Kuring narima email ieu sababaraha kali di sababaraha milis.. 
nu kahiji di milis MIGAS, ti dinya kakara milis2 nu lian.
Kuring bener2 takjub.. ku gancangna surelek ieu medar dimana2..
hiji bukti yen informasi ngaliwatan internet teh bener2 informasi bebas hambatan

salam
RK

On 4/27/05, Didi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>  
> Baraya kenging ti milist tatangga, wegah rek disundakeun teh. Kumaha tah
> baraya? uing mah herman jadina.......... 
>   
> 
> Have a nice day & 
> Best Regards 
> Kang Didi 
> -----Original Message-----
> From: Phillips Gunawan 
> Sent: 27 April 2005 10:06
> To: All Kinocare Mailboxes
> Subject: FW: [Gilletters] 1 ONS BUKAN 100 GRAM
> Importance: High
> 
>  
>  
>  
>  
> 
> 1 ONS BUKAN 100 GRAM. 
>   
>   
> PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG. 
>  
> 
> 
>   
> Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir
> tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah,
> yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang
> pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses
> pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal. Pasalnya adalah,
> takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound
> dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1
> pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia
> terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang
> waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan acuan ilmiah yang
> menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g.  Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa
> menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis
> ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk
> tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara internasional
> tidak bisa ditemukan. 
>   
> 
> 
> SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN. 
>  
> 
> 
>   
> Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini
> kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur di
> Indonesia, yaitu Direktorat Metrologi . Ternyata, pihak Dir. Metrologi-pun
> telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram. Mereka
> justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem
> Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia. Untuk ukuran
> berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan Ons bukanlah bagian
> dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons
> ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak timbangan
> (bandul atau timbal) yang bertulisan "ons" dan "pound". 
> Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1 pound =
> 500 gram, ternyata tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang legal atau
> pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100
> gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional,
> tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus Indonesia. Jadi, hal ini
> adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun. Sampai kapan mau
> dipertahankan ? 
>   
> 
> 
> BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ? 
>  
> 
> 
>   
> Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku
> sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan
> salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan
> menyesatkan. 
> Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran
> akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam materi
> pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita) menerapkan
> dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan
> bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan anak-anak kita pun
> menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. "Racun" ini sudah tertanam
> didalam otak anak kita sejak usia dini. 
> Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang
> diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan
> seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk melakukan
> koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberi-kan petunjuk
> resmi. 
>   
> 
> 
> TANGGUNG JAWAB SIAPA ? 
>  
> 
> 
>   
> Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan kita
> jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada
> para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak
> menjadi beban psikologis bagi mereka ; 
>   
> 
> 
> "acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui / diberlakukan
> secara internasional , yang menyatakan bahwa : 
> 1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram."? 
>   
>  
> 
> 
> Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini
> diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ? 
> Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain Indonesia
> berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram ? 
> Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku
> pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini ? 
>   
> Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan ons yang keliru ini,
> sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang pemakaian
> satuan "ons" dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah harus dibuat
> sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas). Sistem baru inipun harus
> diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum diajarkan kepada
> anak-anak.  Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia yang konversinya
> adalah 1 ons (Depdiknas) = 100 gram dan 1 pound (Depdiknas) = 500 gram. ?
> Bagaimana "Ons dan Pound (Depdiknas)" ini dimasukkan dalam sistem metrik
> yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa yang mau pakai ?. 
>   
> 
> 
> HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI. 
>  
> 
> 
>   
> Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang
> merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak
> kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu contoh
> kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue dari buku
> luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya. 
> Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah
> nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan.   
> Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai hal
> ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia.
> Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan. 
> Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang-Ukur,
> Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat
> Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia. Mari kita
> ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi. 
>   
> Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita
> harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, prosesnya,
> materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan dalam hal
> kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat berat.
> Janganlah malah diperberat dengan pelajaran sampah yang justru bakal
> menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan dan
> standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya yang
> rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang salah.
> Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang berarti
> harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional. 
> Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar sebagai
> upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh dengan
> tantangan berat. 
>   
> 
> 
> ACUAN MANA YANG BENAR ? 
>  
> 
> 
>   
> Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan juga
> ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford, dll. (maaf, ini bukan
> promosi) menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan lagi. 
> Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat dijumpai
> dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang biasanya diberikan
> oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi. 
>   
> Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara
> internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz). 
>  
> 
> 1 ounce/ons/onza 
> 
> = 
>  
> 
> 28,35  gram   (bukan 100 g.) 
>  
> 
> 1 pound 
> 
> = 
>  
> 
> 453    gram    (bukan 500 g.) 
>  
> 
> 1 pound 
> 
> = 
>  
> 
> 16    ounce     (bukan 5 ons) 
>  
> 
>   
> 
>   
>  
> 
>   
>  
> 
> 
> Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep obat
> yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah
> kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ? Pelajarannya
> memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!! Jadi, kalau
> malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan.  (ini hanya
> gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan, bukan kejadian
> sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi) 
>  
> 
> 
> KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN – LALU SIAPA ?. 
>   
> Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan
> pemerintah, akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang tua dan
> juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan "ons dan
> pound yang keliru" dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran sistem timbang
> dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai pengetahuan
> disertai kejelasan asal-usul serta rumus konversi yang benar. Hal ini untuk
> membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan kita, yang bisa
> mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini. 
>   
> 
> 
>  # # # # # 
>  
> 
> 
>   
>   
>   
> Tulisan ini akan dikirimkan kepada media masa, baik cetak maupun elektronik
> yang mau menyiarkannya demi kepentingan bangsa. Dipersilahkan mengubah
> formatnya sesuai dengan ketentuan penyiaran masing-masing. 
> Juga kepada sekolah-sekolah, pabrik-pabrik serta LSM dan masyarakat umum,
> untuk diketahui secara luas. 
>  Bila anda merasa sependapat dengan saya, setuju untuk menghentikan
> kesalahan ini demi masa depan anak bangsa Indonesia, silahkan diperbanyak /
> difoto  copy dan disebar-luaskan sendiri. 
>   
> Bila anda ragu-ragu terhadap kebenaran tulisan ini, silahkan menanyakannya
> langsung kepada Direktorat Metrologi atau Balai Metrologi setempat dikota
> anda berada. 
>   
> Terima kasih saya ucapkan kepada anda yang peduli dan mau berpar-tisipasi
> menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia. Semoga Tuhan memberkati upaya
> ini, yang kita lakukan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun. 
>   
> 
> 
> # # # # # 
>   
>   
>   
> Ditengah orang-orang waras, dia yang lain sendiri dianggap gila. 
> Ditengah orang-orang gila, dia yang waras justru dianggap gila. 
>   
> Memang banyak orang yang benar, tetapi jangan diartikan bahwa yang diikuti
> banyak orang itulah yang pasti dan selalu benar. 
>   
> 
> 
> LEMBAR PELENGKAP 
>   
> TAKAR – UKUR – TIMBANG MENGIKUTI 
> SISTEM METRIK YANG BERLAKU SEJAK THN 1799. 
> 
> 
>   
>  
> 
> Kuantitas 
> 
> Satuan 
> 
> Simbol 
> 
> Keterangan 
>  
> 
> Panjang 
> 
> meter 
> 
> m 
> 
> bukan mtr. 
>  
> 
> Luas 
> 
> meter persegi 
> 
> m2 
> 
>   
>  
> 
> Isi / volume 
> 
> meter kubik 
> 
> m3 
> 
>   
>  
> 
> Berat 
> 
> gram 
> 
> g 
> 
> bukan gr. 
>  
> 
> Takaran 
> 
> liter 
> 
> l 
> 
> 1 l = 1000 cm3 (cc) 
>  
> 
> Suhu / temperatur 
> 
> derajat Celcius 
> 
> oC 
> 
>   
> 
> 
>   
> 
> 
>   
> BEBERAPA SEBUTAN / AWALAN UNTUK FAKTOR PENGALI 
> DALAM SISTEM METRIK 
>   
>  
> 
> AWALAN 
> 
> FAKTOR PENGALI 
> 
> SIMBOL / SINGKATAN 
> 
> CONTOH PEMAKAIAN 
>  
> 
> giga 
> 
> 1.000.000.000     
> 
> G 
> 
> GHz. 
>  
> 
> mega 
> 
> 1.000.000         
> 
> M 
> 
> MW   
>  
> 
> kilo 
> 
> 1.000                 
> 
> k 
> 
> km 
>  
> 
> hecto 
> 
> 100                 
> 
> h 
> 
> ha 
>  
> 
> deka 
> 
> 10                   
> 
> da 
> 
> dam 
>  
> 
> deci 
> 
> 0,1 
> 
> d 
> 
> dm 
>  
> 
> centi 
> 
> 0,01 
> 
> c 
> 
> cm 
>  
> 
> milli 
> 
> 0,001 
> 
> m 
> 
> ml 
>  
> 
> micro 
> 
> 0,000.001 
> 
> m 
> 
> mF 
> 
> 
> dan seterusnya. 
>   
>  
> 
> 
> Dalam sistem metrik memang dikenal 1 are = 100 m2 khusus untuk ukuran tanah
> yang diakui sah secara internasional. 
>   
> Untuk satuan ONS yang mengartikan kelipatan 100 g., apalagi POUND yang
> mengartikan kelipatan 500 g., tidak pernah ada didalam sistem metrik maupun
> non-metrik / imperial yang pernah diberlakukan sah secara internasional.   
>   
> 
> 
> # # # # # 
>   
>   
> RANGKUMAN SARAN-SARAN, KRITIK DAN  KOMENTAR 
> 
> 
>   
>   
> 1. Banyak orang berpendapat bahwa ONS kita ini tidak ada kaitannya sama
> sekali dengan OUNCE. 
>   
>  
> 
> 
> a. Kalau kita baca kamus-kamus Inggris-Indonesia dan sebaliknya, jelas bahwa
> terjemahan "ounce adalah  ons" dan "pound adalah pon" begitu pula sebaliknya
> dari Indonesia-Inggris. Bahkan ada beberapa kamus yang menterjemahkan "ounce
> menjadi ons, berat 100 gram." Tetapi ada juga yang menterjemahkan "ons, 28,3
> gram". 
> Nara sumber :           Jumlah : 2 orang 
> Profesi : Guru dan Dosen Bahasa Inggris. 
>   
> b. Beberapa guru berpendapat bahwa kata "ons" jelas bukan asli bahasa
> Indonesia, karena bahasa Indonesia hanya mengenal 2 konsonan rangkap, yaitu
> "ng" dan "ny". Tidak ada konsonan rangkap "ns". Contoh : "Helm" kalau di
> Indonesiakan menjadi "helem". Kalau "ons" tidak bisa dijadikan "ones" tentu
> karena menyangkut suatu acuan yang harus dilafalkan secara benar, sama
> seperti "gram" yang tidak boleh ditulis menjadi "geram". 
> Nara sumber :           Jumlah : 2 orang 
> Profesi : Guru Bahasa Indonesia. 
>   
> c. Beberapa orang lanjut usia yang cukup terpelajar membenarkan bahwa "ons
> dan pound" itu bawaan Belanda, bukan asli Indonesia, karena sudah dipakai
> sebelum Indonesia merdeka dan diajarkan juga disekolah HIS maupun HCS (masih
> jaman penjajahan). 
>      Beberapa diantara mereka ingat bahwa acuan konversi yang diterapkan di
> Indonesia tidak sama dengan yang diterapkan di Belanda. 
> Nara sumber :           Jumlah : 7 orang. Usia : 77 s/d. 87 tahun. 
> Pendidikan terendah : HCS / HIS. 
> Pendidikan tertinggi  : Sarjana 
> Profesi terakhir : Guru, Kontraktor, Dokter, Pendeta, PN. 
>   
> 2. Acuan internasional yang menyatakan 1 ons = 100 gram , 1 pound = 500 gram
> jelas-jelas tidak pernah ada.   
>      Bahkan Acuan nasional (kalaupun ada dulu-dulunya) tidak bisa / tidak
> boleh dipergunakan lagi semenjak diundangkannya UU no.2 tahun 1981 tentang
> Metrologi Legal, yang mencabut dan membatalkan Ijkordonnantie 1.049
> Staatsblad nomor 175. 
> Nara sumber :           Jumlah : 1 orang. 
>                                     Profesi : tidak dikenal. 
>   
> 3. Penerbit tidak seharusnya dimintai pertanggung-jawaban karena semua
> materi kurikulum yang harus dibukukan telah mendapat persetujuan terlebih
> dulu dari Dep. Pendidikan. 
> Nara sumber :           Jumlah : 1 orang. 
>                                     Profesi : Pengusaha. 
>   
>   
> 4. Tidak perlu memperlebar masalah / mendramatisir dengan timbangan versi
> depdiknas dan sebagainya. Yang penting bagaimana kesalahan ini bisa segera
> diakhiri. 
> Nara Sumber :          Jumlah : 1 orang. 
>                                     Profesi : tidak dikenal. 
>   
> 5. Terkejut dan syok berat tapi Setuju bahwa kita harus menghentikan
> kebiasaan salah selama ini dan membiasakan diri menggunakan Sistem
> Internasional yang berlaku. Perlu pengumuman resmi dari pemerintah dan
> penyuluhan masyarakat melalui instansi yang berwenang. 
> Nara sumber :           Jumlah : lebih dari 100 orang. 
>                                     Profesi : Guru, Dosen, Karyawan,
> Mahasiswa, Dokter. 
>   
> 6. Para guru tidak bisa dipersalahkan karena mereka hanya melaksanakan apa
> yang telah menjadi kebijakan nasional pendidikan yang dikeluarkan oleh Dep.
> Pendidikan. 
> Nara sumber :           Jumlah 14 orang. 
>                                     Profesi : Guru, Ibu Rmh.Tangga,
> Karyawan. 
>   
> 7. Di dalam Dep. Pendidikan ada bagian yang khusus melakukan Penelitian,
> Pengkajian dan Pengembangan. Kalau ini benar-benar suatu kesalahan, ..
> .(hanya geleng-geleng kepala) 
> Nara sumber :           Jumlah : 1 orang 
>                                     Profesi : Dosen. 
>   
> 8. Bukankah semua pegawai Dir. Metrologi memiliki anak yang juga sekolah di
> Indonesia ?  Mengapa diam saja ? 
> Nara sumber :           Jumlah : 1 orang. 
>                                     Profesi : Kep. Sekolah 
>   
> 9. Sejauh pengetahuan saya, hanya Indonesia yang menerapkan konversi 1 ons =
> 100 gram. Mungkin karena itulah banyak yang menganggap ons itu khusus
> Indonesia. Kita memang dianjurkan untuk mencintai produk-produk Indonesia,
> tetapi yang satu ini jangan. 
>       Mari dihentikan bersama-sama. 
> Nara sumber :           Jumlah : 1 orang. 
>                                     Profesi : GM Hotel 
>   
> 10. Bisa-bisa ini produk akal-akalan penjajah (VOC) dulu untuk menipu
> raja-raja kita. Beli rempah-rempah di Indonesia 1 ons dapat 100 gram, tetapi
> dijual di Eropa 1 ons hanya 28 gram. 
>        Mengapa bisa keterusan sampai sekarang ? Harus dihentikan. 
> Nara sumber :           jumlah : 1 orang. 
>                                     Profesi : Instalatir. 
>  
> 
> 
>   
> 11. Pantas saja, anak saya selalu frustrasi kalau menghitung berat badan
> petinju yang ditayangkan di TV. Selalu tidak cocok dengan hitungannya. Harus
> segera dihentikan. 
> Nara sumber :           Jumlah : 1  pasutri 
>                                     Profesi : Anggota Polri & guru SD. 
>   
> 12. Dep. Pendidikan harus mengeluarkan pernyataan resmi, baik kepada sekolah
> maupun masyarakat, agar diketahui secara luas. 
>           "Bahwa pelajaran 1 ons = 100 g. adalah pengetahuan tentang
> timbangan yang sifatnya NORMATIF, yang merupakan kebiasaan beberapa daerah
> di Indonesia. Karena itu, tidak boleh dijadikan acuan ilmiah, tidak boleh
> dipakai dalam transaksi legal, tidak boleh dipakai untuk acuan konversi
> formal / legal, misalnya dalam pekerjaan, pembuatan surat-surat resmi dll." 
> Nara sumber :           Jumlah : 2 orang. 
>                                     Profesi : Manager Personalia, Manager
> Engineering. 
>   
>   
> 
> 
> # # # # # 
>   
> (kritik, saran dan komentar diatas selain saya terima dalam bentuk surat,
> email, juga pernyataan lisan dari wawancara dengan kepala sekolah, guru,
> karyawan pabrik, praktisi, dokter, teknisi, dan warga masyarakat.  Terakhir
> diterima tgl. 16-04-05) 
> 
>   
> 
> 
> 
> Gilletters mailing list members: 
> You agree not to post any abusive, obscene, vulgar, slanderous, hateful,
> threatening, sexually-orientated, chain/junk mails, politics,race
> fanaticism, or any other material that may violate any applicable laws. 
> 
> To unsubscribe send an email to:
> [EMAIL PROTECTED] 
> 
> 
> 
>  
> 
> --
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG Anti-Virus.
> Version: 7.0.308 / Virus Database: 266.10.3 - Release Date: 4/25/2005
>  
> 
> 
>  
> 
> --
> No virus found in this outgoing message.
> Checked by AVG Anti-Virus.
> Version: 7.0.308 / Virus Database: 266.10.3 - Release Date: 4/25/2005
>  
> 
>  
> 
>  Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
>  
> 
>  
>  ________________________________
>  Yahoo! Groups Links
>  
>  
> To visit your group on the web, go to:
> http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
>   
> To unsubscribe from this group, send an email to:
> [EMAIL PROTECTED]
>   
> Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 
> 
> ---------- Forwarded message ----------
> From: Ardhyan fm <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Date: Wed, 27 Apr 2005 00:40:01 +0700
> Subject: Re: [kopipanas-ipb] Fw: HENTIKAN PEMBODOHAN ANAK BANGSA
>  
> Mbak, ONS itu beda sama OUNCE. Coba cek ke
> http://www.onlineconversion.com/weight_all.htm , 1 Ounce
> memang 28,35 gr
> kalo 1 Ons = 100gr. Ons itu bawaan orang blanda dulu...
>  
> semoga bisa mbantu 
>   
> Ardhyan
>  
>  
> ----- Original Message ----- 
> From: Bintari Sriwijayanti 
> To: SMP68-85 ; SMA6-88 ; kopipanas ipb 
> Sent: Wednesday, April 20, 2005 9:34 PM 
> Subject: [kopipanas-ipb] Fw: HENTIKAN PEMBODOHAN ANAK BANGSA 
> 
>  
> wah, coba cek buku pe-er anak anda.... 
>   
> rgds 
> Bintari 
>   
> ----- Original Message ----- 
> From: Christine Suhartini 
> To: Veronica Ayu Wulan ; Susyliana ; Sulistiani ; [EMAIL PROTECTED] ; Rudy
> Suhendra ; Rival Kusmayadi ; Puspawati ; Paulus Hari Maryono ; Michael
> Lengkey ; Liony Sagita ; Liony Sagita ; Lenny Ricke ; Kon Pau ; Ju Sansui ;
> Herman Wirawan ; Joko Wahono ; Iman Hartanto ; Enny ; Daryati Agus ;
> Carolina Sundoro ; Bintari Sriwijayanti ; Benny Kusuma ; Anis Dwinastiti 
> Cc: SIS Adi Ervani ; Rocky Wuisan ; Marketing ; Johan Rusmanto ; Hesti
> Saptirini ; Handoko Tjipto ; Cipto ; Aribowo Wangsaputra ;
> [EMAIL PROTECTED] ; Adriana Kullit 
> Sent: Thursday, April 21, 2005 8:45 AM 
> Subject: Fw: HENTIKAN PEMBODOHAN ANAK BANGSA 
> 
>  
>   
> Saudara / i. sebangsa dan setanah air. 
>  
>  
>  
>   
> Seperti yang telah kita alami bersama, bahwa selama ini telah diajarkan
> kepada kita dan juga anak-anak kita, suatu pelajaran di-sekolah yang
> menyatakan bahwa 1 ONS = 100 g. 
> Ternyata apa yang diajarkan itu TIDAK MEMILIKI ACUAN ILMIAH DAN TIDAK SESUAI
> DENGAN KONVERSI YANG BERLAKU SECARA INTERNASIONAL. Bahkan, Direktorat
> Metrologi selaku lembaga yang paling berwenang dalam hal Ukur-Takar-Timbang
> di Indonesia MELARANG penggunaan satuan ONS yang menyatakan ekivalen 100 g.
> dalam transaksi legal. Perlu diketahui, bahwa UU no.2 thn. 1981 tentang
> Metrologi Legal secara jelas telah melarang penggunaan ONS yang keliru ini. 
> Jadi, "1 ONS = 100 g." hanyalah UKURAN NORMATIF belaka (kesepakatan dalam
> sekelompok masyarakat yang berlanjut sebagai kebiasaan). 
> Kalau kenyataannya seperti ini (hanya ukuran Normatif), MENGAPA WAJIB
> DIAJARKAN di-sekolah ? Lebih konyol lagi, pengajaran tentang hal ini
> dimasukkan dalam konteks MATEMATIKA / FISIKA yang jelas-jelas merupakan ilmu
> dasar. Akibatnya ialah, selama ini kita beranggapan bahwa konversi ini dapat
> dijadikan acuan ilmiah dan rumus konversinya bisa dipertanggung-jawabkan.
> Akibat selanjutnya ialah, banyak terjadi kesalahan dalam pekerjaan yang
> menimbulkan beaya tinggi, akibat dari acuan konversi yang tidak bisa
> dipertanggung-jawabkan. 
> INI ADALAH SUATU PEMBODOHAN ANAK BANGSA yang dilakukan oleh Dep. Pendidikan
> kita. Apakah pembodohan seperti ini akan kita diamkan saja ? 
> Kalau kita mencintai bangsa ini, mau tidak mau harus segera menghentikan
> pembodohan atau penyesatan yang konyol ini. 
> MARI KITA BERSATU, SIAPAPUN ANDA, APAPUN PROFESI ANDA, DEMI MASA DEPAN ANAK
> BANGSA, KITA HENTIKAN SEGERA PEMBODOHAN / PENYESATAN  INI. 
>   
> Selengkapnya, bacalah attachment tentang korban penyesatan ini. 
> Perbanyaklah dalam bentuk hard-copy, dan sebar-luaskan ke teman, relasi,
> serta siapa saja yang anda rasa perlu mengetahuinya. Bersama kita selamatkan
> generasi penerus bangsa ini. 
>   
> Salam saya, 
> Henry Natanael 
>   
> 
>  ________________________________
>  Do you Yahoo!?
> Make Yahoo! your home page 
> 
> 
>


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/HO7EnA/3MnJAA/E2hLAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke