean Koko khas Sunda !

Hebatlah pa Walikota abdi mah Panujuuuuu pisan !,
Meureun langkung sae mah sadaya pemda sa Jawa Barat teh 
ngagunakuen basa sunda, sareng anggean Koko di lingkungan 
kantor teh !!!!!



On Tue, 12 Apr 2005 18:16:24 -0700 (PDT)
  mh <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Baraya,
> Ieu aya artikel perkara Ki Sunda, lumayan keur sasarap
> isuk-isuk. Dititenan teh, asa geus sering US ngbahas
> perkara kaayaan dirina. Boh perkara basa oge budaya.
> Sababaraha waktu ka tukang, asana Kang Ayip Rosidi
> ngabahas perkara nu ampir sarua. Ngan nu tacan
> katinggal teh, kumaha komentar US nu nyepeng
> kalungguhan di pamarentahan, ngeunaan panyawang
> maranehna kana perkara ieu.
> 
> Salam,
> MH
> 
> =========
> PR. BERITA UTAMA. Rabu, 13 April 2005
> Ki Sunda di Ambang Kepunahan
> 
> "BAGAIKAN ayam mati di lumbung padi". Pepatah itu
> sangat cocok disematkan kepada Ki Sunda, yang dengan
> segala identitas kesundaannya saat ini justru seolah
> tak punya tempat di buminya sendiri. Tidak percaya?
> Lihat saja Kota Bandung. Kota yang dikenal sebagai
> pusat pemerintahan dan sentra budaya Sunda, justru tak
> punya identitas kesundaan yang bisa diperlihatkan ke
> publik. 
> 
> "Boleh Anda lihat sendiri, saat kita memasuki Kota
> Bandung, apakah disambut dengan tulisan berbahasa
> Sunda atau yang ada hubungannya dengan budaya
> kesundaan? Padahal kita masuk ke daerah Sunda.
> Identitas (kesundaan) itu tidak ada. Justru yang
> ditonjolkan outlet atau jajanan," tegas Dedi "Miing
> Bagito" Gumilar saat memaparkan pandangannya tentang
> keberadaan Ki Sunda dewasa ini dalam dialog yang
> berlangsung di Redaksi Koran Sunda Galura, Jln.
> Belakang Factory Bandung, Selasa (12/4). 
> 
> Dialog menghadirkan Ketua PWI Jabar, H. Us Tiarsa,
> Pamingpin Redaksi Koran Sunda Galura, Eddy D.
> Iskandar, Ketua STSI Bandung, Arthur S. Nalan, seniman
> dan budayawan Nano S., Taufik Faturohman, Mas Nanu
> Muda, S. Sen, Nana Munajat, S. Sen., Kusye D' Bodor,
> dan undangan lainnya. 
> 
> Menurut Miing, generasi muda Sunda saat ini lebih
> cenderung mengadopsi perilaku luar. Tidak hanya dalam
> hal bahasa sebagai alat komunikasi, tetapi juga dalam
> hal berkesenian maupun tatanan busana yang
> memperlihatkan pusar dan celana dalam. Kondisi
> tersebut, katanya, tidak hanya terjadi di masyarakat
> perkotaan, tetapi juga sudah diadopsi masyarakat
> pedesaan yang notabene sangat menjunjung tinggi nuansa
> kedaerahan. "Coba saja datang ke Garut, Tasikmalaya,
> atau Sumedang, pasti anak-anak mudanya lebih senang
> menggunakan bahasa Indonesia atau berpakaian seperti
> orang di perkotaan," ujarnya.
> 
> Kondisi seperti itu, lanjut Miing, dikhawatirkan akan
> mengarah pada kepunahan Ki Sunda sebagai warisan
> leluhur. Apalagi, pada saat yang sama, untuk
> melestarikan Ki Sunda, baik bahasa maupun seni budaya,
> baru sebatas wacana dengan teori yang dihasilkan dalam
> diskusi, seminar, maupun dialog. Sementara, begitu
> kembali ke lapangan, apa yang terungkap tidak
> dilaksanakan sebagaimana yang diharapkan.
> 
> Diakui Miing, identitas Ki Sunda memang masih ada dan
> diperlihatkan di sejumlah daerah. Namun, itu pun sudah
> dalam kondisi terancam kepunahan. Identitas kesundaan
> itu masih bisa dijumlah di sejumlah daerah di Tatar
> Sunda, misalnya dalam upacara perkawinan. "Tidak saja
> bahasa, tata cara dan kesenian yang ditampilkan
> semuanya serba nyunda," ujarnya.
> 
> Miing berpendapat, untuk menghidupkan kembali Ki Sunda
> sehingga bisa terhindar dari kepunahan, tidak hanya
> dibutuhkan dana, tetapi juga upaya serius ke depannya.
> "Hal ini saya rasakan saat berupaya menghidupkan seni
> budaya di Jakarta melalui Gedung Miss Tjitjih, selain
> sulit mencari orang Sunda, juga sulit untuk mencari
> dana penyelenggaraan," ujarnya.
> 
> Kendala dana
> 
> Hal senada dikatakan seniman, budayawan, dan praktisi
> seni Sunda, Nano S., bahwa masalah keuangan selalu
> dijadikan kendala. Tetapi, menurutnya, hal tersebut
> bila terus menjadi kendala justru akan menghambat
> kreativitas, yang pada akhirnya mematikan profesi
> seniman itu sendiri.
> 
> Untuk itu, menurut Nano, ke depan meski tanpa bantuan
> dari pihak pemerintah atau pihak mana pun, perlu
> dilakukan upaya-upaya yang nyata. "Upaya tersebut di
> antaranya memberikan kesempatan maupun motivasi kepada
> generasi muda terus berkreasi dengan ada maupun tidak
> ada biaya. Bila hanya keresahan dan ketakutan yang
> diungkapkan, justru dikhawatirkan akan mematikan
> semangat berkreasi," tegasnya.
> 
> Demikian juga dengan Athur S. Nalan, Ketua Sekolah
> Tinggi Seni Indonesia, untuk mempertahankan keberadaan
> Ki Sunda perlu komitmen bersama tidak saja dari pelaku
> seni, tetapi juga pemerintah maupun warga Sunda.
> "Sebagai wujud kepedulian sudah dibentuk perda. Untuk
> itu, kita perlu ada komitmen dalam pelaksanaannya dan
> hal ini harus didukung oleh warga Sunda. Tanpa itu,
> tetap saja tidak akan terealisasi alias loba catur teu
> ngabukur," ujarnya.
> 
> Taufik Faturohman sependapat dengan Miing. "Bagaimana
> tidak memprihatinkan, di sejumlah daerah seperti
> Banten, Tangerang, dan Depok, guru bahasa Sunda sudah
> tidak lagi dibutuhkan," ujarnya.
> 
> Hal ini menunjukkan kurangnya keseriusan pihak
> pemerintah terhadap keberadaan Ki Sunda. Bahkan
> program dengan anggaran yang cukup besar justru
> dijadikan projek yang dibagi-bagi di kalangan
> pemerintahan sendiri. 
> 
> "Seperti pengadaan buku yang akan dijadikan parameter,
> justru dibuat oleh lingkungan pemerintahan. Hasilnya
> banyak yang salah seperti ungkapan katempuhan buntut
> maung diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan
> 'ketiban ekor macan' atau teu mais teu meuleum dengan
> terjemahan 'tidak mepes tidak membakar," ujarnya yang
> disambut gelak tawa hadirin.
> 
> Parahnya, kata Taufik, dari 29 masalah di Kota
> Bandung, seni budaya maupun bahasa Sunda tidak
> dicantumkan (Retno HY/"PR")***
> 
> 
> =====
> Situs: http://free.angeltowns.com/studio579/
> [Pupuh17, Wawacan, Roesdi Misnem, Al-Quran, Koropak]
> 
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection 
>around 
> http://mail.yahoo.com 
> 
> 
> ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor 
> 
> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
> 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 

========================================================================================
Akses Internet TELKOMNet-Instan beri Diskon s.d. 50 % khusus untuk wilayah Jawa 
Timur.
Informasi selengkapnya di www.telkomnetinstan.com atau hub 0800-1-INSTAN 
(467826)
========================================================================================
 





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke