Punten teu disundakeun
baktos
3RUT
Salam All,
Mohon maaf bagi yang beragama lain,
Berikut adalah informasi berharga tentang kebobrokan akidah JIL dan
materi pengajaran di IAIN. Bermaksud membantah buku "Ada Pemurtadan di
IAIN" karya Hartono Ahmad Jaiz , justru malah memperkuat kebenaran isi
buku itu plus memperjelas kekufuran JIL sendiri.
Wassalam,
Irwan Ahmad / IW / PI
Buat yg nyari info debat JIL vs Hartono Ahmad Jaiz/M. Attamimi
di UNI, kiriman dari Dodik Siswantoro, dosen FEUI.
salam,
Ari Condro
----- Original Message -----
From: "Dodik S" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Melawan "Setan JIL" di SarangnyaOleh : Erros Jafar 20 Apr, 05 - 7:21 am
Pengantar Redaksi:
Pada tanggal 16 April 2005 lalu, berlangsung acara bedah buku di UIN (alias
IAIN) Jakarta. Buku yang dibedah berjudul "Ada Pemurtadan di IAIN" karya
Hartono Ahmad Jaiz. Pemrakarsa acara tersebut adalah anak-anak JIL.
Hartono Ahmad Jaiz, sempat terkejut dengan banyaknya audiens yang menghadiri
acara ini. Jumlahnya seribu lebih. Dan yang lebih mengagetkan lagi, massa
yang banyak itu justru berasal dari luar UIN, yaitu mereka yang kontra JIL.
Tentu saja kehadiran mereka itu membuat komunitas JIL (dan anak-anak UIN pro
JIL) menjadi ciut.
Sayangnya, atau culasnya, moderator yang pro JIL tidak memberi kesempatan
kepada audiens untuk terlibat dalam tanya jawab. Meski demikian, kedua
'pakar' JIL kedodoran menghadapi Hartono Ahmad Jaiz dan Muhammad At-Tamimi.
Kehadiran audiens yang kontra JIL dengan jumlah yang tak terduga itu,
nampaknya menunjukkan bahwa generasi muda Islam kita memang masih banyak
yang waras. Kedua, menunjukkan bahwa kontribusi para aktivis Islam di
internet (terutama komunitas PKS dan SHT) yang turut mensosialisasikan
adanya acara tersebut, ternyata cukup efektif. Ketiga, ini merupakan
pertolongan Allah SWT.
Sayangnya, ketika 'cendekiawan dan misionaris JIL' ini keok -bahkan di
sarangnya sendiri- tidak ada satu pun media massa yang mempublikasikannya.
Oleh karena itu, merupakan kewajiban kita untuk mempublikasikan laporan
pandangan mata di bawah ini yang disusun oleh akh Abu Qori.
Mau Menyanggah Malah Kejeblos
Maksud hati mau menepis dan menyanggah isi buku Ada Pemurtadan di IAIN,
tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Para misionaris JIL itu malah
terperosok ke dalam kubangan yang mereka sediakan sendiri. Forum bedah buku
yang semula diharapkan dapat 'membantai' Hartono Ahmad Jaiz malah menjadi
ajang pembuktian bahwa di IAIN memang ada pemurtadan. Hujjah-hujjah yang
diajukan para misionaris JIL itu justru secara tidak langsung malah
meneguhkan adanya proses pemurtadan di IAIN.
Acara bedah buku karya Hartono Ahmad Jaiz itu berlangsung di Masjid Kampus
UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Ciputat Jakarta, Sabtu 16
April 2005 bertepatan dengan tanggal 7 Rabi'ul Awwal 1426 Hijriah.
Tak dinyana, acara yang sepi promosi ini ternyata dihadiri 1000-an peserta,
sebagian besar justru berasal dari luar kampus UIN. Sehingga, perhelatan
yang semula dirancang bertempat di Fak Ushuluddin dan Filsafat, karena tidak
mampu menampung audiens, dipindahkan ke Masjid, khususnya di lantai 2 dan 3.
Pembicara empat orang. Dua pembicara yang membuktikan adanya pemurtadan di
IAIN adalah Hartono Ahmad Jaiz (penulis buku yang dibedah) dan Muhammad
At-Tamimi dari Purwakarta Jawa Barat. Sedangkan dua pembicara lainnya -yang
tampaknya membawa misi untuk menepis adanya pemurtadan di IAIN namun justru
hujjah-hujjahnya menggunakan pemahaman, materi, dan metode orang murtad-
adalah Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL (Jaringan Islam Liberal) dan Abdul
Muqsith Ghazali MA dosen/alumni UIN Jakarta yang juga termasuk penyusun CDL
KHI (Counter Draft Legal Kompilasi Hukum Islam) pimpinan Dr Musdah Mulia
yang telah dicabut Menteri Agama karena isinya meresahkan dan bertentangan
dengan Islam.
Acara berlangsung seru, ada pekik Allahu Akbar dan tepuk tangan
bertalu-talu, meski moderator sudah mengingatkan agar tidak bertepuk tangan
di dalam masjid.
Materi, pemahaman, dan metode yang ditempuh Muqsith dan Ulil justru menambah
bukti bahwa apa-apa yang ditulis di dalam buku Ada Pemurtadan di IAIN
terbitan Pustaka Al-Kautsar Jakarta setebal 280 halaman itu, memang benar
adanya. Karena, hujjah-hujjah dan metode dua pembicara yang pro IAIN dalam
membantah buku itu memang diambil dari materi dan pemahaman kelompok ataupun
tokoh yang sudah dinyatakan kekufurannya oleh para ulama.
Atau, mereka menggunakan pemahaman mereka sendiri yang tanpa dasar, lalu
sampai berani menolak hadits yang shahih, dan hukum Allah swt dalam
Al-Qur'an. Di samping itu masih disertai dengan kebohongan-kebohongan untuk
memberikan cap-cap sangat buruk kepada penulis buku. Akibatnya, ketika
kebohongan-kebohongan itu dibalikkan oleh penulis buku, maka terkuaklah
kesempurnaan bahwa produk dan bahkan dosen IAIN yang dijagokan untuk membela
IAIN justru lebih buruk dari yang telah ditulis di buku itu.
Artinya, isi buku Ada Pemurtadan di IAIN tidak lebih seram dibanding dengan
kenyataan yang ditemukan di lapangan, melalui forum bedah buku tersebut.
Membela pemurtadan dengan pemahaman kufur
Jalan yang ditempuh Muqsith dan Ulil dalam membela IAIN ketika bedah buku
itu adalah:
Berbohong dalam rangka memberikan stigma sangat buruk kepada penulis
buku.
Membela kemurtadan atau kekufuran dengan faham kekufuran, dan justru
ditawarkan kepada penulis buku agar mempelajarinya. Bahkan mereka meng-klaim
bahwa di IAIN tidak ada pemurtadan, yang terjadi sesungguhnya dalah proses
adalah pluralisasi penafsiran. Dan yang dijadikan hujjah adalah penafsiran
orang-orang yang sudah divonis oleh para ulama sebagai kafir ataupun zindiq
yaitu Ikhwanus Shofa' dan Ibnu 'Arabi tokoh tasawuf sesat berfaham wihdatul
adyan (menyamakan semua agama) dan wihdatul wujud (satunya alam dengan
Tuhan).
Melecehkan penulis -yang banyak mengutip ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits
Nabi- dengan tuduhan terlalu 'memberhalakan' huruf-huruf Al-Qur'an. Tuduhan
itu didibalikkan oleh penulis: karena penulis mengikuti Al-Qur'an, maka pada
hari Jum'at ia pun melaksanakan shalat Jum'at; sedangkan Ulil, justru
leha-leha berseminar dengan orang Kristen membahas tentang Tuhan di hari
Jum'at dari jam 10 hingga 13 dan tidak shalat Jum'at, tandas Hartono Ahmad
Jaiz sambil mengangkat Majalah Gatra edisi 26 Februari 2005 yang
memberitakan bahwa Ulil tidak Shalat Jum'at.
Memberi cap buruk kepada penulis sebagai orang yang melanggar
prinsip-prinsip dasar Al-Qur'an, karena penulis tak membolehkan nikah beda
agama. Penulis menguraikan tentang dosen-dosen IAIN, Dr Zainun Kamal dan Dr
Kautsar Azhari Noer, yang menikahkan wanita muslimah dengan lelaki Nasrani,
dan lelaki muslim dengan wanita Konghucu. Pernikahan itu bertentangan dengan
Al-Qur'an surat Al-Mumtahanah (60) ayat 10 dan Al-Baqarah (2) ayat 221.
Muqsith yang alumni dan dosen UIN Jakarta justru membela dosen-dosen IAIN
yang melanggar ayat-ayat itu dan malahan memberi cap buruk kepada penulis
buku. Maka, Muhammad At-Tamimi dengan tegas menyatakan penolakan terhadap
ayat itu sebagai sikap orang gila yang berbicara agama tetapi dengan dalih
"menurut saya".
Gagal memberikan cap buruk tentang akhlaq penulis dan isi buku, karena
tuduhan-tuduhan Muqsith dan Ulil itu tak sesuai fakta, maka lebih drastis
lagi, Muqsith membela ajakan dzikir dengan lafal anjing hu akbar, dengan
mengemukakan bahwa dzikir dengan lafal anjing hu akbar pun kalau niatnya.
(tidak jelas suara Muqsith karena suara hadirin gemuruh) maka bisa
meninggikan maqamnya. Ungkapan itu menjadikan para hadirin berteriak
gemuruh, menyiratkan kejengkelan karena justru keluar betul keaslian produk
IAIN yang diangkat jadi dosen ternyata seburuk itu pemikirannya dan
keyakinannya. Bagaimana lagi para mahasiswa asuhannya nanti.
Ulil berani menolak hadits shohih, walaupun dirinya mengakui bahwa hadits
itu shohih, hanya karena keberanian menurut dirinya. Ulil juga mengakui
bahwa dirinya menulis di Kompas, tidak ada hukum Tuhan. Maka Muhammad
At-Tamimi menyebut Ulil sebagai orang gila pertama dan Muqsith orang gila
kedua. Karena Allah swt telah menurunkan wahyu tetapi ditolak dan disebut
tidak ada hukum Tuhan. Ini jelas murtad, kufur.
Berbohong atau memutar balikkan
Kebohongan yang dilontarkan, di antaranya Muqsith mengemukakan bahwa penulis
buku ini sampai menulis: Si jompo Sinta Nuriyah. "Penulis ini akhlaqnya
masih akhlaq orang beriman atau tidak. Kalau orang beriman tentunya tidak
menulis seperti itu," kata Muqsith.
Kebohongan itu dijawab oleh Hartono Ahmad Jaiz (penulis), bahwa di buku Ada
Pemurtadan di IAIN ini tidak ada tulisan yang bunyinya si jompo. Yang ada
hanyalah penjelasan tentang keadaan, yaitu yang sudah jompo. Lantas, lanjut
Hartono, "yang tidak berakhlaq itu yang mengubah perkataan ini atau siapa?"
Dan juga, "orang yang mengajak berdzikir dengan lafal anjing hu akbar (di
IAIN Bandung) malah dibela. Kemudian orang yang tidak menulis si jompo
dikatakan menulis si jompo dan dianggap tidak berakhlaq. Ini yang tak
berakhlaq dan imannya perlu dipertanyakan itu siapa."
Kebohongan yang kedua namun tidak sempat dibantah karena sempitnya waktu,
adalah perkataan Muqsith bahwa Imam Ahmad dalam Kitab Mizanul Kubro
(karangan As-Sya'roni) disebutkan, menurut pendapat Imam Ahmad, aurat wanita
itu hanyalah qubul dan dubur (kemaluan depan dan belakang).
Perlu dikemukakan dalam tulisan ini, Muqsith yang dosen dan alumni UIN
Jakarta itu apakah ingin mengkampanyekan agar wanita-wanita di bumi ini
bertelanjang atau bagaimana, yang jelas dia dalam membela IAIN itu telah
menyembunyikan sesuatu.
Dalam kitab Mizanul Kubro itu ada wanita merdeka (al-hurroh) dan wanita
budak (al-ammah). Aurat wanita merdeka adalah seluruh tubuhnya, kecuali
mukanya dan kedua telapak tangannya, menurut pendapat Malik, Syafi'i, dan
Ahmad dalam salah satu dari dua riwayatnya. Menurut Abu Hanifah, seluruh
tubuh wanita adalah aurat kecuali mukanya, dua telapak tangannya, dan dua
telapak kakinya. Riwayat lain dari Ahmad, (seluruh tubuh wanita adalah
aurat) kecuali mukanya saja. (Al-Mizanul Kubro Juz 1, halaman 170, cetakan
I, Darul Fikr Beirut, dalam hal syarat sahnya sholat tentang menutup aurat).
Aurat wanita budak (al-ammah) dalam sholat adalah antara pusarnya dan
lututnya seperti aurat laki-laki. Ini menurut pendapat Malik, Syafi'i, dan
salah satu riwayat dari Ahmad; dan riwayat yang lain bahwa auratnya (wanita
budak/al-ammah) adalah qubul dan dubur saja. (ibid). Dalam Kitab Mizanul
Kubro itu dijelaskan, yang diamalkan oleh salafus sholih adalah yang pertama
(aurat budak wanita, antara pusar dan lutut) karena tidak adanya syahwat
untuk melihat budak wanita di luar sholat, lebih-lebih ketika sholat.
(ibid).
Imam Ahmad dalam Kitab Mizanul Kubro bab shalat itu dikutip pendapatnya
bahwa aurat wanita merdeka (al-hurrah) adalah seluruh tubuhnya kecuali muka
dan dua telapak tangannya atau bahkan seluruh tubuh kecuali muka saja.
Perlu dijelaskan kebohongan Muqsith dengan kenyataan, bahwa wanita sekarang,
pengertiannya ya wanita yang disebut al-hurroh itu. Lalu kok bisa-bisanya
Muqsith Ghozali dosen dan alumni UIN Jakarta ini mengatakan bahwa Imam Ahmad
dalam Kitab Mizanul Kibro, berpendapat bahwa aurat wanita itu hanyalah qubul
dan dubur. Itulah cara berbohong untuk mengkampanyekan agar wanita sekarang
yang sebagian mereka sudah memperlihatkan pusarnya itu agar lebih
bertelanjang lagi.
Kebohongan ketiga, Muqsith menganggap Hartono Amad Jaiz melanggar
prinsip-prinsip dasar Al-Qur'an, karena Hartono mengharamkan nikah beda
agama.
Perkataan itu sendiri sudah menyembunyikan sesuatu. Dalam buku itu sudah
ditulis, yang dipersoalkan adalah wanita muslimah dinikahi lelaki kafir, Non
Islam,Yahudi-Nasrani dan lainnya. Juga lelaki Muslim menikahi wanita
Konghucu. Lalu Muqsith mengatakan bahwa tidak ada ayat yang mengharamkan
nikah beda agama. Itu juga menyembunyikan ayat, hingga dibantah dengan seru
oleh seorang pemuda/mahasiswa secara spontan dengan mengacungkan Al-Qur'an.
Kalau Muqsith tidak menolak Al-Qur'an, tentunya mau mengakui, Ayatnya sudah
jelas, QS 60: 10, QS 2: 221, dan tentang kafirnya Ahli Kitab dalam Surat
Al-Bayyinah ayat 6. Dengan cara menyembunyikan ayat, hingga justru
menghalalkan nikah beda agama (seperti yang telah disebutkan itu) adalah
satu bukti justru adanya faham yang dihembuskan dari UIN Jakarta adalah yang
menentang ayat Al-Qur'an itu.
Membela kekufuran dengan kekufuran
Lebih nyata lagi ketika Muqsith membela IAIN dengan faham kekufuran. Yaitu
kilah bahwa IAIN tidak mengadakan pemurtadan tetapi pluralisasi penafsiran.
Lalu yang diangkat sebagai contoh adalah faham Ikhwanus Shofa' yang tidak
perlu melaksanakan yang fardhu-fardhu/wajib-wajib dan cukup dengan
bertasbih.
Hartono Ahmad Jaiz membalikkan kepada Muqsith, justru faham yang tidak perlu
mengerjakan yang fardhu-fardhu/wajib-wajib itulah yang sebenar-benarnya
kekafiran. Dan itu sudah dikemukakan kekafirannya dalam Kitab Tafsir
Al-Qurthubi dan Imam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Al-Fatawa.
Yang dimaksud Hartono itu adalah apa yang ditulis Imam Al-Qurthubi yang
dimulai dengan menukil ulasan gurunya, al-Imam Abu al-'Abbas, mengenai
golongan ahli kebatinan yang dihukumi sebagai zindiq yaitu: "Mereka itu
berkata: Hukum-hukum syara' yang umum adalah untuk para nabi dan orang awam.
Adapun para wali dan golongan khusus tidak memerlukan nas-nas (agama),
sebaliknya mereka hanya dituntut dengan apa yang terdapat dalam hati mereka.
Mereka berhukum berdasarkan apa yang terlintas dalam fikiran mereka."
Golongan ini juga berkata: "Ini disebabkan kesucian hati mereka dari
kekotoran dan keteguhannya maka terjelmalah kepada mereka ilmu-ilmu ilahi,
hakikat-hakikat ketuhanan, mereka mengikuti rahasia-rahasia alam, mereka
mengetahui hukum-hukum yang detil, maka mereka tidak memerlukan hukum-hukum
yang bersifat umum, seperti yang berlaku kepada Khidir. Mencukupi baginya
(Khidir) ilmu-ilmu yang terbuka (tajalla) kepadanya dan tidak memerlukan apa
yang ada pada kefahaman Musa." Golongan ini
juga menyebut: "Mintalah fatwa dari hatimu sekalipun engkau telah diberikan
fatwa oleh para penfatwa."
Selanjutnya al-Qurtubi mengulas dakwaan-dakwaan ini dengan berkata: "Kata
guru kami r.a.: Ini adalah perkataan zindiq dan kufur, dibunuhlah siapa pun
yang mengucapkannya dan dia tidak diminta taubatnya, karena dia telah ingkar
terhadap apa yang diketahui dari syariat. Sesungguhnya Allah telah
menetapkan jalan-Nya dan melaksanakan hikmah-Nya bahwa hukum-hukum-Nya tidak
diketahui melainkan melalui perantaraan rasul-rasul yang menjadi para utusan
antara Allah dan makhluk-Nya. Mereka adalah penyampai risalah dan
perkataan-Nya serta pengurai syariat dan hukum-hukum. Allah memilih mereka
untuk itu dan mengkhususkan urusan ini hanya untuk mereka."
������� ����� ������ ��� �� �� ���� ������ ����� ���� ����� ���� �� �����
��� ���� ����� ��� ���� ��� ���� ��� �� ��� ����� ��� ��� �� ���� ����� ���
���� ��� ���� ����� ��� ����� ���� ������ �� ����� ��� ���� ���� ��� ������
��� ����� ��� ��� ���� ��� ����
"Telah menjadi ijma' salaf dan khalaf bahwa tidak ada jalan mengetahui
hukum-hukum Allah yang berhubungan dengan suruhan dan larangan-Nya walaupun
sedikit, melainkan melalui para Rasul. Maka siapa yang berkata "Disana ada
cara lain untuk mengetahui suruhan dan larangan Allah tanpa melalui para
rasul atau tidak memerlukan para rasul" maka dia adalah kafir, dihukum bunuh
tidak diminta bertaubat, dan tidak diperlukan untuk tanya jawab dengannya
(al-Jami' li Ahkam al-Quran jilid 11, halaman 40-41, cetakan Dar al-Fikr,
Beirut).
Gejala Pemurtadan di IAIN
Hartono Ahmad Jaiz menguraikan gejala-gejala pemurtadan di AIN, di antaranya
buku Harun Nasution untuk IAIN berjudul Islam Dipandang dari Berbagai
Aspeknya menyatakan bahwa agama monotheisme itu Islam, Kristen (Protestan
dan Katolik), dan Hindu. Juga buku Sejarah Pembaharuan Pemikiran Islam
tulisan Harun Nasution untuk IAIN diantara isinya menyebut Rifaat At-Tahtawi
(Mesir) sebagai pembaharu, dan bahkan dalam makalah dosen IAIN di bawah
bimbingan Harun Nasution di SPS (Studi Purna Sarjana) di IAIN Jogja 1977,
Rifaat At-Tahtawi yang menghalalkan dansa-dansa laki perempuan disebut
sebagai pembuka pintu ijtihad. Ini adalah penyesatan. Mana ada pembaru dalam
Islam menghalalkan yang haram. Padahal dalam hadits, ada potensi zina bagi
mata, tangan, mulut, hati dan dibenarkan atau dibohongkan oleh farji/
kemaluan kata Hartono.
Hal itu dibantah Abdul Muqsith Ghozali dengan kitab I'anatut Tholibin
terbitan Toha Putra Semarang, dengan dibacakan tentang definisi zina, lalu
Muqsith mengatakan, kalau hasyafah (kemaluan lali-laki) ditekuk maka bukan
zina. Begitu juga dengan tangan.
Hartono menjawab, "bagaimana ini, tentang zina, tangan punya potensi zina
itu saya mengutip hadits Nabi saw. Kenapa hadits Nabi dibantah pakai kitab
I'anatut Tholibin? Ya seperti inilah keluaran dari IAIN," tegas Hartono
dengan menuding Muqsith yang di sebelah kanannya.
Attamimi dengan suara lantang menantang Ulil Abshar Abdalla yang menolak
hadits, yang walaupun shohih di kitab Bukhori, namun menurut Ulil tidak
sesuai, maka ulil menolaknya. Contohnya hadis tentang orang sholat jadi
batal karena adanya yang lewat yaitu anjing, orang perempuan, dan
khimar/keledai. Kata Ulil, "di sini perempuan disamakan dengan anjing dan
keledai. Jadi saya tolak, walaupun itu ada di Kitab Shohih Bukhori," kata
Ulil.
Kata At-Tamimi, "apakah anda ini ahli hadits? Apa keahlian anda. Dalam hal
ilmu agama ini tidak bisa hanya dengan perkataan 'pendapat saya'. Di ilmu
teknik dunia saja tidak bisa dengan 'pendapat saya' . Memang anda ahli apa?
Apakah ahli hadits? Saya tantang anda bicara tentang hadits. Bahkan
kumpulkan seluruh orang JIL, cukup saya hadapi sendirian. Tidak bisa bicara
agama kok 'menurut saya', 'menurut saya'. Bukan hanya perempuan yang
disamakan dengan binatang, semua laki-laki yang tidak percaya kepada
Al-Qur'an dan As-sunnah seperti anda ini dinyatakan dalam Al-Qur'an seperti
binatang," seru At-Tamimi dengan lantang, disambut dengan suara gemuruh
hadirin.
Dua orang yang membela IAIN dan ingin merobohkan fakta pada buku Ada
Pemurtadan di IAIN itu setelah gagal memberikan cap-cap buruk karena
dibalikkan dengan telak, maka justru menolak hukum Allah (sebagian
ditentang, dan bahkan dinyatakan tidak ada hukum Tuhan), dan menolak hadits
walaupun diakui shahih.
Di situ justru pada dasarnya mereka menampakkan tambahan bukti yang ada pada
ungkapan-ungkapan mereka sebagai alumni, dosen dan pembela IAIN bahwa
sebenarnya IAIN memang jelas ada pemurtadan. Jadi, mereka mau menepis Adanya
pemurtadan di IAIN tetapi justru terperosok pada penguatan bahwa memang
benar ada pemurtadan di IAIN secara sistematis. Itu tentu saja sangat
berbahaya.
Buku Ada Pemurtadan di IAIN dibedah pertama kali di Islamic Book Fair di
Istora Senayan Jakarta, Ahad 27 Maret 2005. Pembicara Dr Roem Rowi dosen
pasca sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, dosen tafsir; dan penulis buku
Hartono Ahmad Jaiz. Hadirin sekitar 500 orang. Dr Roem Rowi mengakui, di
IAIN dia mengajar tafsir, namun mahasiswanya dirusak oleh
pemikiran-pemikiran yang diajarkan dalam materi pemikiran Islam (dan sejarah
kebudayaan Islam), yang itu justru materi kuliah dasar, semua mahasiswa
harus ikut.
Sehingga, ketika ditanya peserta bedah buku, ke mana untuk mendidikkan anak
di perguruan tinggi yang islami, Dr Roem Rowi tidak memberikan rekomendasi,
hanya menunjuk di antaranya Universitas Islam Internasional di Malaysia.
Sedangkan ketika ditanya tentang kurikulum, seberapa peran menteri agama
dalam membuat kurikulum di IAIN, Roem Rowi menjawab, menteri agama masa lalu
ya hanya mengikuti Dr Harun Nasution. "Seakan perkataan Harun Nasution itu
qoululloh (firman Alloh) bagi menteri agama yang lalu," ujar Roem Rowi yang
meraih gelar doktornya dari Universitas al-Azhar Mesir ini.
Disebut Ada Pemurtadan di IAIN, menurut buku itu, karena kurikulumnya,
materi kuliahnya, sistem pengajarannya, cara mengajarnya, dan dosen-dosennya
banyak yang tidak sesuai dengan sistem pemahaman Islam yang benar. Tidak
merujuk kepada Al-Qur'an, As-Sunnah, dengan manhaj salafus shalih. Tetapi
yang dijadikan mata kuliah dasar justru sejarah pemikiran Islam dan sejarah
kebudayaan Islam, yang semuanya bukan dasar Islam, dan disampaikan tidak
secara ilmu islami, tidak merujuk kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan
sistem pemahaman yang benar. Diajarkan secara liar, yaitu tanpa sanad
(pertalian riwayat) hingga boleh berkomentar apa saja sampai menghina para
sahabat sekalipun.
Akibatnya, alumni IAIN tidak bisa membedakan antara madzhab-madzhab (yang
perbedaannya itu dalam wilayah furu'/ cabang, jadi boleh saja) dengan
sekte-sekte sesat (firoq dhollah) yang sudah berbeda dengan hal pokok yang
benar. Bahkan sampai tak bisa membedakan antara mukmin dengan kafir, ketika
diajari tasawuf falsafi dan apa yang disebut filsafat Islam (semuanya dalam
materi kuliah sejarah pemikiran Islam dalam mata kuliah dasar). Akibatnya,
mereka menyamakan semua agama. Itulah sebenar-benarnya pemurtadan secara
sistematis lewat jalur perguruan tinggi Islam se-Indonesia baik negeri
maupun swasta. Maka kurikulum, sistem pengajaran, materi, metode, dan dosen
pengajarnya perlu ditinjau ulang. Pembelajaran dosen-dosen IAIN ke Barat
untuk studi Islam pun perlu dihentikan, menurut penulis buku, karena itu
menjadi sumber utama pemurtadan tersebut.
Usai bedah buku di UIN Jakarta, hadirin pun berjama'ah shalat dhuhur, tanpa
ada dosen ataupun mahasiswa UIN yang maju jadi imam, hingga Ustadz Mustofa
Aini seorang hadirin alumni Universitas Islam Madinah maju untuk mengimami
setelah agak lama ditunggu-tunggu tak ada yang maju. Ulil, Muqsith dan
sebagian besar panitia dari BEM Fak Usuhuluddin dan Filsafat UIN Jakarta
tidak tampak ikut shalat berjama'ah. Mereka berada di mihrab sebelah imaman.
Kemudian Ulil diiringi para panitia turun dan pulang setelah hadirin yang
shalat berjama'ah telah bubar pulang.
"Kampus Islam tidak mencerminkan Islam," keluh di antara yang hadir
--
http://gerimis.dwitunggal-online.com
Berawal dari rintik mungil di akhir kemarau...
http://Gerimis.dwitunggal-online.com powered by GerimisCrew [c] 2005
Mohon maaf bagi yang beragama lain,
Berikut adalah informasi berharga tentang kebobrokan akidah JIL dan
materi pengajaran di IAIN. Bermaksud membantah buku "Ada Pemurtadan di
IAIN" karya Hartono Ahmad Jaiz , justru malah memperkuat kebenaran isi
buku itu plus memperjelas kekufuran JIL sendiri.
Wassalam,
Irwan Ahmad / IW / PI
Buat yg nyari info debat JIL vs Hartono Ahmad Jaiz/M. Attamimi
di UNI, kiriman dari Dodik Siswantoro, dosen FEUI.
salam,
Ari Condro
----- Original Message -----
From: "Dodik S" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Melawan "Setan JIL" di SarangnyaOleh : Erros Jafar 20 Apr, 05 - 7:21 am
Pengantar Redaksi:
Pada tanggal 16 April 2005 lalu, berlangsung acara bedah buku di UIN (alias
IAIN) Jakarta. Buku yang dibedah berjudul "Ada Pemurtadan di IAIN" karya
Hartono Ahmad Jaiz. Pemrakarsa acara tersebut adalah anak-anak JIL.
Hartono Ahmad Jaiz, sempat terkejut dengan banyaknya audiens yang menghadiri
acara ini. Jumlahnya seribu lebih. Dan yang lebih mengagetkan lagi, massa
yang banyak itu justru berasal dari luar UIN, yaitu mereka yang kontra JIL.
Tentu saja kehadiran mereka itu membuat komunitas JIL (dan anak-anak UIN pro
JIL) menjadi ciut.
Sayangnya, atau culasnya, moderator yang pro JIL tidak memberi kesempatan
kepada audiens untuk terlibat dalam tanya jawab. Meski demikian, kedua
'pakar' JIL kedodoran menghadapi Hartono Ahmad Jaiz dan Muhammad At-Tamimi.
Kehadiran audiens yang kontra JIL dengan jumlah yang tak terduga itu,
nampaknya menunjukkan bahwa generasi muda Islam kita memang masih banyak
yang waras. Kedua, menunjukkan bahwa kontribusi para aktivis Islam di
internet (terutama komunitas PKS dan SHT) yang turut mensosialisasikan
adanya acara tersebut, ternyata cukup efektif. Ketiga, ini merupakan
pertolongan Allah SWT.
Sayangnya, ketika 'cendekiawan dan misionaris JIL' ini keok -bahkan di
sarangnya sendiri- tidak ada satu pun media massa yang mempublikasikannya.
Oleh karena itu, merupakan kewajiban kita untuk mempublikasikan laporan
pandangan mata di bawah ini yang disusun oleh akh Abu Qori.
Mau Menyanggah Malah Kejeblos
Maksud hati mau menepis dan menyanggah isi buku Ada Pemurtadan di IAIN,
tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Para misionaris JIL itu malah
terperosok ke dalam kubangan yang mereka sediakan sendiri. Forum bedah buku
yang semula diharapkan dapat 'membantai' Hartono Ahmad Jaiz malah menjadi
ajang pembuktian bahwa di IAIN memang ada pemurtadan. Hujjah-hujjah yang
diajukan para misionaris JIL itu justru secara tidak langsung malah
meneguhkan adanya proses pemurtadan di IAIN.
Acara bedah buku karya Hartono Ahmad Jaiz itu berlangsung di Masjid Kampus
UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Ciputat Jakarta, Sabtu 16
April 2005 bertepatan dengan tanggal 7 Rabi'ul Awwal 1426 Hijriah.
Tak dinyana, acara yang sepi promosi ini ternyata dihadiri 1000-an peserta,
sebagian besar justru berasal dari luar kampus UIN. Sehingga, perhelatan
yang semula dirancang bertempat di Fak Ushuluddin dan Filsafat, karena tidak
mampu menampung audiens, dipindahkan ke Masjid, khususnya di lantai 2 dan 3.
Pembicara empat orang. Dua pembicara yang membuktikan adanya pemurtadan di
IAIN adalah Hartono Ahmad Jaiz (penulis buku yang dibedah) dan Muhammad
At-Tamimi dari Purwakarta Jawa Barat. Sedangkan dua pembicara lainnya -yang
tampaknya membawa misi untuk menepis adanya pemurtadan di IAIN namun justru
hujjah-hujjahnya menggunakan pemahaman, materi, dan metode orang murtad-
adalah Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL (Jaringan Islam Liberal) dan Abdul
Muqsith Ghazali MA dosen/alumni UIN Jakarta yang juga termasuk penyusun CDL
KHI (Counter Draft Legal Kompilasi Hukum Islam) pimpinan Dr Musdah Mulia
yang telah dicabut Menteri Agama karena isinya meresahkan dan bertentangan
dengan Islam.
Acara berlangsung seru, ada pekik Allahu Akbar dan tepuk tangan
bertalu-talu, meski moderator sudah mengingatkan agar tidak bertepuk tangan
di dalam masjid.
Materi, pemahaman, dan metode yang ditempuh Muqsith dan Ulil justru menambah
bukti bahwa apa-apa yang ditulis di dalam buku Ada Pemurtadan di IAIN
terbitan Pustaka Al-Kautsar Jakarta setebal 280 halaman itu, memang benar
adanya. Karena, hujjah-hujjah dan metode dua pembicara yang pro IAIN dalam
membantah buku itu memang diambil dari materi dan pemahaman kelompok ataupun
tokoh yang sudah dinyatakan kekufurannya oleh para ulama.
Atau, mereka menggunakan pemahaman mereka sendiri yang tanpa dasar, lalu
sampai berani menolak hadits yang shahih, dan hukum Allah swt dalam
Al-Qur'an. Di samping itu masih disertai dengan kebohongan-kebohongan untuk
memberikan cap-cap sangat buruk kepada penulis buku. Akibatnya, ketika
kebohongan-kebohongan itu dibalikkan oleh penulis buku, maka terkuaklah
kesempurnaan bahwa produk dan bahkan dosen IAIN yang dijagokan untuk membela
IAIN justru lebih buruk dari yang telah ditulis di buku itu.
Artinya, isi buku Ada Pemurtadan di IAIN tidak lebih seram dibanding dengan
kenyataan yang ditemukan di lapangan, melalui forum bedah buku tersebut.
Membela pemurtadan dengan pemahaman kufur
Jalan yang ditempuh Muqsith dan Ulil dalam membela IAIN ketika bedah buku
itu adalah:
Berbohong dalam rangka memberikan stigma sangat buruk kepada penulis
buku.
Membela kemurtadan atau kekufuran dengan faham kekufuran, dan justru
ditawarkan kepada penulis buku agar mempelajarinya. Bahkan mereka meng-klaim
bahwa di IAIN tidak ada pemurtadan, yang terjadi sesungguhnya dalah proses
adalah pluralisasi penafsiran. Dan yang dijadikan hujjah adalah penafsiran
orang-orang yang sudah divonis oleh para ulama sebagai kafir ataupun zindiq
yaitu Ikhwanus Shofa' dan Ibnu 'Arabi tokoh tasawuf sesat berfaham wihdatul
adyan (menyamakan semua agama) dan wihdatul wujud (satunya alam dengan
Tuhan).
Melecehkan penulis -yang banyak mengutip ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits
Nabi- dengan tuduhan terlalu 'memberhalakan' huruf-huruf Al-Qur'an. Tuduhan
itu didibalikkan oleh penulis: karena penulis mengikuti Al-Qur'an, maka pada
hari Jum'at ia pun melaksanakan shalat Jum'at; sedangkan Ulil, justru
leha-leha berseminar dengan orang Kristen membahas tentang Tuhan di hari
Jum'at dari jam 10 hingga 13 dan tidak shalat Jum'at, tandas Hartono Ahmad
Jaiz sambil mengangkat Majalah Gatra edisi 26 Februari 2005 yang
memberitakan bahwa Ulil tidak Shalat Jum'at.
Memberi cap buruk kepada penulis sebagai orang yang melanggar
prinsip-prinsip dasar Al-Qur'an, karena penulis tak membolehkan nikah beda
agama. Penulis menguraikan tentang dosen-dosen IAIN, Dr Zainun Kamal dan Dr
Kautsar Azhari Noer, yang menikahkan wanita muslimah dengan lelaki Nasrani,
dan lelaki muslim dengan wanita Konghucu. Pernikahan itu bertentangan dengan
Al-Qur'an surat Al-Mumtahanah (60) ayat 10 dan Al-Baqarah (2) ayat 221.
Muqsith yang alumni dan dosen UIN Jakarta justru membela dosen-dosen IAIN
yang melanggar ayat-ayat itu dan malahan memberi cap buruk kepada penulis
buku. Maka, Muhammad At-Tamimi dengan tegas menyatakan penolakan terhadap
ayat itu sebagai sikap orang gila yang berbicara agama tetapi dengan dalih
"menurut saya".
Gagal memberikan cap buruk tentang akhlaq penulis dan isi buku, karena
tuduhan-tuduhan Muqsith dan Ulil itu tak sesuai fakta, maka lebih drastis
lagi, Muqsith membela ajakan dzikir dengan lafal anjing hu akbar, dengan
mengemukakan bahwa dzikir dengan lafal anjing hu akbar pun kalau niatnya.
(tidak jelas suara Muqsith karena suara hadirin gemuruh) maka bisa
meninggikan maqamnya. Ungkapan itu menjadikan para hadirin berteriak
gemuruh, menyiratkan kejengkelan karena justru keluar betul keaslian produk
IAIN yang diangkat jadi dosen ternyata seburuk itu pemikirannya dan
keyakinannya. Bagaimana lagi para mahasiswa asuhannya nanti.
Ulil berani menolak hadits shohih, walaupun dirinya mengakui bahwa hadits
itu shohih, hanya karena keberanian menurut dirinya. Ulil juga mengakui
bahwa dirinya menulis di Kompas, tidak ada hukum Tuhan. Maka Muhammad
At-Tamimi menyebut Ulil sebagai orang gila pertama dan Muqsith orang gila
kedua. Karena Allah swt telah menurunkan wahyu tetapi ditolak dan disebut
tidak ada hukum Tuhan. Ini jelas murtad, kufur.
Berbohong atau memutar balikkan
Kebohongan yang dilontarkan, di antaranya Muqsith mengemukakan bahwa penulis
buku ini sampai menulis: Si jompo Sinta Nuriyah. "Penulis ini akhlaqnya
masih akhlaq orang beriman atau tidak. Kalau orang beriman tentunya tidak
menulis seperti itu," kata Muqsith.
Kebohongan itu dijawab oleh Hartono Ahmad Jaiz (penulis), bahwa di buku Ada
Pemurtadan di IAIN ini tidak ada tulisan yang bunyinya si jompo. Yang ada
hanyalah penjelasan tentang keadaan, yaitu yang sudah jompo. Lantas, lanjut
Hartono, "yang tidak berakhlaq itu yang mengubah perkataan ini atau siapa?"
Dan juga, "orang yang mengajak berdzikir dengan lafal anjing hu akbar (di
IAIN Bandung) malah dibela. Kemudian orang yang tidak menulis si jompo
dikatakan menulis si jompo dan dianggap tidak berakhlaq. Ini yang tak
berakhlaq dan imannya perlu dipertanyakan itu siapa."
Kebohongan yang kedua namun tidak sempat dibantah karena sempitnya waktu,
adalah perkataan Muqsith bahwa Imam Ahmad dalam Kitab Mizanul Kubro
(karangan As-Sya'roni) disebutkan, menurut pendapat Imam Ahmad, aurat wanita
itu hanyalah qubul dan dubur (kemaluan depan dan belakang).
Perlu dikemukakan dalam tulisan ini, Muqsith yang dosen dan alumni UIN
Jakarta itu apakah ingin mengkampanyekan agar wanita-wanita di bumi ini
bertelanjang atau bagaimana, yang jelas dia dalam membela IAIN itu telah
menyembunyikan sesuatu.
Dalam kitab Mizanul Kubro itu ada wanita merdeka (al-hurroh) dan wanita
budak (al-ammah). Aurat wanita merdeka adalah seluruh tubuhnya, kecuali
mukanya dan kedua telapak tangannya, menurut pendapat Malik, Syafi'i, dan
Ahmad dalam salah satu dari dua riwayatnya. Menurut Abu Hanifah, seluruh
tubuh wanita adalah aurat kecuali mukanya, dua telapak tangannya, dan dua
telapak kakinya. Riwayat lain dari Ahmad, (seluruh tubuh wanita adalah
aurat) kecuali mukanya saja. (Al-Mizanul Kubro Juz 1, halaman 170, cetakan
I, Darul Fikr Beirut, dalam hal syarat sahnya sholat tentang menutup aurat).
Aurat wanita budak (al-ammah) dalam sholat adalah antara pusarnya dan
lututnya seperti aurat laki-laki. Ini menurut pendapat Malik, Syafi'i, dan
salah satu riwayat dari Ahmad; dan riwayat yang lain bahwa auratnya (wanita
budak/al-ammah) adalah qubul dan dubur saja. (ibid). Dalam Kitab Mizanul
Kubro itu dijelaskan, yang diamalkan oleh salafus sholih adalah yang pertama
(aurat budak wanita, antara pusar dan lutut) karena tidak adanya syahwat
untuk melihat budak wanita di luar sholat, lebih-lebih ketika sholat.
(ibid).
Imam Ahmad dalam Kitab Mizanul Kubro bab shalat itu dikutip pendapatnya
bahwa aurat wanita merdeka (al-hurrah) adalah seluruh tubuhnya kecuali muka
dan dua telapak tangannya atau bahkan seluruh tubuh kecuali muka saja.
Perlu dijelaskan kebohongan Muqsith dengan kenyataan, bahwa wanita sekarang,
pengertiannya ya wanita yang disebut al-hurroh itu. Lalu kok bisa-bisanya
Muqsith Ghozali dosen dan alumni UIN Jakarta ini mengatakan bahwa Imam Ahmad
dalam Kitab Mizanul Kibro, berpendapat bahwa aurat wanita itu hanyalah qubul
dan dubur. Itulah cara berbohong untuk mengkampanyekan agar wanita sekarang
yang sebagian mereka sudah memperlihatkan pusarnya itu agar lebih
bertelanjang lagi.
Kebohongan ketiga, Muqsith menganggap Hartono Amad Jaiz melanggar
prinsip-prinsip dasar Al-Qur'an, karena Hartono mengharamkan nikah beda
agama.
Perkataan itu sendiri sudah menyembunyikan sesuatu. Dalam buku itu sudah
ditulis, yang dipersoalkan adalah wanita muslimah dinikahi lelaki kafir, Non
Islam,Yahudi-Nasrani dan lainnya. Juga lelaki Muslim menikahi wanita
Konghucu. Lalu Muqsith mengatakan bahwa tidak ada ayat yang mengharamkan
nikah beda agama. Itu juga menyembunyikan ayat, hingga dibantah dengan seru
oleh seorang pemuda/mahasiswa secara spontan dengan mengacungkan Al-Qur'an.
Kalau Muqsith tidak menolak Al-Qur'an, tentunya mau mengakui, Ayatnya sudah
jelas, QS 60: 10, QS 2: 221, dan tentang kafirnya Ahli Kitab dalam Surat
Al-Bayyinah ayat 6. Dengan cara menyembunyikan ayat, hingga justru
menghalalkan nikah beda agama (seperti yang telah disebutkan itu) adalah
satu bukti justru adanya faham yang dihembuskan dari UIN Jakarta adalah yang
menentang ayat Al-Qur'an itu.
Membela kekufuran dengan kekufuran
Lebih nyata lagi ketika Muqsith membela IAIN dengan faham kekufuran. Yaitu
kilah bahwa IAIN tidak mengadakan pemurtadan tetapi pluralisasi penafsiran.
Lalu yang diangkat sebagai contoh adalah faham Ikhwanus Shofa' yang tidak
perlu melaksanakan yang fardhu-fardhu/wajib-wajib dan cukup dengan
bertasbih.
Hartono Ahmad Jaiz membalikkan kepada Muqsith, justru faham yang tidak perlu
mengerjakan yang fardhu-fardhu/wajib-wajib itulah yang sebenar-benarnya
kekafiran. Dan itu sudah dikemukakan kekafirannya dalam Kitab Tafsir
Al-Qurthubi dan Imam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Al-Fatawa.
Yang dimaksud Hartono itu adalah apa yang ditulis Imam Al-Qurthubi yang
dimulai dengan menukil ulasan gurunya, al-Imam Abu al-'Abbas, mengenai
golongan ahli kebatinan yang dihukumi sebagai zindiq yaitu: "Mereka itu
berkata: Hukum-hukum syara' yang umum adalah untuk para nabi dan orang awam.
Adapun para wali dan golongan khusus tidak memerlukan nas-nas (agama),
sebaliknya mereka hanya dituntut dengan apa yang terdapat dalam hati mereka.
Mereka berhukum berdasarkan apa yang terlintas dalam fikiran mereka."
Golongan ini juga berkata: "Ini disebabkan kesucian hati mereka dari
kekotoran dan keteguhannya maka terjelmalah kepada mereka ilmu-ilmu ilahi,
hakikat-hakikat ketuhanan, mereka mengikuti rahasia-rahasia alam, mereka
mengetahui hukum-hukum yang detil, maka mereka tidak memerlukan hukum-hukum
yang bersifat umum, seperti yang berlaku kepada Khidir. Mencukupi baginya
(Khidir) ilmu-ilmu yang terbuka (tajalla) kepadanya dan tidak memerlukan apa
yang ada pada kefahaman Musa." Golongan ini
juga menyebut: "Mintalah fatwa dari hatimu sekalipun engkau telah diberikan
fatwa oleh para penfatwa."
Selanjutnya al-Qurtubi mengulas dakwaan-dakwaan ini dengan berkata: "Kata
guru kami r.a.: Ini adalah perkataan zindiq dan kufur, dibunuhlah siapa pun
yang mengucapkannya dan dia tidak diminta taubatnya, karena dia telah ingkar
terhadap apa yang diketahui dari syariat. Sesungguhnya Allah telah
menetapkan jalan-Nya dan melaksanakan hikmah-Nya bahwa hukum-hukum-Nya tidak
diketahui melainkan melalui perantaraan rasul-rasul yang menjadi para utusan
antara Allah dan makhluk-Nya. Mereka adalah penyampai risalah dan
perkataan-Nya serta pengurai syariat dan hukum-hukum. Allah memilih mereka
untuk itu dan mengkhususkan urusan ini hanya untuk mereka."
������� ����� ������ ��� �� �� ���� ������ ����� ���� ����� ���� �� �����
��� ���� ����� ��� ���� ��� ���� ��� �� ��� ����� ��� ��� �� ���� ����� ���
���� ��� ���� ����� ��� ����� ���� ������ �� ����� ��� ���� ���� ��� ������
��� ����� ��� ��� ���� ��� ����
"Telah menjadi ijma' salaf dan khalaf bahwa tidak ada jalan mengetahui
hukum-hukum Allah yang berhubungan dengan suruhan dan larangan-Nya walaupun
sedikit, melainkan melalui para Rasul. Maka siapa yang berkata "Disana ada
cara lain untuk mengetahui suruhan dan larangan Allah tanpa melalui para
rasul atau tidak memerlukan para rasul" maka dia adalah kafir, dihukum bunuh
tidak diminta bertaubat, dan tidak diperlukan untuk tanya jawab dengannya
(al-Jami' li Ahkam al-Quran jilid 11, halaman 40-41, cetakan Dar al-Fikr,
Beirut).
Gejala Pemurtadan di IAIN
Hartono Ahmad Jaiz menguraikan gejala-gejala pemurtadan di AIN, di antaranya
buku Harun Nasution untuk IAIN berjudul Islam Dipandang dari Berbagai
Aspeknya menyatakan bahwa agama monotheisme itu Islam, Kristen (Protestan
dan Katolik), dan Hindu. Juga buku Sejarah Pembaharuan Pemikiran Islam
tulisan Harun Nasution untuk IAIN diantara isinya menyebut Rifaat At-Tahtawi
(Mesir) sebagai pembaharu, dan bahkan dalam makalah dosen IAIN di bawah
bimbingan Harun Nasution di SPS (Studi Purna Sarjana) di IAIN Jogja 1977,
Rifaat At-Tahtawi yang menghalalkan dansa-dansa laki perempuan disebut
sebagai pembuka pintu ijtihad. Ini adalah penyesatan. Mana ada pembaru dalam
Islam menghalalkan yang haram. Padahal dalam hadits, ada potensi zina bagi
mata, tangan, mulut, hati dan dibenarkan atau dibohongkan oleh farji/
kemaluan kata Hartono.
Hal itu dibantah Abdul Muqsith Ghozali dengan kitab I'anatut Tholibin
terbitan Toha Putra Semarang, dengan dibacakan tentang definisi zina, lalu
Muqsith mengatakan, kalau hasyafah (kemaluan lali-laki) ditekuk maka bukan
zina. Begitu juga dengan tangan.
Hartono menjawab, "bagaimana ini, tentang zina, tangan punya potensi zina
itu saya mengutip hadits Nabi saw. Kenapa hadits Nabi dibantah pakai kitab
I'anatut Tholibin? Ya seperti inilah keluaran dari IAIN," tegas Hartono
dengan menuding Muqsith yang di sebelah kanannya.
Attamimi dengan suara lantang menantang Ulil Abshar Abdalla yang menolak
hadits, yang walaupun shohih di kitab Bukhori, namun menurut Ulil tidak
sesuai, maka ulil menolaknya. Contohnya hadis tentang orang sholat jadi
batal karena adanya yang lewat yaitu anjing, orang perempuan, dan
khimar/keledai. Kata Ulil, "di sini perempuan disamakan dengan anjing dan
keledai. Jadi saya tolak, walaupun itu ada di Kitab Shohih Bukhori," kata
Ulil.
Kata At-Tamimi, "apakah anda ini ahli hadits? Apa keahlian anda. Dalam hal
ilmu agama ini tidak bisa hanya dengan perkataan 'pendapat saya'. Di ilmu
teknik dunia saja tidak bisa dengan 'pendapat saya' . Memang anda ahli apa?
Apakah ahli hadits? Saya tantang anda bicara tentang hadits. Bahkan
kumpulkan seluruh orang JIL, cukup saya hadapi sendirian. Tidak bisa bicara
agama kok 'menurut saya', 'menurut saya'. Bukan hanya perempuan yang
disamakan dengan binatang, semua laki-laki yang tidak percaya kepada
Al-Qur'an dan As-sunnah seperti anda ini dinyatakan dalam Al-Qur'an seperti
binatang," seru At-Tamimi dengan lantang, disambut dengan suara gemuruh
hadirin.
Dua orang yang membela IAIN dan ingin merobohkan fakta pada buku Ada
Pemurtadan di IAIN itu setelah gagal memberikan cap-cap buruk karena
dibalikkan dengan telak, maka justru menolak hukum Allah (sebagian
ditentang, dan bahkan dinyatakan tidak ada hukum Tuhan), dan menolak hadits
walaupun diakui shahih.
Di situ justru pada dasarnya mereka menampakkan tambahan bukti yang ada pada
ungkapan-ungkapan mereka sebagai alumni, dosen dan pembela IAIN bahwa
sebenarnya IAIN memang jelas ada pemurtadan. Jadi, mereka mau menepis Adanya
pemurtadan di IAIN tetapi justru terperosok pada penguatan bahwa memang
benar ada pemurtadan di IAIN secara sistematis. Itu tentu saja sangat
berbahaya.
Buku Ada Pemurtadan di IAIN dibedah pertama kali di Islamic Book Fair di
Istora Senayan Jakarta, Ahad 27 Maret 2005. Pembicara Dr Roem Rowi dosen
pasca sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, dosen tafsir; dan penulis buku
Hartono Ahmad Jaiz. Hadirin sekitar 500 orang. Dr Roem Rowi mengakui, di
IAIN dia mengajar tafsir, namun mahasiswanya dirusak oleh
pemikiran-pemikiran yang diajarkan dalam materi pemikiran Islam (dan sejarah
kebudayaan Islam), yang itu justru materi kuliah dasar, semua mahasiswa
harus ikut.
Sehingga, ketika ditanya peserta bedah buku, ke mana untuk mendidikkan anak
di perguruan tinggi yang islami, Dr Roem Rowi tidak memberikan rekomendasi,
hanya menunjuk di antaranya Universitas Islam Internasional di Malaysia.
Sedangkan ketika ditanya tentang kurikulum, seberapa peran menteri agama
dalam membuat kurikulum di IAIN, Roem Rowi menjawab, menteri agama masa lalu
ya hanya mengikuti Dr Harun Nasution. "Seakan perkataan Harun Nasution itu
qoululloh (firman Alloh) bagi menteri agama yang lalu," ujar Roem Rowi yang
meraih gelar doktornya dari Universitas al-Azhar Mesir ini.
Disebut Ada Pemurtadan di IAIN, menurut buku itu, karena kurikulumnya,
materi kuliahnya, sistem pengajarannya, cara mengajarnya, dan dosen-dosennya
banyak yang tidak sesuai dengan sistem pemahaman Islam yang benar. Tidak
merujuk kepada Al-Qur'an, As-Sunnah, dengan manhaj salafus shalih. Tetapi
yang dijadikan mata kuliah dasar justru sejarah pemikiran Islam dan sejarah
kebudayaan Islam, yang semuanya bukan dasar Islam, dan disampaikan tidak
secara ilmu islami, tidak merujuk kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan
sistem pemahaman yang benar. Diajarkan secara liar, yaitu tanpa sanad
(pertalian riwayat) hingga boleh berkomentar apa saja sampai menghina para
sahabat sekalipun.
Akibatnya, alumni IAIN tidak bisa membedakan antara madzhab-madzhab (yang
perbedaannya itu dalam wilayah furu'/ cabang, jadi boleh saja) dengan
sekte-sekte sesat (firoq dhollah) yang sudah berbeda dengan hal pokok yang
benar. Bahkan sampai tak bisa membedakan antara mukmin dengan kafir, ketika
diajari tasawuf falsafi dan apa yang disebut filsafat Islam (semuanya dalam
materi kuliah sejarah pemikiran Islam dalam mata kuliah dasar). Akibatnya,
mereka menyamakan semua agama. Itulah sebenar-benarnya pemurtadan secara
sistematis lewat jalur perguruan tinggi Islam se-Indonesia baik negeri
maupun swasta. Maka kurikulum, sistem pengajaran, materi, metode, dan dosen
pengajarnya perlu ditinjau ulang. Pembelajaran dosen-dosen IAIN ke Barat
untuk studi Islam pun perlu dihentikan, menurut penulis buku, karena itu
menjadi sumber utama pemurtadan tersebut.
Usai bedah buku di UIN Jakarta, hadirin pun berjama'ah shalat dhuhur, tanpa
ada dosen ataupun mahasiswa UIN yang maju jadi imam, hingga Ustadz Mustofa
Aini seorang hadirin alumni Universitas Islam Madinah maju untuk mengimami
setelah agak lama ditunggu-tunggu tak ada yang maju. Ulil, Muqsith dan
sebagian besar panitia dari BEM Fak Usuhuluddin dan Filsafat UIN Jakarta
tidak tampak ikut shalat berjama'ah. Mereka berada di mihrab sebelah imaman.
Kemudian Ulil diiringi para panitia turun dan pulang setelah hadirin yang
shalat berjama'ah telah bubar pulang.
"Kampus Islam tidak mencerminkan Islam," keluh di antara yang hadir
--
http://gerimis.dwitunggal-online.com
Berawal dari rintik mungil di akhir kemarau...
http://Gerimis.dwitunggal-online.com powered by GerimisCrew [c] 2005
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
[EMAIL PROTECTED]

