haturan ka sadayana...
ieu aya bahan pikeun diskusi nu datangna si eyang "kibroto", ti milis tatanggi.
sok atuh upami aya waktos mah, urang pedar... hapunten teu dialihbasakeun.
================================================================================

Ketemu Komunis
 
Saya hampir terpental dari kursi sangking kagetnya ketika ketemu seorang 
komunis. Ia bilang bahwa pemilik 
modal ndak berhak atas laba. Yang berhak hanya buruh karena ia yang langsung 
memberi nilai tambah pada bahan. 
Ia beri contoh, pemodal beriken uang 10juta pada tukang kayu untuk bikin kusen. 
Sesudah dijual ternyata laba 2 
juta. Itu buat situkang kayu, wong pemodal mrongos thok. Kok justru yang dapet 
laba yang mrongos? 
 
Pernyataan itu dengan mudah saya patahken dengan mengandaiken jika rugi. Kenapa 
pemodal yang menanggung rugi? 
Enak bener yang mengerjaken, kalau untung diemplok sendiri kalau rugi orang 
lain yang menanggung ... 
hihihihahahaha. Ketika saya baca ulasan tentang komunisme, baru saya ngeh 
kenapa ada pendapat nyentrik itu. 
Dalam manifesto Komunis Marx merumusken bahwa harga = upah+bahan. Ini dia biang 
keroknya. Itu eror. Yang bener 
adalah harga = upah + bahan + resiko. Jika resiko ndak terjadi maka resiko 
berubah bentuk menjadi laba. Dus, 
laba adalah imbalan atas resiko terhadap modal. Sementara upah adalah imbalan 
atas jasa yang diberiken. 
 
Akibat konsep eror tadi, dinegara Komunis bisnis individu diharamken. Orang2 
kaya dibantai, hartanya disita. 
Entrepreneur2 dimatiken. Akibatnya seluruh warga negara menjadi PNS semua. 
Kesenjangan menipis, yang 
pangkatnya tinggi dengan yang paling rendah selisihnya ndak seberapa. Kerja 
mati2an dan males2an gajinya sama. 
Bisa dipastiken, negara yang demikian akan bangkrut. 
 
Jika komunisme definisi paling sederhana adalah individu ndak bole bisnis maka 
kapitalisme sebenernya 
sebaliknya, individu bole bisnis. Sementara sosialisme itu ditengah2. Negara 
menguasai beberapa bisnis (PLN, 
Petamina, Bulog, dll) dan diluar itu individu bole bisnis. Jadi RI ini menganut 
sistim banci. Komunis bukan, 
kapitalis jugak bukan. Tetapi doyong ke negara kapitalistik atau ekonomi 
'pasar'. Dalam kapitalisme selalu ada 
kesenjangan kaya-miskin. Seperti Gates dibanding dengan sopir taxi. CEO Nikke 
vs gaji buruh sepatu. 
 
Seperti halnya buruh, das Kapital juga juga ada upahnya, UMR das Kapital kira2 
= tingkat bunga deposito. 
Imbalan pemilik das Kapital bukanlah bunga melainken upah atas resiko yang 
dipikul. Pendapat saya bahwa RI 
harus menganut kapitalisme, atau dalam Bahasa yang lebih luas 'ekonomi pasar' 
banyak ditentang. Tetapi mereka 
hanya bisa menyampaiken sisi2 gelap dan borok2 kapitalisme semisal pemerasan 
manusia atas manusi, ngobok-obok 
SDA, mencemari, dll. tetapi mereka ndak mampu menghadirken alternatip. Kalau 
ndak mau kapitalisme mo pakai 
apa? Komunis? Lha wong bangkrut kok dipilih? Menunggu Mesias, Imam Mahdi, atawa 
Satriyo Pining?? Sistem baru 
yang belum pernah diuji coba? Mrongos? 
 
Basis kapitalisme adalah (1) kompetensi, (2) kompetisi, dan (3) hubungan saling 
menguntungken. Itu sebabnya 
kapitalisme di RI mbur adul sebab ketiga kalimat syahadat dilanggar. 
Konglomerat2 item ndak begitu kompeten, 
terlalu dilindungi pemerintah via KKN monopoli, dll, dan merugiken banyak pihak 
- semisal konsumen, nggangsiri 
uang negara, dll. Contoh kapitalisme yang normal. 
 
Developer mengembangken lahan menjadi perumahan. Akan tetapi konsumen2 yang 
umumnya masih muda2 ndak mampu 
beli rumah kontan. Munculah KPR seperti yang dilakuken BTN. Dengan adanya KPR 
yang notabene das Kapital, 
jualan developer laku. Konsumen ndak perlu nabung bertahun untuk beli rumah. 
Kontraktor2 diuntungken, buruh2 
proyek, pemasok bahan bangunan, dll. habis itu bermunculan warung2, ojek2, 
wartel2, prt, yang jugak 'ngalap 
berkah' das Kapital. Itulah konsep dasar kapitalisme atawa ekonomi pasar : 
hubungan saling menguntungken. 
 
Kata2 Kapitalis, kaya, juragan, dll, sering dikonotasiken buruk. Biarpun itu 
ndak sepenuhnya salah tetapi 
jangan pukul rata. Kapitalisme memiliki sisi2 terang disamping sisi2 gelapnya. 
Sistim lain pun PASTI begitu. 
Memliki sisi gelap. Apapun itu. Suka ndak suka, mau ndak mau, kita berada 
dialam ekonomi pasar. Itu realistis. 
 
Komunisme selalu punya kader2 tetapi saya ndak yaqin mereka mampu berbuat. 
Ekonomi pasar sudah mendunia. 
 
Salam
Kibroto








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke